Jangan Sampai Tersesat Dan Menyesatkan Dalam Menafsirkan Kitab Suci Alquran

Jangan Sampai Tersesat Dan Menyesatkan Dalam Menafsirkan Kitab Suci Alquran

Almunawwar.or.id – Teramat sangat penting dan wajibnya memahami semua ilmu yang berhubungan dengan penggalian daripada sumber-sumber ilmu yaitu Alquran dan Assunah, jangan sampai menerangkan kaidah ilmu tersebut berdasarkan arti secara tekstual ataupun secara harfiyah saja karena itu akan menimbulkan penafsiran yang rancu jauh dari pada arti yang sesungguhnya.

Jangan sampai pengertian yang di maksud arti dari pada yang sesungguhnya dari ayat tersebut jauh dari pada benar atau malah justru tidak sesuai dengan makna yang sesungguhnya hingga mampu melahirkan sebuah pemahaman yang menyimpang dan menyesatkan bagi semua umat.

Karena hal itu seakan menimbulkan polemik baru dari lahirnya pemahaman baru meskipun tidak ada maksud untuk berbuat seperti itu, dari sinilah perlu kehati-hatian ketika akan menerangkan bahkan jauh menafsirkan tujuan yang sesungguhnya dalam menjelaskan dan mengartikan ayat-ayat suci Alquran.

Dan perlu di ketahui dan di cermati secara seksama bahwa ketika akan menjelaskan arti dari pada sebuah ayat dari kitab suci alquran itu setidaknya empat metode ilmu ini harus di kuasai oleh seorang tersebut agar tidak menimbulkan pemahaman dan pengertian yang menyimpang.

Pertama menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain. Yang kedua menafsirkan Al-Qur’an dengan hadits Nabi, Yang ketiga menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan qaul (perkataan) sahabat yang keempat menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan qaul tabi’in.

Dan setidaknya pula sebagai manusia awam tidak cukup untuk hanya menjelaskan maksud dari ayat tersebut berdasarkan terjemahannya saja, namun ada beberapa kriteria ilmu yang wajib dan patut untuk di fahami secara lebih lanjut terutama dari pada ilmu-ilmu yang banyak di kaji di dunia pesantren.

Diantaranya ilmu tafsir dan hadits, nahwu shorof, ilmu balaghoh, ilmu mantiq, ilmu bayan, ilmu Ma’ani dan ilmu -ilmu lainnya yang secara hukum itu wajib di pelajari bagi seseorang yang ingin menggali dan mengkaji secara mendalam arti dari pada maksud sebuah ayat alquran di samping pengkajian dari keempat metode ilmu tersebut.

Ingatlah apa yang sudah di katakan oleh baginda nabi terhadap ancaman bagi seseorang yang mengartikan Alquran berdasarkan pengertian pendapatnya semata (tanpa di sertai dengan piranti keilmuannya) maka tempatnya kelask itu adlah api neraka. Naudzubillah min dzalik.

“من فسّر القرأن برأيه فليتبوأ مقعده من النار”

Artinya, “Barangsiapa yang menafsirkan Al-Qur’an dengan menggunakan pendapatnya semata, maka tempatnya kelak di neraka”. Dalam ulasan dan penjelasan para ulama ada yang mengartikan bahwa kata “برأيه” adalah “بغير علم” yang artinya “tanpa disertai seperangkat ilmu”.

Banyak contoh-contoh yang real saat ini dimana sebuah fenomena begitu gampangnya seseorang dalam menerangkan kajian dari pada ayat-ayat suci Alquran, salah satunya seperti arti dari pada sesat yang terdapat pada surat Addhuha ayat tujuh yang berbunyi ووجدك ضالا فهدى

Ada tiga hal yang perlu dijelaskan untuk menanggapi perihal pernyataan dalam pengertian yang di maksud yaitu:

1. Menganalisis kata “ضالا” dari sisi bahasa (etimologi)
Pertama, secara bahasa, apabila ada pohon di tengah-tengah padang sahara atau di tengah-tengah hutan belantara tanpa ada pohon lain yang menyandinginya, maka pohon tersebut dikatakan “dhallah”. Artinya, Nabi sebelum diangkat menjadi seorang rasul, beliau banyak menyaksikan kaumnya menyembah berhala dan perilaku syirik lainnya, sementara beliau sendiri sedang dalam keadaan sendirian (tidak mengikuti perilaku mereka) dan kebingungan tanpa ada orang lain yang menyertainya.

Maka, dalam ayat tersebut digunakan diksi kata “dhal” sesuai dengan keadaan Nabi yang menjauh dan tidak mengikuti perilaku mereka, bukan berarti sesat kebalikan kata hidayah. Dengan demikian, maka menurut Imam Sayyid Al-Tanthawiy, makna dari (ووجدك ضالا فهدى) adalah “tidak ada seorang pun yang mengikuti agamamu, engkau seorang diri tidak ada yang menyertaimu, maka sebab engkau mereka mendapat hidayah menuju kepada-Ku.”

Kata “ضالا” juga berarti bingung, bukan sesat kebalikan kata hidayah. Ibnu Abbas berkata:

ضل النبي ﷺ وهو صغير في شعاب مكة، فرآه أبو جهل منصرفا عن أغنامه، فردّه إلى جده عبد المطلب فمن الله عليه بذلك حين رده إلى جده على يدي عدوه

“Nabi bingung di lembah Makkah saat masih kecil, kemudian Abu Jahal melihatnya dalam keadaan menggembala kambing-kambingnya. Maka Abu Jahal mengembalikan Nabi kepada kekeknya, Abdul Mutthalib. Sebab itu Allah menganugerahkan kepadanya saat dikembalikan kepada kakeknya dari terkaman musuh-musuhnya”.

2. Mengalisis kata “ضالا” lewat penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an yang lain
Dari sisi ilmu tafsir, kata “ضالا” dapat dipahami maknanya lewat ayat yang lain, yaitu Surat Asy-Syura ayat 52 (ما كنت تدري ما الكتاب ولا الإيمان ولكن جعلناه نورا). Dalam hal ini Imam Ibnu Katsir dan Imam Jalaluddin Al-Suyuthiy, penulis Tafsir bil Ma’tsur, menafsirkan kata di atas dengan ayat di atas, yang berarti tidak tahu dan bingung. Artinya, Nabi tidak mengetahui antara iman dan Al-Qur’an, bukan sesat yang menyekutukan-Nya.

Imam Sayyid Al-Tanthawiy, mantan Syaikhul Azhar, menguraikan bahwa maksud ayat ini bukan menyesatkan Nabi atau menjatuhkan kemuliaan Nabi, namun maksudnya adalah memuliakan dan membanggakan Nabi dengan memberikan pengetahuan yang beliau tidak ketahui, memperlihatkan hal gaib yang beliau tidak bisa melihatnya.

Selain itu, kata “ضالا” juga bermakna lupa sebagaimana dijelaskan dalam Surat Yusuf ayat 3 ( وإن كنت من قبله لمن الغافلين) dan Surat Thaha ayat 52 (لايضل ربّي ولا ينسى). Imam Al-Qurthuby menjelaskan bahwa Nabi lupa akan urusan kenabian, berikut teksnya:

ووجدك ضالا فهدى) غافلا عما يراد بك من أمر النبوة فهداك، أي أرشدك

Imam Al-Thabariy meriwayatkan dari As-Suddiy (ووجدك ضالا فهدى) bahwa Nabi bersama kaumnya selama empat puluh tahun, namun pendapat ini kemudian dijelaskan bahwa maksud ayat tersebut adalah Nabi hidup bersama kaumnya yang tersesat kemudian Allah memberi petunjuk kepada mereka lewat Nabi. Artinya, dalam hal ini objek yang sesat bukanlah Nabi Muhammad ﷺ, tapi kaumnya yang mana beliau berada di tengah-tengah mereka.

3. Etika terhadap Nabi
Jika mengatakan Nabi sebagai orang yang sesat, maka secara tidak langsung ia mengatakan Nabi tidak maksum dan menafikan kemuliaan Nabi. Tidak sepantasnya kita sebagai umat Nabi merendahkan sifat keluhuran Nabi. Meskipun Nabi adalah manusia biasa namun beliau adalah sebaik-baiknya seluruh makhluk.

Imam Al-Bushairiy berkata:

فمبلغ العلم فيه أنه بشر ** وأنه خير خلق الله كلهم

Artinya: “Puncak dari pengetahuan bahwa Nabi adalah seorang manusia, dan beliau sebaik-baiknya seluruh makhluk”.

Muhammad Abduh, sebagaimana dikutip oleh Imam Sayyid Al-Tanthawiy dalam tafsir Al-Wasith-nya, ketika menafsirkan Ad-Dhuha ayat 7 berkata: “Nabi Muhammad lahir dan hidup menganut paham monotois, mengesakan Tuhan, ia tidak menyembah pada berhala, makhluk. Ia tidak melakukan kejahatan sehingga dikenal oleh kaumnya sebagai orang jujur dan terpencaya. Kesesatan dalam hal syirik dan kesesatan dalam hal mengikuti hawa nafsu dalam perbuatan adalah hal yang sangat jauh dari pribadi Nabi yang mulia. Tapi bisa jadi ada kesesatan yang berupa kebingungan, demikian adalah yang dimaksud dari ayat di atas”.

Dalam hal ini, Muhammad Abduh, sebagai seorang reformis dan pembaharu yang—biasanya—dikenal mengedepankan akal dan logikanya, menekankan kepada kita untuk beretika dalam memahami pribadi Nabi terlebih terkait kemaksuman Nabi.

Para ulama ketika menafsirkan ayat ini (Ad-Dhuha 7) mereka sangat berhati-hati, bahkan tidak sedikit mereka mengangkat beberapa penafsiran dan pemaknaan yang sesuai dengan keluhuran pribadi Nabi karena khawatir salah menginterpretasi tentang pribadi dan kemaksumannya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa di hadapan Nabi seseorang tidak diperkenankan mengeraskan suaranya melebihi intonasi suara Nabi. Allah berfirman:

ياأيها الذين أمنوا لاترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي ولا تجهروا له بالقول كجهر بعضكم لبعض

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain.” (QS Al-Hujarat 2)

Dalam ayat di atas, Imam Al-Tanthawiy mengutarakan bahwa tidak sebaiknya seseorang memanggil Nabi dengan panggilan “Muhammad” saja tanpa didahului oleh kata Nabi atau Rasul, dll.

Selain itu, tidak ada satu pun ayat Al-Qur’an menggunakan seruan kepada Nabi Muhammad dengan namanya. Seruan yang digunakan dalam Al-Qur’an menggunakan “ياأيها الرسول” atau “ياأيها النبي”. Ini menunjukkan betapa mulia dan luhurnya seorang Nabi Muhammad di sisi Allah. Kita sebagai ummatnya, yang senantiasa mengharapkan syafa’atnya kelak di hari kiamat, tidak selayaknya merendahkan sifat keluhuran Nabi apalagi sampai menyesatkannya.

Al-Qur’an sebagai kalam ilahi, tidak seharusnya dipahami hanya lewat terjemah harfiah sebab hal tersebut menjerumuskan seorang pada kesalahan. Demikian pula, tidak sepantasnya seseorang menafsirkan Al-Qur’an tanpa membaca terlebih dahulu ungkapan para ulama-ulama terdahulu.

Dan tentunya sebagai manusia biasa banyak kesalahan hilaf dan dosa yang wajib untuk di ampuni ketika seseorang tersebut sudah mengakui kekhilafannya, dan tiada yang lebih indah selain memohon ampun dan memperbanyak istigfaruntuk memohon ampunan kepada Alloh S.W.T.

Ingat perkataan Imam Al-Syafi’i yang berpesan kepada kita semua:

تفقه قبل أن ترأس، فإن ترأس لا سبيل إلى التفقه

Artinya: *Belajarlah sebelum kamu menjadi tenar, sebab apabila kamu sudah tenar, maka tidak kesempatan bagimu untuk belajar.*

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
cyberdakwah.com
almunawwar.or.id