Ketika Istri Mengambil Harta Suami Tanpa Sepengetahuan Berikut Tinjauan Hukumnya

Ketika Istri Mengambil Harta Suami Tanpa Sepengetahuan Berikut Tinjauan Hukumnya

Almunawwar.or.id – Sudah sepatutnya bukan saja maklum diketahui bersama bahwa salah satu kewajiban seorang suami adalah memberikan nafkah anak dan istri sesuai dengan kafasitas dan kemampuannya, tidak melebihi bahkan melebihkan apa yang di punyai oleh seorang suami tersebut.

Namun ada kalanya bahkan tidak sedikit di masa sekarang ini banyak suami yang meninggalkan anak istrinya tanpa memberikan nafkah sesuai dengan kewajibannya, Sehingga menimbulkan polemik dalam rumah tangga dan seorang istri pun terkadang berani untuk mengambil harta suaminya tersebut tanpa sepengetahuan.

Nah permasalahannya adalah apakah hukumnya jika seorang istri mengambil harta suami tersebut karena alasan untuk memenuhi kebutuhan dan biaya hidup sehari-hari, dan merasa bahwa dia (istri) tidak di berikan nafkah ketika suami tersebut pergi.

Untuk lebih memberikan penjelasan mengani permasalahan tersebut sebagaimana yang di terangkan dalam salah satu kitab fiqih yaitu Bugiyatul Musytarsidin dimana ada redaksi yang menerangkan letak kedudukan jika seorang istri mengalami hal semacam itu. Berikut redaksi yang di maksud.

(مسئلة) امتنع الزوج أو القريب من تسليم المؤن الواجبة عليه أو سافر ولم يخلف منفقا ، جاز لزوجته وقريبه أخذها من ماله ولو بغير إذن الحاكم ، كما أن للأم وإن علت أن تأخذ للطفل من مال أبيه الممتنع أو الغائب أيضا ، لكن يتعين الأخذ من جنس الواجب فيهما إن وجد ، فإن لم يكن له مال أنفقت الأم من مالها ، أو اقترضت ورجعت على الطفل أو على من لزمته نفقته إن أذن القاضي لها في ذلك ، أو أشهدت على نية الرجوع عند فقده وإلا فلا رجوع وإن تعذر الإشهاد على الأوجه لندرته ، وكالأم فيما ذكر بقيده قريب محتاج وجد لطفل غاب أبوه أو امتنع ـ اهـ بغية المسترشدين ص ٢٤٢

[Masalah] Ada seorang suami atau kerabat tidak mau memberikan nafkah sehari hari yang menjadi kewajibannya, atau pergi dengan tanpa meninggalkan biaya nafkah untuk istri / kerabatnya maka bagi istri / kerabat tersebut diperbolehkan mengambil nafkahnya dari harta suaminya walaupun tanpa ada ijin dari hakim.

Seperti halnya diperbolehkan bagi ibu / nenek mengambil nafkah anaknya dari suaminya yang tidak mau memberi nafkah anaknya atau karena pergi, hanya saja jenis harta disini hanya tertentu pada jenis harta yang wajib untuk nafkah bila ada.

Apabila tidak ada maka ibu yang wajib menafkahinya dengan hartanya atau harta dari berhutang, dan nanti untuk membayarnya bisa minta ke anak tersebut (apabila sudah besar) atau minta kepada orang yang seharusnya wajib menafkahi anak tersebut dengan catatan bila qodli memberi ijin.

Atau dengan memakai saksi (bahwa ibu telah berhutang) yang nantinya akan meminta ganti rugi apabila tidak ada qodli, apabila kedua hal ini tidak terpenuhi (ijin qodli dan saksi) maka ibu tidak boleh meminta ganti rugi menurut qoul awjah karena jarang terjadi demikian (tidak dapat menghadirkan salah satu dari ijin qodli maupun saksi).

Seperti halnya ibu, kerabat juga mempunyai kewajiban yang sama dengan ibu bila menjumpai anak yang ditinggal pergi atau tidak diberi nafkah oleh ayahnya. [Bughyatul Mustarsyidin halaman 242].

Walhasil Seorang Istri mengambil harta / uang suami hukumnya tidak boleh (berdosa) kecuali mengambil haknya istri yang wajib atas suaminya seperti uang belanja yang disebutkan dalam permasalahan tadi.

Catatan:

وأما مقدار النفقة فذهب مالك إلى أنها غيرمقدرة بالشرع وأن ذلك راجع إلى ما يقتضيه حال الزوج وحال الزوجة، وأن ذلك يختلف بحسب اختلاف الأمكنة والأزمنة والأحوال، وبه قال أبو حنيفة. وذهب الشافعي إلى أنها مقدرة: فعلى الموسر مدان، وعلى الأوسط مد ونصف، وعلى المعسر مد.

Adapun terkait ukuran nafkah, Imam Malik berpendapat bahwa kadar nafkah tidak ditentukan secara syar’i. Kadar nafkah harus merujuk pada keadaan suami dan keadaan istri yang bersangkutan. Itu pun berbeda-beda sejalan dengan perbedaan tempat, waktu, dan keadaan. Demikian pula pendapat Imam Abu Hanifah. Sedangkan Imam Syafi’i mengatakan bahwa kadar nafkah ditentukan oleh syara’.

Untuk suami dengan penghasilan tinggi, wajib menafkahi istrinya sebanyak dua mud. Untuk kelas menengah, satu setengah mud. Sementara mereka yang berpenghasilan rendah, hanya satu mud setiap harinya.

Satu mud seukuran 543 gram menurut Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah. Sementara menurut Hanafiyah, satu mud seukuran 815,39 gram.

Yang jelas dibutuhkan ialah kebijaksanaan antara suami dan istri dalam menentukan besaran nafkah sesuai kebutuhan-kebutuhan keluarganya. Begitu juga terkait kebutuhan harian lainnya seperti ongkos pendidikan dan lain sebagainya. Untuk itu, upaya mencari nafkah yang halal memiliki keutamaan yang tinggi.

Karena pada prinsipnya kesepahaman antara pihak suami maupun pihak istri ini yang perlu hadir. Terlebih dalam kondisi suami yang memiliki keterbatasan fisik? Saling menerima dalam batas yang wajar menjadi perhatian utama agar tidak ada yang dizalimi.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id
piss-ktb.com