Keterangan Tentang Wanita Separuh Laki-laki dan Kriteria Shalihah Menurut Islam

Keterangan Tentang Wanita Separuh Laki-laki dan Kriteria Shalihah Menurut Islam

Almunawwar.or.id – Menjadi seorang wanita merupakan sebuah karunia dan kehendak dari Alloh S.W.T, karunia yang telah di berikannya itu hendaklah di jadikan sebagai media untuk bisa lebih mengenal,mencintai bahkan mampu menggapai apa yang di cita-cita kan oleh setiap perempuan yaitu menjadi wanita Shalihah. Namun untuk bisa mencapai predikat tersebut sangat di perlukan kesiapan diri yang maksimal dalam menghadapi realita kehidupan ini.

Predikat wanita shalilah tidak hanya di pandang secara lahir saja, akan tetapi jauh lebih berada dan berasa apabila di mulai dari jati diri seorang wanita tersebut. Karena memang kekuatan yang timbul dalam bathin itu lebih mematangkan seseorang dalam melangkah ke hal yang lebih baik, termasuk ketika seorang wanita ingin merubah sisi hidupnya ke arah yang lebih baik, lebih masalhata dan tentunya titel seorang wanita Shalilah bisa di dapatkan.

Baik yang sudah berumah tangga maupun yang belum, terutama bagi mereka yang sudah memiliki kewajiban terhadap seorang Suami. Dimana ada sisi yang harus di perhatikan untuk lebih memkasimalkan kesadaran diri dalam berbakti terhadap pemimpin rumah tangga. karena ada ketergantungan terhadap ridho dari suami tersebut, oleh karena itulah memberikan kenyamanan, kebahagiaan dan juga melayani dengan setulus hati itu merupakan salah satu kriteria wanita shalihah.

Terlebih sendiri hakiat wanita itu adalah separuh daripada kaum laki-laki, ItulaH sebabnya mengapa seorang wanita tidak di perbolehkan untuk memimpin sebuah rumah tangga, Meskipun pada masa sekarang ini ada pola emansipasi wanita seolah menjadi sebuah keseteraan dengan kaum laki-laki, Tetapi dalam Islam wanita di samping menjadi penyempurna bagi seorang laki-laki juga mereka di ciptakan dari separohnya kaum laki-laki. Beberapa redaksi hadits menerangkan :

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الرَّجُلِ يَجِدُ الْبَلَلَ وَلَا يَذْكُرُ احْتِلَامًا قَالَ يَغْتَسِلُ وَعَنْ الرَّجُلِ يَرَى أَنَّهُ قَدْ احْتَلَمَ وَلَمْ يَجِدْ بَلَلًا قَالَ لَا غُسْلَ عَلَيْهِ قَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ عَلَى الْمَرْأَةِ تَرَى ذَلِكَ غُسْلٌ قَالَ نَعَمْ إِنَّ النِّسَاءَ شَقَائِقُ الرِّجَالِ

dari aisyah berkata :
Rasululloh shollallohu alaihi wasalam ditanyai ttg seseorang yg melihat sesuatu yg basah (mani) tapi tdk ingat klo bermimpi basah, maka Rasul menjawab :” Ia wajib mandi.”
Dan beliau juga ditanya tentang seorang laki-laki bermimpi namun tak mendapatkan sesuatu yg basah (mani), beliau menjawab: “Ia tak wajib mandi.”
Ummu Salamah bertanya, Wahai Rasulullah, jika seorang wanita bermimpi seperti itu apakah ia juga harus mandi?
beliau menjawab: “Ya, karena wanita adalah syaqoiqnya laki-laki”
(HR abu dawud, at turmudzi, imam ahmad dan ad darimi )

dalam kitab syarah abi dawud oleh badruddin al aini disebutkan :

قوله: ” شقائق الرجال ” /أي: نظائرهم وأمثالهم في الأخلاق
والطباع، كأنهن شققن منهم، ولأن حواء خلقت من آدم عليهما السلام

sabda Rasul ” syaqoiqnya lelaki ” artinya adalah sepadan mereka dan semisal mereka dalam akhlak dan watak, seolah2 perempuan adalah pecahan dari lelaki, dan karena sesungguhnya ibu hawa diciptakan dari nabi adam alaihimas salam.

dalam kitab tuhfatul ahwadzi syarah sunan turmudzi olae almubarokfuri disebutkan:

( إن النساء شقائق الرجال ) هذه الجملة مستأنفة فيها معنى التعليل ، قال ابن الأثير أي نظائرهم وأمثالهم كأنهن شققن منهم ولأن حواء خلقت من آدم عليه الصلاة والسلام ، وشقيق الرجل أخوه لأبيه ولأمه لأن شق نسبه من نسبه يعني فيجب الغسل على المرأة برؤية البلل بعد النوم كالرجل . انتهى

Sabda rasululloh S.A.W ” Perempuan adalah syaqoiqnya (separuhnya) laki2″ ini adalah jumlah permulaan yg mengandung makna ta’lil/alasan.
ibnu atsir berkata ” artinya adalah sepadan mereka dan semisal mereka seolah2 perempuan adalah pecahan dari lelaki, dan karena sesungguhnya ibu hawa diciptakan dari nabi adam alaihimas salam.
syaqiqnya lelaki adalah saudaranya seayah dan seibu, karena syaqq adalah keturunananya dari keturunannya, maksudnya adalah wajib mandi bagi seorang perempuan sebab melihat sesuatu yg basah (mani) setelah bangun tidur seperti wajibnya lelaki.
selesai.

2 syarat yaitu :
1. Taat kepada Allah dan Rasul-NYA
2. Taat kepada suaminya

Berikut ini antara lain perincian dari dua syarat di atas :
1. Taat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-NYA
Bagaimana taat kepada Allah ??
• Mencintai Allah SWT dan Rasulullah SAW melebihi dari segala-segalanya
• Menutup aurat
• Tidak berhias dan berperangai seperti wanita jahiliyah
• Tidak bermusafir atau bersama dengan lelaki dewasa kecuali ada Mahromnya
• Sering membantu lelaki dalam perkara kebenaran, kebajikan dan takwa
• Berbuat baik kepada ibu dan bapa
• Senantiasa bersedekah baik dalam keadaan susah atau pun senang
• Tidak berkhalwat dengan lelaki lain
• Bersikap baik dengan tetangga

2. Taat kepada suami
• Memelihara kewajiban terhadap suami
• Senantiasa menyenangkan suami
• Menjaga kehormatan diri dan harta suaminya selama suami tiada di rumah
• Tidak cemberut di hadapan suami
• Tidak menolak ajakan suami untuk tidur
• Tidak keluar tanpa seijin suami
• Tidak meninggikan suara melebihi suara suami
• Tidak membantah suami dalam kebenaran
• Tidak menerima tamu yang di benci suaminya
• Senantiasa memelihara diri, kebersihan fisik, kecantikan hati dan jiwa serta rumah tangganya.

Itulah salah satu makna kajian penting bagi umat Islam dari timbulnya kesadaaran diri baik untuk kaum laki-laki maupun perempuan dalam menjalakan hak dan kewajiban di antara keduanya sehingga lahirlah pondasi yang kuat untuk saling menerima, melengkapi dan tentunya menghadrgai apa yang suddah dilakukan oleh kedua-keduanya, Semoga menjadi cerminan diri untuk melangkah ke arah yang lebih baik menuju wanita shalihah dan Mardhotillah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id