Ketika Cacing Bersholawat, Mampukah Kita Mentadaburinya Sebagai Pembelajaran Diri

Ketika Cacing Bersholawat, Mampukah Kita Mentadaburinya Sebagai Pembelajaran Diri

Almunawwar.or.id – Kita sebagai manusia awwam yang tentunya sangat begitu berharap dengan apa yang di kerjakan setiap harinya mampu di jadikan sebagai nilai ibadah dan amal sholeh yang kelak akan menjadi teman sejati di akhirat nanti.

Namun seyogyanya kita pun sering tidak menyadari akan kesombongan diri yang justru akan menghalangi keistimewaan sebuah amalan berbakti kepada Sang Khalik yang telah menciptakan kita ini.

Termasuk dari adanya sifat yang acuh dan tidak mentolerir terhadap makhluq lainnya (hewan) yang justru dengan kecampakkan yang kita tunjukan akan jauh lebih mengenal jati diri yang sesungguhnya.

Karena ketahuilah Alloh S.W.T menciptakan semua makhluqnya tersebut sesuai dengan kemanfaatan dan kemadharatan terhadap makhluq lainnya, atau bahkan dari semua penciptaannya tersebut bisa di jadikan sebagai pembelajaran pasti bagi diri kita semua.

Seperti yang di hikayatkan dari seekor cacing yang selalu senantiasa membacakan doa dan sholawat di siang dan malamnya yang terjadi pada jaman Nabi Dawud A.S. dahulu.

Dan memang secara kasat mata dan penerawangan mata dhoriyah adanya makhluq lain katakanlah seperti hewan-hewan itu tidak terlihat apa maksud dan tujuan dari pada semua gerak geriknya.

Namun jika sudah di berikan terbukanya hijab (penghalang antara satu alam dengan alam lainnya) tentunya senantias kita malu dengan apa yang di lakukan oleh hewan-hewan tersebut.

Yang hakikatnya adalah seekor makluq yang hanya di berikan nafsu dan aqal tabi’i (aqal naluri) saja, Sedangkan kita sebagai manusia tentunya jauh lebih sempurna jika di banding hewan-hewan tersebut.

Bahkan jika di banding dengan para malaikat, kesempurnaan seorang manusia itu masih unggul karena di berikan mahkota jiwa yang indah yaitu akal fikiran dan juga nafsu.

Dimana dari keduanya tersebut mampu menyeimbangkan antara nilai ketaqwaan dan keimanana seorang hamba terhadap sebuah perintah dan larangannya.

Dan apabila kita berkaca kembali dengan apa yang sudah di lakukan oleh seekor caing tadi, tentunya kita mesti malu dengan keteledoran di waktu-waktu kita.

Bisa di katakan cacing saja bersholawat, masa kita sebagai manusia yang notabane nya makhluq paling mulia kalah sama cacing. nah di sinilah perlu penghayatan pasti tentang bagaimana Alloh S.W.T memberikan manfaat di balik penciptaan makhluq lainnya.

Ada hikayat tentang Nabi Dawud AS dan Seekor Cacing Tanah. Dan Ibroh (pelajaran) bisa didapat dari siapa saja dari apa saja, semoga hikayat berikut dapat kita petik hikmah dan pelajarannya. Hujjatul Islam Al-Imam Al-ghozali menuturkan sebuah kisah dalam kitabnya, Mukasyafatul Qulub karya ImamGhozali‬ bab awal fi bayanil khouf halaman 7 :

(حكاية ) – بينما داود عليه السلام جالس في صومعته يتلو الزبور , اذا رأي دودة حمراء في التراب , فقال في نفسه , ما أراد الله في هذه الدودة , فاذن الله الدودة حتي تكلمت , فقالت : يا نبي الله, اما نهاري , فألهمني ربي ان اقول في كل يوم , سبحان الله والحمد للله ولا اله الا الله , والله أكبر الف مرة . واما ليلي , فألهمني ربي ان اقول في كل ليلة , اللهم صل علي محمد النبي الامي وعلي آله وصحبه وسلم الف مرة , فأنت ما تقول حتي استفيد منك ؟ فندم داود عليه السلام علي احتقار الدودة , وخاف من الله تعالي وتاب اليه وتوكل عليه .

Hikayat
“Suatu ketika nabiyulloh Dawud AS duduk di tempat peribadahan nya sambil membaca zabur, kemudian beliau kaget (heran) karena melihat seekor cacing berwarna merah di tanah. Maka nabi Dawud pun berbisik dalam hatinya: “Apa maksudnya Allah SWT menciptakan cacing tanah ini ?”.

Dengan izin Allah SWT, cacing ini pun bisa berbicara.
Cacing : “Wahai nabiyalloh, Adapun dalam siangku, Allah SWT memberikan ilham kepadaku untuk berdzikir 1000x dalam sehari dengan membaca SUBHANALLOH WALHAMDULILLAH WALAA ILAAHA ILLALLOH WALLOHU AKBAR.

Dan dalam malamku, Allah SWT memberikan ilham kepadaku untuk berdzikir (bersholawat) 1000 x dalam setiap malamnya dengan membaca ALLOHUMMA SHOLLI ‘ALA SAYYIDINAA MUHAMMADIN NABIYYIL UMMIYYI WA ‘ALA AALIHI WA SHOHBIHI WA SALLIM.

Lalu apa yang engkau ucapkan hingga aku bisa mengambil manfa’at darimu ? Kemudian Nabi Dawud AS menyadari kekhilafannya dan menyesal telah menganggap rendah kepada seekor cacing,beliau merasa takut kepada Allah,beliau bertaubat kepada Allah dan beliau berserah diri kepada Allah.

Firman Allah SWT pada (Ali Imran: 191):

الذين يذكرون الله قياما وقعودا وعلى جنوبهم ويتفكرون في خلق السماوات والأرض ربنا ما خلقت هذا باطلا سبحانك فقنا عذاب النار

Artinya : “( Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) : “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia- sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka. (Ali Imran: 191)

Semoga kita selalu senantiasa bisa memmetik hikmah dan pembelajaran pasti dari semua hal yang ada di lingkungan sekitar kita untuk bisa menyadarkan diri tidak lupa terhadap sebuah kewajiban yang kelaknya nanti akan menjadi sebuah amal sholeh.

Wallohu A’lamu Bsihowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com