Kenapa Allah Gunakan Kata Kami untuk ZatNya? Inilah Jawabannya

Kenapa Allah Gunakan Kata Kami untuk ZatNya Inilah Jawabannya

Almunawwar.or.id – Banyak sekali pelajaran-pelajaran agama yang di kaji di sebuah pesantren, salah satunya ilmu alat atau ilmu yang membahas tentang bagaimana cara yang tepat dalam membaca dan memahami kitab-kitab kuning ataupun kitab gundul.

Di sebut kitab gundul karena memang dari setiap kalimahnya itu tidak disertai dengan harakat atau baris, Untuk memahami dan mengetahuinya adalah dengan mengkaji ilmu alat tersebut di pondok pesantren, Sehingga dengan pemahaman itu maka muncullah mafhum atau pertanyaan yang memang sering di temukan saat kajian kitab alat itu dilaksanakan.

Seperti yang hadir dari pertanyaan kenapa allah gunakan kata kami untuk zat-Nya? Dari mafhuman tersebut terdapat dhomir yang kembali kepada lapadz Alloh itu selalu di artikan dengan lapadz kami tidak menggunakan kalimah atau lapadz lain, Nah sebagai jawabannya berikut penjelasan dari salah satu pengurus pesantren NU terkemuka yang berpendapat.

Dalam Al-Quran, Allah SWT menggunakan kata ganti mufrad atau tunggal “Dia”, “Aku”, atau “Engkau”. Tetapi adakalanya Allah SWT pada beberapa ayat menggunakan kata orang pertama jamak atau plural “Kami”.

Untuk kata ganti pertama tunggal seperti “Huwa” atau “Anta” untuk mewakili zat-Nya, hal ini tentu sudah maklum karena semua kata ganti itu merujuk pada ketunggalan atau keesaan. Sementara kata ganti orang pertama jamak seperti “Nahnu” merujuk pada dua atau lebih entitas sehingga tidak bisa mewakili zat-Nya yang esa. Penjelasan ini tentu merujuk pada kaidah umum bahasa Arab.

Lalu bagaimana memahami fenomena penggunaan kata ganti orang pertama jamak atau plural untuk Allah? Tentu saja semua kata ganti orang pertama jamak untuk Allah ini tidak dipahami secara literal karena bertentangan dengan hukum aqal dan nash agama itu sendiri.

Sebagai contoh penggunaan kata ganti jamak, kita dapat menemukannya antara lain pada ayat sebagai berikut. “Innâ nahnu nazzalnadz dzikra, wa innâ lahû lahâfizhûn” (Sungguh, Kami menurunkan Al-Quran. Kami juga penjaganya) atau “Nahnu narzuqukum” (Kami memberimu rezeki).

Ulama menjelaskan penggunaan kata ganti jamak orang pertama untuk Allah sebagai bentuk pengagungan diri atau sebentuk pertunjukan kuasa-Nya. Hal ini bisa dilihat ketika para ulama menjelaskan Surat Al-Baqarah ayat 34 yang berbunyi “Wa idz qulnâ lil malâ’ikatisjudû li âdama” (Dan ingat ketika Kami mengatakan kepada para malaikat, “Sujudlah kepada Adam”).

وقال” قُلْنا” ولم يقل قلت لان الجبار العظيم يخبر عن نفسه بفعل الجماعة تفخيما وإشادة بذكره

Artinya, “Kata ‘Kami katakan’, bukan ‘Aku katakan’ digunakan karena Allah membahasakan dirinya dengan kata plural atau jamak sebagai bentuk pengagungan dan penyanjungan diri,” (Lihat Muhammad bin Ahmad bin Abu Bakar Al-Qurthubi, Al-Jami‘ li Ahkamil Qur‘an, Mu’assasatur Risalah, Beirut, Libanon, tahun 2006 M/1427 H, juz I, halaman 433).

Penjelasan Muhammad Al-Qurthubi itu disambung dengan penjelasan serupa dari Syekh Wahbah Az-Zuhayli ketika menjelaskan ayat dan surat yang sama.

وَإِذْ قُلْنا للتعظيم بصيغة الجمع

Artinya, “Kata ‘Ketika Kami katakan’ digunakan dengan kata jamak atau plural sebagai bentuk takzim,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, At-Tafsirul Munir fil Aqidah was Syari‘ah wal Manhaj, Darul Fikr Al-Mu‘ashir, Damaskus, tahun 1418 H).

Penggunaan kata ganti orang pertama jamak juga bisa dimaksudkan untuk menunjukkan kuasa-Nya. Hal ini yang disinggung oleh Syekh Sulaiman Jamal bin Umar dalam syarahnya atas Tafsir Jalalain ketika menjelaskan Surat Al-Baqarah ayat 34 sebagai berikut.

وهو من خطاب الأكابر والعظماء فأخبر الله تعالى عن نفسه بصيغة الجمع لأنه ملك الملوك اهـ كرخي.

Artinya, “Kata ‘Ketika Kami katakan’ merupakan perintah dari Allah sebagai zat Yang Maha Kuasa. Allah menggunakan kata jamak atau plural untuk diri-Nya sendiri karena Dia penguasa mutlak atas segala penguasa,” (Lihat Syekh Sulaiman Jamal bin Umar, Al-Futuhatul Ilahiyah bi Taudhihi Tafsiril Jalalain lid Daqa’iqil Khafiyyah, Darul Fikr, Beirut, Libanon, tahun 2003 M/1423 H, juz I, halaman 67).

Dari pelbagai keterangan ulama di atas, kita dengan dengan jelas memahami bahwa kata “Kami” untuk Allah tidak merujuk pada zat yang plural dengan makna hakiki. Kata ganti “Kami” untuk Allah dipahami dengan makna majazi yang dimaksudkan untuk menunjukkan kuasa atau membesarkan yang bersangkutan.

Dari sini kemudian ahli tata bahasa Arab (ahli ilmu Nahwu) memaknai kata ganti “Nahnu” (Kami) yang merujuk pada satu person sebagai lil mu‘azzhim nafsah (untuk mengagungkan diri sendiri) di samping makna hakiki lil mutakallim ma‘al ghair (kata ganti orang pertama jamak atau plural).

Saran kami, bacalah Al-Quran dengan cermat. Karena di dalamnya banyak terdapat rahasia-rahasia dan maksud yang belum tersingkap. Ada juga baiknya kita mengikuti pengajian yang membacakan karya-karya tafsir para ulama. Hal ini akan sangat membantu kita dalam memahami hal-hal kebahasaan di dalam Al-Quran di samping mempelajari ilmu Nahwu sebagai patokan kaidah umum.

Wallahu ‘alam bishowab
(Alhafiz Kurniawan)