Jawaban Dari Pertanyaan Kuasakah Allah Mempunyai Anak Dan Istri

Jawaban Dari Pertanyaan Kuasakah Allah Mempunyai Anak Dan Istri

Almunawwar.or.id – Sangat penting sekali bagi setiap individu umat islam mengetahui lebih jelas dan lebih pasti terhadap ketauhidan yang memang menjadi kewajiban paling awal dan pertama untuk di i’tiqadkan, termasuk pada sifat-sifat yang wajib, jaiz dan mustahil Di Alloh S.W.T.

Dengan alasan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dalam memaknai aqoidul iman tersebut sehingga mengakibatkan kesesatan dan penyesatan yang justru sangat mebahayakan keimanan dan keiskaman seseorang, jika dalam masalah ketauhidannya tidak di pupuk dan di jaga kuat ileh tali agama berdasarkan dalil kuatnya.

Sehingga pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan dan tidak layak untuk dikemukakan dan di sandarkan kepada Alloh S.W.T tidak keluar dari mulut seorang yang beriman. Seperti banyak pertanyaan tentang kuasakah Alloh mempunyai anak dan istri.

Pertanyaan seperti itulah yang tidak layak dan tidak boleh keluar apalagi di i’tiqadkan dalam hati, karena itu akan membahayakan status kemusliman seseorang, dalam pengertian nilai ketauhidan kepada Alloh S.W.T harus terbebas dari hal-hal seperti itu. Lalu bagaimana cara menjawab jika memang ada pertanyaan atau yang menanyakan hal semacam itu atau semisalnya? Berikut ulasan mengenai hal tersebut.

“Allah kuasa melakukan demikian” (mempunyai sekutu,isteri dan anak) Karena hal demikian adalah Mustahil bagi Allah. Dan sifat Qudroh Allah (keMaha-Kuasaan Allah) tidak ta’aluq pada sifat yang mustahil. Dan jangan juga dijawab : “Allah tidak kuasa melakukan demikian”.

Karena jawaban seperti itu sama dengan menetapkan Allah dalam ketidak-mampuan (‘Ajz),Dan sifat ‘Ajz atau ketidak-mampuan adalah hal yang Muhal/mustahil bagi Allah. Dan Katakan/jawablah kepada orang yang menanyakan Hal tersebut : Bahwa Bagi Allah Mustahil menjadikan bagi-Nya mempunyai sekutu,isteri dan anak,Dan Sifat Qudroh Allah tidak ta’aluq pada hal yang Mustahil , Ingatlah dan perhatikan Hal itu.

Sebagaimana yang tertuang dalam catatan penerangan dalam kitab Fathul Majid Hal. 23 dengan redaksinya sebagai berikut:

(فاذا قال لك قائل هل الله علي ان يتخذ شريكا او زوجة او ولدا ؟ فلا تقل له هو قادر علي ذلك) اي الاتخاذ (لان ذلك مستحيل ، والقدرة لا تتعلق به) اي المستحيل (ولا تقل ليس بقادر لانك تثبت له العجز. والعجز عليه تعالي محال وانما تقول) لذلك السائل (هذا) اي الاتخاذ المذكور (مستحيل) اي عليه تعالي (وقدرته تعالي لا تتعلق بالمستحيل فتنبه لذلك) اي المذكور من هذه المسئلة (فقدرته تعالي لا تتعلق الا بالممكنات لا بالواجبات ولا بالمستحيلات)

Sebagai salah satu contoh agar lebih di mengerti dan di pahami tentang permasalahan seperti itu, bisa dilihat dari sebuah kisah nyata berikut ini.

قال ابو اسحق الاسفراني واخذ هذا القائل وهو ابن حزم بحسب فهمه الركيك من قصة ادريس عليه السلام حين جاءه ابليس في صورة انسان بقشرة بيضة وهو يخيط ثوبا وهو يقول في كل ادخال الابرة واخراجها سبحان الله والحمد لله . فقال هل الله تعالي يقدر ان يجعل الدنيا في هذه القشرة،فقال ان الله تعالي يقدر ان يجعل الدنيا في ثقب هذه الابرة، ونخس احدي عينيه فصار اعور . وهذه القصة وان لم ترو عن رسول الله صلي الله عليه وسلم قد ظهرت منقولة عن السلف الصالح مثل كعب الاخبار وعبد الله بن عبد السلام

Artinya : “Ibnu Hazm mengatakan : Bahwa Allah kuasa menjadikan bagi-Nya/mempunyai sekutu,isteri dan anak,karena jika Allah tidak kuasa melakukan demikian,Berarti Allah ‘Ajz (tersifati ketidak-mampuan). Abu Ishaq Al-Isfironi mengomentari pernyataan Ibnu Hazm : Yang mengatakan seperti demikian (Ibnu Hazm) adalah orang yang dangkal/lemah akal pemikirannya,Dan jawabannya demikian karena mengambil kesimpulan dari satu kisah Nabi Idris AS.

واوضح هذا الجواب الاشعري فقال ان اراد السائل وهو ابليس ان الدنيا علي ما هي عليه والقشرة علي ما هي عليه فهذا لا يمكن فان الاجساد الكبيرة وهي المراد بالدنيا هنا يستحيل ان تتداخل وتكون في مكان واحد اي صغير . وان اراد ان الله يصغر الدنيا اقل من القشرة ويجعلها فيها او يكبر القشرة اكثر من الدنيا ويجعل الدنيا فيها فالله قادر علي ذلك. قال بعض المشايخ وانما لم يفصل ادريس الجواب هكذا الابليس لانه معاند ولهذا عاقبه علي هذا السؤال بنخس العين، واختار نخس العين دون غيرها لتكون العقوبة من جنس العمل فان قصده اطفاء نور الايمان فأطفأ عليه السلام نور احدي عينيه

Kisahnya sebagai berikut : ” Suatu ketika Nabiyalloh Idris AS sedang mengaput/menjahit pakaiannya,maka datanglah Iblis dalam rupa manusia dengan membawa sebutir cangkang telur. Nabi Idris AS ketika memasukkan dan mengeluarkan jahitannya selalu berdzikir kepada Allah dengan mengucapkan SUBHANALLOH WAL HAMDU LILLAH , Iblis pun bertanya kepada Nabi idris AS : ” Apakah Allah kuasa memasukan dunia ini (alam semesta) kedalam telur ini ” ? Maka Nabi Idris menjawab : ” Bahkan Allah maha kuasa memasukkan dunia ini melalui lubang jarum ini “. Kemudian Nabi Idris AS mencucukkan (mencolok/menusukkan) jarum tersebut pada salah satu mata iblis, hingga iblis ini buta.

Alasan mengapa Nabi Idris AS tidak mentafshil jawabannya seperti demikian, karena Nabi Idris tahu bahwa Iblis makhluk yang ingkar (sekalipun jawabannya ditafsil dan sangat jelas) ,Oleh karenanya Nabi Idris AS memberi hukuman kepada Iblis dengan menusukkan jarum pada salah satu matanya hingga buta ,hukuman atas pertanyaan tersebut.

Dari kisah Nabi Idris AS dan penjelasan Imam al-Asy’ary ,maka ditemukanlah jawaban atas pertanyaan sebagaimana “JUDUL ” di atas. Sifat Qudroh Allah hanya ta’aluq dengan perkara yang mumkin, tidak akan ta’aluq dengan perkara yang wajib juga dengan perkara yang mustahil.

Mempunyai sekutu,anak dan atau isteri adalah hal yang mustahil bagi allah, karenanya sifat Qudroh tidak ta’aluq pada hal mustahil. Meski kisah ini sekalipun tidak diriwayatkan berasal dari Rosululloh SAW namun beredar dan banyak ditukil dari generasi Salafus Sholih seperti Sahabat Ka’ab Al-akhbar dan Abdillah Bin Abdis Salam.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id