Jual Beli Saham Menurut Kajian Fiqih Islam Secara Substansial Hukum Fiqihnya

Jual Beli Saham Menurut Kajian Fiqih Islam Secara Substansial Hukum Fiqihnya

Almunawwar.or.id – Tidak dapat di pungkiri memang untuk lebih menunjang akan kebutuhan sebuah perusahaan saat ini adalah dengan adanya sebuah kepemilikan khusus dari pemilik perusahaan itu yang di syahkan melalui sebuah surat pernyataan resmi berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.

Salah satunya adalah saham kepemilikan yang di akuisisi oleh pemegangnya, Sehingga tidak bisa di pungkiri untuk menunjukan efektifitas dari kinerja sebuah perusahaan tersebut seirng di lakukan pula sistem kerja saam dengan kliennya dengan menjualbelikan saham tersebut.

Dengan berbagai alasan tentunya proses transaksi dari jual saham tersebut seoalh menjadi bagian strategi bisnis tersendiri sehingga terdapat keuntungan baik bagi penjualnya maupn bagi pembeli saham itu sendiri, Meskipun tidak menutup dalam bagian ini terdapat pula kerugian.

Nah permasalahannya apakah dalam tinjuan Islam proses transaksi jual beli saham itu di perbolehkan? Sementara di satu sisi perilaku ini sudah lumrah di lakuakn oleh hampir para pengusaha di dunia terutama bagi perusahaan-perusahaan besar. Sebagai jawabannya berikut penjelasan mengenai hal tersebut.

Penjelasan Saham
Saham merupakan surat berharga yang menunjukkan bagian kepemilikan atas suatu perusahaan. Membeli saham berarti seseorang telah memiliki hak kepemilikan atas perusahaan tersebut. Maka dari itu, si pemilik berhak atas keuntungan perusahaan dalam bentuk dividen, pada akhir tahun periode pembukuan perusahaan.

Selain dari hak kepemilikan perusahaan dan pembagian keuntungan, pergerakan harga saham juga menjadi sumber keuntungan lain dari pergerakan harga saham. Apa itu pergerakan harga saham?

Penjelasan Dividen
Merupakan pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki. Pembagian ini akan mengurangi laba ditahan dan kas yang tersedia bagi perusahaan, tetapi distribusi keuntungan kepada para pemilik memang adalah tujuan utama suatu bisnis.

Menurut Wikipedia menyebutkan bahwa Dividen dapat dibagi menjadi empat jenis:

A. Dividen tunai yaitu metode paling umum untuk pembagian keuntungan. Dibayarkan dalam bentuk tunai dan dikenai pajak pada tahun pengeluarannya.

B. Dividen saham yaitu cukup umum dilakukan dan dibayarkan dalam bentuk saham tambahan, biasanya dihitung berdasarkan proporsi terhadap jumlah saham yang dimiliki. Contohnya, setiap 100 saham yang dimiliki, dibagikan 5 saham tambahan. Metode ini mirip dengan stock split karena dilakukan dengan cara menambah jumlah saham sambil mengurangi nilai tiap saham sehingga tidak mengubah kapitalisasi pasar.

C. Dividen properti yitu dibayarkan dalam bentuk aset. Pembagian dividen dengan cara ini jarang dilakukan.

D. Dividen interim yaitu dibagikan sebelum tahun buku Perseroan berakhir.

Dimana nilai sebuah perusahaan akan berubah-rubah baik karena aset, keuntungan, modal, dan terutama sentimen pasar. Sehingga nilai saham suatu perusahaan akan berubah dari waktu ke waktu.

Dan Saham sendiri adalah surat berharga yang menunjukan ikut terlibatnya pemegng surat itu akan saham pada sebuah perusahaan. dalam masalah ini terdapat khilaf namun saya cendrung memilih pendapat Syaikh wahbah Az-Zuhaili yang membolehkan dengan beberapa sarat :

1.perusahaan itu harus memproduk brng yang tidak dilarang sara’
2.harganya harus jelas, jika harga tidak jelas seperti nominal harga tunggu likuidasi dulu maka hal ini tidak boleh alias haram. keciali pendapat Imam ahmad, ibn taimiyah dan ibn qoyim dengan alasan qias ujroh misil atau mahar misil.
3.jelasnya si penjual saham pada majlis akad. jika tidak jelas maka tidak boleh
Lihat Fiqhul Islami wa adilatuhu hal jil 7 hal 5036 :

أما الأسهم: فهي حصص الشركاء في الشركات المساهمة، فيقسم رأس مال الشركة إلى أجزاء متساوية، يسمى كل منها سهما، والسهم: جزء من رأس مال الشركة المساهمة، وهو يمثل حق المساهم مقدرا بالنقود، لتحديد مسؤوليته ونصيبه في ربح الشركة أو خسارتها. فإذا ارتفعت أرباح الشركة ارتفع بالتالي ثمن السهم إذا أراد صاحبه بيعه، وإذا خسرت انخفض بالتالي سعره إذا أراد صاحبه بيعه.
ويجوز شرعا وقانونا بيع الأسهم، بسعر بات، أما إذا كان السعر مؤجلا لوقت التصفية فلا يجوز البيع لجهالة الثمن، لأن العلم بالثمن شرط لصحة البيع عند جماهير العلماء. وأجاز الإمام أحمد وابن تيمية وابن القيم البيع بما ينقطع عليه السعر، قياسا على القول بمهر المثل في الزواج، وأجر المثل في الإجارة، وثمن المثل في البيع، وعملا بالمتعارف، وبما يحقق مصالح الناس. أما بيع الأسهم على المكشوف، أي إذا كان البائع لا يملكها في أثناء التعاقد، فلا يجوز، للنهي الثابت شرعا عن بيع ما لا يملك الإنسان.

Kajian hukum jual beli saham adalah masalah ijtihadiyah,imam-imam madzhab serta mujtahid yang semasa mereka belum pernah membicarakan dalam kitab peninggalan mereka, dari beberapa referensi kitab-kitab ulama kontemporer, ana berkesimpulan bahwa hukum jual beli saham adalah boleh, apabila telah memenuhi syarat rukun jual-beli menurut fiqh islam :

A. Adanya ijab-qabul langsung(tnpa selang waktu)
B. Kedua belah pihak mempunyai wewenang penuh melakukan tindakan hukum
C. saham merupakan benda yang memenuhi syarat untuk menjadi objek transaksi jual beli yaitu:

A. suci barangnya
B. dapat bermanfaat
C. dijual oleh pemiliknya sendiri
D. dapat diserah terimakan barangnya dan harganya secara nyata
E. barangnya sudah ada ditangan pemiliknya. [An-Nawawi juz II h 2-21].

Selain syarat di atas, ditambah dengan alasan-alasan :
A. Ada kesepakatan atau kerelaan kedua belah pihak
B. Saling menguntungkan
C. Maslahah ‘ammah
D. Bisnis saham termasuk akad mudlarabah.
Referensi:
Syalthouth hal.355, Al-Qordhawi juz I hal.251-522. Wallohu a’lam. [Cecep Furqon, Ana Uhibbuka Fillah].

Wallohu A’lamu bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com