Hukum Khutbah Dengan Menggunakan Terjemah Dan Pengertiannya

Hukum Khutbah Dengan Menggunakan Terjemah Dan Pengertiannya

Almunawwar.or.id – Tata cara pelaksanaan khutbah yang menjadi bagian penting terhadap rukun lainnya memang perlu dicermati baik dari penjelasannya maupun dari hal yang menjadi rukun terhadap khutbah itu sendiri, sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang ada didalamya dalam hal ini ilmu fiqih tentunya.

Baik itu khutbah untuk pelaksanaan sholat fardhu seperti sholat jum’at maupun sholat sunnat seperti sholat ‘Idaini yaitu sholat sunnah idul fitri dna sholat sunnat idul adha. Dimana secara penuturan dan penjelasannya isi dari pada khutbah harus di fahami oleh jamaah termasuk oleh khotib itu sendiri.

Meskipun dalam hal ini ulama ahli fuqoha berbeda pendapat tentang berkhutbah dengan mengunakan bahasa arab ataupun berkhutbah dengan memakai bahasa terjemah dalam artian di perjelas alagi tujuan dari isi khutbah bhasa arab tersebut dengan bahasa yang lebih di fahami dan di mengerti oleh semua jama’ah.

Pada bagian ini maka Ahmad Hanafi Assyafi’iyah berpendapat bahwa rukun khutbah di syaratkan bil arobiyah, berbeda menurut madzhab Hanafi yang memperboleh bahasa arab ataupun bahasa selainnya, walaupun dia(khotib) bisa berbahasa arab.

Sedangkn menurut madzhab Maliki dan madzhab Hambali itu mewajibkan bil arobiyah pada smua khutbahnya, sebagaimman ynag telah dijelaskan dalam kitab madzahib Al arba’ah halamaan yang redaksinya sebagai berikut:
Mbah Jenggot

شُرُوْطُ صِحَّةِ الجُمُعَةِ سِتَةُ…وَتَقْدِيْمُ خُطْبَتَيْنِ بِالعَربِيَّةِ وَاِنْ لَمْ يَفْهَمُوا

Artinya: “Syarat-syarat keabsahan salat jumu’ah itu ada enam… Dan mendahulukan dua khutbah dengan dua bahasa Arab, meskipun para jamaah tidak memahaminya…”

Bahkan ada juga keterangan yang menjelasakan tentang tata cara penyampaian isi khutbah yang di ambil dari kitab Nihayatuz Zein halaman 140 disebutkan:

(وَعَرَ بِيَّةٌ)بِاَنء تَكُوْنَ اَوْ كَانَ الخُطْبَتَيْنِ بِالْعَرَبِيَّتةِ .فَانْ لَمْ يَكُنْ ثُمَّ مَنْ يُحْسِنُ العَرَبِيَّةَ وَلَمْ يَمْكِنْ تَعَلَّمُهَا خَطَبَ بِغَيْرِهاَ.فَاِنْ اَمْكَن وَجَبَ عَلَى سَبِيْلِ فَرْضِ الكِفَابَةِ,فَيَكْفِى فِي ذَلِكَ وَاخِدٌ.فَلَوْ تَرَكُوْا التَّعَلُّمَ مَعَ اِمْ كَا نِهِ عَصَوْا وَلاَ جَمْعَةُلَهُمْ فَيُصَلّو نَ الظُّهْرَ

Artinya: “(Dan bahasa Arab) artinya hendaklah rukun-rukun khutbah adalah dengan bahasa Arab. Jika di sana (tempat melakukan salat jumuah) tidak ada orang yang dapat berbahasa Arab dengan baik dan tidak mungkin dapat mempelajarinya, maka khatib dapat/boleh berkhutbah dengan bahasa selain Arab. Jika memungkinkan belajar bahasa Arab, maka wajib atas semua orang secara wajib kifayah, dan dalam hal tersebut cukup dilakukan oleh satu orang.Dan jika mereka meninggalkan belajar bahasa Arab beserta kemampuan mereka untuk mempelajarinya, maka mereka telah berbuaat ma’siat dan salat jumuah yang mereka lakukan tidak sah, sehingga harus melakukan salat dhuhur”.

Dalam Kitab Ianatut Thalibin juz 2 halaman 69 diterangkan bahwa rukun-rukun khutbah jumuah (baca hamdalah, shalawat Nabi, berwasiat dengan taqwa, membaca ayat Alquran dalam salah satu dari dua khutbah, dan mendoakan kepada orang Mu’min laki-laki dan perempuan) harus diucapkan dengan bahasa Arab. Adapun selain rukun, boleh diterjemahkan ke dalam bahasa selain Arab. Dengan syarat harus ada kaitannya dengan nasihat-nasihat.

Demikianlah sekilas tentang penerangan yang menjelaskan tata cara khutbah sesuai dengan redaksi yang di ambil dari kitab-kitab fiqih. Semoga saja kita semua bisa memahami dan lebih mengerti akan pemaknaan dari adanya perbedaan pendapat dari masalah khutbah dengan terjemah ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com