Hukum Memanfaatkan Barang Gadaian Menurut Kajian Ilmu Fiqih

Hukum Memanfaatkan Barang Gadaian Menurut Kajian Ilmu Fiqih

Almunawwar.or.id – Adanya saling memberikan kemanfaatan atau memberikan sebuah kebijakan pertolongan bagi sesama manusia terutama seorang Muslim memang itu adalah hal yang sudah lumrah, dan biasanya hal tersebut sering terjadi pada sebuah transaksi atau aqad, termasuk dalam urusan gadai menggadai sebuah barang atau tempat yang dalam hal ini mungkin masih banyak yang kurang mengetahui prosedur apa yang seharusnya bisa dlakukan dalam aqad tersebut jika ingin sesuai dengan ketentuan hukum fiqh.

Sehingga tidak sedikit orang yang menerima gadaian (Murtahin) tersebut menjadikan barang sebagai ladang kemanfaatan yang tentunya akan menghasilkan, Padahal jika di tinjau dalam sebuah kaidah yang sesungguhnya bahwa arti kata gadai itu merupakan sebuah jaminan orang yang menggadaikan agar lebih di percaya oleh penerima gadai tersebut. Berbeda halnya dengan aqad sewa menyewa dimana sewa adalah penyerahan benda dalam sebuah akad, untuk diambil manfaat benda dengan harga dan dalam masa tertentu. Jadi sewa itu menjual manfaat.

Sedangkan Gadai adalah benda untuk jaminan dalam akad Hutang, jadi jika memang barang yang di gadaikannya itu di ambil manfaatnya oleh penerima gadai maka hal ini para Ulama memberikan pendapat mengenai status barang tersebut apakah boleh di ambil manfaat barang gadai dan tidak bolehnya? Sebagaimana banyak di terangkan dalam kitab-kitab Fiqih tentang hukum dari pada memanfaatkan barang gadai. Berikut penjelasannya :

1. Haram : Kareba termasuk hutang yang dipungut manfaatnya
2. Halal : Apabila tidak terdapat syarat pada waktu akad sebab menurut pendapat ulama fiqh yang masyhur adat yang berlaku di masyarakat tidak termasuk syarat
3. Syubhat : (Tidak jelas halal haramnya) karena terjadi perselisihan pendapat dalam permasalahan ini
Referensi :

و منها : لو عم في الناس اعتياد إباحة منافع الرهن للمرتهن فهل ينزل منزلة شرطه حتى يفسد الرهن قال الجمهور : لا و قال القفال : نعم

Jika sudah umum dikalangan masyarakat kebiasaan kebolehan memanfaatkan barang gadaian oleh pemilik gadai apakah kebiasaan tersebut sama dengan pemberlakuan syarat (kebolehan pemanfaatan) sampai barang yang digadaikan tersebut rusak ? Mayoritas Ulama menyatakan tidak sama sedang Imam ql-Qaffal menyatakan sama. Bisa di lihat kembali dalam kitab Asybah wa an-Nazhooir I/192.

( و ) جاز لمقرض ( نفع ) يصل له من مقترض كرد الزائد قدرا أو صفة والأجود في الرديء ( بلا شرط ) في العقد بل يسن ذلك لمقترض…. وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

( قوله ففاسد ) قال ع ش ومعلوم أن محل الفساد حيث وقع الشرط في صلب العقد أما لو توافقا على ذلك ولم يقع شرط في العقد فلا فساد

Diperbolehkan bagi sipemberi pinjaman untuk memanfaatkan (sesuatu kelebihan) yang diperoleh dari si peminjam seperti pengembalian yang lebih baik ukuran ataupun sifat dan lebih baik pada pinjaman yang jelek asalkan tidak tersebutkan pada waktu akad sebagai persyaratan bahkan hal yang demikian bagi peminjam disunahkan (mengembalikan yang lebih baik dibandingkan barang yang dipinjamnya)
Adapun peminjaman dengan syarat boleh mengambil manfaat oleh peminjam maka hukumnya rusak/haram sesuai dengan hadits “semua peminjaman yang menarik sesuatu (terhadap yang dipinjamkanny maka termasuk riba”

Dengan ini diketahui akan rusaknya akad tersebut jika memang disyaratkan dalam akad. Sedangkan jika keduanya (Si peminjam dan yang dipinjami uang) saling sepakat dan tanpa ada persyaratan tertentu dalam akad maka akad itupun tidak menjadi rusak (hukumnya boleh). Bisa di lihat dalam kitab I’aanah at-Thoolibiin III/353.

Catatan :
Boleh memanfaatkan barang gadai dengan beberapa syarat antara lain :
1.Ada idzin dari rohin (pemilik) untuk memanfaatkan barang yang digadai.
2.Ada dzon (prasangka) yang kuat bahwa rohin ridho atas pemanfaatan barangnya sebab kebiasaan yang berlaku di masyarakat setempat yang mana menurut jumhur ulama ini tidak masuk dalam syarat yang dapat menyebabkan akad menjadi rusak dan masuk kadalam riba, na’udzubillah.

Tetapi menurut mayoritas ulama bahwa sesungguhnya boleh bagi murtahin (penerima gadai) memanfaatkan / menggunakan barang gadaian jika rohin (yang menggadaikan) mengidzininya, dengan syarat hal itu tidak disyaratkan saat aqad. Karena kalau disyaratkan saat aqad maka menjadi hutang yang menarik kemanfaatan, dan itu hukumnya adalah riba. Dan menjual barang yang digadaikan tidak diperbolehkan tanpa idzin dari murtahin / penerima gadai.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id