Kajian Fiqih Tentang Ketentuan Tempat Pelaksanaan Ibadah Shalat Jum’at

Kajian Fiqih Tentang Ketentuan Tempat Pelaksanaan Ibadah Shalat Jum'at

Almunawwar.or.id – Beribadah merupakan salah satu amalan yang senatiasa harus di lakukan oleh setiap umat islam, termasuk dari menyediakan dan menyempurnakan syarat syah dari ibadah-ibadah tersebut seperti penyediaan tempat waktu shalat jum’at dan yang lainnya.

Yang dalam hal ini adalah permasalahan tentang tempat dari pelaksanaan ibadah jum’at tersebut, apakah bisa di lakukan di luar mesjid atau hanya bisa di laksanakan dalam sebuah ruangan masjid. Dan tentunya persoalan ini meskipun sudah menjadi hal layak umat namun sering sekali menjadi permasalahan di tengah-tengah masyarakat modern seperti sekarang ini.

Tentang bagaimana ketentuan dari syarat peribadahan tersebut tentunya harus sesuai pula dengan kaidah-kaidah yang berhubungan dengan permasalahan yang di maksud. Seperti salah satunya tinjuan Fiqih mengenai keabsahan shalat jum’at baik yang di dalam maupun yang di laksanakan di luar masjid.

Hukum-nya Khilaf dimana menurut kalangan Madzhab Syafiiyah pelaksanaan jum’at tidak harus atau tidak ditentukan untuk dilakukan di masjid, Bahkan boleh dilaksanakan di lapangan di sekitar bangunan.

Kalangan Madzhab Hanafiyah Dan Kalangan madzhab Hambali Shalat jumat boleh dilakukan di selain masjid jami’, Artinya shalat jum’at di sekitar bangunan yang terpisah-pisah, jika masih dalam satu daerah. Atau jumatan di tanah lapang dekat kampung, Inilah pendapat madzhab Hambali secara umum, dan pendapat yang dipilih mayoritas ulama Hambali.

Imam Khalil al-Maliki menyebutkan syarat sah jumat harus dikerjakan di masjid jamik bangunan yang bersifat masjid. Ibnu Basyir mengatakan : Masjid termasuk syarat sah pelaksanaan jumat. Ibnu Rusyd mengatakan : Bahwa Tidak sah melaksanakan jumat Selain di masjid.

Referensinya bisa kita kaji bersama sebuah redaksi yang terdapat pada kitab Al-Fiqhu ‘Alal Madzahib Al-Arba’ah :

الفقه علي المذاهب الأربعة الجزيري :
اتفق ثلاثة من الأئمة على جواز صحة الجمعة في الفضاء :وقال المالكية : لا تصح إلا في المسجد وقد ذكرنا بيان المذاهب تحت الخط ( المالكية قالوا : لا تصح الجمعة في البيوت ولا في الفضاء بل لا بد أن تؤدي في الجامع :
الحنابلة قالوا : تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريبا من البناء ويعتبر القرب بحسب العرف فإن لم يكن قريبا فلا تصح الصلاة وإذا صلى الإمام في الصحراء استخلف من يصلي بالضعاف :
الشافعية قالوا : تصح الجمعة في الفضاء إذا كان قريبا من البناء وحد القرب عندهم المكان الذي لا يصح فيه للمسافر أن يقصر الصلاة متى وصل عنده وسيأتي تفصيله في مباحص ” قصر الصلاة ” ومثل الفضاء الخندق الموجود داخل سور البلد إن كان لها سور :
الحنفية قالوا : لا يشترط لصحة الجمعة أن تكون في المسجد بل تصح في الفضاء بشرط أن لا يبعد عن المصر بأكثر من فرسخ وأن يأذن الإمام بإقامة الجمعة فيه كما تقدم في الشروط

Ataupun redaksi yang terlampir pada Syarh Zakariya ‘Alal Bahjatul Wardiyah :

وقال زكريا في شرحه على البهجة الوردية :
ثَانِيهَا أَنْ تَجْرِيَ (فِي خِطَّةٍ) بِكَسْرِ الْخَاءِ وَهِيَ الْأَرْضُ يَخْتَطُّهَا الرَّجُلُ بِأَنْ يُعَلِّمَ عَلَيْهَا عَلَامَةً بِالْخَطِّ لِيُعْلَمَ أَنَّهُ قَدْ احْتَازَهَا لِيَبْنِيَهَا دَارًا قَالَهُ الْجَوْهَرِيُّ: وَالْمُرَادُ هُنَا مَا بَيْنَ الْأَبْنِيَةِ (مِنْ بَلْدَةٍ وَلَوْ) كَانَتْ مِنْ (سَرَبْ) بِفَتْحِ السِّينِ وَالرَّاءِ أَيْ: بَيْتٍ فِي الْأَرْضِ (أَوْ) مِنْ (قَرْيَةٍ حَتَّى الَّتِي مِنْ الْخَشَبْ) ، أَوْ الْقَصَبِ، أَوْ السَّعَفِ، أَوْ غَيْرِهَا سَوَاءٌ فِي ذَلِكَ الْمَسْجِدُ، وَالْفَضَاءُ بِخِلَافِ خَارِجِ الْخِطَّةِ الَّذِي يَنْشَأُ مِنْهُ سَفَرُ الْقَصْرِ لِأَنَّهَا لَمْ تَقُمْ فِي عَصْرِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالْخَفَاءُ بَعْدَهُ إلَّا فِي دَارِ الْإِقَامَةِ وَبِخِلَافِ الْخِيَامِ، وَإِنْ اسْتَوْطَنَهَا أَهْلُهَا دَائِمًا لِأَنَّهُ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَمْ يَأْمُرْ الْمُقِيمِينَ حَوْلَ الْمَدِينَةِ بِهَا، فَإِنَّهُمْ عَلَى هَيْئَةِ الْمُسْتَوْفِزِينَ وَلَوْ انْهَدَمَتْ أَبْنِيَةُ الْخِطَّةِ وَأَقَامُوا عَلَى الْعِمَارَةِ لَزِمَتْهُمْ فِيهَا، وَإِنْ لَمْ يَكُونُوا فِي مَظَالَّ؛ لِأَنَّهَا وَطَنُهُمْ، وَلَا تَنْعَقِدُ فِي غَيْرِ بِنَاءٍ إلَّا فِي هَذِهِ ذَكَرَهُ فِي الْمَجْمُوعِ، وَالْقَرْيَةُ الْأَبْنِيَةُ الْمُجْتَمَعَةُ قَلِيلَةٌ أَوْ كَثِيرَةٌ، فَتَعُمُّ الْبَلَدَ لَكِنْ غَلَبَ عُرْفًا تَخْصِيصُهَا بِالْقَلِيلَةِ، أَوْ الْبَلَدُ بِالْكَثِيرَةِ وَمِنْهُ كَلَامُ الْفُقَهَاءِ

– AlBahrur Ro-iq 2/162 :

البحر الرائق الجزء 2 ص 162
قوله والإذن العام ) أي : شرط صحتها الأداء على سبيل الاشتهار ، حتى لو أن أميرا أغلق أبواب الحصن ، وصلى فيه بأهله وعسكره صلاة الجمعة : لا تجوز . كذا في الخلاصة . وفي المحيط : فإن فتح باب قصره وأذن للناس بالدخول : جاز ، ويكره ; لأنه لم يقض حق المسجد الجامع :

– Thorkhut Tatsriib 3/190 :

ﻃﺮﺡ ﺍﻟﺘﺜﺮﻳﺐ ﺍﻟﺠﺰﺀ 3 ﺹ 190
ﻣﺬﻫﺒﻨﺎ ) ﺃﻱ : ﻣﺬﻫﺐ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ( ﺃﻥ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻻ ﺗﺨﺘﺺ ﺑﺎﻟﻤﺴﺠﺪ ، ﺑﻞ ﺗﻘﺎﻡ ﻓﻲ ﺧِﻄﺔ ﺍﻷﺑﻨﻴﺔ ؛ ﻓﻠﻮ ﻓﻌﻠﻮﻫﺎ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺠﺪ ﻟﻢ ﻳُﺼﻞّ ﺍﻟﺪﺍﺧﻞ ﺇﻟﻰ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻤﻮﺿﻊ ﻓﻲ ﺣﺎﻟﺔ ﺍﻟﺨﻄﺒﺔ ، ﺇﺫ ﻟﻴﺴﺖ ﻟﻪ ﺗﺤﻴﺔ

“[madzhab syafii] bahwa mendirikan sholat jum’at tidak harus di masjid saja, melainkan boleh di sekitar bangunan-bangunan, jika sholatnya bukan di masjid maka jika orang / jama’ah masuk di tempat itu di kala khotbah. maka tidak boleh sholat tahiyat masjid.

– Inshof 2/378 :

ﺍﻹﻧﺼﺎﻑ ﺍﻟﺠﺰﺀ 2 ﺹ 378 ﻗﻮﻟﻪ ) ﻭﻳﺠﻮﺯ ﺇﻗﺎﻣﺘﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻷﺑﻨﻴﺔ ﺍﻟﻤﺘﻔﺮﻗﺔ , ﺇﺫﺍ ﺷﻤﻠﻬﺎ ﺍﺳﻢ ﻭﺍﺣﺪ ، ﻭﻓﻴﻤﺎ ﻗﺎﺭﺏ ﺍﻟﺒﻨﻴﺎﻥ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺮﺍﺀ ( ﻭﻫﻮ ﺍﻟﻤﺬﻫﺐ ﻣﻄﻠﻘﺎ . ﻭﻋﻠﻴﻪ ﺃﻛﺜﺮ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ . ﻭﻗﻄﻊ ﺑﻪ ﻛﺜﻴﺮ ﻣﻨﻬﻢ . ﻭﻗﻴﻞ : ﻻ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻗﺎﻣﺘﻬﺎ ﺇﻻ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ :

[Boleh melaksanakan jum’at di bangunan yang berbeda-beda jika memang masih satu nama yang dimana bangunan bangunanya dekat dekat dengan lapangan ] dan inilah menurut keterangan madzhab secara mutlak, dan inipun diikuti oleh seluruh ashab, dan disepakati oleh kebanyak mereka, tapi menurut satu qaul : tidak boleh mendirikan jum’at kecuali harus di masjid jaami’.

– At-Taaj wal Akiil :

ﺍﻟﺘﺎﺝ ﻭﺍﻹﻛﻴﻞ ﺍﻟﺠﺰﺀ 2 ﺹ 520 ﻭﺑﺠﺎﻣﻊ ( ﺍﺑﻦ ﺑﺸﻴﺮ : ﺍﻟﺠﺎﻣﻊ ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻷﺩﺍﺀ . ﺍﺑﻦ ﺭﺷﺪ : ﻻ ﻳﺼﺢ ﺃﻥ ﺗﻘﺎﻡ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﺴﺠﺪ ) ﻣﺒﻨﻲ ( ﺍﻟﺒﺎﺟﻲ : ﻣﻦ ﺷﺮﻭﻁ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ﺍﻟﺒﻨﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺨﺼﻮﺹ ﻋﻠﻰ ﺻﻔﺔ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ :

Masjid jami ibnu batsir berkta: masjid jami termasuk syarat di adakanya sholat jumat, ibnu rusdi : tidak sah melakukan sholat jum,at kalau bukan di masjid, [bangunan] al-baaji: termasuk syarat masjid adanya bangunan yang bersifat seperti masjid.

– Roudlotuth Tholibin 2/4 :

ﺭﻭﺿﺔ ﺍﻟﻄﺎﻟﺒﻴﻦ ﺍﻟﺠﺰﺀ 2 ﺹ 4 ﻭﺍﻟﺜﺎﻧﻲ ﺗﺼﺢ ﻭﺗﺠﺐ ﻭﻟﻮ ﺍﻧﻬﺪﻣﺖ ﺃﺑﻨﻴﺔ ﺍﻟﻘﺮﻳﺔ ﺃﻭ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻓﺄﻗﺎﻡ ﺃﻫﻠﻬﺎ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻤﺎﺭﺓ ﻟﺰﻣﻬﻢ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﺳﻮﺍﺀ ﻛﺎﻧﻮﺍ ﻓﻲ ﻣﻈﺎﻝ ﺃﻭ ﻏﻴﺮﻫﺎ ﻷﻧﻪ ﻣﺤﻞ ﺍﻻﺳﺘﻴﻄﺎﻥ

Yang ke 2 : jum’at sah dan wajib jika bangunan satu kampung atau negara hancur lebur lalu penduduknya sholatnya di bangunanya / atas reruntuhanya maka wajib sholat di situ baik ada naungannya atau pun tidak karena itu tempat tinggalnya.

ﻭﻻ ﻳﺸﺘﺮﻁ ﺇﻗﺎﻣﺘﻬﺎ ﻓﻲ ﻣﺴﺠﺪ ﻭﻻ ﻓﻲ ﻛﻦ ﺑﻞ ﻳﺠﻮﺯ ﻓﻲ ﻓﻀﺎﺀ ﻣﻌﺪﻭﺩ ﻣﻦ ﺧﻄﺔ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﻤﻮﺿﻊ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻋﻦ ﺍﻟﺒﻠﺪ ﺍﻟﺬﻱ ﺇﺫﺍ ﺍﻧﺘﻬﻰ ﺇﻟﻴﻪ ﺍﻟﺨﺎﺭﺝ ﻟﻠﺴﻔﺮ ﻗﺼﺮ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺇﻗﺎﻣﺔ ﺍﻟﺠﻤﻌﺔ ﻓﻴﻪ

Karena tidak disyaratkan jum’at di masjid atau di melainkan boleh mendirikanya di lapangan sekitar bangunan bangunanya, jika sampai keluar negaranya yang tempat sampainya orang musafir mengqosor sholat maka tidak boleh.

– Fatawi Fiqhiyyah Kubro Lil Haitamiy Asy-syafi’iy :

ﺍﻟﻔﺘﺎﻭﻯ ﺍﻟﻔﻘﻬﻴﺔ ﺍﻟﻜﺒﺮﻯ ﻟﻠﻬﻴﺘﻤﻲ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ ﺍﻟﺠﺰﺀ 1 ﺹ 234
ﻋَﻠَﻰ ﺃَﻥَّ ﺍﻟْﺠُﻤُﻌَﺔَ ﻟَﺎ ﻳُﺸْﺘَﺮَﻁُ ﻟِﺼِﺤَّﺔِ ﺇﻗَﺎﻣَﺘِﻬَﺎ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪُ ﻛَﻤَﺎ ﺻَﺮَّﺣُﻮﺍ ﺑِﻪِ ﻓَﻠَﻮْ ﺃَﻗَﺎﻣُﻮﻫَﺎ ﻓِﻲ ﻓَﻀَﺎﺀٍ ﺑَﻴْﻦَ ﺍﻟْﻌُﻤْﺮَﺍﻥِ ﺻَﺤَّﺖْ :

Untuk sahnya sholat jum’at itu tidak disyaratkan harus dilaksanakan di masjid sebagaimana yang telah dijelaskan ulama jika sholatnya lapangan antara dua bangunan maka tetap sah jum’atnya.

Hukum mengulangi shalat zhuhur setelah pelaksanaan shalat Jumat:
Pertama, wajib
Hukum ini berlaku dalam kondisi tidak terpenuhinya syarat keabsahan Jumat. Contohnya adalah ditemukan dua jumatan dalam satu desa tanpa ada hajat. Sementara diragukan mana yang terlebih dahulu melaksanakan takbiratul ihram dari dua jumatan tersebut. Maka, masing-masing jamaah di kedua tempat tersebut wajib untuk mengulangi shalat zhuhur. Kewajiban mengulangi zhuhur ini dikarenakan shalat Jumat yang dilakukan di kedua tempat sama-sama tidak sah.

Sedangkan apabila yang dahulu melakukan takbiratul iharam adalah salah satunya, maka yang wajib mengulang shalat zhuhur adalah Jumat yang lebih akhir takbirnya. Sebab, dalam kondisi tersebut, Jumat yang dinyatakan sah adalah hanya jumatan yang pertama kali melakukan takbiratul ihram.

Kedua, haram
Hukum ini berlaku saat syarat-syarat sah jumat sudah terpenuhi dan hanya dilakukan di satu tempat dalam satu desa. Dalam kondisi tersebut, haram hukumnya mendirikan shalat i‘adah zhuhur setelah shalat Jumat. Sebab Jumat sudah mewakili kewajiban zhuhur dan tidak ada tuntutan melakukannya. Ketika ibadah tidak ada anjuran dari syari’at, maka hukumnya haram dan tidak sah, sebagaimana ditegaskan dalam kaidah:

العبادة حيث لم تطلب لم تنعقد

Artinya, “Ibadah ketika tidak dituntut, maka tidak sah.”

Ketiga, sunnah
Perincian hukum ini berlaku saat terjadi pelaksanaan dua Jumat dalam satu desa karena ada hajat, misalkan disebabkan daya tampung masjid yang tidak memadai. Pada kondisi tersebut, masyarakat diperbolehkan menyelenggarakan dua jumatan dan keduanya sah, baik yang lebih dahulu takbiratul ihramnya maupun yang lebih akhir. Selepas pelaksanaan Jumat, jamaah disunnahkan untuk mengulangi shalat zhuhur.

Sebagian pendapat dari kalangan Syafi’iyyah tidak membolehkan berbilangnya jumatan dalam satu desa secara mutlak, meski ada hajat. Oleh karena itu, dalam kondisi dibutuhkan berbilangnya jumatan, jamaah dianjurkan untuk mengulangi shalat zhuhur setelah pelaksanaan Jumat untuk menjaga perbedaan pendapat ini, sebagai pengamalan dari sebuah kaidah fiqih berikut ini:

الخروج من الخلاف مستحب

Artinya, “Keluar dari ikhtilaf (perbedaan) ulama adalah dianjurkan.”

Ketiga perincian di atas berlandaskan pada sebuah keterangan yang disampaikan Syekh Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha sebagai berikut:

والحاصل أن صلاة الظهر بعد الجمعة إما واجبة أو مستحبة أو ممنوعة فالواجبة كما في مسألة الشك والمستحبة فيما إذا تعددت بقدر الحاجة من غير زيادة والممتنعة فيما إذا أقيمت جمعة واحدة بالبلد فيمتنع فعل الظهر. والله سبحانه وتعالى أعلم

Artinya, “Kesimpulannya, shalat zhuhur setelah jumat adakalanya wajib, sunnah, dan haram. Yang wajib sebagaimana dalam persoalan diragukan (mana yang lebih dahulu melaksanakan takbiratul ihram saat terdapat berbilangnya jumatan tanpa ada hajat). Yang sunnah dalam persoalan berbilangnya Jumat dengan sebatas kebutuhan tanpa melebihi batas tersebut. Yang haram dalam permasalahan dilaksanakannya satu Jumat dalam satu desa, maka tercegah untuk melakukan shalat zhuhur. Wallahu a‘lam,” (Lihat Syekh Abu Bakr bin Sayyid Muhammad Syatha, Jam’ur Risalatain fi Ta’ddudil Jum’atain, halaman 9).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com