Kaidah Ushul Fiqh Perbedaan Antara Qiyas dan Penafsiran

Kaidah Ushul Fiqh Perbedaan Antara Qiyas dan Penafsiran

Almunawwar.or.id – Sebuah qoidah ataupun qayyid dalam sebuah hukum memang sangat penting keberadaannya dalam menentukan kredibiltas hal yang di permasalahkan, khususnya keabsahan hukum suatu masalah yang sering ada dalam bab Ubudiah dalam hal ini di atur oleh ilmu Fiqih.

Mengingat untuk lebih memberikan kepastiannya tersebut supaya lebih mudah dicerna dan diterima oleh semu kalangan khususnya kaum awwam, maka hukum qiyas dirasa itu sangat penting sekali agar dapat tersenduh semua titik masalah yang memang sulit untuk dipecahkan sesuai dengan kemasalahatan umat bersama.

Makna inilah yang sejatinya perlu di garis bawahi bagi kaum awwam dalam menjelaskan maksud dan tujuan sebuah hukum yang tentunya bersumber dari Al quran dan Alhadits, nah untuk lebih bisa di mengerti dan di hayati dengan pasti, maka hukum qiyas ini sangat berperan sekali keberadaanya.

Sebelum pada akhirnya di sepakati oleh para Ulama-ulama yang mengerti betul tentang kedudukan sebuah hukum atau yang disebut juga dengan Ijma’ Ulama. Dan sekilas memang mengqiyaskan sebuah masalah hukum itu tidak jauh berbeda dengan menafsirkannnya.

Akan tetapi jika diperhatikan secara seksama dan pasti bahwa diantara keduanya itu ternyata memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Sementara di sisi lain masih banyak orang khususnya kaum awwam yang beranggapan ada bahwa qiyas itu tidak jauh berbeda dengan menafsirkan. Lebih jelasnya lagi simak ulasan secara detail perbedaan antara mengqiyaskan dan menafsirkan berikut ini.

Qiyas adalah hujjah. Allah SWT berfirman QS. al-Hasyr ayat 2.

هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ ۚ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

Artinya : “Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai wawasan”.

Dalam kitab kitab ushul fiqh Mabadi Al-Awaliyah diterangkan dengan jelas dan detail kedudukan hukum qiyas berikut dengan salah satu contohnya diantaranya

المبحث الثانى عشر
فى القياس
القياس حجج. قال الله تعالى ” فاعتبروا يا أولى الابصار”
القياس لغة : تقدير الشيء بأخر ليعلم المساواة بينهما
تقول قست الثوب بالذراع اي قدرته به
واصطلاحا : رد الفرع الى الاصل بعلة تجمعهما فى الحكم
كقياس الارز على البر فى الربا بجامع الطعام
واركانه اربعة : الفرع , الاصل , حكم الاصل , علة حكم الاصل

Artinya : Al-Qiyas (القياس) menurut bahasa adalah mengukur atau memperkirakan sesuatu atas sesuatu yang lain untuk mengetahui persamaan diantara keduanya, seperti mengukur pakaian dengan lengan.

Sedangkan menurut istilah, qiyas berarti mengembalikan hukum cabang (far’) kepada hukum asal karena adanya ‘illat (alasan) yang mempertemukan keduanya dalam hukum. Seperti menqiaskan beras terhadap gandum dalam harta ribawiy dengan titik temu berupa keduanya sama-sama makanan pokok.

Rukun Qiyas ada empat yaitu:
1) far’,
2) asal,
3) hukum asal, dan
4) illat hukum asal.
Dengan penjelasan dari pembagian qiyas yang terdiri dari tiga kedudukan hukum beserta contohnya, berikut redaksinya:

وهو ثلاثة اقسام
١.قياس العلة وهو ما كان العلة فيه موجبة للحكم. كقياس الضرب على التأفيف للوالدين فى التحريم بعلة الاءيذاء. قال الله تعالى ” ولا تقل لهما اف ”
٢.قياس الدلالة وهو ما كان العلة فيه دلالة على الحكم ولا تكن موجبة للحكم
كقياس مال الصبى على مال البالغ فى وجوب الزكاة فيه بجامع انه مال تام. وجوز ان يقال : لايجب فى مال الصبي كما قال به ابو حنيفة فيه قياسا على الحج فانه يجب على البالغ ولايجب على الصبي
٣.قياس الشبه وهو الحاق الفرع المردد بين الاصلين باكثرهما شبها. كما في العبد اذا اتلف فانه مردد فى الضمان بين الانسان الحر من انه ادمي فيجب على من اتلفه القصاص وبين البهيمة انه مال فيجب عليه قيمته وهو بالمال اكثر شبها من الحر بدليل انه يباع ويورث ويوقف ويضمن وأجزاؤه بما نقص من قيمته

Artinya : “Macam-macam qiyas, di bagi menjadi tiga:
a. Qiyas al-illat
Yaitu sesuatu yang illat didalamnya menetapkan hukum.
Seperti menqiyaskan memukul dengan ucapan yang tercela kepada kedua orang tua dalam keharamannya dengan alasan menyakitkan hati orang tua.
Allah berfirman QS. Al-Isra’ (17):23.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya : “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

b. Qiyas al-dilalah
Yaitu sesuatu yang illat didalamnya menunjukkan pada hukum akan tetapi illat tersebut tidak menetapkan pada hukum.
Seperti menqiyaskan harta anak kecil dengan harta orang dewasa dalam kewajiban zakat dengan adanya titik temu bahwa harta anak kecil termasuk harta yang sempurna (al-mãl al-tãmm).

Boleh juga mengatakan tidak wajib zakat -seperti yang dikatakan Abu Hanifah- dengan menqiyaskan pada haji yang mana, haji wajib bagi orang dewasa adapun anak kecil tidak wajib untuk haji.

c. Qiyas al-syibh
Yaitu mempersamakan hukum cabang (far’) yang masih diragukan antara dua asal dengan mengambil keserupaan yang lebih banyak dari asal tersebut.

Contohnya dalam pembahasan budak yang dibunuh, apakah sipembunuh wajib dikenai hukum qishas karena budak juga termasuk manusia, ataukah cukup hanya dengan membayar ganti rugi dengan alasan adanya keserupaan budak dengan binatang, bahwa budak adalah harta.

Dalam hal ini budak lebih banyak keserupaannya dengan binatang (harta) sebab, budak bisa diperjual-belikan, diwariskan, dan di wakafkan.

Dengan demikian bisa diketahui secara pasti kedudukan dan apa yang di maksud dengan hukum Qiyas jika dilihat dari pengertian, dasar hukum dan Illat qiyas termasuk dengan syarat dan pembagian Illat Qiyas itu sendiri, seperti ulasannya dibawah ini.

Pengertian qiyas
Menurut para ulama ushul fiqh, ialah menetapkan hukum suatu kejadian atau peristiwa yang tidak ada dasar nashnya dengan cara membandingkannya kepada suatu kejadian atau peristiwa yang lain yang telah ditetapkan hukumnya berdasarkan nash karena ada persamaan ‘illat antara kedua kejadian atau peristiwa itu

Dasar hukum qiyas
Sebagian besar para ulama fiqh dan para pengikut madzhab yang empat sependapat bahwa qiyas dapat dijadikan salah satu dalil atau dasar hujjah dalam menetapkan hukum dalam ajaran Islam. Hanya mereka berbeda pendapat tentang kadar penggunaan qiyas atau macam-macam qiyas yang boleh digunakan dalam mengistinbathkan hukum, ada yang membatasinya dan ada pula yang tidak membatasinya, namun semua mereka itu barulah melakukan qiyas apabila ada kejadian atau peristiwa tetapi tidak diperoleh satu nashpun yang dapat dijadikan dasar.

Rukun qiyas
Ada empat rukun giyas, yaitu
1.Ashal, yang berarti pokok,
2. Fara’ yang berarti cabang
3. Hukum ashal,
4. ‘IIIat,

‘Illat
‘Illat ialah suatu sifat yang ada pada ashal yang sifat itu menjadi dasar untuk menetapkan hukum ashal serta untuk mengetahui hukum pada fara’ yang belum ditetapkan hukumnya, seperti menghabiskan harta anak yatim merupakan suatu sifat yang terdapat pada perbuatan memakan harta anak yatim yang menjadi dasar untuk menetapkan haramnya hukum menjual harta anak yatim.

Para ulama sepakat bahwa Allah SWT membentuk hukum dengan tujuan untuk kemaslahatan hamba-hamba-Nya. Kemaslahatan itu adakalanya dalam bentuk mengambil manfaat (jalbul manâfi’) dan adakalanya dalam bentuk menolak kerusakan dan bahaya (darul mafâsid). Kedua macam bentuk hukum itu merupakan tujuan terakhir dari pembentukan hukum yang disebut hikmah hukum.

1. Syarat-syarat ‘illat
Ada empat macam syarat-syarat yang disepakati ulama, yaitu:
1. Sifat ‘illat itu hendaknya nyata.
2. Sifat ‘illat itu hendaklah pasti,
3. ‘Illat harus berupa sifat yang sesuai dengan kemungkinan hikmah hukum,
4. ‘Illat itu tidak hanya terdapat pada ashal saja,

2. Pembagian ‘Illat
Ditinjau dari segi ketentuan pencipta hukum (syari’) tentang sifat apakah sesuai atau tidak dengan hukum, maka ulama ushul membaginya kepada empat bagian, yaitu:
a. Munasib mu’tsir
b. Munasib mulaim
c. Munasib mursal
d. Munasib mulghaa

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com