Lebih Jauh Mengenal Nilai-Nilai Aswaja Dalam Dunia Islam

Lebih Jauh Mengenal Nilai-Nilai Aswaja Dalam Dunia Islam

Almunawwar.or.id – Pada pengembangan dan penerapannya Aswaja atau Ahlu Sunnah Wal Jama’ah itu di anggap oleh keumuman umat sebagai salah satu paham keagamaan yang telah diberikan keselamatan dan keistimewaan dari Baginda Rasululloh S.A.W.

Bahkan Ahlu Sunnah Wal Jama’ah pun sering di konotasikan sebagai madzhab ataupun aliran keagamaan yang berkonsep pada tiga tharikat ataupun perjalanan, diantaranya aqidah, syari’ah dan tasawuf dengan mengedepankan konsep kemoderatan daripada ketiga tharikat tersebut.

Hal ini bisa terlihat dari adanya keseimbangan dari nilai-nilai kulturisasi Ahlu Sunnah Wal jama’ah itu sendiri, dengan salah satu ciri intrinsik dalam paham ini yaitu sebagai identitas pada keseimbangan dari dalil naqliyah yaitu dalil yang bersumber pada Alquran dan Alhadits dan dalil ‘Aqliyah.

Dalam penjelasan perjalanan mengenai karakteristik dan ciri Ahlu Sunnah Wal Jama’ah yang merupakan satu-satunya golongan yang telah di jamin keselamatannya itu tertuju pada penerapann konsep dari ketiga metode pemahaman ajaran seperti yang tadi di bahas.

Sehingga secara fleksibilitas Aswaja ini juga tampak diperlihatkan pada penerapan dalam konsep beribadah. Dimana konsep ibadah menurut Aswaja ini, baik yang dilakukan secara individual maupun sosial itu tidak semuanya bersifat muqayadah atau terikat oleh syarat dan rukun serta ketentuan lain.

Tetapi ada dan bahkan lebih banyak yang bersifat bebas (mutlaqah) tanpa ketentuan-ketentuan yang mengikat. Sehingga teknik pelaksanaannya dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi perkembangan masyarakat yang selalu berubah seperti yang dikembangkan oleh ‘Ulama-ulama pada saat ini.

Dan dari pelaksanaannya itulah maka lahirlah Fatwa hukum Ulama yang disebut dengan Ijma yang artinya kemufakatan Ulama dalam memutuskan sebuah hukum. Dan juga lahirlah Qiyas yang merupakan hasil ijtihad Ulama yang disesuaikan dengan tingkat kemaslahatan Ummat.

Sebab secara Ekstremitas penggunaan rasio tanpa terikat pada pertimbangan naqliyah, tidak dikenal dalam paham ini. Akan tetapi ia juga tidak secara apriori menggunakan norma naqliyah tanpa interpretasi rasional dan kontekstual, atas dasar kemaslahatan atau kemafsadahan yang dipertimbangkan secara matang.

Maka timbullah keseimbangan antara pelaksanaan Hakikat dan Syari’at yang di amalkan sesuai dengan tharikatnya. Dan makna inilah yang menjadi kredibilitas dan nilai-nilai Aswaja yang sesungguhnya.

Bahkan menurut Imam Ghazali mengatakan bahwa mereka (Ahlu sunnah Wal Jama’ah) itu mempunyai ciri faqih fi mashalih al-khalqi fi al-dunya. Artinya mereka faham benar dan peka terhadap kemaslahatan makhluk di dunia.

Sehingga pada gilirannya mereka mampu mengambil kebijakan dan bersikap dalam lingkup kemaslahatan. Dan karena kemaslahatan itu sering berubah, maka sikap dan kebijakan itu menjadi zamani (kontekstual) dan fleksibel.

Dari penerapan dan penjelasan ini maka lahir dan tumbuhlah Aswaja yang meyakini hidup dan kehidupan manusia sebagai takdir Allah. Takdir dalam arti ukuran-ukuran yang telah ditetapkan, Allah meletakkan hidup dan kehidupan manusia dalam suatu proses.

Yang terukur dari suatu rentetan keberadaan, suatu urutan kejadian, dan tahapan-tahapan kesempatan yang di berikan-Nya kepada manusia untuk berikhtiar melestarikan dan memberi makna bagi kehidupan masing-masing. Yang kemudian timbullah makna keseimbangan dalam peribadahan.

Sebab secara konteks aktualisasi Islam Aswaja ini mempunyai konsep dasar pada pendekatan masalah-masalah sosial dan pemecahan legitimasinya secara Islami yang tertuangkan pada penerapan di kehidupan sehari-hari.

Sehingga pada gilirannya Islam Aswaja menjadi sebuah komponen yang mernbentuk dan mengisi kehidupan masyarakat, bukan malah menjadi faktor tandingan yang disintegratif terhadap kehidupan dan norma-norma manusia pada umumnya.

Sebagaimana yang terlihat dari beberapa natijah ataupun intisari pentingnya aktulisasi Aswaja yang diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Atau sebagai tharikat ataupun perjalanan untuk meraih dan mewujudkan kebahagiaan yang abadi dan di maksud juga di tuju oleh umat Islam.

1. Cara pandang terhadap nilai Duniawi dan Ukrowi
Islam Aswaja merupakan jalan hidup yang menyeluruh, menyangkut segala aspek kehidupan manusia sebagai makhluk individual mau pun sosial dalam berbagai komunitas bermasyarakat dan berbangsa.

Aktualisasi Islam Aswaja berarti konsep pendekatan masalah-masalah sosial dan pemecahan legitimasinya secara Islami, yang pada gilirannya Islam Aswaja menjadi sebuah komponen yang membentuk dan mengisi kehidupan masyarakat, bukan malah menjadi faktor tandingan yang disintegratif terhadap kehidupan.

Ini berarti bahwa ia tidak hanya mengejar kemajuan lahiriah (sandang, pangan, papan) semata, atau (sebaliknya) hanya membangun kepuasan batiniah saja, melainkan keselarasan, keserasian dan keseimbangan antara keduanya.

2. Pandangan terhadap pembentukan nilai-nilai jiwa sosial yang tinggi
Salah satunya dengan mengedepankan kematangan konsep dalam menstarakan hasil akhir dari pelaksanaan hal yang bernilai ibadah seperti dengan pembangunan individual terhadap perkembangan dan kebutuhan hidup.

Seperti yang tertuang pada konteks pembangunan nasional, perbincangan mengenai aktualisasi Aswaja ini seolah menjadi relevan, justru karena arah pelaksaan pembangunan tidak lepas dari upaya membangunan manusia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia secara hakiki.

Yang kebanyakan umat itu mengidentifikasikan pembangunan dengan pertumbuhan ekonomi itu dengan berdirinya industri-industri raksasa yang memakai teknologi tinggi semata, cenderung mengabaikan keterlibatan Islam dalam proses pembangunan.

Namun pada gilirannya sikap itu menumbuhkan perilaku individualistis dan materialistis yang sangat bertentangan dengan falsafah bangsa kita. Nah dengan hadirnya konsep Aswaja ini, maka hal tersebut bisa lebih di indahkan lagi dengan pemaknaan Aswaja itu sendiri dalam kehidupan sehari-hari.

3. Merubah nilai-nilai tradisional digeser oleh nilai-nilai baru yang serba ekonomis
Hal ini bisa terlihat daripada pertimbangan pertama dalam aktivitas manusia yang diletakkan pada “untung-rugi” secara materiil. Meskipun ini sudah menjadi norma sosial dalam struktur masyarakat produk pembangunan.

Namun perbenturan tersebut bisa secara verangsur lebih bernilai dan bermakna dengan adanya keseimbangan antara etos ikhtiar dan etos tawakal tanpa mengabaikan keseimbangan antara keduanya. Sehingga lahirlah titik-titik sentral pada nilai kejiwaan seorang Aswaja.

Sehingga penting sekali kiranya apabila konsep pembangunan manusia seutuhnya itu yang menuntut keseimbangan lebih terjaga dengan pasti sesuai dengan kaidahnya, agar tidak dapat menjadi gangguan yang mengakibatkan akibat perbenturan nilai itu.

4. Memahami antara dua fungsi hidup
Terlebih lagi jika keadaan seperti yang telah disebutkan tadi yang sangat menuntut sekali bagi setiap umat untuk lebih bisa memilih secara selektif dua fungsi kehidupan ini yaitu badatullah yang kedua ‘imaratu al-ardl. Dimana keduanya merupakan dua fungsi yang dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan.

Dalam konteks ini, Aswaja juga harus mampu mendorong pengikutnya dan umat pada umumnya agar mampu bergaul dengan sesamanya dan alam sekitarnya untuk saling memanusiawikan.

Bahkan Aswaja juga harus menggugah kesadaran umat terhadap ketidakberdayaan, keterbelakangan serta kelemahan mereka yang merupakan akibat dari suatu keadaan dan peristiwa kemanusiaan yang dibuat atau dibentuk oleh manusia yang sudah barang tentu dapat diatasi oleh manusia pula.

5. Menumbuhkan kesadaran diri dalam konteks kehidupan
Tujuannya adalah agar mereka para Umat tidak mudah kehilangan nilai-nilai Islami yang seyogyanya itu merupakan filter dalam penerapan norma-norma agama.

Justru malah potensi ajaran Islam Aswaja dikembangkan secara aplikatif ke dalam proses pengembangan masyarakat. Pada gilirannya pembangunan manusia seutuhnya akan dapat dicapai melalui ajaran Islam Aswaja yang kontekstual di tengah-tengah keragaman komunitas nasional.

Sehingga lahirlah kematangan dalam berbuat yang berdasarkan pada keterangan dari sumber-sumber hukum yang jelas. Dan tentunya pula tanpa mengurangi kultur dari nila-nilai agama yang sesungguhnya.

Itualh sebabnya mengapa konsep aktualisasi nilai-nlai Aswaja ini penting sekali untk diperbadayakan pada masyarakat Islam modern seperti sekarang ini. Meskipun secara keseluruhan itu masih banyak sekali cara pandang Aswaja terhadap sisi dan nilai-nilai kehidupan manusia sampai dengan saat ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.