Kumpulan Terbaik Hikmah Khutbah Makna Idul Fitri 2018 1439 H

Kumpulan Terbaik Hikmah Khutbah Makna Idul Fitri 2018 1439 H

Almunawwar.or.id – Bacaan Takbir, Tahmid dan juga Tahlil semarak di bacakan oleh semua umat islam di seluruh penjuru dunia menjelang datangnya suasana di hari raya idul fitri yang akan di rayakan di besok harinya, Sehingga keharibaan dari pada suasana malam takbiran itu sampai begitu terasa di hari raya lebaran.

Dan makna tersebut rupanya menjadi sebuah indikasi tersendiri bagi umat islam untuk menjadikan hari raya idul fitri sebagai waktu yang tepat untuk bisa meraih keistimewaannya, karena selain kebahagiaan yang paripurna yang di rasakan oleh setiap umat muslim, di hari lebaran tersebut juga banyak hikmah dan manfaat penting di dalamnya.

Terlebih secara perluasan makna dan hikmahnya tersebut bisa di dapatkan sekaligus di telaah kembali sesuai dengan keunggulan dari pada orang yang menghidupkan malam idul fitri dan juga harinya tersebut. Salah satunya yang termuat dari pada intisari khutbah idul fitri terbaik dan pilihan berikut ini.

Tentang Khutbah Idul Fitri dan Idul Adha
1. Hukum khutbahnya itu sunnah
2. Tata carannya itu tidak jauh berbeda dengan khutbah jum’at
3. Yakni memuji Allah, membaca shalawat, berwasiat tentang takwa, membaca ayat Al-Qur’an pada salah satu khutbah, serta mendoakan kaum Muslimin pada khutbah kedua.
4. Khatib yang disyaratkan berdiri (bila mampu) saat berkhutbah disunnahkan menyela kedua khutbah dengan duduk sebentar. Sebagaimana diungkap dalam hadits Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah yang berkata:

السنة أن يخطب الإمام في العيدين خطبتين يفصل بينهما بجلوس

Artinya : “Sunnah seorang Imam berkhutbah dua kali pada shalat hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha), dan memisahkan kedua khutbah dengan duduk.” (HR Asy-Syafi’i)

5. Di sunnahkan membaca takbir 9 kali di khutbah pertama dan 7 kali di khutbah kedua.

Contoh Khutbah Idul Fitri
Khutbah Pertama

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Segala fuji mari kita panjatkan ke hadirat Alloh S.W.T yang telah menjadikan hari ini sebagai hari yang begitu istimewa bagi umat islam dengan kebahagiaan yang di berikan melalui rahmat dan kasih sayangnya. Sehingga kita bisa merasakan indahnya saling berbagi dan memaafkan satu sama lain atas semua karunia yang telah alloh berikan kepada kita semua di hari kemenangan ini.

Sholawat dan salam semoga selamanya terlimpah curahkan kepada baginda Rasululloh S.A.W yang telah mengajak umatnya kepada jalan yang di ridhoi Alloh S.W.T lewat indahnya nilai sebuah kebahagiaan yang begitu smepurna di hari raya ini, Sehingga mampu membntuk umat yang kuat dan bersatu dan tolera di segala bidang.

Terutama dari manfaat dasar dan hakiki yang terdapat pada pelaksanaan ibadah-ibadah selama bulan puasa ramadhan, dimana nilai yang begitu sempurna akan mudah di raih dan di jadikan pelapis kekuatan jiwa bagi orang yang bisa menjadikan amalan di bulan suci ramadhan tersebut sebagai satu bagian dari tujuan hakikatnya berpuasa.

Meskipun banyak rintangan dan tantangan yang harus di hadapi ketika melaksanakannya tersebut, akan tetapi kekuatan keimanan yang tertabcapkan dalam niat “Imanan Wahtisaban” mampu menghantarkannya ke pintu kemenangan yang di awali dan di tandai dengan suasana malam takbiran.

Sebagaiman yang telah di landaskan oleh firman Alloh S.W.T dalam Alquran daripada tujuan dan hakikat berpuasa bagi orang yang beriman dan mematuhi segala perintahnya yang tersirat dalam Alquran sebagai petunjuk bagi orang beertaqwa dan pembeda antara hak dan bathil.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqarah [2]: 185)

Dan pagi ini kita kembali di ingatkan untuk bisa menjaga nilai dari pada keutuhan kesucian di bulan puasa ramadahn tersebut dengan menghadirkan pelupuk jiwa dan raga di hari yang teramat spesial dan bahagia ini, idul fitri yang begitu membahana dan menjiwa bagi orang-orang yang bertaqwa.

Sebab tiada yang paling indah dan lebih bersahaja ketika orang-orang muslim bisa bersama-sama, bersatu pada dan juga berkumpul di suatu saat dan tempat kecuali bisa mengindahkannya dengan amalan-amalan yang telah di anjurkan seperti saling berbagi dan bermaaf-maafan untuk meraih nilai dan keistimewaan ramadhan.

Dan ketika itu pula rasa terketuk pintu hati untuk membuka maaf yang sebesar-besarnya yang di sertai oleh ridhoAlloh S.W.T sebagai penjiwaan yang paling tepat dan bisa kembali ke derajat Minal Aidin Wal faizin. kembali ke fitrah manusia yang paripurna bertaqwa dan suci.

Dan hadirnya momen lebaran ini sekaligus bisa di jadikan waktu yang teramat tepat untuk mewujudkan semua itu, krean satu hal yang lebih pasti bagi seorang muslim ketika muslim lainnya ingin berjabat tangan dan meminta maaf itu adalah terbukanya hati kita untuk memaafkan kembali atau sebaliknya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

Selama satu bulan penuh kita berpuasa, banyak godaan dan rintangan yang hampir saja menjerumuskan kita ke hal yang tidak di ridhoi oleh agama. Namun berkat keimanan dan nilai ketaqwaan yang kuat di dalam hati, maka secara perlahan tapi pasti kita semua bisa melewati rintangan tersebut.

Akan halnya dengan itu teramat penting sekali untuk kita menelaah kembali sekaligus meng evaluasi semua amalan yang di lakukan selama ramadhan khususnya sebagai tolak ukur akan kesucian dan keutaaman dalam menentukan derajat amalan rukun yang menghantarkan kita ke jalan yang di ridhoi oleh ALLOh S.W.T.

Sehingga pembelajaran diri untuk mampu meraih “Pembentukan Jati Diri Pasca-Ramadhan” sebagai tema yang dia angkat dalam khutbah idu fitri ini bisa terwujudkan dan terealisasikan lewat satu makna ibadah bershilaturahmi menjaga nilai ukhwah islamiyyah yang tinggi di hari istimewa ini.

Sekaligus mencermati akan tujuan daripada kesugguhan niat dalam semua amalan ibadah yang tiada lain hanya karena Alloh S.W.T semata, karena sesungghnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya mili Alloh S.W.T sebagaimana yang tercermin dalam ayat :

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : “Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.”

Dari kesucian niat inillah kita bisa berangkat menyambut kedatangan hari kemangana dengan datang membawa kebahagiaan yang tiada terhingga atas dasar daripada pemaknaan amalan ibadah puasa ramadhan yang begitu khidmat dan khusuk dan kemampuan kita dalam memerangi hawa nafsu selama berpuasa itu.

Sebab tidak ada satu amalan pun yang lebih istimewa dan bernilai berharga terkecuali amalan ibadah tersebut tidak di barengi dengan keinginan hawa nafsu semata, bahkan jauh dari pada tujuan ibadah kecuali hanya karean Lillahi ta’ala dala bentuk semua ibadah.

Dan dari kemampuan inilah kita bisa di hantarkan ke makna kemenangan dan kesucian yang sesungguhnya sebagaimana yang sangat di harapkan oleh setiap indivdiu umat islam ketika hari raya lebaran itu datang, Dan yaqinilah itu semua karena Alloh S.W.T dan terbebas dari pada keinginan hawa nafsu semata.

Dan perlu doletahui bahwa ada tiga macam nafsu yang sering menjerumuskan seseorang ke lembah kehinaan yaitu nafsu dari dorongan perut, libido seksual, dan hawa nafsu yang menyesatkan. Nabi SAW sangat mengkhawatirkan umatnya terjerembab dalam tiga macam nafsu yang menghancurkan itu, sehingga beliau bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى

Artinya: “Sesungguhnya aku mengkhawatiri kamu sekalian terjerembab dalam keinginan hawa nafsu dari dorongan perutmu, dorongan seksualmu dan hawa nafsu yang menyesatkan. (HR. Ahmad).

Nah sebagai awal dari pada pembelajarannya itu adalah kita kembali untuk merujuk sekaligus mengevaluasi dan intropeksi diri dalam melaksanakan ibadah puasa ramadhan kemarin, Sehingga hakikat pembentukn jiwa seorang muslim yang bertaqwa akan kita raih.

Sebagai pengingat kita untuk bisa merubah diri ke jalan yang lebih utama, kita bisa menelaah kisah nyata pada di zaman Rasululloh S.A.W ketika kedatangan tamu seorang kafir, dengan penghormatannya, Nabi memberikan rasa hormat ke orang tersebut dengan menyuguhkannya air susu.

Dan tamu tersebut meminumnya sampai habis tujuh gelas, dan pertemuan itu berlalu bebgitu saja tanpa ada catatan khusus yang tersirat dari pertemuan tersebut. Namun setelah beberapa bulan kemudian pria yang bertamu itu masuk islam seiring dengan hidayah dan taupiq yang Alloh berikan kepadanya.

Dan dia (tamu tersebut) merasa ketinggalan oleh para sahabat nabi, sehingga terus menerus belajar tentang ilmu agama sampai dia merasa begitu nyaman dan istimewa setelah mendalami ilmu tersebut dalam artian ada perubahan yang telah di rasakannya setelah masuk islam.

Dan tak lama kemudian, Muallaf tersebut bertamu lagi ke rumah Rasululloh S.A.W. namun kali ini ada yang berbeda. Dimaan ketika nabi menyuguhkan satu gelas air susu, Muallaf tersebut langsung meminumnya dan tidak menambahnya lagi. Seraya muallaf tersebut berkata kepada baginda Nabi.

“Wahai Rasulullah cukup untukku, cukup untukku dengan segelas susu itu.” Nabi SAW mengomentari sikap pria mualaf yang telah berubah drastis dari kebiasaan jahiliyahnya dan menggantinya dengan jati diri seorang Muslim, beliau mengatakan:

الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Artinya : “Seorang mukmin cukup meminum dengan satu gelas, sedangkan orang kafir baru puas minum dengan tujuh gelas. (HR. Muslim)”

Nah dari perubahan yang telah di alami berdasarkan kisah tersebut itu bisa di jadikan sebagi pembelejaran pasti bagi kita semua, bahwa jika ada kemaun diri untuk berubah disertai dengan niat yang kuat, maka Alloh S.W.T akan membukakan pintu dan jalan untuk bisa meraihnya.

Begitu pula dengan datangnya hari raya kemenangan idul fitri ini, sebagai momen paling tepat untuk bisa kita merubah diri dengan membukakan hati, meraih kesempurnaan dan menyambutnya lewat aktiafitas dan amalan-amalan yang telah di anjurkan, maka pintu maaf dan saling bermaafan itu akan mudah di raih.

Dan ingatlah sebagaimana yang telah dii firmankan oleh Alloh S.W.T tentang peringatan bagi orang-orang yang terjerembab dalam kemauan hawa nafsu yang menyesatkan, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Ahqaf: 20.

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

Artinya : “Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik”.

Allahu Akbar, wa lillahil hamd
Kembali pada fitrah dan pemaknaan kembali pada hakikat suci diri. kita semua bisa memaknai dan mendapatkannnya melaui pendewasaan diri dan mampu mengaplikasikan pembentukan orang yang bertaqwa tersebut yang di hadirkan di hari kemenangan ini.

Hari raya idul fitri, hari suci, hari kemenangan dan hari dimana kita kembali ke fitrah seorang manusia yang beriman dan bertaqwa melalui pembelajaran-pemeblajaran pasti yang telah di lalui selama bulan ramadhan kemarin, seraya mengucapkan doa :

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَآئِدِيْنَ وَالْفَآئِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ

Artinya : “Wahai Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah yang memperoleh sukses dan kemenangan serta diterima amal ibadahnya oleh Allah Swt”.

Semoga kita semua bisa mengamalkan intisari khutbah idul fitri tersebut dan meraih hakikat dari pada sebuah kebahgaiaan ini yang bersandar pada kesucian yang telah di berikan oleh Alloh S.W.T melalui keberkahan dan keistimewaan di hari raya idul fitri ini. Aamiin.

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي هذَا الْعِيْدِ السَّعِيْدِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، فَمَنْ أَطَاعَهُ فََهُوَ سَعِيْدٌ وَمَنْ أَعْرَضَ وَتَوَلَّى عَنْهُ فَهُوَ فِي الضَّلاَلِ الْبَعِيْدِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللّهُمَّ أَصْلِحِ الرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.