Hukum Jika Tertidur Atau Melaksanakan Shalat Sunat Ketika Khutbah Berlangsung

Hukum Jika Tertidur Atau Melaksanakan Shalat Sunat Ketika Khutbah Berlangsung

Almunawwar.or.id – Hal yang mungkin jarang kita sadari ataupun tidak diketahui tentang bagaimana kedudukan hukum dari kelalaian dan kesengajaan dalam melaksanakan sebuah amalan, seperti tertidur ketika khutbah jum’at sedang berlangsung ataupun mengerjakan shalat sunat saat khutbah itu di langsungkan.

Yang mana pada dasarnya khutbah jum’at sendiri merupakan amalan yang setara hukumnya dengan dua raka’at shalat dzuhur, sehingga dari segi pengamalannya baik bagi orang yang melakasanakan khutbah (Khotib) maupun bagi para jama’ah itu harus di perhatikan layaknya ketika melaksanakan shalat.

Itu artinya sangat perlu penataan khusus tentang bagaimana cara terbaik dalam segi pelaksanaan saat khutbah jum’at itu sedang di lakukan oleh seorang khotib, Lalu bagaimana jika kedua hal tersebut pernah di lakukan ataupun karena ketidatahuan? Berikut penjelasannya mengenai pertanyaan tersebut.

1. Hukum Melaksanakan Shalat Sunat Ketika Khutbah
Berdasarkan keterangan yang terdapat pada kitab Roudlotut tholibin Juz 2 Halaman 30

ﻭﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﻓﻲ ﺃﺛﻨﺎﺀ ﺍﻟﺨﻄﺒﺔ ، ﺍﺳﺘﺤﺐ ﻟﻪ ﺃﻥ ﻳﺼﻠﻲ ﺍﻟﺘﺤﻴﺔ ، ﻭﻳﺨﻔﻔﻬﺎ . ﻓﻠﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﺎ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﺴﻨﺔ ، ﺻﻼﻫﺎ ﻭﺣﺼﻠﺖ ﺍﻟﺘﺤﻴﺔ . ﻭﻟﻮ ﺩﺧﻞ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺁﺧﺮ ﺍﻟﺨﻄﺒﺔ ، ﻟﻢ ﻳﺼﻞ ، ﻟﺌﻼ ﻳﻔﻮﺗﻪ ﺃﻭﻝ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﻊ ﺍﻹﻣﺎﻡ

Artinya : “Bila seseorang masuk masjid disaat berlangsung khotbah disunahkan baginya shalat Tahiyyatul Masjid dan ringkaskanlah, bila ia mengerjakan shalat sunnah maka kerjakan dan hasil pulalah pahala shalat tahiyyah, bila ia masuk masjid dan khotib berada dipenghujung khutbah jangan melakukan shalat agar tidak hilang kesempatan baginya mengerjakan awal shalat jumat bersama imam”.

Jadi jawabannya adalah jika adzan sudah berkumandang, dan khotbah sudah dimulai sedang kita baru datang, maka menurut madzhab syafi’i, kita dianjurkan tetap shalat tahiyatul masjid dulu tetapi dengan ringkas saja.

2. Shalat Tahiyyatul Masjid Bagi Khotib

Dalam Kitab Al-Majmu’ disebutkan bahwa Imam Al-Mutawali berkata :” dianjurkan bagi khotib untuk tidak menghadiri shalat jum’at kecuali setelah masuk waktu sekira jum’at dimulai di awal sampainya khotib pada mimbar, karena inilah yang dinukil dari Rasululloh shollallohu alaihi wasallam. Ketika khotib telah sampai mimbar, maka khotib naik ke mimbar dan tidak sholat tahiyatul masjid, tahiyatul masjid gugur baginya disini sebab sibuk dengan khutbah, sebagaimana gugurnya tahiyatul masjid bagi orang haji ketika masuk masjidil harom sebab thowaf.

3. Jika Tertidur Saat Khutbah
Keterangannya bisa di lihat dan di telaah kembali pada kitab Assyarqowi juz 1 halaman 265 dengan redaksi sebagai berikut :

.و سادسها تقدم خطبتين على الصلاة___بسماع هو أولى من قوله بحضور من تنعقد بهم الجمعة أى من يتوقف إنعقادها عليهم وهم أربعون أو تسعة وثلاثون سواه فيرفع الخطيب صوته بأركانهما حتى يسمعها تسعة وثلاثون سواه بالقوة لا بالفعل___فلا تكفي الإسرار ولا إسماع دون من ذكر ولا من لا تنعقد بهم ولا الحضور مع صمم أو بعد أو نوم على ما مر. الشرقاوي ١/٢٦٥

Walhasil : “Asalkan khuthbah jum’atnya sudah didengar oleh 40 orang ahlil jum’at maka shalat jum’atnya sah, tapi orang tidur tersebut tidak masuk dalam hitungan 40 ahlil jum’at.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id