Ketakwaan Sosial di Media Sosial Untuk Lebih Membangun Karakter Bersosial

Ketakwaan Sosial di Media Sosial Untuk Lebih Membangun Karakter Bersosial

Almunawwar.or.id – Masalah yang selama ini memang sering menghantui dan mengiringi ketika orang sedang berinteraksi di media sosial adalah dampak dari hasil akhir penggunaannya tersebut, Sehingga tak terbantahkan apabila efeknya tersebut mampu merubah sisi penilaian yang berbeda.

Tentu bersifat lebih aktif dari seseorang yang menjadi pelaku dalam dunia tersebut terhadap apa yang menjadi wacananya itu adalah salah satu langkah paling awal dan tepat untuk lebih mengkondusifkan segala dampak yang mungkin bisa saja terjadi dari pada hasil wacana itu.

Demikian pula potensi besar bagi pelaku dunia sosial dalam meraih simpati dari pelaku lainnya itu juga bisa saja terbuka lebar, baik itu yang bersifat narasi positif atau malah sebaliknya, sehingga sangat di butuhkan sebuah filterisasi yang kuat guna bisa memilah dan memilih sumber informasi yang kiranya bermafaat bagi orang banyak.

Disinilah proses awal seseorang dalam mengenal dunia luar meskpiun hanya sebatas dunia maya ayng justru efeknya sangat besar terhadap kepengaruhan pasti dari cara berpikir dan menerima seseorang terhadap apa yang di expos dan di terimanya itu.

Dan fakta seperti inilah memang tidak bisa terbantahkan lagi, pasalnya kecanduan dalam menjadikan media sosial sebagai tempat berbagi, bahkan curhat pribadi itu tidak memandang usia dan golongan, hampir di pastikan semua orang memiliki akses yang terhubung dalam konsep kehidupan di dunia maya tersebut.

Karena memang hal tersebut di masa milenial ini tidak bisa di lepaskan dari sisi kehidupan banyak orang, sebab ada alasan tersendiri mengapa dunia sosial menjadi salah satu media untuk mengexplor apa yang di kerjakan bahkan apa yang sedang di pikirkan.

Sebagai seorang muslim yang taat dan berusaha untuk bisa beramal sholeh tentunya harus mampu memberikan dan juga menerima apa yang menjadi acuan bagi pelaku dan pemain media sosial tersebut yang terkadang masih banyal orang yang masih terjebaknya, hanya dengan keimanan dan ketaqwaan sebagai tameng dan batas akhir dari segi publikasinya.

Media sosial sebagai bagian dari media komunikasi massa diharapkan menjadi fungsi sosial di era digital. Mulai dari fungsi informasi, edukasi hingga hiburan. Lebih dari itu, jika dikaitkan dengan nilai agama, media sosial mestinya menjadi alat untuk meningkatkan ketakwaan.

Hal ini mengingat bahwa tujuan akhir dari interaksi sosial adalah meningkatnya ketakwaan, sebagimana firman Allah. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya : “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Begitulah ilustrasi hidup bersosial di dunia nyata sebagai masyarakat: tercipta berbeda, dijadikan beragam, diperintahkan hidup bersosial, saling memperbaiki untuk meningkatkan ketakwaan. Lalu bagaimana di dunia maya yang menggunakan media sosial, semisal FB, WA, Twitter, Instagram, BBM dan sejenisnya?

Seharusnya sama, mengikuti tuntunan pola yang digariskan di dalam QS. al-Hujurat ayat 13 itu. Pengguna medsos adalah orang dengan jenis kelamin berbeda, latar belakang yang beragam, kemudian berteman, join, berkomunikasi, sharing, dan diskusi. Semuanya itu harus dibangun atas dasar menuju peningkatan ketakwaan.

Mengaitkan media sosial dengan ketakwaan sangat urgen. Karena hakikat takwa adalah menjaga. Ini dapat dipahami dari pengertian takwa itu sendiri baik secara bahasa maupun istilah. Secara kebahasaan, takwa berasal dari kata waqa yang bermakna ‘menjaga’.

Sedangkan menurut istilah Islam, takwa merupakan definisi dari sikap melakukan segala perintah dan menjauhi segala larangan. Maka dalam aktivitas berselancar di media sosial penting bagi kita ntuk menjaga: menjaga perasaan pengguna lain dengan tidak membuat caption atau TS yang menyinggung, mengkritik secara berlebihan, menghina tokoh, organisasi atau paham keagamaan tertentu. Penting untuk menjaga jemari kita agar senantiasa mengetikkan, mengunggah, mengunduh konten-konten yang tidak dilarang agama.

Jika membaca Al-Qur’an dan merenungkan maknanya, maka kita akan mendapatkan dua ciri umum orang bertakwa. Pertama, ciri berkaitan dengan kehidupan sosial. Kedua, ciri yang melekat sebagai makhluk individual. Hal ini dapat dipahami dari firman Allah SWT.

الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya : “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Artinya : “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.

Ayat 134 memaparkan ciri orang bertakwa sebagai makhluk sosial. Sedangkan ayat 135 berbicara tentang cirinya sebagai makhluk individual. Ciri pertama, yakni ciri orang bertakwa sebagai makhluk sosial inilah menjadi titik tekan tulisan ini.

Menafkahkan harta baik di waktu lapang maupun sempit, menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain. Itulah ciri takwa sosial sebagaimana ayat 134 di atas.

Pertama, menafkahkan harta di media sosial
Harta tidak hanya uang. Dan yang dimaksud orang yang berinfaq pun tidak terbatas pada orang yang mendonasikan harta. Tidak sesempit itu, baik secara pemahaman agama maupun menurut istilah sosial yang berlaku. Begini. Ketika di FB misalanya, ada informasi anak penderita penyakit tumor ganas yang butuh donasi untuk biaya operasi atau lembaga pendidikan yang kebakaran butuh uluran tangan para dermawan.

Walaupun tidak bisa membantu dalam bentuk uang, minimal kita ikut men-share informasi tersebut secara massal atau kepada orang-orang yang kita anggap mampu. Maka, paket data atau pulsa yang kita gunakan untuk men-share hakikatnya adalah bagian dari infaq yang tidak sia-sia.

Apalagi jika salah satu dari penerima informasi itu kemudian benar-benar berinfaq, maka tak berkurang pahala kita, sama dengan pahala orang yang berderma tersebut. Bukankah orang yang menunjukkan kepada kebaikan (walaupun ia tidak mampu untuk melakukannya) baginya pahala sama dengan pahala pelaku kebaikan itu?

Kedua, menahan emosi di media sosial
“Orang kuat bukanlah yang menang dalam pergulatan, akan tetapi orang yang kuat ialah yang mampu menahan nafsunya ketika marah”, begitulah sabda Rasulullah sebagimana hadis yang bersumber dari Abu Hurairah yang kemudian diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Kita harus kuat menahan emosi di media sosial. Tidak mudah terpancing. Tidak sedikit-sedikit, mengomentari. Tidak gegabah men-share informasi tentang penistaan. Tidak salah memahami informasi yang sudah “digoreng”. Itu semua harus kita terapkan di media sosial sebagai aplikasi dari ketakwaan sosial.

Mengapa? Karena bisa jadi informasi itu hoax. Tidak menutup kemungkinan informasi itu benar sebagian, tapi unsur dustanya lebih banyak. Kemudian semua itu ‘digoreng’ sedemikan tongseng dengan tujuan memecah belah persaudaraan dan persatuan.

Ketiga, memaafkan kesalahan orang di media sosial
Memaafkan itu menentermakan. Lalu, mengapa kita masih memilih tidak memaafkan, terlebih bagi yang jelas-jelas sudah meminta maaf. Begitu banyak anjuran agama dan dipraktekkan oleh Rasulullah tentang memberikan maaf, bahkan kepada yang tidak mengakui kesalahannya.

Mari posisikan orang yang salah sebagai orang yang sedang salah. Siapa pun kita, pasti pernah berada pada posisi sedang salah. Maka hal terbaik adalah menafkahkan,, bukan mengutuk. Dulu – semoga sampai sekarang – kita dikenal sebagai bangsa pemaaf.

Semangat ajaran Islam pun mengedepankan perbaikan, bukan menghakimi. Apalagi kita hidup di negara hukum, maka biarlah informasi tentang kesalahan orang yang tersebar di medsos menjadi ranah penegak hukum. Keberadaan kita adalah sebagai pengguna di medsos, bukan hakim, apalagi berkomentar serapah.

Sekalipun mau menyampaikan kritik, maka sesuaikan dengan adabnya. Tidak dengan cacian dan kata-kata kotor. Karena kebenaran itu cukup dengan disampaikan, tidak butuh bumbu-bumbu rempah serapah.

Akhirnya, selain penting menjaga nilai takwa di dunia nyata bersama masyarakat yang plural, marilah jaga ketakwaan di media sosial dengan berbagi informasi yang bermanfaat, menahan diri dari komentar yang tidak pantas dan memaafkan kesalahan warga net lainnya.

Itulah aplikasi dari ketakwaan sosial di media sosial. Karena dalam kondisi tertentu kadang ketakwaan sosial lebih penting daripada ketakwaan individual. Ini sebagaimana dapat kita pahami dari firman Allah yang mendahulukan ciri ketakwaan sosial pada ayat 134, baru ciri ketakwaan individual pada ayat 135 dalam QS. Ali Imran.