KH Hasan Abdul Wafi, Sosok Ulama Berkomitmen Tinggi Pencipta Sholawat Nahdliyyah

KH Hasan Abdul Wafi, Sosok Ulama Berkomitmen Tinggi Pencipta Sholawat Nahdliyyah

Almunawwar.or.id – Begitu menggemanya lantunan bacaan sholawat Nahdyiyah yang belakangan ini sudah sering terdengar di mana-mana membuat lantunan tersebut bisa di hapal secara mudah oleh semua kalangan, tentu di balik ma’na yang terkandung dalam baitan sholawat yang mencerminkan akan begitu hebatnya perjuangan Ulama dalam mensyiarkan agama Alloh S.W.T di muka bumi ini sebagai pewaris para Nabi yang menuntun dan menyerukan umatnya untuk menjadi umatan wahidatan yaitu umat yang bersatu.

Persatuan dan timbulnya semangat yang berkobar bangkit untuk tetap meninggikan Agama Islam adalah sebuah syiar atau dakwah yang memang seharusnya menjadi perisai diri dalam mengemban tugas sebagai khalifatu fil’ard. Mulai dari prospek diri sendiri, kemasyarakatan dan tentunya adalah persatuan umat Islam di dunia, sebagaimana yang tercermin dari kebangkitan para Ulama dalam menyiarkan dakwahnya baik secara individu maupun melalui lembaga pendidikan.

Shalawat nahdiyyah sendiri merupakan salah satu karya terbaik yang berasal dari daya tafakkur orang yang berilmu dalam menjadikan sebuah cita-cita dan keinginan dalam menjabarkan sebuah perjuangan para Ulama lewat makna kata yang terkandung dalam sholawat tersebut, sehingga dengan adanya prospek tersebut timbullah rasa semangat dan optimis dalam memperjuangkan Agama Islam di dunia ini seperti yang di gambarkan di setiap kalimat-kalimatnya.

Lalu siapakah yang pertama kali membuat atau menciptakan sholawat Nahdiyyah tersebut? Tidak hanya hapal secara rangkaian kalimah, lirik dan lagam, namun tidak ada salahnya untuk mengetahui sosok Ulama yang telah berhasil menjadikan sebuah karya menjadi sebuah do’a, Dan Berikut biografi singkat tentang KH Hasan Abdul Wafi (pencipta shalawat nahdiyyah) yang di lansir dari situs resmi PBNU.

Ia lahir di Pamkesasan Madura tahun 1923 dan wafat di PP Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur pada Rabu, 31 Juli 2000. Lahir dari pasangan KH. Miftahul Arifin ibn Kiai Hadu dan Nyai Nyai Lathifah binti Kiai Jamaluddin ibn Kiai Ruham.

Berbagai sumber mengisahkan bahwa Kiai Hadu dan Kiai Ruham adalah saudara kandung. Dan kita tahu bahwa Kiai Ruham adalah kakek dari KH. R. As’ad Syamsul Arifin ibn KH.R Syamsul Arifin ibn Kiai Ruham. Dengan demikian, jika dirunut dari jalur ayah, maka KH. Hasan Abdul Wafi adalah sepupu KH. R. As’ad Syamsul Arifin (1897-1990). Namun, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah keponakan Kiai As’ad, karena ibunda Kiai Hasan (Nyai Lathifah) adalah anak dari Kiai Jamaluddin Ruham yang notabene kakak kandung KH.R Syamsul Arifin.

Namun, Kiai Hasan Abdul Wafi dan enam kakaknya seperti KH Sufyan Miftahul Arifin Situbondo (1912-2012 M.) dan Kiai Masduqi Miftahul Arifin (ayahanda KH. Badri Masduqi Probolinggo [1942-2002]) lebih memilih memanggil paman pada Kiai As’ad dan bukan kakak. Singkatnya, jika melalui jalur ayahandanya, Kiai Hasan Abdul Wafi adalah Bani Hadu, maka melalui jalur ibundanya, beliau adalah Bani Ruham.

Wafat dan dikebumikan di Pesantren Nurul Jadid Paiton karena Kiai Hasan Abdul Wafi adalah menantu KH Zaini Mun’im (1906-1976), Pendiri dan Pengasuh Pertama PP. Nurul Jadid Paiton Probolinggo. Beliau menikah dengan Nyai Aisyah binti Zaini Mun’im. Bukan hanya menantu, dari jalur ibu, Kiai Hasan Abdul Wafi sebenarnya masih ada hubungan keluarga dengan Kiai Zaini. Ini karena istri Kiai Ruham yang bernama Nyai Nur Sari adalah saudara kandung Kiai Mudarik/Kiai Mudrikah.

Jika dibentangkan, maka silsilahnya adalah Kiai Hasan Abdul Wafi ibn Nyai Lathifah binti Nyai Nur Sari binti Kiai Ismail. Sementara silsilah Kiai Zaini adalah Kiai Zaini ibn Kiai Abdul Mun’im ibn Kiai Mudarik ibn Kiai Ismail. Dengan demikian, nasab Kiai Hasan dan Kiai Zaini bertemu di Kiai Isma’il (keponakan Kiai Mahalli, Pendiri Pesantren Kembang Kuning Pamekasan tahun 1619 M.) Berikut bait lirik dan arti dari pada Sholawat Nahdliyyah :

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ صَلَاةً تُرَغِّبُ وَتُنَشِّطُ صَلَاةً تُرَغِّبُ وَتُنَشِّطُ وَتُحَمِّسُ بِهَا الْجِهَادْ لِإِحْيَاءْ، وَإِعْلَاءِ دِيْنِ الْإِسْلَاموَإِظْهَارِ شَعَائِرِهْ عَلَى طَرِيْقَةِ، جَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءْوَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّم اَللّٰهْ اَللّٰهْ اَللّٰهُ اَللّٰهْ ثَبِّتْ وَانْصُرْ أَهْلَ جَمْعِيَّةْجَمْعِيَّةْ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءْ، لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللّٰهْ

Artinya ”
Ya Allah, limpahkan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad” Yang dengan [berkah bacaan shalawat ini], jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan
”Dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syi’ar-syi’arnya menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama”. ” Juga kepada keluarga beliau dan sahabatnya, berikanlah keselamatan”.
“Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama”. ”Untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)“.

Itulah sejarah tentang sosok seorang Ulama yang teguh terhadap pendirian dalam memperjuangkan agama Islam yang tercermin lewat dakwah dan karya-karyanya seperti yang tergambarkan pada lantunan setiap bait Sholawat Nahdiyyah, Beliau juga dikenal sebagai orang alim terutama di bidang fiqih, teguh pendirian, dan memiliki komitmen ke-NU-an cukup kuat. Soal komitmen ke-NU-annya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id