Ilmu Alat Sebagai Metode Al-Ghooyah Bahasa Sastra di Pesantren

Ilmu Alat Sebagai Metode Al-Ghooyah Bahasa Sastra di Pesantren

Almunawwar.or.id – Untuk lebih menunjang terhadap kelancaran dalam mempelajari semua ilmu di pesantren terutama dari segi literatur bahasa kitabnya itu sangat di butuhkan pemahaman dari kajiannya. Seperti salah satunya dengan menjadikan ilmu alat yang meliputi ilmu nahwa, ilmu shorof, ilmu balagoh, ilmu mantiq dan ilmu ma’ani sebagai bagian untuk lebih mengetahui secara luas pemahaman ilmu tersebut.

Daripada itulah penting sekali kiranya dalam mempelajari keterkaitan dari fungsi ilmu alat tersebut, sebab selain bisa memahami, membaca juga mengetahui tujuan dari isi kitab yang di pelajari di pesantren, ilmu alat ini juga bisa dikatakan sebagai metode al ghoyah yang mampu menerjemahkan baik secara pembacaan maupun dari pemahaman dari tujuan kitab-kitab yang di pelajari di sebuah pesantren.

Salah satunya dari tata cara pembacaan kitab kuning, dimana ilmu tata bahasa arab ini dalam dunia pesantren disebut dengan istilah ilmu alat karena memang digunakan sebagai “alat” untuk membaca kitab kuning.

Sebutan kitab kuning ini juga menjadi pembeda dengan munculnya kitab-kitab baru yang ditulis oleh kaum reformis atau modernis yang kebanyakan adalah tafsir al-Qur’an dan tentang hadits. Teks-teks yang ditulis kaum reformis ini kemudian dikenal dengan sebutan “buku putih”.

Dalam masyarakat Islam Indonesia, istilah kitab merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Arab, sementara istilah buku merujuk pada teks yang ditulis dalam bahasa Indonesia.

Bahkan bisa disebutkan Ilmu Nahwu dan Shorof adalah kunci pertama untuk dapat memahami literatur dan khazanan tradisi Islam, Al-Qur’an, hadits, dan segala macam ilmu penunjangnya.

Di pesantren, bahasa Arab merupakan salah satu materi pokok pembelajaran. Hal ini dilatarbelakangi paling tidak oleh tiga hal. Pertama, teks-teks kunci yang dipelajari di pesantren, dalam semua fan ilmunya, rerata masih menggunakan literatur berbahasa Arab.

Kedua, sumber paling dasar dan otentik ajaran pesantren, yakni Al-Qur’an, Hadist, dan Atsar (opini) Sahabat, juga menggunakan bahasa Arab. Ketiga, dalam Surah Yusuf Ayat ke-2 ditegaskan oleh Allah Swt, bahwa kitab suci umat Islam memang diturunkan dalam bahasa Arab.

Penegasan ini secara sosiologis melahirkan dimensi teologis di mana mempelajari bahasa Arab bukan seperti mempelajari bahasa asing lainnya, namun ada dimensi “transendental”, dengan kata lain bagian dari ibadah.

Yang menarik, dan banyak disadari berbagai kalangan, materi pembelajaran bahasa Arab menggunakan teks yang disusun dalam bentuk –sekaligus juga metode– sastrawi, yakni puisi atau nazdoman (syi’ir).

Meskipun untuk sekarang ini banyak yang kurang paham dan tidak setuju membangun alasan akan pentingnya mutu dari lahirnya seorang satrawan di pesantren, contohnya seperti berikut ini.

Pertama, apa yang dimaksud dengan tradisi sastra di pesantren tidaklah berbeda dengan genre sastra konvensional. Artinya, sastra pesantren belumlah sampai pada pembentukan satu genre tersendiri, sehingga dapat mengidentifikasi diri sebagai sastra pesantren. Bahkan, produk sastra yang disebut sebagai sastra pesantren seperti Alfiyyah merupakan karya ulama luar, bukan dari pesantren sendiri.

Kedua, para sastrawan yang berlatar belakang pesantren adalah mereka yang mengalami proses dan pematangan sastrawi di luar habitus pesantren. Pesantren sebatas latar sosial, sementara proses kreatif itu lebih banyak dibentuk dalam interaksinya dengan elemen-elemen luar pesantren, atau institusi lain.

Ketiga, setiap karya sastra selalu memuat pesan, baik nilai, gagasan, ideologi, maupun kepentingan tertentu. Pendek kata, nilai yang tersirat bukanlah semata-mata khas pesantren.

Keempat, banyaknya karya sastra dari pesantren hanyalah atributif, sebagaimana bisa juga dilekatkan pada sastra universitas, dan lainnya.

Tetapi keraguan dan kekurangpahaman tersebut bisa di jawab dengan keunggulan yang di miliki dan di ciptakan oleh pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mampu mendidik dan mengajarkan sisi kepribadian sesuai dengan literatur kaidah agama, untuk membentuk seorang muslim yang berkarakter berdasarkan konsekuensi dari kelebihan yang dimiliki oleh pesantren di antaranya.

Pertama, pesantren memang kaya dengan tradisi sastra seperti diuraikan di atas. Hal ini lebih menunjuk pada konsumsi sastra oleh kalangan pesantren. Konsumsi sastrawi ini, yang sudah menjadi kebiasaan sehari-hari, ketika dieksternalisasikan (diterjemahkan, dipentaskan, dinikmati publik) tersisa impresi sastrawi yang sublim dan mendalam.

Kedua, banyak sastrawan lahir dari latar belakang sosio-religio-kultural pesantren. Karya sastra mereka sedikit banyak dipengaruhi oleh dunia pesantren sebagaimana terekspresikan dalam struktur psikologi dalam karya maupun settingnya.

Ketiga, sastra pesantren membedakan dengan dirinya dari sumber dan kandungan nilai yang hendak disampaikan kepada publik.

Keempat, banyak karya sastra lahir dari dunia pesantren.

Dan dari beberapa faktor inilah membuat pendidikan yang gelar dan dilaksanakan di sebuah pesantren itu akan melahirkan seorang manusia yang berilmu amaliyah dan beramal ilmiyah.

Semoga bermanfaat. Wallohu’Alamu Bishowab