Konsistensi Kredibilitas Santri Dalam Mengimbangi Tantangan Zaman Era Milenial Ini

Konsistensi Kredibilitas Santri Dalam Mengimbangi Tantangan Zaman Era Milenial Ini

Almunawwar.or.id – Sudah sepatutnya kita semua selaku re generasi muda islam selanjutnya untuk bisa menunjung tinggi nilai-nilai perjuangan islam yang sudah di rintis oleh para Mursalin yang di lanjutkan secara estafet oleh para Ulama dengan menjaga kesyakralan nilai pengabdian ajaran islam tersebut.

Meskipun tantangan di saat ini sangatlah nyata terutama ketika era milenal sudah merasuki sendi-sendi kehidupan di masyarakat luas saat ini. Jangan sampai tergusur oleh peradaban zaman yang menyeret pada hilangnya arus kemajuan teknologi.

Namun sudah septutnya untuk lebih bisa mengimbangi bahkan mencerna apa yang menjadi input serta mampu mengolahnya semua sumber dengan output yang jauh lebih bermanfaat bagi umat. Terlebih bagi santri dan para pelajar lainnya yang di tuntut untuk lebih peka lagi terhadap tantangan ini.

Jangan sampai nilai moral Islam yang tinggi lewat Akhlaqul karimah nya itu terkontaminasi dengan budaya-budaya luar islam, Karena dengan adanya kepekaan terhadap situasi kali ini itu justru akan menjadi sebuah daya penyeimbangan dalam menjaga kepribadian dan kemaslahatan umat.

Santri pun demikian. Dari zaman ke zaman harus mampu ikut andil dalam perkembangan zaman. Santri merupakan penopang bangsa yang perannya tidak dapat dilupakan begitu saja sepanjang perjalanan sejarah bangsa ini. Meskipun dalam buku sekolah tidak tercatat peran santri dulu.

Perkembangan zaman yang pesat ini tak hanya membawa dampak positif. Banyak sekali hal-hal yang buruk bahkan merusak. Salah satu akibatnya yakni dekadensi moral. Orang perlahan mulai tak peduli akan nilai kemanusiaan. Tanpa berpikir panjang orang dengan mudahnya menciderai nilai kemanusiaan. Membunuh, menyiksa, melakukan kekarasan, memperkosa serta melakukan kegiatan amoral lainnya.

Hal ini diperparah dengan penguasa yang lalai tugasnya. Tanpa rasa malu mereka merampas hak rakyatnya. Melakukan korupsi besar-besaran tanpa peduli di daerah-daerah rakyatnya menderita. Naasnya, korupsi ini terjadi tidak hanya dikalangan pemerintah pusat saja, akan tetapi sudah mengakar sampai di tingkat pedesaan. Sungguh riskan, mengingat mereka bukanlah orang sembarangan. Bukan orang-orang awam dan jalanan yang tak mengenyam pendidikan tinggi.

Untuk itu sangatlah di butuhkan peran santri sebagai garda terdepan untuk lebih mengedepankan sekaligus memberikan pengarahan dan pengertian bagi sisi manfaat orang banyak, khususnya menunjukan kredibiltas santri sebagai penerus perjuangan Islam yang hakiki.

Peran santri di era globalisasi
Santri merupakan sebutan bagi orang yang belajar ilmu agama. Dalam percaturan nasional, santri kerap dipandang sebelah mata. Mereka dipandang sebagai kaum kolot. Amat tertinggal akan ilmu pengetahuan. Santri identik dengan tradisional. Hanya sibuk mengurusi urusan agama saja.

Penulis sendiri mempunyai teman yang diremehkan tetangganya karena memutuskan mondok. Tetangganya beranggapan mondok tidak menjanjikan apapun bagi masa depan. Tentu saja anggapan seperti itu tidak benar. Santri tidak hanya mereka yang sibuk di pesantren dengan urusan ilmu agama saja.

Beberapa hari lalu media nasional digemparkan oleh para santri dari pondok pesantren Blitar dan Mojokerto Jawa Timur. Mereka berhasil memenangkan kontes robotik di Jepang. Bukan hanya itu, sebelumnya Malik Khidir santri yang kebetulan kuliah di Fakultas MIPA UGM juga berhasil menjadi juara pertama kejuaran robotik di Amerika Serikat. Masihkah beranggapan santri tidak melek teknologi atau kolot?

Keberhasilan santri berprestasi di atas harusnya menjadi pelecut semangat sekaligus kebanggaan bagi para santri nusantara lainnya. Tetap optimistis menjawab tantangan zaman. Pantang menyerah untuk terus belajar dan belajar. Karena entitas santri sendiri adalah orang yang belajar. Tidak ada kata mantan bagi kata santri

Yang ada sekali santri ia melekat seumur hidup bagi penyandangnya. Indonesia sangat memerlukan peran santri. Dalam sejarah negeri ini, santri mempunyai andil yang amat besar. Menjadi pahlawan yang gigih memerangi penjajah yang mencoba merebut tanah air.

Nabi pernah bersabda, Tholabul ilmi faridhoton ‘ala muslimin wa muslimatin. Mencari ilmu wajib hukumnya bagi orang muslim laki-laki maupun perempuan.

Berdasarkan hadis di atas sudah, saatnya para santri bangkit. Menjadi agent of change (agen perubahan). Tidak hanya belajar ilmu agama saja. Tetapi juga ilmu umum. Ini sesuai hadis nabi. Karena kata ‘ilmu tidak diperinci. Bisa saja ilmu agama atau umum. Karena ilmu umum maupun agama sama-sama ilmunya Allah SWT.

Menghadapi tantangan zaman yang kian mengglobal. Di semua lini kehidupan, mulai dari ekonomi, politik, sosial dan budaya. Santri harus mampu menjadi subyek dalam berbagai bidang kehidupan. Mengamalkan ilmu yang ia peroleh dari pesantren. Tidak harus menjadi kiai. Melainkan biasa pejabat, birokrat, insinyur, direktur, pengusaha, dokter, seniman hingga tenaga pendidik bahkan pedagang dan petani serta lainnya.

Santri agen penyelamat ideologi bangsa
Akhir-akhir ini muncul gerakan trans nasional. Mereka membawa ideologi yang tak sesuai dengan realita sosial negeri ini. Tanpa segan atas nama agama mereka melakukan kekerasan. Mencoba mengubah ideologi yang sudah ada dengan ideologi ekstrim tertentu. Salah satunya islam. Mereka ini tidak hanya merongrong NKRI tapi juga merusak citra islam sendiri.

Melakukan perbuatan radikal demi menegakkan perintah agama. Tak segan-segan membunuh orang yang ideologinya berbeda dengan mereka. Justru ini sangat kontras dengan ajaran islam yang sangat anti dengan kekerasan. Islam merupakan agama yang ramah. Ia ajaran yang menjadi rahmat bagi alam.

Santri tak bisa menutup mata terhadap realita ini. Santri lahir dari bumi nuasantara. Untuk itu santri harus menghadang gerakan radikalisme tersebut. Melakukan gerakan-gerakan untuk menangkal gerakan radikal. Karena bagi santri Indonesia merupakan rumah bersama. Meskipun bukan negara islam. Ideologi pancasila sudah sejak dulu diterima. Sebab mampu mempersatukan kemajemukan penduduk Indonesia.

Para santri terdahulu sudah menerima Indonesia sebagai negara. KH. Hasim As’ari pendiri NU dan ulama lainnya sudah menyepakatinya. Hal ini berarti ada integrasi antara agama dan budaya. Oleh sebab itu sudah kewajiban para santri untuk mengawal dan menjaga NKRI dengan ke-binekaan tunggal ika-nya dari kelompok-kelompok yang menamakan diri mereka islam tapi justru mencoba menghancurkan Indonesia.

Menurut istilah yang populer di NU, al-muhafadhah ala al-qadim al-shalih wal akhdzu bi al-jadid al-ashlah. Artinya, menjaga warisan lama yang baik dan mengambil baru yang lebih baik.

Sesuai dengan ungkapan di atas, islam di Indonesia merupakan islam yang khas. Ia berbeda dengan islam negara manapun termasuk timur tengah. Islam yang tumbuh di negara yang bukan islam. Berdialektika dengan kebudayaan lokal. Yang terdiri dari berbagai agama, suku, ras dan etnis.

Hidup dengan tradisi tradisional. Semua hidup berdampingan di rumah yang bernama Indonesia. Demikian pun santri. Ia yang lahir dari bumi pertiwi tak bisa dipisahkan dengan islam di Indonesia membawa benih benih islam yang dibawa nabi. Islam rahmatan lil alamin.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id