Hukum Dan Tata Cara Shalat Ketika Dalam Pesawat Terbang Menurut Kajian Fiqh

Hukum Dan Tata Cara Shalat Ketika Dalam Pesawat Terbang Menurut Kajian Fiqh

Almunawwar.or.id – Shalat yang merupakan salah satu kewajiban bagi umat Islam memiliki persyaratan tertentu dalam segi keabsahan pelaksanaannya seperti harus istiqror atau menetap di atas bumi ataupun pada tempat yang menempel pada muka bumi seperti bangunan, batu tanah dan lain sebagainya. Seandainya ada seorang Musholli atau orang yang shalat memiliki kelebihan khusus seperti bisa mengangkat dirinya (terbang) maka hukum shalatnya tidak syah.

Terlebih khusus untuk pelaksanaan shalat fardhu yang dalam pelaksanaannya itu harus menetap berada pada satu tempat meskipun hakikatnya tempat yang di jadikan shalatnya tersebut bergerak seperti ketika naik kendaraan darat mobil, kereta api asal dilaksanakan dengan rukun yang sempurna dan menghadap kiblat. Lalu bagaimana shalat ketika posisi sedang naik pesawat terbang? Apakah sama dengan kendaraan lainnya atau berbeda?.

Dini perlu di garis bawahi bahwasannya ketentuan Istiqror dalam shalat ketika sedang berada dalam pesawat terbang itu menurut para Ulama itu tidak termasuk pada salah satu sarat istiqror tersebut, Sehingga bagi orang yang kebetulan akan berencana bepergian dengan naik pesawat itu alangkah baiknya shalat dilakukan sebelum pemberangkatan itu walaupun menggunakan cara shalat dengan di jamak takhir atau jamak taqdim.

Namun seandainya dalam perjalanannya membutuhkan waktu yang lama sehingga menghabiskan waktu shalat. Maka dalam hal ini Para Ulama memberikan pandangan sekaligus jawaban yaitu tetapnya sebuah kewajiban bagi orang yang berada pada posisi tersebut dengan melaksanakan shalat lihurmatil waktu (Shalat menghormati waktu). Dan setelah nanti sudah tiba waktu yang luang, maka shalat lihirmati wakti tersebut wajib di qodho. Seperti yang tersirat dalam kitab Taqrirat as-Sadidah:

ومثل ذلك الصلاة في الطائرة، فتجوز مع الصحة صلاة النفل، وأما صلاةالفرض إن تعينت عليه أثناء الرحلة وكانت الرحلة طويلة، بأن لم يستطع الصلاة قبل صعودها أو إنطلاقها أوبعد هبوطها في الوقت، ولو تقديما اوتأخيرا، ففي هذا الحالة يجب عليه ان يصلي لحرمة الوقت مع استقبال القبلة وفيها حالتان: 1. إن صلي بإتمام الركوع والسجود: ففي وجوب القضاء عليه خلاف، لعدم استقرار الطائرة في الأرض والمعتمد أن عليه القضاء 2 – وإن صلى بدون إتمام الركوع والسجود أو بدون استقبال القبلة مع الإتمام فيجب عليه القضاء بلا خلاف

Artinya : “Seperti halnya shalat di kendaraan adalah shalat di pesawat, melaksanakannya diperbolehkan pada shalat sunnah. Sedangkan pada shalat fardhu, jika ia hanya bisa melakukan di tengah perjalanan karena perjalanan jauh dengan ketentuan ia tidak mampu melaksanakan shalat pada waktunya, baik sebelum take off pesawat atau setelah landing pesawat, meskipun dengan cara jama’ takdim ataupun jama’ ta’khir, maka dalam keadaan demikian wajib baginya untuk shalat li hurmatil waqti dengan tetap menghadap pada arah kiblat.”

Adapun tata cara ketentuan status dalam melaksanakan shalat seperti itu bisa terperinci dalam dua hal:

1. Jika dia dapat shalat dengan menyempurnakan gerakan ruku’ dan sujud, maka dalam hal wajib tidaknya mengulangi shalat terjadi perbedaan pendapat di antara ulama. Perbedaan pendapat ini dilandasi tidak tetapnya pesawat pada tanah bumi. Pendapat yang kuat berpandangan, ia wajib mengulangi shalatnya.

2. Jika dia tidak dapat menyempurnakan gerakan ruku’ dan sujudnya atau ia shalat tidak menghadap arah kiblat maka ia wajib mengulangi shalatnya tanpa adanya perbedaan di antara ulama.” (Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad bin Salim, Taqrirat as-Sadidah, hal. 201)

Sedangkan ketentuan dalam melaksanakan shalat lihurmatil wakti adalah seseorang melakukan shalat sebatas kemampuan menjalankan syarat-syarat shalat yang dapat ia lakukan. Seandainya bisa wudhu’ dan melakukan gerakan shalat secara sempurna namun tidak bisa menghadap kiblat, maka wajib baginya melaksanakan wudhu dan gerakan itu. Jika ia tidak dapat melaksanakan wudhu namun bisa tayammum, maka wajib baginya melaksanakan tayammum, begitu juga dalam praktik-praktik yang lain. Sebab tujuan dari shalat li hurmatil waqti sendiri adalah memuliakan waktu shalat dengan sekiranya waktu tersebut tidak sepi dari pelaksanaan shalat.

Jadi kesimpulannya, shalat di pesawat tidak dapat mencukupi untuk menggugurkan kewajiban shalat, sebab shalat yang dilakukan hanya sebatas shalat li hurmatil waqti yang wajib untuk diulang kembali dengan pelaksanaan yang sempurna pada saat nanti sudah sampai di tempat tujuan.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id