Kehati-hatian dan Adab Para Ulama Dalam Meriwayatkan Sebuah Hadits Nabi S.A.W

Kehati-hatian dan Adab Para Ulama Dalam Meriwayatkan Sebuah Hadits Nabi S.A

Almunawwar.or.id – Ulama tidak hanya sebagai seorang yang ‘alim dan banyak ilmunya, akan tetapi juga para Ulama merupakan pewaris perjuangan baginda Nabi S.A.W di segala bidang, termasuk dalam meriwayatkan hadits-hadits dengan penuh kehati-hatian agar supaya sesuai dengan sunnah Rasulallah S.A.W.

Untuk itu jangan sampai menerangkan ataupu meriwayatkan pada sebuah hadits tanpa mengetahui secara detail hukum dari pada hadits tersebut, Karena sebagaimana di ketahui bersama bahwa ada beberapa tingkatan hadits yang perlu di ketahui lebih mendalam lagi.

Dan dalam hal ini adalah para Ulama sebagai orang yang mengerti akan kedudukan sebuah hadits tersebut untuk di jelaskan arti dan tujuan serta kedudukannya, apakah termasuk hadits shahih atau dhoif dan beberapa tingkatan hadits lainnya.

Jangan sampai keliru dalam menyampaikan dan meriwayatkan hadits kepada umat, karena itu sangat membahayakan sekali terutama dalam soal aqidah islamiyyah sebagai akar dan pondasi nilai keimanan dan keislaman seseorang, termasuk dalam masalah ubudiyah lainnya.

Ada ancaman dari Rasulallah S.A.W bagi siapa saja orang yang benar-benar dengan sengaja berdusta akan sebuah hadits Rasulallah S.A.W, sebagaimana yang terlampir dalam sebuah keterangan hadits :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم من كذب علي معتمدا فليتبوأ بيتا من جهنم

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang berdusta atasku secara sengaja, hendaknya ia mengambil rumahnya di neraka Jahanam” (HR Ibnu Hibban).

Para sahabat Nabi pun mengajarkan generasi selanjutnya untuk berhati-hati dalam menyampaikan sebuah hadits. Bahkan, para sahabat Nabi menganjurkan untuk mengucapkan “atau sebagaimana yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sabdakan (أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم)” setiap selesai menyampaikan sebuah hadits sebagaimana yang dicatat oleh Ahmad bin Ali al-Khathib al-Baghdadi (w.463 H).

Untuk itu keterangan tersebut tentunya harus menjadi acuan bagi siapa saja untuk lebih berhati-hati lagi dalam menerangkan arti, makna dan tujuan dari pada hadits tersebut. harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang menerangkan tentang ilmu hadits.

Daripada itulah pembelajaran lebih pasti dan konsisten merupakan syarat mutlak untuk lebih lanjut mengetahui kedudukan sebuah hadits. Salah satu di antaranya adalah menimba ilmu di lembaga-lembaga islam baik yang formal maupun non formal.

Terlebih di lembaga pendidikan pondok pesantren sebagai tempat dalam menimba ilmu agama sekaligus tempat yang menjadi lahirnya para Ulama-Ulama pewaris Nabi sebagai lentera yang memberikan penerangan tentang semua hal yang berhubungan dengan masalah keagamaan termasuk dari ilmu hadits itu sendiri.

Dalam riwayat lain juga di jelaskan akan sangat pentingnya kehati-hatian dalam menerangkan dan menyampaikan sebuah hadits, sebagaimana keterangan di bawah ini.

وقد كان في الصحابة رضوان الله عليهم من يتبع روايته الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم بأن يقول : أو نحوه أو شكله أو كما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم والصحابة أرباب اللسان وأعلم الخلق بمعاني الكلام ولم يكونوا يقولون ذلك إلا تخوفا من الزلل لمعرفتهم بما في الرواية على المعنى من الخطر والله أعلم

Artinya : “Dan terdapat golongan dari para sahabat radhiyallahu ‘anhu yang selalu mengiringi hadits-hadits yang mereka sampaikan dengan ucapan “atau sesamanya (أو نحوه)”, “atau sejenisnya (أو شكله)”, “atau sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (أوكما قال رسول الله صلى الله عليه وسلم)”. Dan para sahabat adalah golongan yang memiliki kalam yang fashih serta kelompok yang paling memahami makna kalam yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Para sahabat mengucapkan ucapan tersebut sebagai bentuk kehati-hatian dari kekeliruan dalam menyampaikan hadits Nabi. Hal ini dikarenakan mereka mengetahui adanya risiko yang sangat besar dalam meriwayatkan hadits secara makna.” (Ahmad bin Ali al-Khathib al-Baghdadi, al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi wa Adab as-Sami’ [Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah], 2017, vol.2 hal. 34).

Lalu bagaimana bagi kita ataupun para pelajar seperti santri dan yang lainnya dalam menerangkan sebuah hadits? Dalam hal ini, para ulama juga menganjurkan para pelajar untuk mengucapkan “Atau sebagaimana yang disabdakan (أو كما قال)” setiap selesai membaca hadits yang mana pelajar tersebut ragu dengan cara membaca hadits tersebut dengan benar. Karena hal tersebut adalah adab yang baik dalam meriwayatkan hadits sebagaimana pendapat Utsman bin Abdurrahhman Ibnu Shalah (w. 642 H)

وإذا اشتبه على القاريء فيما يقرؤه لفظة، فقرأها على وجه يشك فيه، ثم قال ( أو كما قال ) فهذا حسن، وهو الصواب في مثله، لأن قوله ( أو كما قال ) يتضمن إجازة من الراوي وإذناً في رواية صوابها عنه إذا بان

Artinya : “Dan ketika para pembaca merasa samar dengan lafadz hadits yang ia baca, kemudian ia membacanya dengan penuh keraguan, kemudian ia mengucapkan “Atau sebagaimana yang disabdakan (أو كما قال)” maka ini adalah cara yang baik dan mendekati kebenaran (as-shawab) di dalam sejenisnya. Karena ucapan para pembaca “Atau sebagaimana yang disabdakan (أو كما قال)” menyimpan ijazah sanad dari perawi hadits serta izin di dalam riwayat yang mendekati kebenaran (as-shawab) dari perawi hadits ketika para pembaca menemukannya” (Utsman bin Abdurrahhman Ibnu Shalah, Muqaddimah Ibnu Shalah [Beirut: Darul Fikr].

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber :
nu.or.id
almunawwar.or.id