Kajian Fiqih Hukum daripada Menyatakan Cinta Perempuan Kepada Laki-laki

Kajian Fiqih Hukum daripada Menyatakan Cinta Perempuan Kepada Laki-laki

almunawwar.or.id. – Salah satu hal yang menjadi faktor kebahagiaan dalam hidup baik untuk laki-laki maupun perempuan adalah adanya sebuah ikatan hubungan yang sah menurut agama dan hukum negara. Terlebih khusus bagi perempuan sendiri yang memang menjadi perhatian penting terhadap agama termasuk dalam urusan perasaan cintanya.

Adanya sebuah ikatan hubungan tersebut tidak lepas dari adanya perasaan cinta dan kasih sayang dalam dirinya terutama untuk perempuan sendiri. Dalam hal ini seorang perempuan juga mempunyai hak untuk menyatakan keinginan dan harapannya tentang kekaguman dan tentunya ingin memiliki seorang laki-laki dambaannya.

Meskipun secara hakikat seorang perempuan dalam pandangan agama itu mempunyai batasan batasan tertentu dalam mengendalikan dan menjalankan aktivitas kesehariannya termasuk dalam urusan menjaga perasaannya. Sehingga sangat wajar apabila pernyataan tersebut memiliki pandangan khusus pula dari sudut agama.

Nah, menyikapi masalah yang lumrah dan biasa sering terjadi pada setiap individu seorang perempuan, maka timbullah pertanyaan “Apakah boleh seorang perempuan menyatakan perasaan cinta terhadap laki-laki yang menjadi pilihannya? Sebagai jawabannya, mari tinjau kembali keterangan yang tertulis pada keterangan hadits dan qaul ulama di antaranya:

ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻋﻠﻲ ﺑﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺣﺪﺛﻨﺎ ﻣﺮﺣﻮﻡ ﻗﺎﻝ: ﺳﻤﻌﺖ ﺛﺎﺑﺘﺎ اﻟﺒﻨﺎﻧﻲ ﻗﺎﻝ: ﻛﻨﺖ ﻋﻨﺪ ﺃﻧﺲ ﻭﻋﻨﺪﻩ اﺑﻨﺔ ﻟﻪ، ﻗﺎﻝ ﺃﻧﺲ: ﺟﺎءﺕ اﻣﺮﺃﺓ ﺇﻟﻰ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﺗﻌﺮﺽ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﺴﻬﺎ، ﻗﺎﻟﺖ: ﻳﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ! ﺃﻟﻚ ﺑﻲ ﺣﺎﺟﺔ؟ ﻓﻘﺎﻟﺖ ﺑﻨﺖ ﺃﻧﺲ: ﻣﺎ ﺃﻗﻞ ﺣﻴﺎءﻫﺎ، ﻭاﺳﻮﺃﺗﺎﻩ ﻭاﺳﻮﺃﺗﺎﻩ. ﻗﺎﻝ: ﻫﻲ ﺧﻴﺮ ﻣﻨﻚ، ﺭﻏﺒﺖ ﻓﻲ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻓﻌﺮﺿﺖ ﻋﻠﻴﻪ ﻧﻔﺴﻬﺎ.رواه البخاري ٥١٢٠.

Artinya : “Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah, Telah menceritakan kepada kami Marhum bin Abdul Aziz bin Mihran, ia berkata; Aku mendengar Tsabit Al Bunani berkata; Aku pernah berada di tempat Anas, sedang ia memiliki anak wanita. Anas berkata : “Ada seorang wanita datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu menghibahkan dirinya kepada beliau”. Wanita itu berkata : ‘Wahai Rasulullah, adakah Anda berhasrat padaku? lalu anak wanita Anas pun berkomentar : Alangkah sedikitnya rasa malunya, Anas berkata : “Wanita lebih baik daripada kamu, sebab ia suka pada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga ia menghibahkan dirinya pada beliau”.

شرح البخاري للابن بطال ج ٧ ص ٢٢٧.
ﻗﺎﻝ اﻟﻤﻬﻠﺐ: ﻓﻴﻪ ﺟﻮاﺯ ﻋﺮﺽ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﻭﺗﻌﺮﻳﻔﻪ ﺑﺮﻏﺒﺘﻬﺎ ﻓﻴﻪ ﻟﺼﻼﺣﻪ ﻭﻓﻀﻠﻪ، ﻭﻟﻌﻠﻤﻪﻭﺷﺮﻓﻪ، ﺃﻭ ﻟﺨﺼﻠﺔ ﻣﻦ ﺧﺼﺎﻝ اﻟﺪﻳﻦ.

Artinya :” Dalam masalah ini diperbolehkan bagi seorang perempuan untuk menawarkan dirinya (menyatakan perasaan cinta) kepada laki-laki yang sholih karena baiknya, kelebihannya, karena ilmu dan kemuliayaannya atau juga karena masalah-masalah keagamaan dirinya. Syarah al Bukhori juz 7 halaman 227.

عمدة القارى ج ٢٠ ص ١١٣.
ﺑﺎﺏ ﻋﺮﺽ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ) ﺃﻱ: ﻫﺬا ﺑﺎﺏ ﻓﻲ ﺑﻴﺎﻥ ﺟﻮاﺯ ﻋﺮﺽ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻋﻠﻰ اﻟﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﺭﻏﺒﺔ ﻟﺼﻼﺣﻪ، ﻗﻴﻞ: ﻟﻤﺎ ﻋﻠﻢ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ اﻟﺨﺼﻮﺻﻴﺔ ﻓﻲ ﻗﺼﺔ اﻟﻮاﻫﺒﺔ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻟﻠﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ اﺳﺘﻨﺒﻂ ﻣﻦ اﻟﺤﺪﻳﺚ ﻣﺎ ﻻ ﺧﺼﻮﺻﻴﺔ ﻓﻴﻪ، ﻭﻫﻮ ﺟﻮاﺯ ﻋﺮﺽ اﻟﻤﺮﺃﺓ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻟﻠﺮﺟﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ.

Artinya: “Pada bab penawaran diri seorang perempuan terhadap laki-laki yang sholeh yaitu bab yang memperbolehkan penawaran diri seorang perempua terhadap laki-laki sholeh dengan tujuan karena kesholehannya, sebagaimana yang diterangkan dalam sebuah keterangan hadits tentang masalah khusus seperti ini yaitu tentang diperboehkannya seorang perempuan menawarkan diri terhadap laki-laki yang sholeh untuk di nikahi nya. Umdatul qori juz 20 halaman 113.

ب – عَرْضُ الْمَرْأَةِ نَفْسَهَا عَلَى الرَّجُل الصَّالِحِ . 3 – يَجُوزُ عَرْضُ الْمَرْأَةِ نَفْسَهَا عَلَى الرَّجُل وَتَعْرِيفُهُ رَغْبَتَهَا فِيهِ ، لِصَلاَحِهِ وَفَضْلِهِ أَوْ لِعِلْمِهِ وَشَرَفِهِ أَوْ لِخَصْلَةٍ مِنْ خِصَال الدِّينِ ، وَلاَ غَضَاضَةَ عَلَيْهَا فِي ذَلِكَ ، بَل ذَلِكَ يَدُل عَلَى فَضْلِهَا

Artinya : “Boleh hukumnya wanita menawarkan dirinya atau memberitahukan perasaan cintanya pada seorang pria karena mendamba keshalihannya, keutamaannya, keilmuannya, kemuliaannya atau apapun yang berkaitan dengan keagamaan. Yang demikian tidaklah merendahkan martabat seorang wanita namun justru menunjukkan keutamaannya (karena dia mementingkan sisi agama). Lihat Al-Mausuu’ah al-Fiqhiyyah 30/50.

Walhasil dari adanya keterangan tadi itu menjelaskan bahwasannya ada kebolehan bagi seorang perempuan untuk menyatakan dan mengutarakan keinginannya untuk di nikahi oleh seorang laki-laki yang sholih, dengan catatan tujuannya adalah supaya untuk di nikahi oleh laki-laki sholeh pilihannya tersebut.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com