Kajian Fiqh Islam Hukum Daripada Di Tato dan Memakai Behel (Pangur)

Kajian Fiqh Islam Hukum Daripada Di Tato dan Memakai Behel (Pangur)

Almunawwar.or.id – Islam tidak mengajarkan hal-hal yang bisa memberikan kemadharatan bagi diri seorang muslim, termasuk ketika dirinya ingin merasa melebihi apa yang selama ini menjadi haqiqat daripada penciptaan seorang makhluq yang sejatinya adalah sesuatu yang terbaik bagi dirinya.

Dalam arti lain merubah atau menambahkan sesuatu dalam diri dengan hal-hal yang memang dilarang oleh agama, seperti yang sedang trend di kalangan anak muda saat ini dimana memakai tato juga behel (pangur) seolah menjadi bagian daripada gaya hidupnya.

Hal-hal seperti inilah yang mungkin sangat perlu di lakukan kajian secara mendalam, sebab ini sudah lumrah dan tidak sedikit orang yang tidak mengetahui dasar hukum dari pemakaian ataupun penggunaan dari pada di tato dan memakai behel atau kawat pada gigi.

Lalu bagaimana tinjuan dan kajian fiqh islam mengenai fenomena dari gaya hidup modern seperti yang telah disebutkan di atas tadi? Berikut pemaparan beberapa keterangan yang menjelaskan hukum daripada di tato dan memakai behel itu.

وَعَنْ اَبِيْ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ اَنَّهُ قَالَ: لَعنَ اللّهُ الْوَاشِمَاتِ وَالْمُسْتَوْشِِِمَاتِ وَالمُتَنَمِّصَاتِ وَالمُتَفَلِّجَاتِ لِلْحُسْنِ المُتَغَيِّرَاتِ خَلْقَ اللهِ, فَقَالَتْ لَهُ إِمْرَاءَةٌ فِى ذَلِكَ، فَقَالَ: وَمَا لِى لأَلْعَنُ مَنْ لَعَنَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِى كِتَابِ اللهِ، قَال اللهٌ تَعَالَى: وَمَا آتَاكُمْ الرَسُولُ فَخُذُوه وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فانْتَهُوا. مُتَّفَقْ عَلَيْهِ

Artinya : “Diriwayatkan dari Ibn Mas’ud ra bahwasanya beliau telah berkata: Allah melaknat para wanita yang bertato dan para wanita yang minta ditato, para wanita yang menyuruh wanita lain untuk mencabuti bulu alisnya agar menjadi tipis dan tampak indah dan para wanita yang merenggangkan gigi mereka sedikit untuk kecantikan dan para wanita yang mengubah ciptaan Allah. Ada seorang wanita yang berkata kepada beliau dalam hal tersebut, kemudian beliau berkata: “Bagaimana aku tidak melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah saw, sedangkan hal itu disebutkan dalam al Quran”, Allah ta’ala berfirman: Apa saja yang rasul datangkan kepadamu, maka ambillah dan apa saja yang Rasul melarang kepada kamu sekalian, maka hentikanlah. Telah disepakati kesahihannya oleh Imam Bukhori dan Muslim. [ Kitab Dalilul Falikhin juz 4 hal 494 ].

Pengertian Tato
Tatto ialah tanda pada tubuh yang dihasilkan dengan cara menusukkan jarum pada tubuh hingga mengeluarkan darah kemudian meninggalkan warna membiru atau menghijau dari bekas tusukan jarum tersebut.Hukum menghilangkan tatto bila dilakukan saat seseorang sudah mukallaf (dewasa dan berakal), tidak dipaksa, tahu keharamannya, tanpa kepentingan, bisa dihilangkan maka wajib menghilangkannya, bila tidak maka tidak wajib.

Maka bila dilakukan saat ia masih kecil, dipaksa, tidak tahu keharamannya, karena ada keperluan, khawatir timbul bahaya yang hingga diperbolehkan baginya tayaammum maka tidak wajib menghilangkannya dan sahlah shalat serta menjadikan imam dia. Keterangan dalam hasiah Albujairomi juz 4 halaman 55 redaksinya sebagai berikut:

الكتاب : حاشية البجيرمي على الخطيب 4 / 55( الْوَشْمُ ) وَهُوَ غَرْزُ الْإِبْرَةِ فِي الْجِلْدِ حَتَّى يَخْرُجَ الدَّمُ ثُمَّ يَذُرَّ عَلَيْهِ نَحْوَ نِيلَةٍ لِيَخْضَرَّ أَوْ يَزْرَقَّ ا هـ ا ج .قَوْلُهُ : ( فَفِيهِ التَّفْصِيلُ الْمَذْكُورُ ) وَهُوَ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مُكَلَّفٌ مُخْتَارٌ عَالِمٌ بِالتَّحْرِيمِ بِلَا حَاجَةٍ وَقَدْرَ عَلَى إزَالَتِهِ لَزِمَتْهُ ، وَإِلَّا فَلَا .فَإِذَا فُعِلَ بِهِ فِي صِغَرِهِ أَوْ فَعَلَهُ مُكْرَهًا أَوْ جَاهِلًا بِالتَّحْرِيمِ أَوْ لِحَاجَةٍ وَخَافَ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ فَلَا تَلْزَمُهُ إزَالَتُهُ وَصَحَّتْ صَلَاتُهُ وَإِمَامَتُهُ ، وَعُلِمَ مِنْ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ فَعَلَ الْوَشْمَ بِرِضَاهُ فِي حَالِ تَكْلِيفِهِ ، وَلَمْ يَخَفْ مِنْ إزَالَتِهِ مَحْذُورَ تَيَمُّمٍ مَنَعَ ارْتِفَاعَ الْحَدَثِ عَنْ مَحَلِّهِ لِتَنَجُّسِهِ وَإِلَّا عُذِرَ فِي بَقَائِهِ مُطْلَقًا وَحَيْثُ لَمْ يُعْذَرْ فِيهِ وَلَاقَى مَاءً قَلِيلًا أَوْ مَائِعًا أَوْ رَطْبَا نَجَّسَهُ ، كَذَا أَفْتَى بِهِ الْوَالِدُ شَرْحُ م ر .

Tato itu ada 2 macam :
1. Permanen sulit hilang, model ini tinta ada dibawah kulit cara masukkan tinta dengan jarum, yang jenis ini wudhu/junub sah karena tidak menghalangi sampainya air ke kulit.
2. Non permanen tinta di luar kulit, jenis ini wudhunya tidak sah.
Dua-duanya Hukum membuatnya haram.

Keterangan bisa di lihat dari penjelasan yang ada pada kitab Bujaiirimi alal manhaj 1/71 :

فرع لو دخلت شوكة في اسبعه مثلا وصار رأسها ظاهرا غير مستور فإن كانت بحيث لو قلعت بقى موضعها مجوفا وجب قلعها ولا يصح غسل اليدين او الرجلين مع بقائها وإن كانت لو قلعت لا يبقى موضعها مجوفا بل يلتحم وينطبق لم يجب قلعها وصح غسل اليدين

Hukum Wudhu dan Mandi orang yang bertato
Adapun wudhu dan mandinya tetap sah, sebagaimana dalam kitab Qurratul ‘Ain bifatawaa Ismail Zain halaman 49 berikut :

سؤال . ماقولكم فيمن غرز فى أعضاء وضوءه او فى سائر بدنه بالإبرة مثلا ووضع محله نحو حبر للتلوين والتصوير فإذا التحم بعد ذلك فهل يصح وضوؤه وكذلك غسله اولا ؟ الجواب : نعم يصح وضوؤه وغسله مع كونه إثما بذلك الفعل يجب عليه التوبة وإزالته ان لم يؤد الى ضرر لأنه نوع من الوشم ففعله غير جائز ولكن الوضوء والغسل معه صحيحان للضرورة لأنه داخل الجلد ملتحم عليه فلا يمنع صحة الوضوء والغسل لكونه داخل البشرة والصلاة معه صحيحة للضرورة.

Artinya : “Bagiamana pendapat anda tentang orang yang mencocok pada anggota wudhunya atau disemua badannya dengan jarum misalnya, kemudian dia meletakkan tinta ditempat yang dicocok tersebut dengan tujuan mewarnai atau melukis. Ketika merapat (tumbuh daging diatasnya) setelah itu, apakah sah wudhunya, begitu juga mandinya atau tidak ?
Benar, sah wudhu dan mandinya, namun dia berdosa dengan perbuatan itu, dia wajib bertaubat, dan wajib menghilangkannya jika memang tidak mendatangkan bahaya, karena itu termasuk WASYM, yang membuatnya tidak boleh, akan tetapi wudhu dan mandi dengan keduanya sah karena darurat, karena itu didalam kulit yang telah merapat (tumbuh daging di atasnya), maka tidak menghalang-halangi sahnya wudhu dan mandi karena itu didalam kulit. Shalat dengannya sah karena darurat”.

Keterangan-keterangan lain bisa dilihat dan dikaji kembali pada:
1. Kitab Bujaiirimi alal manhaj 1/71
2. Kitab Al-Fiqh al-Islaam I/410
3. Kitab Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah XI/273
4. Kitab I’aanah at-Thoolibiin I/107
5. Kitab Dalilul Falikhin juz 4 hal 494
6. Kitab Iqnaa’ I/139
7. Kitab Qurratul ‘Ain bifatawaa Ismail Zain halaman 49

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id