Ketika Seorang Sufi Wanita Pengusung Mazhab Cinta, Pernah Menggugat Surga

Ketika Seorang Sufi Wanita Pengusung Mazhab Cinta, Pernah Menggugat Surga

Almunawwar.or.id – Sejatinya sebuah kebahagiaan yang selama ini sangat di harapkan oleh semua orang terlebih khusus untuk seorang muslim itu bukanlah terletak pada tercapai sebuah tujuan yang secara final merupakan landasan dari pencapaian hasil amalan semasa hidupnya yaitu surga.

Akan tetapi kebahagiaan yang tertujukan pada kenikmatan dan keistimewaan surga itu tidak berlaku bagi mereka seorang muslim yang benar-benar sudah memiliki tingkat keimananan tinggi dan kuat, karena sudah mampu merasakan begitu sempurna dan luar biasanya berada pada tingkat mahabbah antara Mhaluq dan Khaliqnya.

Dimana sesungguhnya di antara maqom tersebut (mahabbah) antara Khaliq dan Mahluqnya itu terdapat sebuah makna yang istimewa dan sesungguhnya yaitu hanya mengharapkan keridhoannya semata, Sehingga kenikmatan dunia tiada artinya jika tanpa adanya Ridho yang memiliki dan menciptakan surga tersebut.

Dan bagi mereka (ahli sufi) surga bukanlah standar ukuran tujuan dari pada kebahagiaan, akan tetapi keridhoan dari Allah S.W.T itu justru jauh lebih bernilai dan merupakan tujuan dari pada akhir sebuah kebahagiaan ketika seorang hamba manusia di hadapkan ke Sang Khaliq.

Begitulah salah satu pemahaman yang di ujarkan oleh seorang tokoh shufi terkenal Siti Rabi’atul Adawiyyah, Baginya puncak kebahagiaan bukanlah yang bersandar pada kenikmatan surga semata, akan tetapi meraih keridhoan dari Allh S.W.T itu adalah hakikat dan puncak kebahagiaan yang sesungguhnya.

Sehingga ketika beliau di sodorkan sebuah pertanyaan dan pernyataan tentang makna hakikat sebuah pencapaian sebuah amalan manusia itu, dengan memproklamirkan selaku seorang yang Nggak butuh surga, yang dibutuhkan olehnya ialah penerimaan sang kekasih atas cintanya dan yang diinginkan olehnya ialah cinta sang kekasih kepadanya. Siapa sang kekasih Rabiah? Sang kekasihnya ialah “Allah S.W.T”

Cara pandang seorang tokoh shufi dari kalangan perempuan ini tentunya memiliki makna dan hikmah tertentu jika di pandang dari sudut tujuannya, terlebih jika di kaitkan dengan pemahaman-pemahaman umat islam saat ini yang menghalalkan segala cara demi bisa meraih tiket surga.

Padahal sejatinya seperti yang telah di singgung di atas tadi, kenikmatan surga yang tiada tara itu tak akan ada artinya jika tidak ada dalam ridhoNYA. Sebaliknya kebahagiaan dan kenikmatan bisa di rasakan oleh seorang manusia meskipun di tempatkan di neraka namun ada ridho dari sang pemiliknya yaitu Allah S.W.T.

Dalam argumen pandangannya tersebut yang di proklamirkan oleh seorang ahli shuffi bisa dikatakan adanya penyeimbangan dan penempatan antara ilmu syari’at dan ilmu hakikat, yang sejatinya kedua ilmu tersebut merupakan cara pencapaian seorang hamba dalam meraih puncak kebahagiaan.

Sementara itu ilmu syariat dibedakan menjadi empat bagian:

1. Ilmu Riwayah (narasi), Ilmu Atsar (Hadis dari para tabi’in) dan Akhbar (Cerita dalam Hadis). Inilah. ilmu yang ditransfer dari orang-orang yang bisa dipercaya yang bersumber dari orang-orang yang bisa dipercaya sebelumnya.

2. Ilmu Dirayah, yang mencakup ilmu fiqih dan hukum. Ilmu ini beredar di kalangan para ulama dan fuqaha’.

3. Ilmu Kias (analogi), debat dan adu argumentasi terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Inilah ilmu debat dan memperkuat argumentasi terhadap para pelaku bid’ah dan orang-orang yang sesat dengan tujuan membela agama.

4. Ilmu yang paling tinggi tingkatannya dan ilmu-ilmu sebelumnya dan paling mulia. Ilmu yang keempat mi adalah Ilmu Hakikat, Munazalat (Tahapan-tahapan spiritual), ilmu muamalah dengan Allah dan mujahadah, ikhlas dalam taat dan menghadapkan diri kepada Allah Azza wa Jalla dengan sepenuhnya.

Menyerah dengan sepenuh jiwa kepada Allah dalam segala waktunya. Bersihnya niat dalam tujuan dan keinginan, membersihkan rahasia hati dan segala penyakit hati, merasa cukup dengan Sang Pencipta langit.

Mematikan nafsu dengan cara melawan segala kemauannya, jujur dalam berbagai kondisi dan kedudukan spiritual, memiliki adab dan kesopanan di hadapan Allah, baik dalam rahasia hati maupun yang lahiriah dalam segala langkah, merasa cukup untuk mengambil bekal ketika dalam kondisi sangat membutuhkan.

Berpaling dan dunia dan meninggalkan apa yang ada di dalamnya demi mencari tingkatan yang tinggi di sisi Allah Swt. dan bisa mencapai kemuliaan-kemuliaan di sisi Allah S.W.T.

Maka barangsiapa benar-benar mengalami kekeliruan dalam Ilmu Riwayah, maka ia tak boleh menanyakan kekeliruannya kepada orang-orang yang memiliki disiplin dalam Ilmu Dirayah. Demikian sebaliknya, orang yang mengalami kekeliruan dalam Ilmu Dirayah tidak bisa merujuk dan menanyakan kekeliruannya kepada orang yang memiliki disiplin Ilmu Riwayah.

Sementara orang yang telah mengalami kesalahan dalam Ilmu Kias dan Debat ia tidak bisa merujuk kepada orang yang memiliki disiplin dalam ilmu Dirayah dan Riwayah. Demikian pula orang yang mengalami kekeliruan tentang ilmu hakikat dan kondisi spiritual maka ia tidak boleh merujuk dan menanyakan kekeliruannya kecuali kepada orang yang benar-benar tahu secara sempurna tentang maknanya.

Dan mungkin saja ilmu-ilmu tersebut bisa ditemukan di kalangan para ahli hakikat, akan tetapi ilmu hakikat tidak akan bisa ditemukan di kalangan mereka dan hanya ada di kalangan para ahli hakikat — kecuali bila dikehendaki oleh Allah. Sebab ilmu hakikat adalah buah dan puncak dari semua ilmu.

Dan titik akhir semua ilmu berada dalam ilmu hakikat. Maka ketika seseorang telah sampai pada ilmu ini ia akan masuk ke dalam samudera yang tak bertepi, yaitu ilmu rahasia hati, ilmu ma’rifat, ilmu rahasia-rahasia nurani, ilmu batin, ilmu tasawuf, ilmu kondisi spiritual dan muamalah dengan Allah S.W.T.

Semua puncak dari pada tingkatan ilmu tersebut tidak akan bernilai tanpa di landasi dengan sikap dan pernyataan hati tentang bagaimana meraih kebahagiaan yang sesungguhnya dengan puncak pencapaian yang berlandaskan pada rasa mahabbah (cinta) sebagaimana yang telah di contohkan oleh seorang Siti Rabi’atul Adawiyah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
islam-institute.com
sufinews.cot