Identitas Utama dan Pertama Dari Jati Diri Untuk Menuju Hal Yang Lebih Paripurna

Identitas Utama dan Pertama Dari Jati Diri Untuk Menuju Hal Yang Lebih Paripurna

Almunawwar.or.id – Manusia sebagai makhluq yang paling sempurna dari daya penciptaannya adalah laksana satu titipan pasti tentang bagaimana cara berproyeksi diri dalam meraih keutamaan jati diri, yang tentunya sangat bernilai dan berharga terlebih istimewa di pandang Ilahi rabbi.

Dan hal yang di maksudkan itu tidak lepas dari pada tujuan hidup ini yang sejatinya adalah sebuah panghambaan secara totalitas kepada sang khaliq yang telah memberikan kesempurnaan itu, dengan bentuk ibadah yang tidak tertolir dengan keadaan, waktu dan juga tempat.

Selama hayat masih di kandung badan, dan selama nyawa masih bersemayam, maka kewajiban akan ketaatan terhadap perintahnya itu adalah bentuk dari pada penyempurnaan dari sebuah identitas jati diri seorang hamba yang beriman dan bertaqwa.

Nah sebagai landasannya adalah dengan senantiasa mengamalkan dan mengaplikasian apa yang sudah di syariatkan dan di perintahkan juga dari apa yang di larang dan mesti di tinggalkan oleh setiap hamba untuk lebih memproyeksikan kesempurnaan dari hakikat dan fitrah seorang manusia.

Allah SWT berfirman, ”Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah). (QS Al-An’aam, 6: 162-163).

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”.

Perintah Allah itu memang awalnya pada Nabi Ibrahim AS. Namun, itu juga tertuju pada kita ketika tertera dalam kitab suci. Kita tidak cuma diperintahkan untuk tegas mengikrarkan diri dalam penyerahan total kepada Allah.

Lebih dari itu, kita juga diperintahkan berlomba-lomba menjadi orang-orang yang pertama, ada di barisan terdepan, dalam menyatakan diri sebagai Muslim. Tentu, bukan cuma di bibir, tapi dibuktikan dalam setiap detak jantung dan detik kehidupan, di dalam aspek ibadah, akhlak, berpakaian, bertingkah laku, makanan dan minuman, berpolitik, berbisnis, dan sebagainya.

Identitas itu pula yang dipakai Rasulullah SAW dalam surat-suratnya kepada penguasa terbesar di masa beliau, Kaisar Romawi Heraklius. Dengan mengutip ayat-ayat Alquran, Rasul menyeru salah satu kaisar terbesar imperium itu kepada Islam. Bila menolak, maka, ”Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim (yang berserah diri kepada Allah).” (QS Ali Imran, 3: 64).

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Artinya : “Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Bayangkan, di hadapan kaisar, demi menghadapi negara terkuat dan terluas di dunia saat itu, seorang kepala negara seperti Rasulullah SAW tidak menyebutkan identitas atau jatidiri yang lain, misal jabatan, latar belakang, atau jumlah kekuatannya. Seolah-olah kita diajari untuk rendah hati, meski sebenarnya itu justru pengakuan kemuliaan, baik di dunia maupun akhirat.

Sebab, seperti tertera dalam Sahih Muslim, sebagaimana dituturkan Abu Sufyan yang menjadi saksi pembacaan surat Nabi, bahwa kaisar sampai mengatakan, “Bila beliau ada di hadapanku, maka akan kucuci kakinya dan bersimpuh di hadapannya,” sebagai respons pernyataan Nabi bahwa dirinya adalah Muslim.

Itulah hati nurani seorang kaisar yang mau mengakui kehinaan dirinya karena bukan Muslim, meski jutaan rakyatnya memuliakan, bahkan bersujud padanya setiap hari. Ironisnya, kini banyak orang malu dan takut menyebut dirinya sebagai Muslim, baik itu rakyat jelata, wakil rakyat, pemimpin organisasi atau negara.

Mereka khawatir dituduh sektarian, memecah belah masyarakat, atau dikaitkan dengan teroris dan semacamnya. Mereka jengah tidak dianggap bagian masyarakat modern yang terpengaruh Barat, padahal peradaban Barat banyak merujuk peradaban Romawi dan Yunani, di mana seseorang yang paling dimuliakan di sana hingga hari ini (Heraklius) telah menyatakan kehinaan dirinya karena bukan bagian dari kaum Muslimin.

Kemusliman adalah identitas terawal, tertinggi, dan termulia. Dengan identitas itu kita dikenal dan berinteraksi. Dengan itu pula kita menyikapi segala hal. Bahkan, bagaimana kita diperlakukan ketika lahir dan meninggal dunia, akan tergantung padanya.

Sehingga tiada hal yang lebih berarti dan lebih paripurna lagi selain kita mampu meletakan apa yang menjadi penghalang dalam diri untuk menuju nilai kema’rifatan yang sejati, karena sesungguhnya itu adalah tujuan dan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Dimana tatkala panggilan jiwa mampu menjadikannya sebagai tumpuan dan tujuan hidup ini, di saat itu juga jati diri seorang manusia mulai menyadari dan merasakan begitu maha sempurna Sang Ilahi yang dengan penciptaannya itu bisa di jadikan sebagai fasilitas untuk bisa beribadah yang sesungguhnya.

Dengan tiga metode amalan terbaik yaitu iman, islam dna juga ihsan sebagai landasan dan tujuan dalam menggapai nilai ibadah yang sempurna dan paripuran sekaligus menjadi identitas yang sesungguhnya bagi seorang hamba yang beriman dan bertaqwa.

Sebab seorang Muslim yang telah mencapai Ihsan atau muslim yang telah bermakrifat, minimal mereka yang selalu merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla atau yang terbaik mereka yang dapat melihat Allah dengan hati maka mereka mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya , menghindari perbuatan maksiat, menghindari perbuatan keji dan mungkar hingga terbentuklah muslim yang berakhlakul karimah sesuai dengan tujuan beragama atau sesuai dengan tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Azza wa Jalla.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id