Hukum Daripada Memberikan Mahar Sebelum Akad Nikah Berlangsung

Hukum Daripada Memberikan Mahar Sebelum Akad Nikah Berlangsung

Almunawwar.or.id – Dalam sebuah akad nikah ada beberapa hal yang memang menjadi sudut pandang utama atau bisa dikatakan sebagai salah satu dari rukun nikah tersebut, yang memang secara pelaksanaannya itu harus tertib rangkaian daripada rukun nikah tersebut.

Akan tetapi terkadang dalam suatu tradisi hal yang seperti itu sering sekali dilakukan, seperti mendahulukan mahar atau mas kawin padahal akad pernikahan belum dilakukan. Dan kebiasaan ini seolah tidak bisa di tinggalkan begitu saja bagi sebagian orang karena memang sudah mengakar dan sulit untuk di robahnya.

Untuk menjawab pertanyaan dari permasalahan yang sudah menjadi khal layak umum tersebut, tentunya perlu pengkajian secara seksama sesuai dengan kaidah ilmu yang menjelaskannya dalam hal ini ilmu fiqih, karena masalah seperti ini memang syakral sekali menentukan halal dan haramnya sebuah perkara.

Secara pemaknaan baik di tinjau dari hukum maupun dari dasar pelaksanaannya tersebut, memang sangatlah riskan apalagi jika memang tradisi itu sering sekali berbenturan dengan kepastian hukum-hukum agama. Sehingga persoalan ini perlu di bahas secara tuntas dengan klarifikasi yang jelas pula tentunya.

Berdasarkan keterangan-keterangan yang memuat permasalahan seperti itu maka bisa di jelaskan bahwa hukum daripada memberikan mahar atau mas kawin sebelum akad nikah berlangsung itu boleh-boleh saja, asal niatnya tidak untuk hadiah sebagaimana yang dijelaskan pada kitab fatawy fiqhiyah imam ibnu hajar :

[بَابٌ فِي الصَّدَاقِ
(وَسُئِلَ) عَمَّنْ خَطَبَ امْرَأَةً وَأَجَابُوهُ فَأَعْطَاهُمْ شَيْئًا مِنْ الْمَالِ يُسَمَّى الْجِهَازَ هَلْ تَمْلِكُهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ لَا بَيِّنُوا لَنَا ذَلِكَ؟
(فَأَجَابَ) بِأَنَّ الْعِبْرَةَ بِنِيَّةِ الْخَاطِبِ الدَّافِعِ فَإِنْ دَفَعَ بِنِيَّةِ الْهَدِيَّةِ مَلَكَتْهُ الْمَخْطُوبَةُ أَوْ بِنِيَّةِ حُسْبَانِهِ مِنْ الْمَهْر حُسِبَ مِنْهُ وَإِنْ كَانَ مِنْ غَيْرِ جِنْسِهِ أَوْ بِنِيَّةِ الرُّجُوعِ بِهِ عَلَيْهَا إذَا لَمْ يَحْصُلْ زَوَاجٌ أَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ نِيَّةٌ لَمْ تَمْلِكهُ وَيُرْجَعُ بِهِ عَلَيْهَا

Artinya: “Imam ibnu hajar ditanyai : ada seorang laki-laki melamar seorang perempuan, lalu laki-laki tersebut memberikan sejumlah harta benda kepada mereka yang disebutkan sebagai persiapan (jihaz) nikah, apakah perempuan yang dilamar itu berhak memilikinya?

Imam ibnu hajar menjawab : Sesungguhnya yang diterima adalah niat pelamar yang memberinya. Jika ia memberinya dengan niat sebagai hadiah, maka perempuan yang dilamar berhak memilikinya, atau jika laki-laki itu beniat sebagai maskawin, maka dianggap sebagai maskawin. Jika laki-laki itu berniat bukan sebagai maskawin atau ia berniat untuk menarik kembali jika perkawinan gagal atau ia tidak berniat apapun, maka perempuan itu tidak berhak memilikinya dan pemberian itu kembali kepada pihak laki-laki tersebut.”.

Penjelasan lain mengenai masalah seperti ini adalah hukumnya boleh dan langsung jadi milik nya (kalau pernikahan nya tidak menjadi gagal) dan nikahnya sah, karena mayoritas madzhab memperbolehkan mendahulukan mahar sebelum akad.

Dalam masalah Syin di kitab Bugyah, sayyid Ba’alawy menjelaskan: Jika seorang laki-laki memberikan sejumlah uang kepada tunangannya, kemudian ia mengaku bahwa pemberian tersebut dimaksudkan sebagai maskawin, sedangkan perempuan tersebut mengingkarinya, maka pengakuan perempuan tersebut yang diterima bila pemberian itu diserahkan sebelum akad nikah, dan jika diserahkan sesudahnya maka yang diterima adalah pengakuan laki-laki.

Pendapat ini sama dengan pendapat (Ibnu Hajar) dalam kitab Tuhfah al-Muhtaj. Sedangkan menurut pendapatnya dalam kitab al-Fatawa dan pendapat Abu Mahramah, yang dibenarkan adalah pihak laki-laki secara mutlak. Dari pendapat mereka dapat difahami, bahwa pengakuan perempuan dapat dibenarkan, dalam arti walaupun laki-laki mengajukan bukti atas pengakuannya, pengakuan perempuan tetap dapat diterima.

Redaksinya sebagai berikut:

لو خطب امرأة ثم أرسل أو دفع بلا لفظ إليها مالا قبل العقد: أي ولم يقصد التبرع ثم وقع الإعراض منها أو منه رجع بما وصلها منه كما صرح به جمع محققون.
ولو أعطاها مالا فقالت هدية وقال صداقا صدق بيمينه

Artinya: “Seandainya seseorang melamar perempuan, kemudian ia memberikan sejumlah harta benda kepadanya sebelum akad nikah tanpa disertai suatu pernyataan apa pun, dan ia tidak bermaksud sebagai pemberian (tabarru’), kemudian terjadi pengingkaran dari pihak perempuan atau laki-laki yang melamarnya, maka laki-laki itulah yang dimenangkan.

Pendapat ini sesuai dengan yang dianut oleh sebagian besar ulama ahli tahqiq. Seandainya seorang laki-laki memberikan suatu harta benda, kemudian perempuan menyatakan sebagai hadiah, sedangkan laki-laki menyatakannya sebagai maskawin, maka pengakuan pihak laki-laki yang diterima dengan disertai sumpah.

Dua keterangan lain yang menjelaskan dua keterangan masalah seperti ini dengan redaksinya sebagai berikut:

ﺗﺄﺟﻴﻞ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻭﺗﻌﺠﻴﻠﻪ
– ﻳﺠﻮﺯ ﺗﻌﺠﻴﻞ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﻭﺗﺄﺟﻴﻠﻪ ﻛﻠﻪ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻪ ﻋﻠﻰ ﺗﻔﺼﻴﻞ ﺍﻟﻤﺬﺍﻫﺐ
ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ – ﻗﺎﻟﻮﺍ : ﻳﺠﻮﺯ ﺗﺄﺟﻴﻞ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﺑﺸﺮﻁ ﺃﻥ ﻻ ﻳﻜﻮﻥ ﺍﻷﺟﻞ ﻣﺠﻬﻮﻻ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻥ ﺍﻟﻤﺆﺟﻞ ﻛﻞ ﺍﻟﺼﺪﺍﻕ ﺃﻭ ﺑﻌﻀﻪ . ﻓﻠﻮ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﻣﺎﺋﺔ ﺇﻟﻰ ﺃﺟﻞ ﻭﻟﻢ ﻳﺬﻛﺮ ﻭﻗﺖ ﺍﻷﺟﻞ ﺃﻭ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﺇﻟﻰ ﻭﻗﺖ ﺍﻟﺤﺼﺎﺩ ﺃﻭ ﻭﻗﺖ ﻧﺰﻭﻝ ﺍﻟﻐﻴﺚ ﻓﺈﻥ ﺍﻟﺘﺴﻤﻴﺔ ﺗﻔﺴﺪ ﻭﻳﻜﻮﻥ ﻟﻬﺎ ﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻭﺇﺫﺍ ﺗﺰﻭﺟﻬﺎ ﺑﻤﺎﺋﺔ ﻣﻨﻬﺎ ﺧﻤﺴﻮﻥ ﻣﻘﺪﻣﺔ . ﻭﺧﻤﺴﻮﻥ ﻣﺆﺧﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻤﻮﺕ ﺃﻭ ﺍﻟﻄﻼﻕ ﻓﺴﺪﺕ ﺗﺴﻤﻴﺔ ﺍﻟﻤﻬﺮ ﻭﻭﺟﺐ ﻟﻬﺎ ﻣﻬﺮ ﺍﻟﻤﺜﻞ ﻻ ﻣﺎ ﻳﻘﺎﺑﻞ ﺍﻟﺨﻤﺴﻴﻦ ﺍﻟﻤﺠﻬﻮﻟﺔ ﻭﺫﻟﻚ ﻷﻧﻪ ﻳﺘﻌﺬﺭ ﺗﻮﺯﻳﻊ ﺍﻟﻤﺎﺋﺔ ﻣﻊ ﺍﻟﺠﻬﻞ ﺑﺎﻷﺟﻞ

Hasyiyah i’anatut tholibin :

حاشية إعانة الطالبين – ( ج ٣/ ص ٢٤ )المكتبة الشاملة
أن من دفع لمخطوبته طعاما أو غيره ليتزوجها فرد قبل العقد، رجع على من أقبضه.
فيقتضي حينئذ أنه إذا لم يرد، لا يرجع فيه، فهي تملك ما دفع لها قبل العقد لاجله من غير صيغة، وقوله بسببه، أي العقد يفيد أيضا أنه إذا كان لا بسببه لا تملكه إلا بإيجاب وقبول.

Walhasil hukum daripada memberikan mahar ataupun mas kawin sebelum akad nikah dilangsungkan itu boleh-boleh saja dengan catatan pemberian tersebut tidak di niatkan sebagai hadiah, dan jika ada sesuatu yang mengganggu terhadap gagalnya pernikahan, maka pihak lelaki lah yang dibenarkan dengan sarat harus disertai dengan sumpah.

Wallohu A’lamu bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com