Intisari Khutbah Berobat Dengan Alquran, Atasi Semua Permasalahan

Intisari Khutbah Berobat Dengan Alquran, Atasi Semua Permasalahan

Almunawwar.or.id – Kitab suci Al quran yang sangat teramat istimewa itu dari setiap hurupnya memiliki kandungan makna dan khasiat yang luar biasa, Bahkan mendengarkan lantuna ayat suci alquran saja sudah mendapat pahala apalai membaca, menghayati dan mengamalkan apa yang di baca dalam Alquran, itulah sebabnya mengapa Alloh S.W.T memberikan sebuah isyarat pada salah satu ayat dalam Al quran bahwasannya “Alquran itu bisa di jadikan sumber obat bagi semua penyakit”.

Namun seyogyanya kita sebagai Umat Islam harus lebih memeprdalam arti dari khasiat dan keberkahan dari setiap hurup Alquran, denga sering belajar membaca sesuai dengan kaidah ilmu alquran (Tajwid) mengartikan dan memahami arti maksuda dari setiap ayat sesuai dengan ilmu Alquran (Tafsir) dan tentunya melaksanakan apa yang di perintahkan dan menjauhi apa yang di larang dalam kandungan setiap ayat Al quran.

Bahkan para Ulama shalih selalu menjadikan ayat alquran sebagai bagian dari pada metode penyembuhan penyakit yang bersumber dari hati dan pola makanan yang masuk pada diri, di antaranya meode pengobatan ruhani lewat ruqiyah syar’i dan masih banyak yang lainnya yang menjadikan Alquran tidak hanya sebagai kitab suci bagi Umat Islam, akan tetapi khasiat dari kandungan setiap hurup dan ayatnya itu merupakan obat bagi semua permasalahan hidup dan kehidupan.

Hal ini bisa kita maknai secara seksama sebagaimana yang ada pada intisari khutbah jum’at di bawah ini yang mengangkat tema “Berobat Dengan Alquran”. Semoga apa yang di bahas dalam isi khutbah ini bisa menjadi sebuah pencerahan diri dalam mengartikan dan menghayati bahwa Alquran merupakan kitab suci pegangan dari hidup sampai mati. Khutbah jum’at ini di ambil dan bersumber dari laman resmi PBNU pusat, berikut khutbahnya.

Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيِّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّيْ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِيْ كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
Alhamdulillah pada kesempatan Jumat yang mulia ini, kita masih mendapat rahmat, hidayah, serta inayah dari Allah swt sehingga kita diberikan kemudahan untuk mengungkapkan rasa syukur dengan melaksanakan rangkaian ibadah shalat Jumat di masjid ini dalam keadaan sehat walafiat. Sebagai wujud rasa syukur kita kepada Allah swt, marilah kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah swt dengan sebenar-benar keimanan dan sebaik-baik ketakwaan, minimal dengan jalan imtitsâlu awâmirillâh wajtinâbu nawâhihi, yaitu menjalankan apa pun yang diperintahkan oleh Allah swt dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi apa pun yang dilarang-Nya. Sebab, dengan jalan takwa inilah Allah menjanjikan kemuliaan bagi hamba-hamba-Nya sebagaimana terfirman dalam Al-Qur’an.

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ

Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu” (QS Al-Hujurat: 13).

Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah,
As-Sa’di dalam kitabnya, Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Manan, menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah penyembuh bagi semua penyakit hati. Baik berupa syahwat yang menghalangi manusia untuk taat kepada syariat atau syubhat yang mengotori iman. Karena, dalam Al-Qur’an terdapat nasihat, motivasi, peringatan, janji, dan ancaman yang akan memicu seseorang pada sikap harap (raja’) dan takut (khauf).

Ketika hati seseorang sehat, tidak banyak berisi syahwat dan syubhat, anggota badan pun akan mengikutinya. Karena, anggota badan akan jadi baik jika hatinya baik. Ia juga menjadi rusak, jika hatinya rusak. Oleh sebab itu, selain menjadi obat penyembuh bagi penyakit hati dan jiwa, Al-Qur’an juga menjadi obat penyembuh penyakit fisik. Asy-Syinqithi dalam kitabnya, Tafsir Adhwa’ul Bayan mengatakan Al-Qur’an adalah obat penyembuh yang mencakup obat bagi penyakit hati dan jiwa, seperti keraguan, kemunafikan, dan perkara lainnya. Namun selain itu Al-Qur’an bisa juga menjadi obat bagi jasmani jika dilakukan ruqyah kepada orang yang sakit.

Ibnul Qayyim dalam kitabnya, Zad al-Ma’ad, menjelaskan, Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat. Tidak setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat. Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, penerimaan yang sempurna, keyakinan yang kukuh, dan menyempurnakan syaratnya, niscaya penyakit apa pun tidak akan mampu menghadapinya. Kepada sahabat yang sakit, Rasulullah saw kerap kali berpesan, bagi kalian ada obat penyembuh, yakni madu dan Al-Qur’an (HR Ibnu Majah dan al-Hakim).

Begitupun jika kita mengimani bahwa Al-Qur’an sebagai asy-syifa (sarana penyembuhan), maka perbanyaklah membaca Al-Qur’an karena ia adalah obat. Hadirin Jamaah shalat Jumat rahimakumullah, Lalu bagaimanakah cara Rasulullah berobat dengan menggunakan Al-Qur’an?

Pertama, berobat dengan surat al-Fatihah. Hal ini seperti yang dilakukan sahabat yang membacakan surat al-Fatihah kepada seorang pemimpin kampung yang tersengat kalajengking lalu Rasulullah membenarkan tindakan sahabat itu.

Dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa ada sekelompok sahabat Nabi dahulu berada dalam perjalanan jauh, lalu melewati suatu kampung Arab. Kala itu, mereka meminta untuk dijamu, namun penduduk kampung tersebut enggan untuk menjamu. Penduduk kampung tersebut lantas berkata pada para sahabat yang mampir, “Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah (melakukan pengobatan dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an) karena pembesar kampung tersengat binatang atau terserang demam.” Di antara para sahabat lantas berkata, “Iya ada.” Lalu ia pun mendatangi pembesar tersebut dan ia meruqyahnya dengan membaca surat al-Fatihah. Akhirnya, pembesar itu sembuh.

Lalu yang membacakan ruqyah tadi diberikan seekor kambing tapi ia enggan menerimanya (riwayat lain menyebutkan, ia mau menerima), sampai kisah tadi diceritakan pada Nabi saw. Lalu ia mendatangi Nabi saw dan menceritakan kisahnya tadi pada beliau. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidaklah meruqyah kecuali dengan membaca surat al-Fatihah.” Rasulullah saw lantas tersenyum dan berkata, “Bagaimana engkau bisa tahu al-Fatihah adalah ruqyah (artinya: bisa digunakan untuk meruqyah)?” Beliau pun bersabda, “Ambil kambing tersebut dari mereka dan potongkan untukku sebagiannya bersama kalian.” (HR al-Bukhari no. 5736 dan Muslim no. 2201).

Kedua, berobat dengan surat al-Ikhlas. Ketika Sahabat Utsman sakit, Rasulullah saw mendoakannya dan memohon perlindungan untuknya dengan nama-nama Allah yang terdapat dalam surat al-Ikhlas. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Sahabat Utsman bahwa ia pernah mengadukan kepada Rasulullah saw tentang sakit yang sedang ia rasakan di tubuhnya. Lalu Rasulullah saw bersabda, “Letakkan tanganmu pada bagian tubuh yang sakit, selanjutnya Rasulullah saw membaca

بِسْمِ الله الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ، أُعِيْذُكَ بِاللهِ الْأَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ مِنْ شَرِّ مَا تَجِدُ

“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, aku mendoakanmu dengan nama Allah Yang Esa, Yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu, Yang tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia, dari segala keburukan yang engkau temui” (HR Abu Ya’la). Ketiga, berobat dengan surat al-Mu’awwidzatain (al-Falaq dan an-Nas). Jika seorang hamba memohon perlindungan (kesembuhan) dengan dengan surat al-Mu’awwidzatain atas keluhan yang sedang dideritanya, maka dengan izin-Nya dia akan sembuh.

Dalam sebuah hadits dari ‘Aisyah RA yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim disebutkan:

أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشْتَكَى يَقْرَأُ فِيْ نَفْسِهِ بِالْمُعَوِّذَاتِ وَيَنْفُثُ، فَلَمَّا اشْتَدَّ وَجَعُهُ كُنْتُ أَقْرَأُ عَلَيْهِ وَأْمسَحُ عَلَيْهِ بِيَدِهِ رَجَاءَ بَرَكَتِها

“Rasulullah saw jika menderita suatu penyakit, biasanya beliau meruqyah dirinya dengan membaca kedua surah tersebut (al-Falaq dan an-Nas), kemudian meniupkannya. Ketika beliau sakit keras, akulah yang membacakan kedua surat tersebut untuk beliau. Selanjutnya akulah yang mengusapkan tangan beliau (pada badan beliau), demi mengharap barokah dari tangan beliau.” Makna “meniupkannya” dalam hadits di atas adalah meniupkannya pada kedua telapak tangan, lalu mengusapkannya pada bagian yang sakit, hal ini bila rasa sakit tersebut jelas tempatnya. Akan tetapi jika rasa sakit tersebut menyebar, maka cukuplah mengusapkannya pada bagian tertentu saja atau sesuai yang diinginkan.

Demikian sekelumit kaifiyah (tata cara) berobat dengan Al-Qur’an yang diajarkan oleh Rasulullah saw, minimal hal tersebut bisa menjadikan tambahnya keimanan kita bahwa sebagian dari ayat-ayat Al-Qur’an adalah obat bagi makhluk Allah yang sakit. Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita agar senantiasa istiqamah mendekat dan beribadah kepada-Nya. Amin

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذيْ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id