Imam Sibawaih Dalam Masa Kodifikasi Kepengarangan Tokoh-tokoh Nahwiyyah

Imam Sibawaih Dalam Masa Kodifikasi Kepengarangan Tokoh-tokoh Nahwiyyah

Almunawwar.or.id – Perkembangan yang terjadi dalam sejarah literasi bahasa arab sampai dengan saat ini memang tidak akan pernah lepas dari adanya karya-karya terbaik yang di berikan dan di suguhkan oleh para Ulama terdahulu termasuk dari kalangan Ulama ahli nahwu.

Dan mungkin di dunia pesantren mengenal sederetan nama-nama yang ahli dalam bidang literasi bahasa arab tersebut sudah sering di dengar, bahkan sering sekali di sebut ketika pengajian sedang berlangsung. Seperti karya-karya yang telah diciptakan oleh kedua tokoh ilmu nahwu yaitu Imam Khalil dan Imam Shibawaih.

Dimana keduanya merupakan tokoh ulama yang secara mupakat telah di akui keluhungan dan kejenisuan keilmuannya, juga di jadikan sebagai rujukan bagi para Ulama lain terutama ketika harus kembali membahas ilmu seputar tata bahasa arab yang baik dan benar sesuai dengan kaidahnya.

Antara kedua imam tersebut yakni Imam Khalil dan Imam Shibawaih merupakan guru dan murid, dimana semua karya-karya terbaik yang telah di guguskan oleh Imam Khalil sendiri telah di jadikan sebagai pegangan dalam bidang ilmu nahwu, juga telah di rangkum pula ke dalam sebuah kitab yang bernama “Alkitab” karangan Imam Shibawaih.

Sehingga pada masa Kodifikasi saat itu telah terjadi sebuah peradaban yang sungguh luar biasa dalam dunia islam, khususnya pada masa-masa kejayaan islam dahulu. Dimana konstitusi beragamnya ilmu lahir dan tercetus pada masa-masa itu salah satunya ilmu nahwu itu sendiri.

Banyak karya-karya terbaik yang telah di berikan oleh kedua Ulama tersebut yang secara unsur teoritias telah memadukan kecerdikan juga keintlektualan yang di kembangkan dan di terapkan pada literasi bahasa arab, sehingga bebruah ladang ilmu yang di jadikan kajian penting di lembaga-lembaga ondok Pesantren.

1. Imam Khalil
Imam Khalīl bin Aḥmad al-Farāhīdi al-Azdi. Tokoh ini sangat penting dan krusial dalam bidang pembangunan ilmu ini karenanya dia mendapat julukan sebagai imam dalam nahwu dan bahasa Arab. Dia tumbuh pada abad 2 H dengan bacaan Al-Qur’an. Pendapat-pendapat dia tentang ilmu bahasa banyak dikutip dan dimuat dalam karangan Sībawayhi, al-Kitāb.

Selain penting dalam ilmu Nahwu, imam Khalīl juga dikenal sebagai pendiri ilmu ʿArūḍ –ilmu tentang struktur lagu syair-syair bahasa Arab, mungkin bagi yang tidak pernah di pesantren, ilmu ini agak asing. Dia juga perintas dasar penyusunan Muʿjam al-Lughawī dengan penerapan matematika yang menggampangkan para pembacanya. Khalīl adalah orang yang memadukan kecerdikan dan keintelektualan.

Abū Ṭayyib al-Lughawī memujinya dengan ungkapan: “tidak ada orang sepertinya baik sebelum maupun sesudahnya, tidak ada orang Arab setelah zaman sahabat yang lebih cerdas darinya, dia adalah orang yang paling pandai, paling mulai, paling bertaqwa, dia adalah kunci ilmu” (Lihat Abu Tayyib al-Lughawi, Marāṭib al-Naḥwī, h. 54).

Kalangan ahli Nahwu sepakat akan kecerdasan dia dari kemampuannya menyelesaikan masalah-masalah sulit dalam ilmu ini. Ṣofyān al-Thawrī memujinya setinggi langit sebagaimana dalam ungkapannya: “bila seseorang hendak melihat laki-laki yang Allah telah ciptakan dari minyak wangi dan emas maka lihatlah Khalīl.”

(Diungkapkan dalam kitab Nazha al-Bā’, karangan al-Anbārī. Al-Khalīl adalah seorang “mampu mengumpulkan (sinkronkan) dan sekaligus menyempurnakan pemikiran-pemikiran para ahli tata bahasa, syair, dan qira’at dan lainnya sebagainya menjadi sebuah cara pandang baru.

Menurut riwayat, karangannya dalam bidang Nahwu mencapai 70an. Sebenarnya banyak sekali kontribusi teoritis dari Imam Khalīl dalam ilmu Nahwu dan juga Ṣaraf, namun dalam kesempatan ini, saya mungkin akan memberikan beberapa contoh sederhana saja sebagaimana berikut:

Pembedaan antara usul kalimat (kata kerja dasar bentuk lampau) seperti fa-a-la dan zawā’id (huruf-huruf tambahan pada bentuk dasar kata)nya dimana dengan adanya tambahan huruf ini akan berpengaruh juga pada munculnya bentuk-bentuk dan makna-makna lain.

Dalam hal ini Khalīl misalnya memberikan contoh bentuk tasniya (dua orang), jama taksir (plural tak beraturan) dan bentuk tasghīr (peminian seperti humaydi bentuk tasghīr dari hamīdun yang berarti hamid kecil). Teori tentang usul kalimat dan tambahannya ini juga yang membawa kita pertama kali pada analisa iʿlāl (penguraian kata berdasarkan asal kata dan tambahan-tambahannya). Khalīl di sini dianggap sebagai ulama yang berhasil mentransformasi ilmu Nahwu dari level yang waṣfiyya (kategoris) menuju level mʿyāriya (paradigmatis).

Beberapa kalangan ulama sezaman menyatakan bahwa Imam Khalīl-lah yang pertama mengemukakan pentingnya qiyās taʿlīlī, melakukan timbangan kalimat yang bersifat detil dan rasional, daripada sekadar qiyās biasa yakni proses qiyās yang dilakukan hanya dengan melakukan analogi kata perkata, bentuk tarkib dan iʿrāb, tanpa uraian dan alasan yang detil.

Ingat bahwa apa yang disebut qiyas dalam tradisi ilmu Nahwu di sini, meskipun secara bahasa memiliki pengertian yang sama, itu berbeda dengan qiyas dalam ilmu Ushul Fiqh. Di sini sebenarnya Imam Khalīl mulai berbicara cabang ilmu Nahwu lain yang bagi kalangan pesantren disebut dengan ilmu Ṣaraf.

Contoh dalam hal ini misalnya: sudah dalam konvensi tata bahasa Arab bahwa iʿrāb (perubahan) itu adalah hukum bagi isim (benda dan nama-nama), dan binā’ (keajekan) adalah hukum bagi fiʿil. Dalam hal ini Imam Khalīl menyatakan bahwa hukum-hukum ini bisa berubah dengan alasan adanya faktor-faktor (kasus-kasus) baru datang pada isim maupun fi’il (‘aaridlah) misalnya penyurapaan huruf dengan isim dan atau isim dengan fi’il.

Contoh penerapan kedua adalah pembentukan kata benda khusus yang dikenal dalam ilmu Nahwu dengan istilah ma’rifat –lawan dari nakirah, kata benda umum, itu tidak boleh dilakukan dengan dua alat pema’arifatan, misalnya, “ya al-ghulamu”, mencampurkan ya huruf nida’ (huruf panggil) dan al pada satu kalimat karena ya’ nida pada dasarnya sudah berfungsi sebagai alat yang menyebabkan suatu kata benda menjadi marifat, karenanya al di sini tidak dibutuhkan.

Satu contoh lain lagi dari qiyās taʿlīlī adalah alasan tentang keharusan pararelitas antara bentuk aṭaf dan ma’thuf misalnya mengapa tidak diperboleh kan mengatafkan (menyambungkan) kata benda atau kalimat (Abdullah) atas ḍamīr rafaʿ muttasil (kata ganti bentuk pertama yang menempel pada kata kerja bentuk lampau) sebagaimana yang terjadi pada kalimah berikut: “faʿaltu wa abd llāhi,” (saya telah melakukan dan juga Abdullah), bagi Imam Khalīl ini tidak boleh karena bertemunya secara langsung fi’il dan isim pada kata “faʿaltu” tidak sebangun dan selaran dengan bentuk isim, Abdullah.

Dalam kasus ini, hukum pararelitas bisa saja berubah jika terdapat faktor baru, misalnya menambahkan faktor lain setelah huruf athaf seperti contoh “mā ashraknā wa lā abā’unā “ (kami tidak menyekutukan dan juga bapak-bapak kami.” Lihatlah bangun kalimat ini, setelah wa ada laa dimana fungsi la di sini menyimpan kalimat ashraknā: lengkapnya, wa mā ashraknā wa lā ashkraknā abā’unā.

Saya tahu bahwa bagi kawan-kawan yang masih awam akan diskursus Nahwu pasti tidak akan paham dengan apa yang saya tuliskan ini. Namun ini sebenarnya adalah sebuah contoh kecil bagaimana Imam Khalīl mengajarkan kita tentang termungkinkannya perubahan-perubahan dan perbedaan-perbedaan pembacaan dengan dasar rasionalitas bahasa dan nalar tertentu.

2. Imam Shibawaih
Sibawayhi bernama asli ʿAmr b. Uthman b. Qanbar dari arah Ibn Ḥarith b. Ka’ab. Menurut beberapa kalangan, Imam Sibawayhi lahir di Persia dan tumbuh di Basrah. Kalangan sejarahwan tidak menyebutkan tanggal kelahirannya, namun Sibawayhi, diperkirakan meninggal pada 180 H.

Ada apa dengan Imam Sibawayhi sehingga aktor ini begitu penting dalam pembentukan ilmu Nahwu ini. Beliau adalah penulis sebuah kitab terpenting yang disepakati di kalangan ahli Nahwu diberi judul Al-Kitab. Apa maknanya?

Judul ini merupakan pengibaratan atas betapa pentingnya kitab ini sehingga para ahli Nahwu ada yang menyebutnya sebagai “Qur’an al-Nahwy” artinya Bacaan (Qur’annya) Nahwu, sumber Nahwu. Namun beberapa kalangan menyatakan bahwa apa yang sesungguhnya diutarakan dalam Al-Kitab banyak dinukilkan dari Imam Khalil b. Ahmad, guru Sibawayhi.

Hal ini terlihat dari narasi-narasi yang dipaparkann oleh Imam Sibawayhi misalnya, sa’altuhu (saya telah bertanya) atau qala (berkata, kata kerja bentuk lampau [maḍi] yang menyimpan dhamir [kata ganti] laki-laki). Baik pada sa’altuhu maupun qala, sesungguhnya isi dari dhamir itu tidak lain adalah Imam Khalil b. Aḥmad.

Meskipun demikian, kita tidak bisa memungkiri bahw Imam Sibawayhi memang yang secara sistematis merangkaum dan meformulasikan pendapat-pendapat dahulu dalam bentuk karangan ini (Al-Kitab).

Pengakuan pentingnya Al-Kitab misalnya dinyatakan oleh al-Jahiḍ dimana suatu saat dia berencana berkunjung ke Muḥammad b. ʿAbd Mulk, seorang menteri zaman al-Muʿtaṣim, dan berpikir hadiah apa yang pantas diberikan kepada sang menteri. Lalu al-Jahidz memutuskan sebagai hadiahnya tidak lain adalah Al-Kitab ini (“lam ajid shay’an ahdihi laka mithla hadha Al-Kitab,” tidak aku temukan sesuatu untuk ku hadiahkan padamu yang sepadan [seharga] Al-Kitab).

Bahkan menurut sejarah, Al-Jahiḍ harus membeli Al-Kitab dari Al-Farra’ yang merupakan harta warisannya. ʿAbd Mulk menjawab pemberian Al-Jahiḍ, “demi Allah apa yang kamu telah berikan padaku adalah sesuatu yang paling aku sukai.” Sebenarnya, banyak kisah-kisah lain yang menyanjung Al-Kitab ini, namun tidak perlu saya utarakan di sini.

Selanjutnya, banyak karya-karya sarjana terkemuka masa lalu yang ditujukan secara khusus untuk mensyarahi (menjelaskan) dan mengajarkan Al-Kitab kepada murid-murid mereka. Mereka itu misalnya Abu Saʿid As-Sirafi, Mubarrad, ʿAli b. Sulayman Al-Akhfash, Ar-Ramani, Ibn Siraj, AZ-Zamakshari dan masih banyak lainnya.

Di dunia akademia Barat, Al-Kitab diterjemahkan oleh Derenbourg, seorang sarjana berkebangsaan Prancis pada menjadi dua volume pada tahun 1881-1889 M. Beberapa tahun kemudian, sarjana berkebangsaan Jerman asal Berlin, G. Jahn, menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab, didasarkan pada terjemahan versi Prancis Derenbourg, namun dilengkapi dengan komentar-komentar (taʿliqat) dari As-Sirafi.

Edisi Jerman ini diberi judul Sibawayhi’s Buch uber die Grammatik pada 1995-1900. Beberapa tahun kemudian, penerbit Bulaq, Cairo, Mesir, menerbitkan Al-Kitab dalam dua volume (1316-1318 H). Edisi Bulaq ini dianggap sebagai terbitan yang terbaik. Di dalam edisi Bulaq ini, di pinggir kitab (hamish), bagi yang terbiasa membaca kitab lama, pasti mengerti ini, dicantumkan penjelasan Abu Saʿid As-Sirafi.

Studi tentang Sibawayhi yang agak belakangan dan cukup komprehensif misalnya terlihat dalam buku, The Legacy of the Kitab karya Ramzi Ba’labakki. Buku ini merupakan uraian yang sangat detil atas Al-Kitab misalnya aktivitas keilmuan yang berkaitan dengan Nahwu dan sejarah Al-Kitab.

Dalam buku ini juga dijelaskan beberapa konsep kunci untuk memahami Al-Kitab seperti tentang apa pengertian samaʿ (data yang sudah diuji), qiyas (analogi), ʿIlla (sebab), takdir (supplative insertion, penyelundupan makna), ʿamal (aturan-aturan) dan aṣal (asal usul).

Selain itu, buku ini juga menjelaskan hubungan Sibawayhi dengan Mubarrad serta imam-imam lainnya. Sebuah buku volume yang bertajuk The Foundations of Arabic Linguistics: Sibawayhi and Early Arabic Grammatical Theory, bertindak sebagai editor adalah Amal Elesha Marogy, adalah karya modern lain soal Imam ini. Buku ini memuat artikel-artikel penting yang ditulis oleh orang-orang yang kompeten dalam bidang Nahwu mengenai keseluruhan aspek Imam Sibawayhi dan Al-Kitabnya dengan sangat detil.

Salah satu tulisan misalnya membahas bagaimana konsep mafʿul (obyek langsung) dikemukakan oleh Sibawayhi. Buku-buku tentang Sibawayhi yang barusan saya kemukakan adalah merupakan contoh bagaimana studi tentang Imam Sibawayhi terus berlanjut sampai sekarang. Bahkan kajian seperti itu tidak hanya dimonopoli oleh fakultas-fakultas bahasa Arab di universitas-universitas terkemuka di Timur Tengah, bahkan di Barat.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id