Kenapa Doa Itu Sangat Penting? Berikut Jawaban Dan Tata Cara Berdoa Agar Terkabul

Kenapa Doa Itu Sangat Penting? Berikut Jawaban Dan Tata Cara Berdoa Agar Terkabul

Almunawwar.or.id – Masalah di kabulkannya doa itu merupakan hak prerogatif Allah S.W.T, Tidak ada satu pun yang bisa merubah sebuah ketetapan yang sudah di kehendaki olehnya, termasuk masalah doa itu sendiri. hanya saja kita berkewajiban untuk melaksanakan amalan doa dengan tujuan hanya mengharapkan ridha dan yang terbaik.

Adapun masalah doa bisa merubah sebuah keputusan itu adalah bagian dari kehendaknya Allah S.W.T, yang melihat dari efek manfaat dan maslahat bagi hambanya yang berdoa tersebut. Dimana qudrat (Kuasanya Allah S.W.T) dan Irodat (Berkehendaknya) Allah S.W.T adalah bagian terpenting dalam merealisasikan terkabulnya sebuah doa.

Untuk itu dengan melihat kemanfaatan dan kemaslahatan bagi orang yang berdoa tersebut, tidak ada salahnya untuk jauh memahami makna dari di ijabahnya sebuah doa. Karena jika tidak di kehendakinya, Mustahil apa yang di ucapkan dalam doa itu akan terwujud.

Dalam memahami prosedur tersebut tentunya sangat ada beberapa hal yang harus di perhatikan terutama yang ada dalam diri sebelum amalan berdoa tersebut di lakukan, Karena sejati dan sebaiknya berdoa itu adalah adanya tata cara ataupun adab-adaban tertentu untuk menunjukan begitu sangat membutuhkannya kita kepada sang maha pecipta.

Lalu bagaimana tata cara berdoa sesuai dengan ketentuan agama? Dan mengapa berdoa itu sangat penting sekali bagi seorang muslim? Berikut ulasan tentang hal ikhwal yang berkaitan dengan masalah doa.

1. TataCara Agar Doa Terkabul
Syekh M Ibrahim Al-Baijuri menyebutkan sejumlah syarat dan adab bagi orang yang berdoa. Menurutnya, orang yang berdoa disyaratkan untuk memastikan kehalalan makanan yang dikonsumsi olehnya.

Orang yang berdoa juga harus yakin akan ijabah atau pengabulan doanya. Orang yang berdoa juga harus menjaga kesadaran. Jangan sampai berdoa dalam keadaan hati lalai dari Allah, (Lihat Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Syekh M Ibrahim Al-Baijuri mengatakan bahwa permintaan dalam doa tidak mengandung dosa atau pemutusan hubungan silaturahmi. Doa seyogianya tidak berisi harapan atas terwujudnya penyia-nyiaan terhadap hak umat Islam.

Selebihnya, Al-Baijuri menganjurkan orang yang berdoa untuk memanfaatkan waktu-waktu ijabah di mana pintu langit dibuka. Orang yang berdoa dianjurkan untuk berdoa dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.

ومن آدابه أن يتحرى الأوقات الفاضلة كان يدعو في السجود وعند الأذان والإقامة ومنها تقديم الوضوء والصلاة واستقبال القبلة ورفع الأيادي إلى جهة السماء وتقديم التوبة والاعتراف بالذنب والإخلاص وافتتاحه بالحمد والصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وختمه بها وجعلها في وسطه أيضا

Artinya: “Salah satu adabnya adalah menggunakan waktu-waktu yang utama, yaitu berdoa saat sujud, berdoa saat jeda antara azan dan iqamah. Salah satu adabnya lagi adalah bersuci terlebih dahulu, shalat, menghadap kiblat, mengangkat kedua tangan ke arah langit, bertobat terlebih dahulu, pengakuan dosa terlebih dahulu, ikhlas dalam berdoa, membuka doa dengan tahmid dan shalawat nabi, mengakhiri doa dengan shalawat nabi, dan juga membaca shalawat nabi di tengah doa,” (Lihat Syekh M Ibrahim Al-Baijuri, Tuhfatul Murid ala Jauharatit Tauhid, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah: tanpa catatan tahun] halaman 92).

Secara ringkas, adab dan tata cara berdoa dapat dikatakan sebagai berikut ini:
1. Memakan yang halal.
2. Meyakini ijabah doanya.
3. Menjaga hati agar tidak lalai saat berdoa
4. Tidak meminta sesuatu yang mengandung dosa.
5. Tidak meminta sesuatu yang dapat memutuskan silaturahmi.
6. Tidak meminta sesuatu yang dapat menyia-nyiakan hak umat Islam
7. Tidak meminta sesuatu yang mustahil secara umum
8. Memanfaatkan waktu-waktu yang afdhal dalam berdoa, yaitu waktu sujud dan waktu jeda antara azan dan iqamah.
9. Wudhu dan shalat terlebih dahulu sebelum berdoa.
10.Menghadap kiblat dan mengangkat tangan saat berdoa.
11.Tobat dan mengakui dosa terlebih dahulu sebelum berdoa
12.Ikhlas dalam berdoa.
13.Membuka doa dengan tahmid dan shalawat nabi.
14.Mengakhirinya dengan shalawat nabi.
15.Membaca shalawat nabi di tengah doa.

Kenapa Doa itu Sangat Penting?
Menurut as-Sadiy, kalimat ud’ûnî di atas mempunyai arti mintalah kalian niscaya akan aku kabulkan. Pendapat as-Sadiy ini selaras dengan cerita Qatadah yang bersumber dari Ka’b. Di antara tiga keistimewaan umat Muhammad dengan umat sebelumnya adalah, jika kalimat perintah berdoa pada Nabi Muhammad berbentuk jama’ (plural) kepada semua umatnya. Sedangkan perintah yang turun pada nabi-nabi sebelumnya, frasa perintahnya hanya berbentuk tunggal (mufrad) kepada para nabi saja sebagaimana pada kalimat berikut ini:

اُدْعُنِيْ أَسْتَجِبْ لَكَ

Artinya: “Berdoalah kamu, niscaya akan Kukabulkan bagimu.”

Dari ayat di atas, kita dapat mambil pelajaran, walaupun Allah mahapengatur, namun Allah tidak menutup celah bagi hamba-Nya untuk menyampaikan uneg-uneg atas segala keinginan yang ingin dicapai hamba. Oleh karena itu, Allah menyuruh berdoa, sebuah ritual penyampai usulan hamba kepada Tuhan-Nya.

Ibnu Abbas mempunyai pandangan sedikit berbeda dari as-Sadiy dalam menafsiri ayat tersebut. Paman Rasul ini menafsiri arti ud‘ûnî dengan arti “Esakanlah aku, niscaya akan Aku ampuni dosa kalian.” Sedangkan menurut Jarir bin Abdullah menyatakan “Sembahlah aku, niscaya akan Aku ikuti apa kemauan kalian.” (Lihat: Ali bin Muhammad al-Mawardi, al-Nukat wa al-‘Uyȗn Tafsir al-Mawardi, Dâr al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, juz 5, halaman 162-163)

Orang berdoa secara otomatis ia sedang melakukan sebuah ibadah. Pada lanjutan ayat di atas menyinggung tentang orang yang sombong dari pada ibadah Allah. Oleh sebab itu, ada ulama yang menyebut, orang yang enggan berdoa sama dengan sombong.

Dilihat dari dalil hadits, terdapat banyak sekali dalil-dalil tentang fadlilah-fadlilah berdoa. Di antaranya:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ : إِمَّا أَنْ يُعَجِّلَ لَهُ دَعْوَتَهُ وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنْ السُّوءِ مِثْلَهَا

Artinya: “Tidak ada seorang Muslim yang berdoa dengan tidak disertai dengan doa dan memutus hubungan persaudaraan kecuali Allah pasti akan memberikannya salah satu dari tiga hal. Bisa disegerakan doanya untuk dikabulkan, mungkin pula Allah menyimpannya sehingga dibalas di akhirat kelak. Dan kemungkinan pula Allah akan menghindarkan dia dari kejadian buruk yang menjadi ganti setara dari doa kebaikan yang ia panjatkan.” (HR. Ahmad)

Doa yang tidak langsung dikabulkan oleh Allah, terdapat banyak kemungkinan. Mungkin Allah akan membalasnya dengan yang dibayangkan hamba atas doanya itu sendiri, atau kemungkinan-kemungkinan lain. Yang paling penting bagi hamba adalah husnudh-dhan (berprasangka baik) kepada Allah. Dalam hadits Qudsi dikatakan:

اَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِىْ بِيْ

Artinya: “Aku sebagaimana dugaan hambaku kepadaku.”

Allah itu Dzat yang maha pemurah. Dia malu jika ada hamba meminta kepada-Nya namun saat usai berdoa, seorang hamba pulang dengan tangan hampa. Meskipun tetap berdasar catatan, etika dan aturan berdoa harus diperhatikan betul oleh seorang hamba supaya doanya dikabulkan Allah S.W.T.

Itu adalah salah satu cara terbaik agar senantiasa doa yang kita panjatkan bisa di ijabah dan di qabul sesuai dengan tingkat kemanfaatan dan kemasalahatan hamba-hamba yang selalu senantiasa rajin beribadah dan berdoa di setiap masa.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id