Lima Ungkapan Hikmah Dari Seorang KH Oding Muhammad Abdul Qodir

Lima Ungkapan Hikmah Dari Seorang KH Oding Muhammad Abdul Qodir

Almunawwar.or.id – Ilmu dari seorang Ulama yang di amalkan semasa hidupnya merupakan sebuah pelita bagi masyarakat luas terutama untuk warga lokal, Sosok yang arif dan bijaksana dalam memberika sebuah petuah terpancar dari keilmuannya tersebut. Sehingga kehadirannya di tengah masyarakat sungguh sangat berarti dan berpengaruh sekali terhadap sisi penerapan akhlaq, ilmu dan amal dalam berkehidupan sehari-sehari.

Terutama yang berkaitan dengan masalah akhirat, sosok dan peran dari para Ulama itu selalu menjadi figur publik untuk senantiasa mengajak sekaligus memberikan contoh bagi umat untuk tetap istiqomah di jalan mardhotillah. Kharisma yang bersahaja tertutur dari ucapan dan amalan keseharian terpancarkan dari ilmu dan wawasan yang merupakan sebuah bekal penting dalam melaksanakan semua perintah agama sehingga terlahirlah syahsiyyah toyyibah pada individu muslim.

Dengan Ilmu para Ulama juga kita bisa mengetahui sekaligus mengamalkan apa yang seharusnya menjadi sebuah kewajiban, meskipun hal tersebut di lihat sederhana namun keberkahan yang mengalir dari pengamalan secara istiqomah tentunya akan membuat seseorang menjadi karomah (Mulia). Atas dasar pengamalan ibadah yang di barengi dengan ilmu-ilmu yang terlahir dari pemikiran para ulama untuk memberdayakan masyarakat yang madani.

Dan lahirnya syakhsiyah thoyyibah yaitu sisi kepribadian yang mampu memberikan manfaat bagi orang lain itu tidak lepas dari pola didik para Ulama terhadap muridnya dalam menerapkan ilmu amaliyah dan beramal ilmiyyah. Hingga terlahirlah ungkapan hikmah atau nasihat dari seorang Ulama yang merupakan cermin dari pengamalan dan pengalamannya untuk senantiasa bisa di jadikan uswah untuk masayarkat semua.

Seperti Lima Nasihat penting dari sosok seorang Ulama besar asal Tasikmalaya Jawa Barat yaitu KH Oding Muhammad Abdul Qodir, Beliau merupakan sesepuh Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia dilahirkan dari pasangan Ahmid dan Encum di Tasikmalaya pada tanggal 8 Agustus 1942. Banyak ilmu yang bermanfaat dari beliau yang bisa di jadikan bekal bagi masyarakat sekitarnya.

Amaliah yang selalu dibiasakan oleh Engkang adalah shalat awal waktu dan khatam Qur’an dalam seminggu sebanyak dua hingga tiga kali. Beberapa ungkapan hikmah dan nasihatnya adalah
1. Rek di mana wae gaul, ulah jauh jeng masjid (Di mana saja bergaul, jangan jauh dari masjid)
2. Sing gede pangampura ka jalma anu bodo (Berbesar maaflah kepada orang yang bodoh)
3. Tong cape mikiran urusan dunia (Jangan lelah memikirkan urusan duniawi)
4. Sing jaradi ahli kahadean naon bae anu mampu (Jadilah ahli kebaikan apa saja yang mampu)
5. Saalitken carios, seerken damel (Sedikitkanlah berbicara, perbanyaklah kerja).

Biografi Singkat KH Oding Muhammad Abdul Qodir
KH Oding menuntut ilmu agama di beberapa pondok pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Al Ihsan, Pesantren Al-Ihsan Ashorfiyah Ciharashas Tasikmalaya, Pondok Pesantren Bantar Gedang, Pondok Pesantren Cihaji, Pondok Pesantren Sadang Garut, Pondok Pesantren Darul Qur’an Cianjur. Semasa hidupnya Engkang aktif berorganisasi, di antaranya di Gerakan Pemuda (GP) Anshor, di Kecamatan Tamansari sebagai Ketua Pendidikan dan di MUI Mulyasari sebagai ketua.

Pada tahun Tanggal 8 Agustus 1970, Engkang menikah dengan Epon Muhlisatul Anwariyah, yang kemudian mempunyai tujuh anak. Ketujuh putra-putrinya Ai Nuraisyah (almarhum), Ade Ida Nurfarida, Rosyad Nurdin, Iip Nafisah, Ujang Alawil Hadad Abdussalam, Ali Maemuham (Almarhum), dan Cucu Mahmudah. Engkang juga mempunyai peran dan andil yang besar baik di Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum maupun di masyarakat.

Di Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum, selain sebagai sesepuh, ia juga yang sekaligus sebagai Dewan Kiai Pengajar. Adapun di masyarakat, selama 48 tahun menjadi Ketua DKM. Selain itu ia juga menjadi Kepala Madrasah Diniyah selama 23 tahun. Peranannya dalam bermasyarakat selama hidupnya selalu diabdikan untuk keumatan. Tidak hanya di lingkugan masyarakat Desa Mulyasari yang menjadi tempat tinggalnya, melainkan juga ke lingkungan masyarakat sekitar, seperti Desa Babakan Jati, Ciburuyan, Salamitan, Sumur Haur, Bojong Herang, Sumur Dago dan Sukasirna.

Engkang wafat pada hari Jumat 7 Desember 2018 pukul 19:05 WIB pada usia 78 tahun di Rumah Sakit Jasa Kartini Tasikmalaya. Berita kewafatannya yang tersebar di grup Whatsapp Info Muqimin Muqimat MU yang menjadi media interaksi dan informasi bagi para alumnus Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya. Berita tersebut mengundang kesedihan yang mendalam bagi para murid, keluarga dan masyarakat yang mengenalnya. Mereka berdoa, KH Oding Muhammad Abdul Qodir wafat dalam keadaan khusnul khatimah, diampuni semua dosanya, dan diterima amal ibadahnya. Alfatihah.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
nu.or.id
almunawwar.or.id