KH. Mochammad Syabandi (Mama Cilenga) Ulama Berkharismatik Pendiri NU Tasikmalaya

KH. Mochammad Syabandi (Mama Cilenga) Ulama Berkharismatik Pendiri NU Tasikmalaya

Almunawwar.or.id – Nahdlotul Ulama atau yang lebih dikenal sebagai NU merupakan salah satu wadah organisasi keagamaan yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, pendidikan dan tentunya dalam masalah keagamaan. Organisasi ini lahir pada pada 31 Januari 1926 di Surabaya dan satu tahun kemudian NU cabang Tasikmalaya Jawa Barat mulai terbentuk atas dasar mufakat para ulama untuk mendirikan organisasi tersebut di kota kota santri atau sang mutiara dari priangan timur.

Terbentuknya NU Tasikmalaya itu memang tidak lepas dari andil besar seorang Ulama yang berkharismatik dengan relasi pesantren sebagai media atau perantara terhadap lahirnya NU Tasik tersebut. Adalah KH. Mochammad Syabandi atau yang banyak orang mengenalnya dengan nama Mama Cilenga sesepuh sekaligus pendiri Pondok Pesantren Cilenga yang berlokasi di kecamatan Sariwangi kalau dulu masih berada di wilayah kecamatan Singaparna.

Mengingat Tasik yang identik dengan dunia santri dan kepesantrenan dengan latar belakang yang hampir sama, maka untuk lebih menyatukan aspirasi sekaligus menguatkan tali ukhah islamiyyah, maka pada saat itu para Ulama mulai merintis dan membentuk sebuah organisasi Nahdoltul Ulama cabang Tasikmalaya. Lalu siapakah sesungguhnya mama Cilenga tersebut? Berikut biografi singkat tentang KH. Mochammad Syabandi yang di kutip dari sumber jabar.nu.or.id.

Memang belum terlalu banyak catatan yang mengupas tentang Mama Cilenga secara gamblang dan detail. Namun jika kita membaca literatur tentang awal mula terbentuknya kepengurusan NU di Tasikmalaya, nama Mama Cilenga ini menjadi salah satu yang disebut sebagai tokoh sentral dibalik terbentuknya NU Cabang Tasikmalaya. Bahkan dalam beberapa catatan lainnya, Mama Cilenga disebut-sebut sebagai guru dari KH. Ruhiat (Pendiri Pondok Pesantren Cipasung) dan KH. Zainal Musthafa (Pendiri Pondok Pesantren Sukamanah). Sangking sentralnya sosok Mama Cilenga, beliau pulalah yang mengutus dua orang santrinya, yakni KH. Ruhiat dan KH. Zainal Musthafa untuk sama-sama aktif di kepengurusan NU Cabang Tasikmalaya kala itu.

Berdasarkan catatan yang di Pesantren Cilenga, KH. Syabandi lahir pada tahun 1887 M dan wafat pada tahun 1947 M. Hidup satu zaman dan satu era dengan muassis NU, Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. Sebelum mendirikan Pondok Pesantren Cilenga pada tahun 1917, Mama Cilenga diketahui pernah nyantri di beberapa tempat. Selepas ngaji ke KH. Toha bin Hasan Bisyri Cintawana, di usianya yang masih 17 tahun, Mama Cilenga pergi ke Mekkah dan berguru ke Syekh Mahfuzh bin Abdullah At-Tarmasi.

Di Mekkah, Mama Cilenga menjadi santrinya Syekh Mahfuzh selama kurang lebih sekitar 13 tahun. Dikalangan pesantren-pesantren di Indonesia, khususnya di kalangan warga NU, nama Syekh Mahfuzh At-Tarmasi ini bukanlah nama yang asing. Beliau adalah guru dari sejumlah Kiai di Nusantra, termasuk Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah yang kemudian mendirikan NU.

Maka tidak heran jika sekembalinya Mama Cilenga ke Tasikmalaya, beliau lantas mendirikan Pesantren Cilenga. Bahkan Pesantren Cilenga mengadopsi sistem pendidikan madrasah sebagaimana yang ada di Termas dan Tebu ireng. Selain itu, penamaan Pesantren Cilenga diambil oleh Kiai Syabandi sebagai bentuk takdzimnya kepada gurunya, Syekh Mahfzh yang meskipun sudah lama tinggal Mekkah, masih tetap menggunakan nama At-Tarmasi yang menjadi penanda beliau berasal dari daerah Termas Pacitan Jawa Timur.

Dan bisa jadi alasan itu pula yang kemudian menginspirasi dua orang santrinya yang kemudian masyhur menjadi Kiai, yakni KH. Ruhiat dan KH. Zainal Musthafa saat menyematkan nama daerah di pesantren yang mereka dirikan, yakni Pesantren Cipasung dan Pesantren Sukamanah.

Relasi pesantren inilah yang kemudian melatarbelakangi terbentuknya kepengurusan NU Cabang Tasikmalaya hanya berjarak satu tahun setelah NU dideklarasikan berdiri pada tahun 1926. Mama Cilenga yang pernah nyantri ke Syekh Mahfuzh At-Tarmasi ini kemudian juga terhubung dengan santri-santri Syekh Mahfuzh yang lainnya seperti Hadrotus Syekh KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Wahab Hasbullah. Maka tidak mengherankan jika kemudian Mama Cilenga ini tidak hanya mendukung kelahiran NU, tapi juga ikut terlibat dalam pembentukan dan aktifnya NU di Tasikmalaya.

Bentuk dukungan nyata Mama Cilenga atas berdirinya NU juga diperlihatkan dengan menyertakan dua santri terbaiknya, yakni KH. Ruhiat dan KH. Zainal Musthafa di kepengurusan NU Cabang Tasikmalaya. Bahkan pada Muktamar ke 5 NU di Pekalongan tahun 1930, Mama Cilenga menyertakan KH. Ruhiat sebagai peserta. Dan pada Muktamar NU ke 13 di Menes Banten, nama KH. Zainal Musthafa tercatat sebagai utusan dari NU Cabang Tasikmalaya bersama-sama dengan KH. Ruhiat (Cipasung) yang berangkat ke sana.

Meskipun belum terlalu banyak data literatur yang ada tentang Mama Cilenga, namun dari sejumlah data literatur yang tesedia telah cukup menjadi bukti sejauh mana peran Mama Cilenga sejak awal pembentukan kepengurusan NU Cabang Tasikmalaya. Sebagai sosok yang lahir jauh sebelum NU berdiri dan melalui proses perjalanan panjang tatkala Mama Cilenga menimba ilmu sampai ke tanah Mekkah, menjadikan Mama Cilenga sebagai sosok kiai yang memiliki relasi pesantren yang luas.

Keberadaannya sebagai kiai sepuh di Tasikmalaya yang menjadi guru dari kiai-kiai besar lainnya juga telah menjadikan Mama Cilenga sebagai sosok penting atau King Maker dibalik berdirinya kepengurusan NU Cabang Tasikmalaya. Wallahu a’lam bisshowab. Alfatihah

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber :
jabar.nu.or.id
almunawwar.or.id