Imam Syafi’i Dengan Sejarah Pemikirannya Dalam Masalah Ilmu Fiqih

Imam Syafi'i Dengan Sejarah Pemikirannya Dalam Masalah Ilmu Fiqih

Almunawwar.or.id – Ilmu fiqih yang merupakan salah satu ilmu asas dalam agama Islam itu lahir dari pemikiran para Ulama salafusholih yang berdasarkan dalil dari Al Quran dan Al hadits, Banyak para Ulama yang memberikan pandangan ilmunya tentang masalah Fiqh yang tertuangkan dalam beberapa karangan kitabnya untuk memberikan ilmu dan pengertian dari ALquran dan ALhadits tersebut supaya lebih di menegerti dan di pahami oleh masyarakat awam.

Ilmu Fiqih sendiri merupakan ilmu Agama yang mengatur semua peribadahan dhohiriyah yang tentunya melibatkan semua anggota tubuh sebagai media dalam pengamalan ilmu fiqih tersebut. Semua tatanan peribadahan yang bersangkutan dengan bagian luar badan (zhahir) itu di atur oleh Ilmu Fiqih yang berdasarkan keterangan-keterangan dari Alquran dan Al hadits, Karena untuk memahami lebih dalam keterangan tersebut maka sangat di butuhkan ilmunya.

Dan ilmu para ulama yang berangkat dari pengalaman dan pengamalannya dari dalil Alquran dan Alhadits tersebut di sampaikan lewat risalah-risalah karangan mereka yang tertuangkan dalam karya ilmu fiqih (kitba kuning). Tujuannya adalah supaya orang Awwam tahu betul tentang bagaimana cara beribadah yang sesuai dengan syariat agama Islam, dan ilmu para Ulama Fiqih itu menjadi bagian penting terhadap sisi pemaknaan tersebut.

Banyak Ulama ahli fiqih lahir di masanya, Mereka memberikan fatwa penting terhadap tata cara beribadah sesuai dengan aturan agama, karya pemikirannya yang berbuah dengan lahirnya sebuah panduan beribadah zhahir itu tidak lepas dari peran pemikiran para Ulama ahli fiqih atau yang di sebut dengan istilah Fuqoha. dan dari Fuqoha tersebut maka lahirlah empat imam madzhab fiqih salah satunya adalah Imam Syafi’i.

Imam Syafi’i lahir pada tahun 150 H di kota Gaza, Palestina. Di usia yang relatif muda, ia sudah menggebrak panggung sejarah pemikiran ushul fiqh dengan mahakarya kitab ar-Risalah. Kitab ar-Risalah yang ditulis oleh Imam Syafi’i di kota Makkah lebih dikenal dengan “ar-Risalah al-Qadimah” atau disebut juga dengan “ar-Risalah al-Atiqah”. Keistimewaan dari Imam Syafi’i dibandingkan dua mujtahid mutlaq sebelumnya, yaitu Imam Abu Hanifah yang terpusat di Iraq dan Imam Malik yang terpusat di kota Madinah, adalah perjalanan keilmuannya yang sangat kaya dan panjang.

Pandangan Imam Syafi’i tentang Ilmu Ushul fiqh
1. Menjelaskan dalil-dalil yang diambil dalam menentukan hukum yaitu Al-Qur’an, hadits, ijma’, qiyas, serta mempertajam urutannya.
2. Memperkokoh hujjah hadits secara umum dan mengukuhkan hujjah hadits Ahad secara khusus serta menerangkan tentang tidak adanya pertentangan secara nyata baik antara Al-Qur’an dan hadits maupun antara satu hadits dengan hadits lainnya sebagai sumber dalil.
3. Menjelaskan kewajiban mengikuti jalan orang-orang beriman (ijma’).
4. Memberikan batasan dan kadar yang jelas dalam menjadikan akal sebagai patokan hukum serta memberikan syarat yang terperinci dalam menggunakan Qiyas.
5. Memberikan perlawanan cukup serius dalam mematahkan hujjah Mu’tazilah yang terlalu ekstrem dalam mentakwil sifat Allah.
6. Memberikan peringatan bahwa Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab serta di dalam Al-Qur’an ada beberapa cara baca yang memang ada di dalam pelafalan bahasa Arab.
7. Menerangkan tentang amr (perintah) dan nahi (larangan). Menjelaskan naskh dan mansukh (pembatalan hukum).

Sejarah Perjalanan Keilmuan Imam Syafi’i
Dimulai dari kota Makkah yang sangat terkenal dengan ilmu tafsir dan asbabun nuzul Al-Qur’an. Imam Syafi’i mulai menetap di kota Makkah sejak usia dua tahun. Imam Syafi’i telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an sebelum usianya genap menginjak umur tujuh tahun.

Di kota Makkah, Imam Syafi’i menimba ilmu kepada Syekh Muslim bin Khalid az-Zanji. Kemudian, di usia 13 tahun Imam Syafi’i mulai mengembara ke kota Madinah yang terkenal dengan gudangnya ulama ahli hadits. Di kota Madinah inilah Imam Syafi’i menimba ilmu kepada Imam Malik bin Anas. Imam Syafi’i menetap di kota Madinah hingga tahun 179 H/795 M, tahun di mana Imam Malik bin Anas wafat.

Selain menimba ilmu agama, Imam Syafi’i juga belajar gramatika bahasa Arab ke pelosok-pelosok pedalaman jazirah Arab. Diriwayatkan Imam Syafi’i pernah menetap lama di perkampungan bani Hudzail. Di fase inilah, Imam Syafi’i mendapatkan penguasaan gramatika bahasa Arab yang fashih dan baik, yang di kemudian hari sangat menunjangnya dalam memahami tata bahasa Al-Qur’an dan Hadits.

Di kota Makkah dan Madinah inilah, Imam Syafi’i bertemu dengan pakar ahli hadits, ahli tafsir dan ahli fiqh yang mumpuni di bidangnya. Imam Syafi’i mampu menyerap semua ilmu itu dengan baik. Hingga di fase ini, Imam Syafi’i mendapatkan derajat mumpuni dalam bidang fatwa, baik di bidang fiqh maupun bidang Hadits.

Pengembaraan Imam Syafi’i berlanjut ke kota Baghdad pada tahun 195 H/810 M. Di fase inilah, Imam Syafi’i menemukan banyak penyesuaian. Imam Syafi’i mampu menyelaraskan dengan baik pemikiran ahlu naql (ulama yang banyak bersandar pada teks agama, red) yang didapatkan di kota Madinah di bawah asuhan Imam Malik dengan pemikiran ahlu ra’yi (ulama yang banyak bersandar pada akal) yang didapatkan di bawah asuhan Imam Muhammad bin al Hasan, murid dari Imam Abu Hanifah di kota Baghdad. Di kota Baghdad inilah, Imam Syafi’i memiliki beberapa murid. Murid-murid beliau di kota Baghdad di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal, az-Za’farani, dan al-Karabisi.

Selain menimba ilmu agama, Imam Syafi’i juga belajar gramatika bahasa Arab ke pelosok-pelosok pedalaman jazirah Arab. Diriwayatkan Imam Syafi’i pernah menetap lama di perkampungan bani Hudzail. Di fase inilah, Imam Syafi’i mendapatkan penguasaan gramatika bahasa Arab yang fashih dan baik, yang di kemudian hari sangat menunjangnya dalam memahami tata bahasa Al-Qur’an dan Hadits.

Setelah perjalanan keilmuannya yang panjang, tak pelak, Imam Syafi’i merasa memerlukan banyak reformasi dalam kitab ar-Risalah yang telah ditulis dahulu di kota Makkah. Hingga di fase akhir inilah, Imam Syafi’i menulis ulang kitab ar-Risalah di Fustath, salah satu bagian dari kota Kairo di negeri Mesir saat itu. Maka lahirlah kitab ar-Risalah versi baru yang dianggap para ulama setelahnya sebagai puncak pemikiran Imam Syafi’i.

Di kemudian hari, karya yang ditulis ulang ini lebih masyhur dengan sebutan “ar-Risalah al-Jadidah” atau dikenal juga dengan “ar-Risalah al-Mishriyyah”. Akan tetapi, meskipun telah mengalami masa menimba ilmu yang sangat panjang Imam Syafi’i tetap berusaha untuk menyempurnakan kitab ar-Risalah. Hal ini, sebagaimana catatan Imam al-Baihaqi dalam kitab Manaqib asy-Syafi’i yang bersumber dari Rabi’ bin Sulaiman, murid dari Imam Syafi’i bahwa beliau berkata:

“Aku membaca kitab ar-Risalah al-Mishriyyah di hadapan Imam Syafi’i lebih dari 30 kali, dan setiap aku membaca di hadapannya, Imam Syafi’i selalu memberikan koreksi atas kitab ar-Risalah al-Mishriyyah, kemudian pada akhirnya Imam Syafi’i berkata kepadaku, ‘Allah tidak menakdirkan sebuah kitab lebih shahih (terhindar dari kesalahan) kecuali dalam kitab-Nya (Al-Qur’an)’.”

Di kemudian hari, kitab ar-Risalah yang ditulis oleh Imam Syafi’i dijabarkan lebih panjang (syarh) oleh Imam Abu Bakar Muhammad bin Abdullah ash-Shairafi, Imam Abu Walid Hassan bin Muhammad al Umawi, Imam Muhammad bin Ali yang lebih masyhur dengan julukan al-Qaffal asy-Syasyi, Imam Abu Muhammad al-Juwaini (ayah dari Imam Haramain al-Juwaini), dan Imam Abu Bakar Muhammad bin Abdullah asy-Syaibani.

Setelah lahirnya kitab ar-Risalah al-Jadidah Imam Syafi’i merasa perlu untuk menyempurnakan lagi ilmu ushul fiqh yang beliau rintis dengan menerbitkan kitab Jima’ul Ulum. Kitab ini banyak menceritakan tentang golongan yang menolak dalil hadits Ahad serta bantahannya dan sejenisnya. Disusul setelahnya, Imam Syafi’i menerbitkan kitab Ikhtilaful Hadits yang menjelaskan perbedaan pendapat para ulama dalam menyikapi hadits yang beredar. Kitab ini disusun sesuai dengan alur bab ilmu fiqh.

Dan pada akhirnya Imam Syafi’i menutup karya-karyanya dalam ilmu ushul fiqh dengan menerbitkan kitab Ibthalul Istihsan. Kitab ini banyak mengkritik ulama yang terlalu berlebihan dalam memakai metode istihsan. Selain itu, Imam Syafi’i juga menulis kitab Sifatu Nahyi Nabi yang menjelaskan makna larangan (nahyu) dalam hadits Nabi. Dan setelah periode Imam Syafi’i, berbondong-bondonglah para ulama generasi selanjutnya untuk menelisik lebih jauh di dalam masalah Al-Qur’an dan hadits.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.o.id