Ketika Kalimah Fi’il Berharakat Kasrah, Berikutlah Jawabannya Menurut Kajian Nahwu

Ketika Kalimah Fi'il Berharakat Kasrah, Berikutlah Jawabannya Menurut Kajian Nahwu

Almunawwar.or.id – Sebagaimana diketahui bersama dalam kajian ilmu nahwu terdapat beberapa ketentuan yang memastikan kedudukan kalimah yang menjadi objek pada sebuah lapadz, termasuk dari ketentuan kalimah yang terbagi menjadi tiga yaitu kalimah isim, kalimah fi’il dan juga kalimah harap.

Dimana diantara ketiga kalimah tersebut memiliki syarat dan kriteria tertentu dalam perannya di sebuah syuakul kalam ataupun rangkaian kalimah arab, bahkan menjadi salah satu ciri dan identitas pasti terhadap salah satu kalimah tersebut.

Seperti kalimah isim dengan ciri tanwinnya, kalimah haraf dengan jazm atau sukunnya juga dari kalimah fi’il yang tidak bisa menerimah harkat kasrah di akhirnya, baik itu fi’il madi, Mudhore dan juga fi’il amar. Pertanyaannya bagaimana jika kalimah fi’il tersebut menerima harkat kasrah.

Apakah bisa atau bagaimana, Seperti yang ada pada salah satu contoh dari ayat Alquran Surat Almujadalah ayat 11 yang berbunyi :

Surat Al-mujadalah ayat 11

يا أَيُّهَا الَّذينَ آمَنُوا إِذا قيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَ إِذا قيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَ الَّذينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجاتٍ وَ اللَّهُ بِما تَعْمَلُونَ خَبيرٌ

Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu berlapang-lapanglah pada majlis-majlis, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan melapangkan bagi kamu. Dan jika dikatakan kepada kamu ; Berdirilah ! “, maka berdirilah Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang~rang yang diberi ilmu beberapa derajat ; Dan Allah dengan apapun yang kamu kerjakan adalah Maha Mengetahui.

Dalam ayat diatas ada dua kalimat dari fi’il mudhori’ yang di i’robi kasroh di akhirnya ,
pertama lafadz يَفْسَحِ
dan kedua lafadz يَرْفَعِ .

Kedua lafadz tersebut wajib dibaca jazem (sukun di hurup akhirnya pada kalimah mufrod) sebab jadi jawab fi’il amar dari kalimat sebelumnya.
lafadz يَفْسَحِ (baca yafsah) jadi jawab amar dari تَفَسَّحُوا ,
dan lafadz يَرْفَعِ (baca yarfa’) jadi jawab amar dari انْشُزُوا .

Kenapa ketika diwashol (disambung ) i’rob sukun diakhir berubah jadi kasroh ?
karena i’rob hurup akhir lafadz يَفْسَحِ dan lafadz يَرْفَعِ adalah sukun dan hurup awal lafadz sesudahnya juga sukun , ini akan sulit dibacanya.

Akang santri narkib, alasannya

وحرك بالكسر لاجل التخلص من التقاء الساكنين

(maka dirubah kepada kasroh karna menyelamatkan bacaan dari bertemunya dua sukun.

Jadi itulah salah satu alasan ataupun illat kenapa fi’il tersebut di baca kasrah, layaknya ketidakbolhen menjadikan mubtada dari kalimah isim nakiroh terkecuali jika memang mengandung faidah dan ilat tertentu. Dalam kitab nadzom Alfiyah bab mubtada’ dan khobar disebutkan :

وَلاَ يَجُوْزُ الابْتِدَا بِالْنَّكِرَهْ ¤ مَا لَمْ تُفِدْ كَعِنْدَ زَيْدٍ نَمِرَهْ

Tidak boleh menggunakan mubtada’ dengan isim Nakirah selama itu tidak ada faidah, (yakni, boleh dengan persyaratan ada faidah) seperti contoh:

عِنْدَ زَيْدٍ نَمِرَةُ

“adalah disisi Zaid pakaian Namirah (jenis pakaian bergaris-garis yang biasa dipakai oleh orang A’rab Badwi)” (khabarnya terdiri dari zharaf atau jar-majrur yang dikedepankan dari mubtada’nya).

وَهَلْ فَتَىً فِيْكُمْ فَمَا خِلٌّ لَنَا ¤ وَرَجُــلٌ مِنَ الْكِـرَامِ عِنْدَنَا

(dan disyaratkan juga: ) seperti contoh هَلْ فَتَىًفِيكُم “adakah seorang pemuda diantara kalian?”(diawali dengan Istifham/kata tanya),
dan contoh: مَا خِلٌّ لَنَا “tidak ada teman yang menemani kami” (diawali dengan Nafi),
dan contoh: رَجُلٌ مِنَ الكِرَامِ عِنْدَنَا “seorang lelaki yg mulia ada disisi kami” (disifati)

وَرَغْبَةٌ فِي الْخَيْر خَيْرٌ وَعَمَلْ ¤ بِرَ يَزِيْنُ وَلْيُقَسْ مَا لَمْ يُقَـلْ

dan contoh: رَغْبَةٌ فِي الخَيْرِ خَيْرٌ “gemar dalam kebaikan adalah baik” (mengamal), dan contoh:عَمَلُ بِرٍّ يَزِينُ “berbuat kebajikan menghiasi (hidupnya)” (mudhaf). Dan dikiaskan saja! contoh lain yang belum disebut.

Perihal Kebolehan Mendahulukan Khabar dari Mubtadanya

وَالأَصْلُ فِي الأَخْبَارِ أَنْ تُؤخَّرَا¤ وَجَـوَّزُوَا الْتَّقْــدِيْمَ إِذْ لاَ ضَــرَرَا

Asal penyebutan Khabar tentunya harus di-akhirkan (setelah penyebutan mubtada’), dan mereka (orang arab/ahli nahwu) memperbolehkan mendahulukan khabar bilamana tidak ada kemudharatan (aman dari ketidakjelasan antara khabar dan mubtada’nya).

Pelanggaran Mendahulukan Khabar Dari Mubtadanya
Sama Nakirah atau Ma’rifat

فَامْنَعْهُ حِيْنَ يَسْتَوِى الْجُزْءآنِ ¤ عُرْفَــــاً وَنُكْـــرَاً عَــادِمَيْ بَيَـــانِ

Maka cegahlah mendahulukan Khabar…! ketika kedua juz (khabar & mubtada’) serupa ma’rifah-nya atau nakirah-nya, dalam situasi keduanya tidak ada kejelasan. (karena dalam hal ini, pendengar atau pembaca tetap menganggap khabarlah yang dibelakang).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com