Kebolehan Seorang Manusia Yang Terlahir Dari Hewan Menjadi Qurban dan Imam

Kebolehan Seorang Manusia Yang Terlahir Dari Hewan Menjadi Qurban dan Imam

Almunawwar.or.id – Meski dikatakan jarang dan langka bahkan tidak belum ada sampai dengan saat ini dimana fenomena langka seekor hewan yang melahirkan anaknya tersebut berwujud manusia, namun sebuah kemustahilan seperti hal tersebut bisa saja terjadi jika Alloh S.W.T sudah berkehendak.

Dan tentunya permasalahan seperti ini adalah bagian yang sudah termasuk pada kajian ilmu fiqh, dimana letak dari dasar hukum itu berlaku sekali meskipun objektifitasnya itu hal yang sangat langka bahkan bisa di katakan mustahil jika melihat dari pada segi hukum aqal dan adat.

Seperti yang sudah di singgung tadi dimana jika seekor hewan melahirkan anaknya itu berwujud manusia dan kebetulan seekor pejantan, maka jika di kaitkan terhadap sebuah ketentuan dalam ibadah qurban misalnya ataupun yang menjadi haknya tersebut bisa saja berjalan sebagaimana seorang manusia normal pada umumnya.

Secara hukum pula maka anak hewan yang berwujud manusia itu ataupun hewan yang terlahir dari hewan yang hukumnya najis seperti dari perkawinan kambing dan anjing yang melahirkan seekor anjing itu mempunyai ketentuan yang khusus jika di kaitkan dengan cara beribadah qurban misalnya.

Hingga lahirlah beberapa pertanyaan penting mengenai satu sisi dari fenomena tersebut, misalnya bagaimana hukum nya kalau ada hewan atau kambing punya anak manusia apa boleh dijadikan hewan Qurban? Jawabannya adalah Boleh dasar hukum dari kebolehanna tersebut bisa di lihat dari keterangan yang terdapat pada kitab I’anatutholibin juz 1 halaman 113:

فإن نزا مأكول على مأكولة فولدت ولدا على صورة الآدمي فإنه طاهر مأكول، فلو حفظ القرآن وعمل خطيبا وصلى بنا عيد الاضحى جاز أن يضحى به بعد ذلك
حاشية إعانة الطالبين (1/ 113)

Jika pejantan hewan yang halal dimakan berhubungan intim dengan hewan betina yang halal dimakan dagingnya kemudian melahirkan anak berbentuk manusia maka hukumnya anak tadi juga halal dimakan. Jika anak tersebut hafal alqur’an dan jadi khotib dan ikut sholat idul adha bersama kita maka tetap diperbolehkan menjadikan ia sebagai kurban setelah sholat ied tadi.

Pertanyaan selajutnya adalah seperti kalau seorang manusia itu lahir dari anjing ataupun babi apakah boleh dia jadi imam? Maka jawabannya boleh, Sebagaimana yang di terangkan pada kitab Syirkatul Ma’arif halaman 104 yang berbunyi:

ﻭﺷﻤﻞ ﻛﻼﻣﻪ ﺍﻟﻤﺘﻮﻟﺪ ﺑﻴﻦ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻭﺁﺩﻣﻲ ﻓﺈﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺍﻟﻜﻠﺐ ﻓﻨﺠﺲ ﻭﺇﻥ ﻛﺎﻥ ﻋﻠﻰ ﺻﻮﺭﺓ ﺁﺩﻣﻲ ﻓﻄﺎﻫﺮ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺮﻣﻠﻲ ﻭﻧﺠﺲ ﻣﻌﻔﻮ ﻋﻨﻪ ﻋﻨﺪ ﺍﺑﻦ ﺣﺠﺮ ﻓﻴﺼﻠﻲ ﻭﻟﻮ ﺍﻣﺎﻣﺎ ﻭﻳﺪﺧﻞ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﻭﻳﺨﺎﻟﻂ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻭﻻﻳﻨﺠﺴﻬﻢ ﺑﻠﻤﺴﻪ ﻣﻊ ﺭﻃﻮﺑﺔ ﺣﺎﺷﻴﺔ ﺍﻟﺒﺎﺟﻮﺭﻱ ﺹ 104 ﺷﺮﻛﺔ ﺍﻟﻤﻌﺎﺭﻕ

Komentar mushonnif itu bisa mencakup pada Anak adam Jima’ dengan Anjing dan Melahirkan berupa Anjing maka hukumnya Najis dan apabila berupa Manusia/anak adam maka Hukumnya Suci menurut Imam Romli adapun Menurut Imam Ibnu Hajar hukumnya Najis yang di Ma’fu dan Wajib Sholat baginya meskipun menjadi Imam dan Boleh Masuk Masjid serta berkumpul dengan Manusia lainnya serta tidak Menajiskan jika bersentuhan dengan badannya meski dalam keadaan Basah.

Ataupun pertanyaan yang terlahir dari sebuah fenomena yang langka lainnya seperti hukum anak kambing yang berwujud seekor anjing, apakah itu bisa di kategorikan suci dan halal untuk di jadikan hewan qurban atau malah sebaliknya tidak di perbolehkan untuk di jadikan hewan qurban.

Seperti perumpaan ada seekor kambing bersetubuh dengan kambing tapi anaknya seekor anjing, apa hukumnya anak kambing yang berupa anjing itu ?

Maka jawabannya bisa kita lihat dan tela’ah kembali keterangan yang terdapat pada kitb-kitab fiqih lainnya, Salah satu di antaranya redkasi yang ada pada kitab Al Baijuri juz 1 halaman 40 dengan redaksinya sebagai berikut :

إذا أحبل مأكول مأكولة ، كأن أحبل ثورٌ بقرةً ، فجاء الولد على صورة الآدمي فإنّه طاهر مأكول ، فلو حفظ القرآن وعمل خطيباًُ وصلى بنا عيد الأضحى ، جاز أن نُضحي به بعد ذلك ؛ وبه يُلغز لنا : (خطيب صلى بنا العيد الأكبر وضحينا به ) ..انتهى

Artinya : “Bila binatang jantan yang halal dimakan dagingnya membuahi binatang betina yang juga halal dimakan dagingnya seperti sapi jantan membuahi sapi betina kemudian menghasilkan keturunan menyerupai bentuk anak adam maka keturunan tersebut hukumnya suci dan halal di makan, bila ia hafal quran dan menjadi khotib serta bersama kita menjalani sholat idul adha, boleh juga dikurbankan setelah rampung menjalani sholat ied, karenanya ada anekdot fuqoha berbunyi “Ada seorang khotib sholat ied adha bersama kita tapi halal dikurbankan”. (Al-Baajuuri I/40).

Jadi jika ada kambing bersetubuh dengan kambing tapi anaknya berwujud seekor anjing, maka anak tersebut HALAL DAN SUCI. Sedang kalau anjing bersetubuh sama anjing, terus anaknya berwujud kambing bagaimana hukumnya ? Adapun yang terlahir dari keduanya (anjing dan babi) atau dari salah satunya, maka dihukumi sebagai najis dan haram, walaupun berwujud hewan yang suci dan halal.

Sekiranya itulah penjelasan mengenai hal ikhwal yang berhubungan dengan ketentuan yang berjalan pada ketentuan ibadah qurban dan yang berkaitan dengan ibadah tersebut, lebih jelasnya bisa tela’ah kembali pada beberapa kajian kitab-kitab Fiqh lainnya. Undzur Maa Qoola Walaa Tandzur Man Qoola.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com