Jika Hati Terasa Mati, Kendalikan Nafsu dan Basuhlah Dengan Lima Penawarnya

Jika Hati Terasa Mati, Kendalikan Nafsu dan Basuhlah Dengan Lima Penawarnya

Almunawwar.or.id – Tiada hati yang tidak mengerti akan keadaan dan kemampuan diri di saat terelenggu oleh masalah yang menghinggapi dan mewarnai juga menghiasi bahkan menghantui sisi dari makna hidup dan kehidupan ini, Sehingga tiada satu junjunan kecuali adanya sebuah kerelaan kebahagiaan.

Rasa terbelengu tersebut seakan mengarahkan jiwa untuk tidak bersahaja apalagi mampu bersinar seperti sedia kala, rasanya jauh untuk bisa melakukan semua itu sebagaimana mestinya hadapan dan haeapan jiwa adalah nilai yang terpancarkan di dalamnya dalam menghantarkan apa yang menjadi sebuah harapan.

Dan nampak itu sangat wajar, karena keterbelengguan tersebut itu tidak lepas dari tertutupnya ruang hati ketika di panggil untuk bisa mengekplorasi perintah jiwa yang tak mampu mengaplikasikannya sebagai bagian dari pada raihan dalam meraih sesuatu yang bernilai bagi dirinya.

Karena ini adalah bagian dari pada masalah humanisme seseorang yang mungkin bisa saja merasa jauh dengan sesuatu yang baik, dalam artian butuh bimbingan dan pengertian untuk bisa melangkah pasti guna mewujudkan semua hal yang berhubungan dengan masalah kemantapan jiwa.

Jangan takut dan jangan bimbang karena semua pasti ada solusi terbaiknya, meskipun itu sulit untuk di capai dan di raih, tetapi cara kita menemukan kebahagiaan dengan melakukan apa yang bisa di kerjakan itu adalah bukti nyata adanya keinginan kuat untuk keluar dari permasalahan tersebut.

Dengan mengendalikan nafsu yang menjadi mobilitas diri itu merupakan pengakaran awal ketika ada sebuah keinginan untuk bisa menyeimbangkan antara hal yang bersifat positif dan sebaliknya, semuanya ada tuntunan yang sungguh bernilai sebagaimana yang terpaparkan pada petuah-petuah bijak ilmu agama.

Yang dalam hal ini adalah butuhnya kemantapan hati itu harus di barengi dengan nilai kultural agama yang suci yang mampu mengarahkan segenap jiwa guna memastikan langkah apa selanjutnya dalam menggapai kebahagiaan yang menjadi tujuan dari pada fitrah seorang manusia.

Obat Penawar Hati

قال السيد الجليل صاحب الكرامات والمعارف ، والمواهب واللطائف ، إبراهيم الخواص رضي الله عنه : دواء القلب خمسة أشياء : قراءة القرآن بالتدبر ، وخلاء البطن ، وقيام الليل ، والتضرع عند السحر ، ومجالسة الصالحين.

Sayyid al-Jaliil Ibrahiim al-Khowwaash berkata, Penawar hati ada lima :
1. Membaca alQuran dengan penuh perenungan
2. Mengosongkan perut dengan berpuasa
3. Mengisi malam dengan aneka pengabdian
4. Merendahkan diri pada Sang Pencipta Alam disepertiga malam
5. Bergaul dengan orang-orang shalih dan pilihan

Basuh jasadmu dengan mandi..Sucikan jasadmu dengan wudhu..Jernihkan hatimu dengan istighfar..
cerahkan jiwamu dengan taubat..Enyahkan gelap hatimu dengan cahaya zikir..Lenyapkan kegalauanmu dengan merenung kemahabesaran allah..Diantara khouf dan rojaa..Ada citarasa cinta tiada tara..

Mengapa fungsi hati tak beraktif dinamis sebagaimana mestinya? gelap pekat nista dosa kemaksiatan dahsyat membuat hati rebah terkulai di injak-injak nafsu dlm diri..Kalahkan nafsu.. bangkitlah dan taklukan nafsu dalam diri, niscaya pelita hati akan terpancarkan dalam jiwa.

Intropeksi diri dengan apa yang sudah dan akan di alami serta evaluasi jiwa itu bentuk dari pada salah satu tips terbaik untuk bisa memonitoring semua hal yang berhubungan dengan keduanya, Puncaknya mengendalikan nafsu adalah satu hal yang harus dan semestinya di lakukan mulai dari sekarang.

Tips Mengendalikan Emosi
Sikap Emosional adalah sikap yang sering kali membuat seseorang menjadi salah dalam menetapkan sesuatu didalam problematika kehidupannya. Seseorang yang emosional cenderung akan menjawab segala permasalahan dengan amarahnya. Seolah-olah hanya dengan sikap emosi semua hal akan dapat teratasi dan terselesaikan didalam menjalani hidup ini.

Hal semacam itu adalah merupakan cara yang sangat keliru, sebab sikap yang emosional akan membuat terhambatnya seseorang untuk mengambil hikmah dari proses hidup yang dijalani. Beberapa tips ketika sedang emosi:

1. Meyakini bahwa setiap masalah ataupun kesulitan yang kita hadapi adalah merupakan bentuk ujian yang diberikan oleh Allah S.W.T kepada setiap hambaNya untuk menentukan siapa yang terbaik amal perbuatannya diantara kita. Sebab pada dasarnya manusia diciptakan adalah untuk diuji. Sebagaimana Allah S.W.T telah berfirman:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya : “Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2)

2. Menyadari bahwa segala hal persoalan atau permasalahan yang diselesaikan dengan sikap emosional tidak akan memberikan hasil yang positif. Justu akan memberikan hasil yang negatif yang sering kali memanjakan diri dengan
pemikiran penuh kebencian, kekesalan, ataupun kemarahan.

3. Bersabar terhadap segala kondisi yang sedang dialami. Karena kesabaran akan membuat seseorang dapat berfikir dengan jernih dan mampu mengambil suatu tindakan yang lebih bijak. Setelah kesabaran telah mendamaikan diri dan dapat terkendali sepenuhnya, kita pun bisa memikirkan suatu cara yang bisa memberikan solusi.

4. Mempercerdas emosi yang salah satu caranya adalah dengan menyingkirkan amarah ataupun aura-aura sejenisnya yang pada dasarnya tidak mendukung dan justru menjerumuskan seseorang kepada hal yang salah.

5. Wajah berseri, pancaran wajah sangatlah penting, karena pancaran wajah adalah merupakan cerminan yang bisa terlihat sesuai dengan kondisi yang sedang dialaminya. Sungguh sangatlah berbeda pancaran wajah dari orang yang sedang emosi yang terlihat seram (tidak enak dipandang) dibandingkan dengan orang yang sedang bahagia yang terlihat berseri. Oleh karena itu, perlihatkanlah pancaran wajah yang berseri karena hal itu merupakan salah satu amalan yang
sangat baik.

Sebagaimana Rasulullah S.A.W pernah bersabda: “Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya kalian tidak akan cukup memberi manusia dengan harta kalian tetapi kalian akan cukup memberikan kepada mereka dengan wajah yang berseri dan akhlak yang baik.” (Riwayat Abu Ya’la. Hadits shahih menurut Hakim).

6. Mencari solusi terbaik dengan penuh pertimbangan yang maksimal dan nantinya dapat memberikan hasil baik.

Sehingga keputusan hati untuk meraih apa yang menjadi keinginan itu adalah bentuk dari pada tiada pengecualian dalam hati untuk bisa keluar dari pada belenggu hati, yang semuanya sangat perlu intropeksi diri dengan pengamalan amal sholeh sebagai nilai daripada bakti diri.

Sebab ingatlah :
Amal kebaikan adalah ibadah diluar amal ketaatan yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits, Amal kebaikan adalah perkara yang dilakukan atas kesadaran kita sendiri untuk meraih kecintaan atau keridhoan Allah Azza wa Jalla.

Amal kebaikan adalah ibadah yang jika dilakukan dapat pahala (kebaikan) dan tidak dilakukan tidak berdosa, Amal kebaikan adalah “ungkapan cinta” kita kepada Allah Azza wa Jalla dan RasulNya, Amal kebaikan adalah upaya kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Azza wa Jalla.

Ada indikasi hati untuk bisa jauh lebih dekat dengan sang maha kuasa, yang di nyatakan dengan nilai ihsan yang memupuk pancaran hati tersebut, Lalu apa indikasi-indikasi tersebut yang mampu mengarahkan kebijakan dan kemantapan hati dalam meraih wujud dari pada rasa dekat diri tersebut.

Indikator seorang muslim semakin dekat denganNya adalah muslim tersebut berakhlak baik atau menjadi muslim yang baik (sholihin) atau muslim yang ihsan (muhsin/muhsinin). Tujuan Rasulullah di utus oleh Allah ta’ala adalah agar hambaNya berakhlak baik.

Rasulullah menyampaikan yang maknanya “Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.” (HR Ahmad). Indikator muslim yang dekat denganNya adalah muslim yang ihsan. Apakah Ihsan ?

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Lalu dia bertanya lagi, ‘Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ‘ Beliau menjawab, ‘Kamu takut (takhsya / khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.’ (HR Muslim 11).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com