Jihadnya Seorang Istri Dalam Pandangan Agama Di Kehidupan Berkeluarga

Jihadnya Seorang Istri Dalam Pandangan Agama Di Kehidupan Berkeluarga

Almunawwar.or.id – Pentingnya seorang istri dalam semua sisi kehidupan terutama dalam urusan rumah tangga itu sangatlah besar pengaruh dan perannya, sehingga kapasitasnya tersebut mampu mejadi penyeimbang dan pendorong terhadap sukses dan tidaknya sebuah mahligai rumah tangga.

Terlebih jika di sudutkan pada semua permasalahan yang memang harus melibatkan istri tersebut sebagai bagian penting dari pada hal tersebut, sehingga sangatlah besar kedudukan seorang istri di mata keluarag terutama ketika menjalanlan perannya itu.

Nah dari peran inilah terbersitlah makna jihad yang terlahir dari hati nuraninya sebagaimana yang pernah terjadi dan di rasakan oleh para istri-istri di zaman sahabat dahulu, dimana dalam riwayat sebuah hadits di sebutkan bahwa :

وَجَاءَتْ امْرَأَةٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَنَا وَافِدَةُ النِّسَاءِ) أي رسولهن (إِلَيْكَ) لأسألك عن نصيبهن من الجهاد (هَذَا الْجِهَادُ كَتَبَهُ اللهُ) أي أوجبه (عَلَى الرِّجَاِل، فَإِنْ يُصَيَّبُوْا) بتشديد الياء المفتوحة ميني للمجهول أي إن أصابهم الجرح (أُجِرُوْا) أي أثيبوا ثوابا عظيما (وَإِنْ قُتِلُوْا) في الجهاد (كَانُوْا أَحْيَاءً عِنْدَ رَبِّهِمْ) أي ذوى منه.

Artinya : “Telah datang seorang kepada Rosulillah SAW, ia berkata pada Rosul : “Ya Rosulallah,aku adalah utusan dari para isteri datang kepadamu untuk menanyakan perihal jihad bagi para isteri, Jihad diwajibkan atas kaum laki-laki, bila mereka terluka, mereka diberikan ganjaran yang sangat besar, dan bila mereka gugur, maka sungguh mereka tetap hidup disisi tuhannya”.

Dari adanya keterangan tersebut, maka penting untuk peru di perhatikan tentang makan jihad yang sesuangguhnya bagi seorang istri, khususnya ketika menjalankan apa yang menjadi kewajibannya yang menjadi hak bagi seorang suaminya dalam mengurus dan menyeimbangkan semua hal yang beruusan dengan rumah tangga.

Sehingga tertanamlah dalam hati nuraninya untuk berkeinginan supaya bisa berjiha (berjuang di jalan Alloh) sebagaimana yang telah di wajibkan untuk berjihab bagi semua kaum laki-laki dalam menjalankan semua perannya baik di dalam runag lingkup keluarga maupun yang lebih luas lagi.

Hal ini sebagaimana yang telah di terangkan pada firman Alloh S.W.T dalam surat Annisa dengan redaksinya sebagai berikut :

قال الله تعالى في سورة النساء: {لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ} أي للرجال ثواب بسبب ما عملوا من الجهاد، وللنساء ثواب مما اكتسبن من حفظ فروجهن وطاعة الله وطاعة أزواجهن، فالرجال والنساء في الأجر في الآخرة سواء، وذلك أن الحسنة تكون بعشر أمثالها، يستوى في ذلك الرجال والنساء، وفضل الرجال على النساء إنما هو في الدنيا. كذا قاله الشربيني في تفسيره.

Artinya : “Allah berfirman dalam surat An-Nisaa : “Bagi laki-laki adalah bagian dari apa yang mereka kerjakan,dan bagi wanita adalah bagian dari apa yang mereka kerjakan”. (bagi laki-laki mereka mendapat balasan serta ganjaran jihad,dan bagi para wanita / isteri mendapat ganjaran dari apa yang mereka kerjakan yaitu dari memelihara farjinya/kehormatannya, taat kepada Allah dan kepada Suaminya. Ganjaran laki-laki dan wanita di akhirat adalah sama, demikian karena satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat,da itu sama bagi laki-laki dan wanita. Dan fadhl atau kelebihan laki-laki atas wanita itu hanya terjadi di dunia. Demikian keterangan dalam tafsir Syirbiny.

Dari pemaknaan inilah mungkin para wanita yang shalih ingin bisa berjihad, sama halnya di perintahkan tentang jihad bagi kaum laki-laki. Sehingga ketika saat itu (jaman sahabat) banyak wanita para syuhada yang ingin senantiasa berjihad di jalan alloh sebagaimana yang di perintahkan dan di lakukan oleh para suaminya.

Dan Para isteri itu berkata lagi :” Dan kami,sekalian para isteri mujahidin, kami membantu mereka untuk menyiapkan segala sesuatu yang menjadi kebutuhan perang, Lalu apa bagian kami dari ganjaran jihad tersebut”.

(فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَبْلِغِيْ مَنْ لَقِيْتِ مِنَ النِّسَاءِ، أَنَّ طَاعَةَ الزَّوْجِ وَاعْتِرَافاً بِحَقِّهِ) أي إقرارا به (يَعْدِلُ ذَلِكَ) أي يماثل الجهاد ويقوم مقامه (وَقَلِيْلٌ مِنْكُنَّ مَنْ يَفْعَلُهُ) أي طاعة الزوج والإعتراف بحقه. رواه البزار والطبراني.

Maka Rosulullah menjawab : “Sampaikanlah perkataanku kepada mereka,Bahwa sesungguhnya taat kepada suami dan mengakui hak-haknya itu dapat mengimbangi/menyamai ganjaran jihadnya para suami. Dan hanya sedikit dari kalian yang mengerjakannya (taat dan mengakui hak suami). HR Al-Bazzaari dan Imam Thobrony.

Dan ingatlah apa yang menjadikan seorang sitri itu lebih istimewa dalam padangan agama ketika menjalankan rutinitas dan aktivitasnya tersebut adalah peran yang sangat penting dan menjadi jihad yang paling utama dalam menjalankan hidup dan kehidupan baik di keluarga maupun di ruang lingkup yang lebih luas lagi.

(وَإِذَا كَانَتْ جَبَّانَةً) أي ضعيفة القلب. والأفصح: “جَبّان” بدون التاء (فَرِقَتْ ) بكسر الراء أي خافت (مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، فَلَمْ تَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهَا) أي محل إقامتها (وَاتَّقَتْ) أي تجنبت (مَوَاضِعَ التُّهَمِ) أي الظنون (خيْفَةً مِنْ زَوْجِهَا). وقال داود عليه السلام: {المَرْأَةُ السُّوْءُ عَلَى بَعْلِهَا كَالحمل الثَّقِيْلِ عَلَى الشَيْخِ الْكَبِيْرِ. والمَرْأَةُ الصَالِحَةُ كَالتَّاجِ الْمُرَصَّعِ بِالذَهَبِ، كُلّمَا رَآهَا قَرَّتْ عَيْنُهُ بِرُؤْيَتها}.

Dan bila seorang isteri sedang mengalami “down” atau lemah hati, maka ia akan merasa takut dari semua perkara, hingga ia tidak berani keluar rumah atau tempat tinggalnya, dan menjauhi hal-hal yang mengundang prasangka buruk dari orang lain karena takut akan suaminya. Nabi Dawud a.s berkata : “Seorang istri yang buruk bagi suaminya laksana pikulan yang sangat berat bagi orang yang sudah tua renta dan istri yang sholehah itu laksana mahkota yang berteteskan emas, ketika suami memandangnya, maka bahagia dan tentram serta nyaman dengan memandangnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id