Hikmah Menaburkan Tanah 3 Kali Saat Pemakaman dan Hukum Mendoakan Orang Kafir

Hikmah Menaburkan Tanah 3 Kali Saat Pemakaman dan Hukum Mendoakan Orang Kafir

Almunawwar.or.id – Dalam menjadikan sebuah amalan khusus terutama yang berkaitan dengan hak-hak orang lain semisal mendoakan mayit ataupun semua hal yang berhubungan dengan mayit tersebut tentunya harus sesuai dengan apa yang telah di syariatkan.

Termasuk dari pada adanya amalan khusus saat selesai pemakan berlangsung, dimana ada kegiatan tertentu yaitu menaburkan tanah 3 kali sembari mengucapkan surat Al qadr. Hal tersebut tentunya memiliki alasan mendasar dan hikmah-hikmah tertentu di balik pelaksanaannya tersebut.

Terutama hikmah dan manfaat besar yang bisa di rasakan oleh mereka yang masih hidup, Yang dalam hal ini ada makna tadabbur dan tadzakkur yaitu mempelajari menghayati dan mengingat akan kembali pada kematian bahwsannya kita semua akan kembali kepada sang khaliq.

Dari pelaksanaan itu pula keterkaitan khusus dari cara melaksanakan amalan tersebut tentu memiliki nilai hukum dan anjuran mengenai tata cara pengamalannya, Sehingga tidak hanya sebatas membaca saja akan tetapi ada manfaat yang begitu besar ketika dua makna tadi (Tadabbur dan tadzakur) bisa di rasakan.

Ataupu hal lainnya yang masih berhubungan dengan mayit, Seperti sisi hukum beserta tinjauannya mendoakan seorang mayit yang kafir apakah itu di perbolehkan atau malah sebaliknya? Dan berikut ulasan mengenai kedua hal tersebut.

Hikmah Menaburkan Tanah 3 Kali
Sebagaimana dikutip dalam Hasyiyah Syibromalisi yaitu hasyiyahnya kitab Nihayatul muhtaj :
“Bahwa hal yang paling penting dari perkara yang akan dihadapi mayit setelah dikubur adalah menghadapi pertanyaan malaikat munkar dan nakir. Maka seyogyanya memberikan talqin kepada mayit agar simayit mampu menjawab pertanyaan dari munkar dan nakir”.

1.Maka setelah selesai pertanyaan, Ruh si mayit akan naik ketempat yang telah allah siapkan untuknya, maka nisbat pada hal tersebut, maka dianjurkan berdo’a agar pintu-pintu langit terbuka dengan kedatangan ruh si mayit.

2.Setelah mayit tetap dalam kuburnya, maka nisbat akan hal ini,dianjurkan berdo’a untuk mayit agar kedua sisi kuburnya tetap renggang (bumi tidak menggencetnya- dhommatul qobr ada dalam bentuk pelukan, ada dalam bentuk kebencian- wallohu a’lam).

3.Kemudian berdo’a kebaikan bagi mayit laki-laki atau pria.

لعل الحكمة في جعل هذا مع الأول ، وما بعده مع الثانية إلخ أن أهم أحوال الميت بعد وضعه في القبر سؤال الملكين فناسب أن يدعى له بتلقين الحجة ، وبعد السؤال تصعد الروح إلى ما أعد لها فناسب أن يدعى له بفتح أبواب السماء لروحه ، وبعده يستقر الميت في قبره فناسب أن يدعى له بمجافاة الأرض عن جنبيه ( قوله : عند المسألة ) أي السؤال ، وقوله حجته : أي ما يحتج به على صحة إيمانه ، وإطلاقه يشمل ما لو لم يكن الميت ممن يسأل كالطفل ، وإطلاقه يشمل أيضا ما لو قدم الآية على الدعاء أو أخرها ، وينبغي تقديم الآية على الدعاء أخذا من قوله زاد المحب إلخ ( قوله اللهم افتح أبواب السماء لروحه ) ولا ينافي هذا أن روحه يصعد بها عقب الموت ; لأنا نقول : ذاك الصعود للعرض ثم يرجع بها فتكون مع الميت إلى أن ينزل قبره فتلبسه للسؤال ثم تفارقه وتذهب حيث شاء الله .

Ayat dan do’a pada masing-masing taburan tanah, sebagaimana dikutip dalam kitab Al mausu’ah :
1. Tebaran pertama minhaa kholaqnaakum dan do’anya :

اﻟﻠﻬﻢ ﺟﺎﻑ اﻷﺭﺽ ﻋﻦ ﺟﻨﺒﻴﻪ

2. Tebaran kedua wa fiihaa nu’iidukum dan do’anya :

اﻟﻠﻬﻢ اﻓﺘﺢ ﺃﺑﻮاﺏ اﻟﺴﻤﺎء ﻟﺮﻭﺣﻪ

3. Tebaran ketiga wa minhaa nukhrijukum taarotan ukhroo dan do’anya : bagi mayit laki-laki :

اﻟﻠﻬﻢ ﺯﻭﺟﻪ ﻣﻦ اﻟﺤﻮﺭ اﻟﻌﻴﻦ

bagi mayit perempuan :

اﻟﻠﻬﻢ ﺃﺩﺧﻠﻬﺎ اﻟﺠﻨﺔ ﺑﺮﺣﻤﺘﻚ

Referensi : Kitab Al Mausu’ah, Tuhfatul Muhtaj, Al Adzkar, Al Jamal, Al Fiqh ‘Alal Madzahibil Arba’ah dan Fathul Mu’in.

Hukum Mendo’akan Mayit Kafir (Non Muslim)
Mendoakan mayit kafir hukumnya HARAM, bahkan menyebutnya dengan semacam sebutan ALMAGHFURLAH ataupun ALMARHUM juga tidak diperbolehkan, karena lafadz tersebut mengandung makna do’a.

{مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ والذين آمنوا أَن يَسْتَغْفِرُواْ لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كانوا أُوْلِي قربى مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الجحيم} [ التوبة : 113 ]
وفى الآية إيماء إلى تحريم الدعاء لمن مات على كفره بالمغفرة والرحمة ، أو بوصفه بذلك كقولهم المغفور له والمرحوم فلان ، كما يفعله بعض جهلة المسلمين من الخاصة والعامة.

Artinya : “Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), Sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu, adalah penghuni neraka Jahanam”. (QS. 9:113).

Dalam ayat ini memberi pengertian akan keharaman mendoakan orang yang telah meninggal dalam keadaan kufurnya dengan doa memintakan ampunan dan rahmat Allah atau mensifati mereka seperti dengan ucapan AL-MAGHFURLAH (yang telah terampuni), ALMARHUM (yang telah dirahmati) seperti yang dilakukan oleh sebagian orang-orang bodoh dari kaum muslimin dari kalangan orang-orang tertentu maupun orang awam [Tafsiir al-Maraaghy I/2263].

Berbeda ketika mendoakan orang kafir saat masih hidup, jika mendoakan untuk kesembuhan dari sakitnya (Bukan mengirim pahala) maka boleh.

وقوله وأن يدعو له بالشفاء أي ولو كافرا أو فاسقا ولو كان مرضه رمدا وينبغي أن محله ما لم يكن في حياته ضرر للمسلمين وإلا فلا يطلب الدعاء له بل لو قيل بطلب الدعاء عليه لما فيه من المصلحة لم يبعد(الجمل على شرح المنهج الجزء الثانى ص 134)

Dianjurkan mendo’akan orang sakit dengan kesembuhan meskipun yang sakit adalah orang kafir / fasik , selama dia bukan orang yang menyusahkan masyarakat.

Kata almarhum dan almarhumah itu bermakna doa, yang artinya semoga dirahmati, jadi kalau kata-kata tadi ditujukan pada mayyit non muslim berarti itu punya arti mendoakan si mayyit, sedangkan mendo’akan mayyit non muslim itu HARAM hukumnya. Lihat Kitab hasyiyah showi juz 2 hal 171 dan khulashotul kalam hal 160 :

وفى حاشية العلامة الصاوى، ج 2 ص 171، مانصه:(ما كان للنبى والذين أمنوا ان يستغفروا للمشركين ولو كانوا أولى قربى) ذوى قرابة (من بعد ما تبين لهم أنهم أصحاب الجحيم) النار بأن ماتوا على الكفر (قوله بأن ماتوا على الكفر) أى فلا يجوز لهم الإستغفار حينئذ واما الإستغفار للكافر الحى ففيه تفصيل وان كان قصده بذلك الإستغفار هدايته للإسلام جاز وان كان قصده أن تغفر ذنوبه مع بقائه فى الكفر فلا يجوز. اهـوفى خلاصة الكلام، ص 260، مانصه:ومما جاء من النداء للميت التلقين له بعد الدفن -إلى أن قال- ففى التلقين النداء والخطاب للميت وحديث نداء النبى كفار قريش المقتولين ببدر بعد القائم فى القليب مشهور رواه البخارى وأصحاب السنن وجعل يناديهم بأسمائهم وأسماء آبائهم ويقول أيسركم انكم اطعتم الله ورسوله فإنا قد وجدنا ماوعدنا ربنا حقا فهل وجدتم ماوعد ربكم حقا. وأما ما جاء من الأثار عن الأخبار والعلماء والأخيار والأولياء الكبار مما يدل على جواز ذلك النداء والخطاب

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com