Jangan Sampai Retak Persatuan Umat Hanya Karena Berbeda Ideologi dan Pendapat

Jangan Sampai Retak Persatuan Umat Hanya Karena Berbeda Ideologi dan Pendapat

Almunawwar.or.id – Sebuah makna yang tersentuh di kala umat islam di hadapkan pada sebuah permasalahan yang komplek dan banyak menyita waktu dan perhatian semua kalangan adalah laksana awal dari adanya kebangkitan untuk lebih mengedapnkan dan memajukan persatuan umat islam di masa yang akan datang.

Sekaligus menjadi opini penting bagi para pemerhati juga giroh tersendiri dalam menetralisir semua hal yang mengarahkan pada sebuah sistem yang justru akan memecah belah nilai keutuhan persatuan dan kesatuan umat islam saat ini.

Tidak dapat di pungkiri memang perbedaan pendapat dan pandangan itu seolah mengacu terhadap lahirnya sebuah sistem baru dalam satu wilayah, namun tidak ada salahnya bahkan sangat di haruskan dan di anjurkan apabila perbedaan tersebut di maknai dengan nilai kebersamaan yang utuh.

Sebab ingatlah kehancuran umat islam itu justru karena tidak ada saling harga menghargai, hormat menghormati terhadap sisi perbedaan pandangan, atau justru dari pola pemikiran yang bisa saja mengarah pada pencetusan lahirnya sistem pola pemikiran baru dari umat islam saat ini.

Jangan sampai terpecah belah hanya gara-gara berbeda pandangan dan pendapat jika memang ada dan terlanjur sudah terjadi, maka tidak ada salahnya pula kita semua sama-sama kembali pada nilai keutuhan agama islam ini saling tabayun dan memaafkan satu sama lain.

Jangan hanya mengedepankan kepentingan organisasi atau kelompok tertentu saja, akan tetapi nilai pengukuhan dna penguatan ukwah islamiyyah itu jauh lebih indah lagi untuk di tempuh sekaligus menjadi rujukan kembali untuk meraih panji-panji keagungan dan keluhuran agama islam tercinta ini.

Begitu pula ketika di hadapkan pada sebuah permasalahan publik saat ini yang mencuat ke tengah-tengah masyarakat luas saat ini dan juga sebagai problematika, kebijakan dari semua pihak ssuai dengan koridornya adalah cara dan langkah tepat untuk dalam menuju ke persatuan tersebut sekaligus menjadi ishlah terbaik untuk semua pihak.

Bersatu Dalam Perbedaan Perbedaan asal-usul, warna kulit, bahasa dan agama pada dasarnya bukanlah merupakan pilihan setiap orang. Oleh karena itu, janganlah perbedaan tersebut dijadikan sebagai bahan untuk saling menghinakan, berburuk sangka, mencari-cari aib dan saling menggunjing.

Sebaliknya, hendaklah setiap warga bangsa ini saling menghargai dan menghormati karena setiap perbedaan yang warna warni itu adalah sunnatullah yang bermanfaat agar segalanya menjadi indah, saling mengenali, saling melengkapi dan tolong menolong untuk meraih pahala kebajikan dan mengokohkan ikatan persaudaraan.

Tidak perlu mati-matian untuk memaksakan kehendak agar menjadi satu warna terhadap apa yang memang ditakdirkan dengan keragaman warna warni, karena yang terpenting adalah mempertahankan keindahan dan keharmonisannya.

Perbedaan aspirasi politik untuk meraih kekuasaan tidak meniscayakan saling permusuhan apalagi untuk saling menghujat atau menumpahkan darah. Perbedaan agama berikut tafsir ajarannya pun, baik dianut oleh mayoritas atau minoritas orang Indonesia, tidak bisa dipaksakan untuk dianut oleh siapa pun meskipun diyakini kebenarannya.

Jika pun ingin menyampaikan kebenaran perspektif dalam persoalan tersebut maka dialog hingga perdebatan yang memprioritaskan sikap santun dan saling menghargai amatlah dibutuhkan.

Ibarat sejumlah piring kaca yang sedang ditata pada raknya yang padat, mustahil rasanya menghindarkan perbenturan antara tiap piring yang berbeda, namun yang sangat penting dijaga adalah jangan sampai piring-piring itu retak sehingga lenyap keindahannya, dan jangan sampai terpecah hingga lenyaplah manfaatnya.

Perbedaan pendapat dalam tafsir dan pandangan terhadap sesuatu merupakan sebuah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Hal itu tidak semestinya menjadi penyebab retak dan hancurnya kebersamaan dan persatuan.

“Seperti itulah sikap kegagalan dalam kedewasaan membawa diri. Sikap seperti itu jangankan di hadapan Tuhan, di depan manusia pun secara umum hampir bisa dipastikan tidak simpatik terhadap sikap tersebut,”

Kunci yang harus dipegang dan diamalkan, menurutnya, adalah membangun diri dengan Akhlakul Karimah. Yakni membuang jauh-jauh sifat ingin menang sendiri, terlebih merasa paling benar dan menganggap orang lain salah.

Dan yang harus kita sadari bahwa setiap kita tidak pernah tahu derajat kita di sisi Allah. Sehingga tidak layaklah kita menempatkan diri lebih baik dari orang lain. Apalagi sampai merendahkan orang lain. dan Sudah saatnya kita kembali berpegangteguh pada panji-panji agama.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id