Hukum Daripada Menggunakan Nama Samaran Pada Akun Medsos

Hukum Daripada Menggunakan Nama Samaran Pada Akun Medsos

Almunawwar.or.id – Memberikan nama panggilan atau dalam bahasa arab di sebut dengan nama kunyah ataupun nama laqob bagi seorang muslim itu di perbolehkan saja, selama tidak bertentangan dengan kaidah agama. Dan di anjurkan pula nama tersebut mengandung makna yang berarti bagi si pemiliknya.

Selain nama merupakan sebuah identitas bagi seseorang, nama juga merupakan laksana sebuah doa yang senantiasa dijadikan sebagai hal yang bagus pula. Meskipun tidak secara mutlaq nama yang baik ataupun yang tidak baik bisa mempengaruhi sisi kepribadian seorang manusia.

Namun alangkah indahnya apabila nama tersebut lebih mengandung syarat dan doa bagi si pemilik nama tersebut, termasuk ketika mendapatkan nama samaran ataupun nama panggilan. Seperti salah satu di antaranya banyak orang yang menjadikan nama lain ataupun nama panggilan sebagai identitas dalam sebuah media sosial seperti facebook misalnya.

Nah, pertanyaannya adalah apakah menggunakan nama samaran atau nama panggilan (bukan nama asli) pada sebuah akun media sosial atupun yang lainnya itu diperbolehkan apa tidak? Untuk menjawab pertanyaan seperti itu berikut uraian dari penjelasan dari penerangan ulama ahli fiqh yang berpendapat bahwa:

وَالْفُقَهَاءُ لاَ يَخْتَلِفُونَ فِي جَوَازِ تَغْيِيرِ الاِسْمِ إِلَى اسْمٍ آخَرَ

Artinya: “Para ‘Ulama’ ahli fiqhi tidak berselisih pendapat tentang kebolehan merubah sebuah nama ke nama yang lain”.

Dari keterangan tersebut bisa di fahami bahwa tidak ada perselisihan dan perbedaan pendapat ualam ahli fiqih terhadap perubahan nama yang dilakukan oleh seseorang, apalagi perubahan tersebut di tujukan untuk lebih mendapatkan nama yang lebih indah dan bagus baik secara lafadz maupun secara arti yang sebenarnya.

Lantas bagaimana penerangan dan tanggapan para ulama ahli fiqh lainnya mengenai adanya masalah umum seperti itu? Berikut uraian penjelasannya dalam kitab Al Majmu’ ( 8/438-441 ).

السَّادِسَةُ) يَجُوزُ التَّكَنِّي وَيَجُوزُ التَّكْنِيَةُ وَيُسْتَحَبُّ تَكْنِيَةُ أَهْلِ الْفَضْلِ مِنْ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ سَوَاءٌ كَانَ لَهُ وَلَدٌ أم لا وسواء كني بولده أم بِغَيْرِهِ وَسَوَاءٌ كُنِّيَ الرَّجُلُ بِأَبِي فُلَانٍ أَوْ أَبِي فُلَانَةَ وَسَوَاءٌ كُنِّيَتْ الْمَرْأَةُ بِأُمِّ فُلَانٍ أَوْ أُمِّ فُلَانَةَ
* وَيَجُوزُ التَّكْنِيَةُ بِغَيْرِ أَسْمَاءِ الْآدَمِيِّينَ كَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي الْمَكَارِمِ وَأَبِي الْفَضَائِلِ وَأَبِي الْمَحَاسِنِ وَغَيْرِ ذَلِكَ وَيَجُوزُ تَكْنِيَةُ الصَّغِيرِ …..

Artinya: ” Diperbolehkan menggunakan nama kunyah atau nama panggilan bagi seseorang dan di sunatkan pula untuk memberikan nama penggilan tersebut yang disandarkan pada ahli fadli(orang yang berpengaruh/keluarga) dari pihak lelaki maupun perempuan, apakah itu disamarkannya terhadap anak maupun terhadap orang lain, Bahkan diperbolehkan pula menggunakan kunya tersebut dengan nama-nama luar bangsa adam seperti nama abu hurairoh, abu makarim, abu fadhoil, abu mahasin dan nama lainnya.

وَمِنْ ذَلِكَ أَبُو تُرَابٍ لَقَبُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ كُنْيَتُهُ أَبُو الْحَسَنِ ثَبَتَ فِي الصَّحِيحِ (أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَهُ نَائِمًا فِي الْمَسْجِدِ وَعَلَيْهِ التُّرَابُ فَقَالَ قُمْ أَبَا تُرَابٍ فَلَزِمَهُ هَذَا اللَّقَبُ الْحَسَنُ) رَوَيْنَا هَذَا فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ

Daripada itulah Abu turob yaitu nama panggilan daripada abi tholib yang dimana nama kunyah itu adalah abu hasan seperti yang ada pada tashih. “Sesungguhnya Rasululloh S.A.W bertemu dengan abu hasan tersebut di dalam mesjid, dan terdapat tanah pada abu hasan tersebut, sehingga Rasululloh pun berkata ” Berdirilah kamu hai abu thurob, maka dijadikanlah nama tersebut sebagai nam laqob bagi abu hasan. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam shahih dari sahal bin Sya’id.

Keteranagn lainnya yang menguraikan tentang diperbolehkannya menggunakan nama samaran ataupun nama penggilan bagi seseorang, seperti yang ada pada kitab – Al Mausu’atu Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah (11/337) :

وَالْفُقَهَاءُ لاَ يَخْتَلِفُونَ فِي جَوَازِ تَغْيِيرِ الاِسْمِ إِلَى اسْمٍ آخَرَ، وَفِي أَنَّ تَغْيِيرَ الاِسْمِ الْقَبِيحِ إِلَى الْحَسَنِ هُوَ مِنَ الأُْمُورِ الْمَطْلُوبَةِ الَّتِي حَثَّ عَلَيْهَا الشَّرْعُ

Artinya : “Para ‘Ulama’ ahli fiqhi tidak berselisih pendapat tentang kebolehan merubah sebuah nama ke nama yang lain. Dan merubah nama yang jelek ke nama yang bagus adalah perkara yang dianjurkan”.

يَجُوزُ تَغْيِيرُ الاِسْمِ عُمُومًا وَيُسَنُّ تَحْسِينُهُ، وَيُسَنُّ تَغْيِيرُ الاِسْمِ الْقَبِيحِ إِلَى الْحَسَنِ

Artinya: “Secara umum boleh merubah sebuah nama, dan sunnah merubahnya menjadi lebih baik. Sunnah merubah nama yang jelek menjadi yang bagus/baik”.

Dari peninjauan keteranga-keterangan tersebut, bisa di mengerti dan di faham bahwa menggunakan ataupun memberikan nama samaran ataupun nama panggilan bagi seseorang itu di perbolehkan saja selama tidak keluar dari pada koridor hukum agama serta mengandung arti yang baik pula.

Dengan catatan tidak ada maksud untuk menutupi identitas ataupn berbohong pada publik, kelar daripada itu maka hukumnya itu tidak diperbolehkan sebab itu bisa merugikan dan mendholimi orang lain.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com