Lebih Jauh Mengenal Istilah Wali Abdal Dan Fase Sejarahnya

Lebih Jauh Mengenal Istilah Wali Abdal Dan Fase Tingkatan Sejarahnya

Almunawwar.or.id – Patut kiranya bagi kita semua selaku kaum awwam untuk lebih mengenal sosok seorang manusia yang shalih akan keta’atannya kepada Alloh S.W.T dan juga Rasulnya. Karena memang dengan keshailihan dan kewaroannya tersebut mereka dikenal dengan sebutan wali abdal atau orang yang menjadi pengganti.

Dinamakan demikian karena memang sejarah menyebutkan bahwa terdapat wali-wali ataupun orang shalih dalam hal ini Ulama besar yang sejak dan jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Adapun jumlah daripada Wali Abdal sebanyak tujuh orang dan semuanya itu menguasai ketujuh iklim.

Bahkan salah satu pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu ‘Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah. Pada tahun 586 di Spanyol, Muhyiddin ibnu ‘Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani.

Sahabat Muhyiddin ibnu ‘Arabi yang bernama Abdul Majid bin Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Muâ’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

Meskipun menurut keterangan menyebutkan bahwa tiada orang yang bisa mengetahui seseorang itu menjadi seorang wali abdal melainkan oleh wali abdal itu sendiri. Akan tetapi jejak dan tarikh singkat tadi setidaknya menjadi bukti kuat dan nyata bahwa di dunia ini ada yang disebut dengan wali abdal bahkan sampai dengan saat ini.

Sebagaimana yang diterangkan dalam kitab sirojut tholibin juz 1 hal 17 yang menyebutkan bahwa, terdapat tiga ciri atau tanda-tanda yang terdapat pada seorang wali abdal, berikut redaksi keterangannya.

وقيل علامة الولى ثلاثة شغله بالله تعالى وفراره الى الله تعالى وهمه الى الله عز وجل

Artinya: “Dikatakan bahwa tanda2 wali itu ada tiga yang pertama selalu sibuk dengan ALLOH yang kedua lari menuju pada ALLOH dan yang ketiga tujuannya hanya pada ALLOH semata.

Artinya ketigaciri daripada identitas tersebut memang sangat sulit untuk diketahuinya karena hal tersebut berhubungan dengan bathiniyah seseorang. Bahkan menurut seorang Ulama yang bernama Syeh abul abbas ra. berkata mengenali seorang wali itu lebih sulit dari pada mengenali ALLOH karena ALLOH itu bisa dikenali dengan sifat2nya yang sampurna dan indah,sedangkan para wali bisa engkau jumpai kapan saja atau dimana saja,berupa mahluk yang sama seperti keadaanmu,ia makan dan minum seperti halnya dirimu. Redaksiya sebagai berikut:

قال الشيخ ابو العباس رضى الله تعالي عنه معرفة الولى اصعب من معرفة الله فان الله معروف بكماله وجماله وحتى ومتى تعرف مخلوقا فتلك يأكل كما تأكل ويشرب كما تشرب

Akan tetapi apabila merujuk pada keterangan yang termaktub di dalam kitab Sirojut Tholibin juz 1 hal 262 yang redaksinya sebagai berikut:

قال بعضهم علامة الابدال ان لا يولد لهم

Artinya: “Sebagian ulama’ berkata, ciri-ciri wali abdal itu tidak mempunyai anak”.

وقال احمد ان لم يكونوا اصحاب الحديث فمن هم

Artinya: “Imam ahmad berkata wali-wali abdal siapa lagi kalau bukan ahli hadis?

Adapun fase ataupun tingkatan dari garis perjalanan wali abdal seiring dengan perjalanan hidup dan kehidupan manusia dari ada dan ditemukannya wali abdal sampai dengan sekarang ini adalah Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut:

1. Wali Quthub al-Aqthab atau Wali Quthub al-GhautsWali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.

2. Wali AimmahPembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bergelar Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bergelar Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.

3. Wali Autad Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kaabah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Hayyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdul Murid.

4. Wali Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab al-Futuhatul Makkiyyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu (Muhyiddin ibnu ‘Arabi) mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.

Pada tahun 586 di Spanyol, Muhyiddin ibnu ‘Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Sahabat Muhyiddin ibnu ‘Arabi yang bernama Abdul Majid bin Salamah mengaku pernah juga bertemu Wali Abdal bernama Muâ’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.

5. Wali Nuqobaa Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqobaa melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.

6. Wali Nujabaa Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.

7. Wali Hawariyyun Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair ibnu Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.

8. Wali Rajabiyyun Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang.

Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang.

Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.

9. Wali Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd saw.Jumlah para Auliya yang berada dalam manzilah-manzilah ada 356 sosok, yang mereka itu ada dalam kalbu Adam, Nuh, Ibrahim, Jibril, Mikail, dan Israfil. Dan ada 300, 40, 7, 5, 3 dan 1. Sehingga jumlah kerseluruhan 356 tokoh. Hal ini menurut kalangan Sufi karena adanya hadits yang menyebut demikian.

Sedangkan menurut Syaikh al-Akbar Muhyiddin ibnu ‘Arabi (menurut beliau muncul dari mukasyafah) maka jumlah keseluruhan Auliya yang telah disebut diatas, sampai berjumlah 589 orang. Diantara mereka ada satu orang yang tidak mesti muncul setiap zaman, yang disebut sebagai al-Khatamul Muhammadi, sedangkan yang lain senantiasa ada di setiap zaman tidak berkurang dan tidak bertambah.

Al-Khatamul Muhammadi pada zaman ini (zaman Muhyiddin ibnu ‘Arabi), kami telah melihatnya dan mengenalnya (semoga Allah menyempurnakan kebahagiaannya), saya tahu ia ada di Fes (Marokko) tahun 595 H. Sementara yang disepakati kalangan Sufi, ada 6 lapisan para Auliya, yaitu para Wali: Ummahat, Aqthab, A’immah, Autad, Abdal, Nuqaba dan Nujaba.

Walhasil sebenarnya wali itu rahasia yang memang sengaja dirahasiakan Alloh S.W.T yang sangat khusus diberikan kepada orang-orang pilihan sesuai dengan kehendaknya, sebagaimana yang diterangkan dalam syarah hikam juz 2 hal 3, yang redaksinya sebagai berikut:

كيف تعرف اولياء الله تعالى فقال ان الله تعالى لا يعرفهم الا لاشكالهم او من اراد ان ينفعه بهم ولو اظهرهم حتى يعرفهم الناس لكانوا حجة عليهم ومن خالفهم بعد علمه بهم كفر ومن قعد لهم حرج ولكن الله تعالى جعل اختياره تغطية امورهم رحمة منهم لخلقه ورأفة

Artinya: “Bagaimana para wali itu dikenal maka menjawab, “Sesungguhnya Alloh S.W.T tidak akan memberi tahukan keadaan mereka kecuali kepada sesama mereka atau kepada orang-orang yang dikehendaki Alloh S.W.T untuk memetik manfaat darinya, seandainya Alloh S.W.T memperlihatkannya, sehingga manusia mengenalinya niscaya ia akan menjadi bukti atas kesalahan manusia kelak di hari kiamat dan orang-orang yang mengingkarinya niscaya akan kufur, begitu juga orang-orang yang tidak menghiraukannya niscaya akan berdosa Alloh S.W.T merahasiakannya semata-mata hanya kasihan kepada mahluk-mahlukNYA.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id