Integritas Nilai Konstitusi Hijrah Dari Sisi Pengambilan Nama dan Makna Muharram

Nilai Konstitusi Hijrah Dari Sisi Pengambilan Nama dan Makna Bulan Muharram

Almunawwar.or.id – Datangnya bulan muharram ini adalah salah satu momen yang tepat dalam menyambut dan menyongsong datangnya harapan dan cita-cita baru untuk lebih berhijrah diri dalam meraih dan melangkah ke hal yang lebih baik lagi sesuai dengan pemaknaan dari pada bulan muharram tersebut.

Karena dengan selain mampu menumbuhkan nilai konstitusi hijrah yang sesungguhnya sesuai dengan peristiwa penting yang terjadi di bulan tersebut, Sudah seyogyanya sebagai umat islam itu lebih real lagi untuk di jadikan sebagi prospek sebagaimana makna yang terkandung di dalamnya.

Sesuai dengan pemaknaan tersebut, baik secara makna maupun dari pada penamaan bulan muharram itu mengandung nilai yang sangat tinggi terutama dari momen-momen terbaik dan peristiwa paling istimewa yang terjadi di masa dahulu yang bisa di raih dengan se paripurna oleh umat islam.

Oleh sebab itulah sebuah opini penting tentang pengertian, pemahaman juga maksud dari pada bulan Muharram itu kiranya penting sekali untuk bisa di ketahui secara luas dan mendalam oleh setiap individu umat islam sesuai dengan arti dari pada di balik penamaan bulan tersebut.

Nah untuk lebih jelasnya lagi, ulasan di bawah ini mungkin bisa memberikan satu pencerahan pasti dari hal-hal yang berhubungan dengan keistimewaan yang terjadi di bulan Muharram selain sebagai bulan pertama sesuai dengan penanggalan tahun baru hijriah.

Mengapa Muharram bulan mulia?
Sebagaimana dijelaskan dalam QS Attaubah ayat 36:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Artinya : “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa”.

Bahwa Allah telah menetapkan 4 bulan yang terhormat diantara 12 bulan yang Allah ciptakan, mengapa muharram menjadi bulan yang mulia? ada banyak peristiwa penting yang terjadi pada bulan muharram, sehingga predikat bulan mulia disematkan kepada bulan muharram antara lain:

A. Pada tanggal 1 (satu) muharram, Khalifah Umar bin khattab mulai menetapkan 1 Hijriah sebagai tanda permulaan tahun baru Islam.
B. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram dinamai assyura pada hari itu banyak terjadi peristiwa penting yang mencerminkan kegemilangan bagi perjuangan yang gigih dan tabah untuk menegakkan keadilah dan kebenaran yang terjadi antara lain:

C. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Nabi Adam bertaubat kepada Allah
D. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Nabi Idris diangkat oleh Allah ke langit
E. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Nabi Nuh diselamatkan Allah keluar dari perahunya sesudah bumi ditenggelamkan selama 6 bulan
F. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Nabi Ibrahim diselamatkan Allah dari pembakaran Raja Namrud
G. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Allah S.W.T menurunkan kitab Taurat kepada nabi Musa
H. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Nabi Yusuf dibebaskan dari penjara
I. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram penglihatan nabi Yaakob yang kabur dipulihkkan Allah
J. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Nabi Ayub dipulihkan Allah dari penyakit kulit yang dideritanya
K. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Nabi Yunus selamat keluar dari perut ikan paus setelah berada di dalamnya selama 40 hari 40 malam
L. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Laut Merah terbelah dua untuk menyelamatkan nabi Musa dan pengikutnya dari tentara Firaun
M. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Kesalahan nabi Daud diampuni Allah
N. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram nabi Sulaiman dikurniakan Allah kerajaan yang besar
O. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Hari pertama Allah menciptakan alam
P. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Hari Pertama Allah menurunkan rahmat
Q. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Hari pertama Allah menurunkan hujan
R. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Allah menjadikan ‘Arasy
S. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Allah menjadikan Luh Mahfuz
T. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Allah menjadikan alam
U. Pada tanggal 10 (sepuluh) muharram Allah menjadikan Malaikat Jibril dan Nabi Isa diangkat ke langit, semua terjadi pada 10 Muharram, bulan yang mulia.

Etimologi Muharram
Sebelum Khalifah Umar Bin Khattab menentukan momentum hijrahnya Rasulullah saw. ke Madinah sebagai titik penentu perhitungan hijriyah, bulan Muharram disebut dengan bulan Shafar Awal, karena posisinya yang terletak sebelum bulan shafar.

Nama Muharram secara bahasa dapat diartikan sebagai bulan yang diharamkan. Yaitu bulan yang didalamnya orang-orang Arab diharamkan dilarang (diharamkan) melakukan peperangan. Begitulah kebiasaan mereka tempo dulu mengkhususkan bulan-bulan peperangan dan bulan-bulan gencatan senjata. Dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir terdapat keterangan berikut:

أَنَّ الْمُحَرَّمَ سُمِّيَ بِذَلِكَ لِكَوْنِهِ شَهْرًا مُحَرَّمًا، وَعِنْدِي أَنَّهُ سُمِّيَ بِذَلِكَ تَأْكِيدًا لِتَحْرِيمِهِ؛ لِأَنَّ الْعَرَبَ كَانَتْ تَتَقَلَّبُ بِهِ، فَتُحِلُّهُ عَامًا وَتُحَرِّمُهُ عَامًا

“Dinamakan bulan Muharram karena bulan tersebut memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan, bahkan bulan ini memiliki keistimewaan serta kemuliaan yang sangat amat sekali dikarenakan orang arab tempo dulu menyebutnya sebagai bulan yang mulia (haram), tahun berikutnya menyebut bulan biasa (halal).”

Orang arab jaman dulu meyakini bahwa bulan Muharram adalah bulan suci sehingga tidak layak menodai bulan tersebut dengan peperangan, sedangkan pada bulan lain misalnya shafar, diperbolehkan melakukan peperangan. Nama shafar sendiri memiliki arti sepi atau sunyi dikarenakan tradisi orang arab yang pada keluar untuk berperang atau untuk bepergian pada bulan tersebut.

صَفَرٌ: سُمِّيَ بِذَلِكَ لِخُلُوِّ بُيُوتِهِمْ مِنْهُ، حِينَ يَخْرُجُونَ لِلْقِتَالِ وَالْأَسْفَارِ

“Dinamakan bulan shafar karena rumah-rumah mereka sepi, sedangkan para penghuninya keluar untuk berperang dan bepergian.”

Maka, sesuai dengan penamaannya bulan Muharaam adalah bulan yang di muliakan dan bulan dimana di larang melakukan peperangan. Demikianlah Allah swt. telah menentukan empat bulan yang dimuliakan, tiga di antaranya berurutan yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram, sedangkan yang terakhir adalah Rajab terletak antara bulan Jumadal Ula dan Sya’ban.

Momen Untuk Berbenah diri
Islam mengajarkan agar kita selalu menjadi lebih baik dari hari ke hari, muharram menjadi momentum terbaik untuk berbenah diri. Mengutip hadits Rasulullah SAW bersabda:

“Man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, wa man kana yaumuhu mitsla amsihi fahuwa khasirun. Wa man kaana yaumuhu syarran min amsihi fahuwa halikun”

Artinya : (Siapa harinya lebih baik dari kemarin maka beruntung, siapa yang harinya sama dengan kemarin maka merugi, dan siapa yang harinya lebih buruk dari kemarin maka celaka).”

Sebagai manusia, kita adalah tempatnya salah dan lupa, akan tetapi Allah SWT dengan rahman dan rahimnya memberikan jalan bagi kita untuk memperbaiki diri kita di hadapan-Nya, dengan menghapus dosa-dosa dan mengangkat derajat kita. Karenanya sebagai manusia kita dituntut dan diajarkan untuk terus berbenah diri dan mengoreksi diri menjadi lebih baik, lebih bermanfaat bagi makhluk lain. Khairunnas anfauhum linnas.

Tak dapat dipungkiri, suka atau tidak suka, kita menghadapi era keterbukaan informasi dan tekhnologi. dimana hampir tak ada yang tidak bisa kita ketahui tentang dunia luar, tak ada yang bisa mengontrol seseorang untuk berkata atau berlaku apapun, kecuali naluri fitrah kemanusiaan kita sebagai khalifatullah.

Di era digital semua orang tak pandang usia, tua muda, anak-anak, juga kakek nenek semua bisa menggunakan media dan bersosialisasi dengan dunia luar cukup dengan satu tombol klick, yes bermedia sosial (yang kemudian kita sebut medsos) is very easy.

Apa yang telah kita persiapkan untuk menyambut suatu hari, di saat kita sendirian di dalam kubur. Apakah selama ini kita termasuk orang yang terlena dengan angan-angan yang panjang. Ataukah termasuk orang yang menggunakan bashirah (pandangan yang jernih) yang beramal untuk hari esok? Kita hendaknya bersikap dinamis.

Ada maqalah, man kana yaumuhu khairan min amsihi fahuwa rabihun, man kana yaumuhu sawaan min amsihi fahuwa maghbunun, man kana yaumuhu syarran min amsihi fahuwa mal’unun. Barangsiapa hari ini lebih baik dari pada kemarin, dia beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan kemarin, dia tertipu. Dan barang siapa hari ini lebih buruk dari pada kemarin, dia terlaknat.

Maka segeralah berintrospeksi, menghitung diri. Karena dunia adalah Darul Ghurur (tempat yang memperdaya), pasti akan ditinggalkan. Tidak ada yang terlena, kecuali orang jahil. Untuk itu perhatikan kiat-kiatnya sbb :

A. Ketika pagi tiba, mulailah hari dengan berdzikir kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala, sebagai mana diajarkan Nabi Shalallaahu alaihi wasalam. Jangan lupa membaca do’a pagi hari.
B. Sambutlah hari itu dengan niat yang benar. Berazam melakukan ketaatan. Menjauhi segala maksiat serta memohon kepada Allah taufik dalam jalan yang diridhai.
C. Tahanlah tangan dan mulut kita dari mengganggu sesama muslim. Jangan mengumbar mulut untuk mensuarakan fitnah. Sayangi orang yang lemah dan ajari mereka yang tidak tahu.
D. Senyumlah di hadapan sesama muslim. Senyum itu adalah shadaqah.
F. Senang jika sesama muslim mendapatkan kebaika. Sebagaimana kita senang jika mendapatkannya. Jangan malah sebaliknya, mendoakan saudaranya mendapat keburukan.
G. Jangan sepelekan perbuatan baik walau hanya perkara kecil dalam pandangan kita.
H. Jika ada kesempatan bertaqarrub kepada Allah, maka jangan sia-siakan.
I. Bergegaslah mengumpulkan kebaikan – sebagaimana Anda senang jika harta kita terkumpul.
J. Jauhkan diri kita dari segala bentuk kemaksiatan, atau segala sesuatu yang mengantarkan kepadanya.

Kita bisa mendapatkan informasi apapun yang kita inginkan, juga bisa mengatakan apapun yang ingin dikatakan, bisa menilai apapun terhadap orang lain atau sesuatu baik atau buruk, bahkan yang tak ada kejadiannyapun bisa dibuat seakan-akan ada kejadiannya, parahnya lagi dalam hal keburukan atau berita tidak benar, atau yang sering kita dengar berita hoaks, mungkin dalam bahasa agama, kita sebut hoaks sama dengan fitnah.

Kita perlu mengingat dalam bermedsos ada haqqual adam yang harus kita perhatikan, jangan sampai ada orang-orang yang merasa dirugikan akibat perbuatan kita, baik perbuatan kita itu kita lakukan dengan menggunakan lisan, tangan atau anggota badan yang lain.

“Salamatul insan fi hifdzillisan” (maqalah) ada hak hak orang lain yang terampas oleh kita secara zhalim, ketenangan mereka terusik oleh ucapan kita, kekhusyuan mereka terganggu oleh perbuatan kita.

Dalam mukhtarul ahadits annabawiyah karangan sayyid ahmad al Hasyimi bik, Almuslimu man salimalmuslimuna min lisanihi wa yadihi, almukminu man amanahunnaasu ala dimaihim wa amwalihim, wal muhajiru man hajara, ma nahallahu anhu (rawahu ahmad), “Seorang muslim adalah yang dapat menyelamatkan saudaranya dengan tangannya (perbuatannya) dan lisan (perkataan atau penilainnya) dan seterusnya”.

Karenanya di momentum 1 (satu) muharram ini di tahun baru hijriyyah ini, saatnya kita bersama-sama membenahi diri, lebih selektif lagi dalam menerima informasi dan lebih hati hati lagi dalam menulis atau mengatakan sesuatu. Juga janganlah kita mau menjadi penyalur berita yang belum jelas kebenarannya atau berita hoaks.

Berubah sama dengan bergerak, berbenah juga bergerak; sebagaimana disampaikan dalam shahibul talimu mutaalim, syekh Burhanuddin Az-Zarnuji bahwa setiap usaha untuk mencapai hasil yang lebih banyak, derajat yang lebih tinggi niscaya dibutuhkan bergerak menuju ke arah yang lebih baik.

Karena sesungguhnya berkah itu tidak akan lahir tanpa ada gerakan Likulli ila syawil ula harakatun. demikian katanya. Mari kita berbenah diri, semoga Allah menjaga dan memberkahi semua elemen dan sisi hidup dan kehidupan semua sebagai mana makna yang terkandung dari pada bulan Muharram tersebut.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id