Makalah Penting Seputar Kajian Tentang Haid Nifas Dan Istihadhah Secara Lengkap

Makalah Penting Seputar Kajian Tentang Penerangan Haid Dan Nifas

Almunawwar.or.id – Permasalahan yang secara khusus ada dan di tentukan bagi setiap wanita seperti haid dan nifas ini adalah hal yang mesti diketahui secara pasti dan detail, karena ini akan mempengaruhi terhadap boleh ataupun tidak bolehnya dalam melaksanakan amalan ibadah tersebut.

Apalagi proses dari adanya haid dan nifas ini kebanyakan para wanita kurang memahami betul secara detail apakah yang di maksud dengan keduanya. Sebab pada dasarnya keluar darah haid dan nifas itu berbeda-beda waktu dan masa sucinya. Sehingga memahami hal yang berkaitan akan keduanya itu sangatlah penting.

Begitu juga dengan masalah seputar yang masih bersangkutan dengan haid dan nifas yaitu darah istihadhoh (darah penyakit), Dimana mengetahui, memahami dan mengerti apa yang di maksud dengan darah tersebut adalah bagian penting yang patut di pelajari lebih lanjut oleh semua orang terlebih bagi para wanita.

Mengapa dikatakan demikian? Karena secara khusus permasalahan tadi itu sangat berpengaruh sekali terhadap boleh dan tidak bolehnya, atau syah dan tidak syahnya seorang wanita dalam melaksanakan kewajibannya seperti sholat, puasa dan amalan wajib lainnya.

Sehingga dari kapasitas pengetahuan dan pengertian akan pentingnya ketidak masalah yang secara khusus merupakan ketentuan bagi seorang wanita itu merupakan dasar dan awal ketika seorang wanita ingin melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajibannya.

Selain itu juga permasalahan seperti ini adalah hal yang mutlaq untuk diketahui dan di fahami secara mendasar dan mendalam oleh setiap orang terutama bagi wanita itu sendiri. Sebagaimana yang telah banyak dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih tentang seputar masalah kewanitaan. Berikut penjelasannya.

Dalil tentang Haid dan Nifas

Allah Ta’ala berfirman:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ

Artinya :“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran (najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya (kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Hadits Nabi S.A.W :

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ أَوْ أَتَى امْرَأَةً حَائِضًا أَوْ أَتَى امْرَأَةً فِي دُبُرِهَا فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ

Artinya : “Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mendatangi seorang dukun kemudian membenarkan apa yang dia katakan, atau mendatangi seorang wanita yang sedang haid, atau mendatangi (jima’ dengan) wanita lewat duburnya, maka dia telah berlepas diri dari apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.” (HR. Abu Daud no. 3405 dan sanadnya dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no. 1294)

كَانَتْ إِحْدَانَا إِذَا كَانَتْ حَائِضًا فَأَرَادَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُبَاشِرَهَا أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ فِي فَوْرِ حَيْضَتِهَا ثُمَّ يُبَاشِرُهَا. قَالَتْ: وَأَيُّكُمْ يَمْلِكُ إِرْبَهُ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْلِكُ إِرْبَهُ

Artinya : Dari Aisyah –radhiallahu anha– dia berkata: “Jika salah seorang dari kami (istri-istri Nabi) sedang mengalami haid dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkeinginan untuk bermesraan dengannya, maka beliau menyuruhnya untuk mengenakan sarung guna menutupi tempat keluarnya darah haid (kemaluan), lalu beliau pun mencumbuinya.” Aisyah berkata, “Hanya saja, siapakah di antara kalian yang mampu menahan hasratnya sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menahan.” (HR. Al-Bukhari no. 302)

بَيْنَمَا أَنَا مُضْطَجِعَةٌ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْخَمِيلَةِ إِذْ حِضْتُ, فَانْسَلَلْتُ فَأَخَذْتُ ثِيَابَ حِيضَتِي. فَقَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَنَفِسْتِ؟ قُلْتُ: نَعَمْ. فَدَعَانِي فَاضْطَجَعْتُ مَعَهُ فِي الْخَمِيلَةِ

Artinya : Dari Ummu Salamah –radhiallahu anha– dia berkata:“Ketika aku berbaring bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid, lantas aku keluar secara perlahan-lahan untuk mengambil pakaian khusus untuk masa haid. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, “Apakah kamu sedang nifas (haid)?” Aku menjawab, “Ya.” Lalu beliau memanggilku, lalu aku berbaring lagi bersama beliau dalam satu selimut.” (HR. Al-Bukhari no. 298 dan Muslim no. 444)

Definisi Haid
Haid adalah darah yang keluar dari rahim secara berkala melalui vagina – bukan setelah melahirkan– pada usia subur (9 tahun lebih).

Hukum Mempelajari Haid
Setiap wanita wajib mempelajari haid dan hal-hal yang terkait. Bahkan sang suami tidak boleh melarang istrinya keluar rumah untuk belajar tentang hukum-hukum haid kecuali bila ia sanggup mengajar sendiri istrinya.

Usia Haid
Wanita dapat mengalami haid minimal sejak usia 9 tahun kurang 16 hari dengan hitungan kalender Hijriyah. Wanita yang mengalami pendarahan beberapa hari sebelum usia minimal haid. Dan memanjang hingga memasuki usia minimal haid. Maka yang dihukumi haid hanya darah yang masuk pada usia minimal haid. Misalnya jika mengalami pendarahan 10 hari pada usia 9 tahun kurang 20 hari. Maka 4 hari pertama dari darahnya tidak dihukumi haid. Dan 6 hari berikutnya dihukumi haid. Pendarahan yang terjadi pada masa monopouse dihukumi haid (bila tidak kurang dari 24 jam).

Masa Haid
Minimal masa haid adalah 24 jam jika darahnya keluar terus. Maksimalnya 15 hari 15 malam (360 jam) walaupun darahnya putus-putus, namun bila dijumlah darahnya mencapai 24 jam atau lebih.

Contoh wanita yang pada tanggal 1 mengalami pendarahan 2 jam dan bersih 72 jam (3 hari). Kemudian mengalami pendarahan lagi 20 jam lalu bersih 10 hari. Selanjutnya keluar darah lagi 2 jam. Maka semua darahnya dihukumi haid. Karena jika dijumlah mencapai 24 jam dalam kurun waktu 15 hari.

Ulama berbeda pendapat mengenai masa bersih di sela-sela haid. Ada yang menghukumi haid, ada pula yang menghukumi suci. Oleh karena itu wanita yang haidnya putus-putus, setiap darahnya berhenti wajib bersesuci dan shalat (bila mengikuti pendapat yang kedua).

Semisal ada orang mengalami haid 2 hari lalu bersih. Ia mengira dirinya sudah suci. Kemudian melaksanakan puasa. Selang 10 hari kemudian ternyata keluar darah lagi 2 hari. Maka semua darahnya dihukumi haid. Sedangkan puasa yang ia lakukan di masa bersih, bila mengikuti pendapat yang kedua, hukumnya sah. Namun bila mengikuti pendapat yang pertama (haid) ia wajib mengulangi lagi puasanya, sebab tidak sah.

Wanita yang kebiasaan haidnya 9 hari, lalu pada suatu saat mengalami pendarahan dua hari, dan bersih. Jika ada kemungkinan darahnya akan keluar lagi, ia boleh menunggu (tidak shalat) hingga hari ke 9. Namun jika ternyata darahnya tidak kembali lagi, ia harus mengqadha’ shalatnya .

Wanita yang mengalami haid dapat mengetahui bahwa darahnya bersih dengan cara memasukkan segumpal kapas ke dalam vagina. Bila pada kapas tersebut ada bercak (sekalipun hanya cairan keruh) berarti belum bersih / suci. Meskipun cairan tersebut tidak sampai mengalir ke vagina bagian luar (bagian yang tampak ketika sedang jongkok buang air) .

Banyak mereka yang salah paham dan menganggap cairan keruh keputihan bukan haid. Padahal kenyataannya empat mazhab menjelaskan yang sedemikian itu disebut haid .

Kesalahpahaman ini berakibat fatal. Sebab sebagian besar wanita mengalami pendarahan haid seperti berikut. Mula-mula keluar cairan keruh keputihan. Dan itu berlangsung hingga 2 hari (misalnya). Lalu keluar merah 4 hari. Kemudian keluar cairan keruh lagi 2 hari. Maka haidnya 8 hari.

Sementara ada anggapan bahwa yang dihukumi haid hanya darah merah (yang 4 hari) saja. Sedangkan yang keruh dihukumi suci. Jadi pada saat merahnya berganti keruh, ia pun mandi. Kenyataannya ia masih dalam keadaan haid. Maka mandinya tidak sah. Kelak ketika haidnya benar-benar telah suci dengan bersihnya cairan keruh, ia berkewajiban shalat. Dan shalatnya tidak akan pernah sah kecuali ia melakukan mandi hadats.

Setiap wanita haid wajib melihat keadaan darahnya ketika hendak tidur dan setiap menjelang akhir waktu shalat. Untuk mengetahui shalat yang wajib dilaksanakan bila darahnya berhenti (dan tidak kembali lagi).

Namun menurut mazhab Maliki walaupun darahnya akan kembali lagi tetap wajib shalat. Sebab mazhab Maliki sepakat bahwa masa bersih di sela-sela haid dihukumi suci.

Wanita yang mengeluarkan darah putus-putus selama 15 hari 15 malam tetapi setelah dijumlahkan masa keluarnya tidak sampai 24 jam, tidak dihukumi haid. Dalam masalah ini imam Abil Abbas dari kalangan Syafi’iyah menghukuminya haid (beserta masa bersih di sela2nya).

Wanita hamil yang mengalami pendarahan, menurut mazhab Syafii dan Maliki disebut haid. Namun menurut Hanafi dan Hambali bukan haid .

Definisi Nifas
Nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan, meskipun yang dilahirkan hanya berupa ‘alaqah (gumpalan darah) atau mudghah (gumpalan daging). Atau yang dikenal dengan keguguran. Walaupun plasentanya (ari-ari, jw) masih tertinggal di dalam rahim.

Masa Nifas
Waktu nifas minimal satu tetes atau sebentar. Maksimalnya 60 hari 60 malam, terhitung sejak dari keluarnya seluruh tubuh janin atau gumpalan daging.

Hitungan nifas dimulai sejak usai melahirkan, bukan sejak keluarnya darah. Tetapi yang dihukumi nifas sejak keluarnya darah. Jadi wanita yang melahirkan tanggal 1 kemudian tanggal 10 baru keluar darah, maka hitungan 60 hari 60 malam dihitung sejak tanggal 1. Sedang yang dihukumi nifas sejak tanggal 10. Jadi antara tanggal 1 sampai dengan tanggal 9 dihukumi suci, dan tetap wajib melakukan shalat.

Bila jarak antara selesai melahirkan dengan keluarnya darah itu mencapai 15 hari 15 malam (360 jam), maka darah tersebut tidak dihukumi nifas. Melainkan darah haid.

Wanita yang mengalami pendarahan dengan terputus-putus sebelum 60 hari 60 malam setelah melahirkan, maka semua darahnya dihukumi nifas. Sedangkan masa bersih di sela-sela nifas hukumnya sama dengan masa bersih di sela-sela haid. Ada yang menghukumi suci, ada yang menghukumi nifas.

Tapi perlu diingat, bila putusnya mencapai 15 hari 15 malam. Maka darah setelah masa putus tersebut bukan lagi nifas melainkan haid. Dan masa putus tersebut dihukumi suci.

Pendarahan yang karena melahirkan yang terjadi sebelum atau menyertai kelahiran tidak dihukumi nifas, ataupun haid. Kecuali bila bersambung dengan pendarahan haid yang terjadi sebelumnya. Misalnya wanita yang sebelum merasakan sakit akan melahirkan sudah mengalami pendarahaan beberapa hari (lebih 24 jam) sampai dengan terasa akan melahirkan ia tetap mengalami pendarahan. Maka semua darahnya dihukumi haid.

Masa Suci
Masa suci yang memisahkan haid dengan nifas atau nifas dengan nifas tidak harus 15 hari 15 malam (360 jam). Mungkin kurang dari 15 hari 15 malam (360 jam), atau bahkan tidak ada masa suci sama sekali. Dengan kata lain, tidak sama dengan masa suci antara dua haid.

Berikut beberapa contoh:
Contoh 1
Seorang ibu melahirkan bayi kembar. Jika kelahiran pertama terjadi di pagi hari (misalnya) lalu mengalami pendarahan. Kemudian kelahiran ke dua terjadi di malam hari, disusul dengan pendarahan. Maka pendarahan setelah kelahiran pertama dihukumi nifas. Lalu setelah kelahiran kedua juga nifas yang lain. Dalam contoh ini, tidak terdapat masa suci yang memisahkan di antara dua nifas.

Contoh 2
Wanita hamil mengalami haid dan tidak putus hingga melahirkan. Kemudian mengalami pendarahan selama 10 hari. Dalam kasus ke 2 ini, darah yang keluar sebelum melahirkan dihukumi haid. Darah yang keluar setelah melahirkan dihukumi nifas. Haid dan nifasnya tidak dipisah oleh masa suci.

Contoh 3
Wanita yang mengalami nifas dan telah genap 60 hari. Darahnya mampat sebentar lalu mengeluarkan darah lagi selama dua hari. Di sini, darah yang keluar setelah bersih disebut haid. Sedangkan bersihnya darah disebut suci. Artinya, masa suci yang terjadi antara nifas dan haid hanya sebentar.

Catatan Penting:
‘Alaqah (gumpalan darah) yang keluar dari rahim wanita memiliki tiga konsekwensi hukum, yakni:
1. Darah yang keluar setelahnya dihukumi nifas.
2. Wajib mandi.
3. Membatalkan puasa.

Untuk gumpalan daging (mudghah), di samping memiliki tiga hukum di atas juga memiliki aspek hukum yang lain, yakni berakhirnya masa iddah.

Mustahadhah Nifas
Wanita yang mengalami pendarahan setelah melahirkan melebihi 60 hari terhitung sejak melahirkan, disebut mustahadhah. Ada tiga pendapat mengenai darah semacam ini:

1. Mayoritas ulama dan ini merupakan pendapat yang lebih benar (ashah) menyatakan tafsil. Sedikitnya ada 4 rincian mengenai hal ini, apakah dia bias membedakan warna darahnya (mumayyizah) atau tidak. Dan apakah pemula (mubtadiah) atau bukan (mu’tadah).
2. Nifasnya 60 hari selebihnya istihadhah
3. Nifasnya 60 hari, selebihnya haid.

Definisi Istihadloh
Yang dinamakan darah istihadloh adalah darah penyakit yang keluar dari vagina perempuan dibukan harinya haid, artinya kurang dari sehari semalam atau lebih dari lima belas hari, dan bukan diharinya nifas, artinya melewati enam puluh hari.

Perempuan yang mengeluarkan darah istihadloh dinamakan perempuan mustahadloh, yang hukumnya sama seperti orang yang beser (selalu mengeluarkan hadats), artinya masih berkewajiban melakukan sholat dan puasa boleh disetubuhi karena dlarurat, sebelum berwudlu wajib mencuci vaginanya dan jika dalam keadaan tidak berpuasa wajib bagi dia untuk menyumbat vaginanya dengan kapas atau yang lain, mengikatnya dengan kencang, dan wajib cepat-cepat melakukan sholat.

Seandainya tidak cepat-cepat sholat maka dia wajib mengulang wudlunya, selama tidak cepat-cepatnya dia sholat itu bukan karena kemaslahatan sholat seperti menutup aurat dan menanti berjama’ah. Dan wudlunya harus dilakukan setelah masuknya waktu sholat dan hanya untuk satu sholat fardlu dan boleh melakukan sholat sunnah sebanyak yang dia mau. Setiap satu fardlu, wajib bagi dia untuk memperbaharui wudlunya, mencuci vaginanya, menyumbat dan lain-lainya, sekiranya banyak terkena darah.

Pembagian Istihadloh
1. Mubtada’ah mumayyizah, artinya baru mengeluarkan darah dan dia bisa membedakan darah kuat dan darah lemah.
2. Mubtada’ah ghoiru mumayyizah, artinya baru mengeluarkan darah dan dia tidak bisa membedakan darah kuat dan lemah, namun diketahuinya darah hanya satu sifat.
3. Mu’tadah ghoiru mumayyizah, artinya sudah pernah haid dan suci serta dia mengingat pada kira-kiranya waktu haid dan suci, namun tahuya dia pada darah hanya satu sifat.
4. Mu’tadah mumayyizah, artinya sudah pernah haid dan suci, dan dia bisa membedakan darah kuat dan lemah.
5. Mutahayyiroh, artinya sudah pernah haid dan suci, dan dia lupa pada kira-kiranya haid atau waktunya haid atau lupa pada kira-kiranya dan waktunya haid.

Harap Dicatat dan dipahami
Catatan Satu
Jika yang mengeluarkan darah adalah mubtada’ah mumayyizah, maka darah yang dihitung sebagai haid adalah darah yang kuat, jika keluarnya darah itu tidak kurang dari sehari semalam dan tidak melebihi 15 hari. Dan darah yang dihitung istihdloh adalah darah yang lemah, jika keluarnya darah itu tidak kurang dari 15 hari secara berurutan.

Catatan Dua
Jadi, jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 6 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 15 hari ke atas, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 6 hari sedangkan darah merah dihitung istihadloh.

Catatan Tiga
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 5 hari kemudian mengeluarkan darah merah kekuning-kuningan selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning secara terus menerus, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam, darah merah dan darah merah kekuning-kuningan, sedangkan darah kuning dihitung istihadloh.

Catatan Empat
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah selama 5 hari lalu mengeluarkan darah hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah lagi terus-terusan sampai akhir satu bulan, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 5 hari yang ada ditengah.

Catatan Lima
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah selama 15 hari lalu mengeluarkan darah hitam selama 15 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 15 hari.

Catatan Enam
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 10 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 6 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 10 hari.

Catatan Tujuh
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning terus-terusan, maka yang dihitung sebagai haid adalah darah hitam selama 5 hari dan darah merah 5 hari.darah

Catatan Delapan
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama 5 hari lalu mengeluarkan darah kuning selama 5 hari lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah darah hitam selama 5 hari.

Catatan Sembilan
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam sehari semalam lalu berhenti sehari semalam lalu mengeluarkan darah hitam lagi sehari semalam lalu berhenti lagi sehari semalam seperti itu berlangsung sampai 15 hari lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan sampai 15 hari, maka yang dihitung sebagai haid adalah 15 hari yang pertama.

Catatan Sepuluh
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah sehari semalam lalu mengeluarkan darah hitam lagi sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah lagi sehari semalam, bergantian sampai 15 hari, kemudian keluar darah merah terus-terusan, maka yang dihitung sebagai haid adalah 15 hari yang pertama.

Catatan Sebelas
Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah mubtada’ah ghoiru mumayyizah atau mumayyizah, artinya perempuan yang baru mengeluarkan darah dan tidak tahu bedanya darah atau tahu bedanya darah tapi dia tidak menetapi syaratnya mengembalikan pada membedakan darah, maka jika terjadi seperti itu yang dihitung haid hanyalah sehari semalam dan 29 hari sisanya dihitung suci, jika perempuan itu tahu waktunya permulaannya darah. Dan jika dia tidak tahu waktu permulaannya darah, maka dia seperti wanita mutahayyiroh yang nanti akan dijelaskan. Insya Allah.

Catatan Dua Belas
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan darah keluar secara terus-terusan tanpa terputus dan dia masih ingat permulaan keluarnya darah, maka yang dihitung haid hanya sehari semalam. Tapi dia supaya bersabar terlebih dahulu jangan keburu mandi dan sholat sampai 15 hari didalam bulan pertama, mungkin nanti darahnya akan berhenti. Dan setelah lewat 15 hari maka supaya dia mandi wajib dan mengqodlo’ sholat yang ketinggalan sehari semalam. Sedangkan dibulan kedua supaya dia mandi setelah lewatnya sehari semalam.

Catatan Tiga Belas
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama kurang dari sehari semalam lalu mengeluarkan darah merah terus-terusan, maka yang dihitung haid hanya sehari semalam.

Catatan Empat Belas
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna hitam selama sehari semalam lalu keluar darah merah selama 14 hari lalu keluar darah hitam sehari semalam, maka yang dihitung haid adalah sehari semalam yang pertama.

Catatan Lima Belas
Jika ada perempuan baru mengeluarkan darah dan berwarna merah yang keluarnya darah itu sampai 15 hari lalu keluar darah hitam terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah sehari semalam setiap bulannya.

Catatan Enam Belas
Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah perempuan mu’tadah ghoiru mumayyizah, artinya perempuan yang sudah pernah haid dan suci, dan dia masih ingat pada haid dan sucinya namun tidak bisa membedakan darah, maka yang seperti itu yang dihitung haid adalah kebiasaan dia mengeluarkan darah, jika kebiasaan dia mengeluarkan darah adalah cocok (artinya tidak berbeda), atau berbeda kebiasaannya tapi masih urut dan dia tahu urutannya, seperti ada perempuan sudah pernah mengeluarkan darah selama 6 hari dan suci 24 hari lalu tiba-tiba dia mengeluarkan darah lebih dari 15 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 6 hari saja.

Catatan Tujuh Belas
Jika ada perempuan sudah pernah mengeluarkan darah haid selama 7 hari dan suci 23 hari, lalu tiba-tiba dia mengeluar-kan darah istihadloh, maka yang dihitung haid adalah 7 hari. tetapi dipermulaan dia mengeluarkan darah istihadloh dia jangan mandi dan sholat dahulu sampai lewat 15 hari. Dan setelah lewat 15 hari maka dia mandi dan mengqodlo’ sholat yang tertinggal selama 7 hari. Sedangkan dibulan kedua supaya dia mandi setelah lewatnya masa kebiasaan dia haid, yaitu 7 hari.

Catatan Delapan Belas
Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama selama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, dibulan keempat 3 hari lagi, dibulan kelima 5 hari dan dibulan keenam 7 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan darah istihadloh, maka yang dihitung haid adalah 3 hari, dibulan kedelapan yang dihitung haid adalah 5 hari dan dibulan kesembilan yang dihitung haid adalah 7 hari dan begitu seterusnya sesuai dengan putaran, seandainya dia masih ingat urutannya.

Catatan Sembilan Belas
Dan jika masa kebiasaan keluarnya darah tidak urut dan dia tidak ingat pada giliran yang terakhir atau urut tapi tidak berulang-ulang putarannya dan dia tidak ingat urutannya, maka yang dihitung haid adalah giliran yang paling sedikit. Jadi, dia mandi ketika lewat giliran yang paling sedikit, tapi dia juga harus mandi lagi setelah sampai pada giliran yang kedua dan mandi lagi setelah lewat giliran ketiga untuk berhati-hati seandainya berhentinya darah seperti kebiasaan giliran kedua dan ketiga.

Misalnya, jika ada perempuan mengeluarkan darah haid di bulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, di bulan keempat 7 hari, dibulan kelima 3 hari dan dibulan keenam 5 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan darah istihadloh dan dia lupa pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang paling sedikit, yaitu 3 hari. Jadi, dia harus mandi setelah lewatnya 3 hari dan mandi lagi setelah lewatnya 5 hari dan mandi lagi setelah lewatnya 7 hari.

Catatan Dua Puluh
Jika ada perempuan dibulan pertama mengeluarkan darah haid 5 hari, bulan kedua 7 hari, bulan ketiga 9 hari lalu dibulan keempat dia mengeluarkan darah istihadloh dan dia lupa pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah 5 hari.

Catatan Dua Satu
Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari, dibulan keempat kembali 3 hari, dibulan kelima 5 hari, dibulan keenam 7 hari kemudian dibulan ketujuh dia mengeluarkan istihadloh dan dia lupa pada urutan keluarnya darah yang telah lalu, artinya dia tidak ingat pada urutan kebiasaan keluarnya darah, maka yang dihitung haid adalah 3 hari. Jadi, dia harus mandi setelah berlalunya 3 hari dan mandi lagi setelah 5 hari dan mandi lagi setelah 7 hari.

Catatan Dua-dua
Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 5 hari, dibulan kedua 7 hari, dibulan ketiga 9 hari, di bulan keempat kembali 9 hari, dibulan kelima 5 hari, dibulan keenam 7 hari kemudian di bulan ketujuh dia mengeluarkan istihadloh dan dia masih ingat pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang terakhir, yaitu 7 hari.

Catatan Dua Tiga
Jika ada perempuan mengeluarkan darah haid dibulan pertama 3 hari, dibulan kedua 5 hari, dibulan ketiga 7 hari lalu di bulan keempat dia mengeluarkan istihadloh dan dia masih ingat pada giliran yang terakhir, maka yang dihitung haid adalah giliran yang terakhir, yaitu 7 hari.

Catatan Dua Empat
Jika ada perempuan biasanya kalau haid selama 7 hari. Tiba-tiba dia mengeluarkan darah sampai 15 hari, maka 15 hari itu semuanya dihitung haid.

Catatan Dua Lima
Jika ada perempuan biasanya kalau haid selama 6 hari lalu dia mengeluarkan darah sehari semalam lalu berhenti sehari semalam kemudian keluar lagi sehari semalam, seperti itu terjadi hingga 15 hari, maka semuanya dihitung haid.

Catatan Dua Enam
Jika ada perempuan mengeluarkan darah 3 hari lalu berhenti 3 hari kemudian keluar lagi 12 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 3 hari yang ada didepan.

Catatan Dua Tujuh
Jika ada perempuan mengeluarkan darah 12 hari lalu berhenti 3 hari kemudian keluar lagi 3 hari, maka yang dihitung haid adalah darah 12 hari yang ada didepan.

Catatan Dua Delapan
Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah mu’tadah mumayyizah, artinya perempuan yang sudah pernah haid, artinya sudah punya kebiasaan haid, dan dia tahu bedanya darah, maka yang dihukumi haid adalah darah yang kuat bukan kebiasaan dia mengeluarkan darah, yaitu sekiranya antara kebiasaannya dan darah kuat itu tidak diselani 15 hari keatas. Dan jika diselani 15 hari ke atas, maka yang dihitung haid adalah kira-kiranya kebiasaan, seperti permasalahan dibawah ini :

A. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba dia mengeluarkan darah hitam selama 10 hari lalu mengeluarkan darah merah 20 hari, maka yang dihitung haid adalah darah hitam 10 hari.

B. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 5 hari dia mengeluarkan darah merah 20 hari lalu mengeluarkan darah hitam 5 hari lalu darah merah lagi 5 hari, maka yang dihitung haid adalah 5 hari yang didepan, karena sudah menjadi kebiasaan, dan darah hitam 5 hari yang ada dibelakang, karena kuatnya darah. Adapun darah merah 20 hari dihitung istihadloh.

C. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 5 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 5 hari dia
mengeluarkan darah lebih kuat terus-terusan, maka yang dihitung haid adalah darah kebiasaan 5 hari setiap bulan.

D. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 15 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 15 hari dia mengeluarkan darah lebih kuat 15 hari lagi, maka yang dihitung haid adalah darah yang lebih kuat.

E. Jika ada perempuan kebiasaan dia haid adalah 15 hari, tiba-tiba setelah dia mengeluarkan darah kebiasaannya selama 15 hari dia mengeluarkan darah lebih kuat terus-terusan, maka dia jangan mandi dahulu menanti sampai 45 hari, yaitu kumpulnya dengan darah kebiasaan 15 hari. Setelah sampai 45 hari, maka dia mandi wajib lalu mengqodlo’ sholat 15 hari yang ada ditengah, sedangkan darah 15 hari yang ada di depan dan belakang dihitung haid.

F. Jika ada perempuan kebiasaan haidnya 5 hari. Di situ dia mengeluarkan darah 5 hari lalu berhenti 14 hari lalu keluar lagi terus-terusan, maka darah 5 hari itu dihitung haid, darah sehari semalam setelah 14 hari dihitung istihadloh dan 5 hari setelah sehari semalam itu termasuk haid dan 15 hari setelah 5 hari itu dihitung istihadloh dan seperti itu seterusnya.

Catatan Lainnya
A. Seandainya ada perempuan mengeluarkan darah hitam 7 hari lalu mengeluarkan darah merah 7 hari lalu mengeluarkan darah hitam lagi 7 hari, maka yang dihitung haid adalah darah hitam 7 hari yang ada didepan dan darah merah 7 hari ditengah.

B. Jika yang mengeluarkan darah istihadloh adalah perempuan mutahayyiroh, artinya perempuan yang punya kebiasaan haid dan dia lupa pada kira-kira kebiasaannya atau waktunya, maka hukumnya sama seperti perempuan haid (di dalam keharaman disetubuhi, dijadikan untuk bersenang-senang, membaca al Qur’an diselain sholat, membawa mushaf dan menyentuhnya), tetapi tidak haram dicerai, melakukan ibadah yang ada niatnya seperti sholat, puasa dan thowaf, baik fardlu maupun sunnah. Dan lagi dia harus mandi untuk setiap fardlu setelah masuk waktunya fardlu, jika dia tidak ingat waktunya berhenti ketika belum istihadloh.

C. Jika dia ingat waktunya berhenti, seperti misalnya waktu terbenamnya matahari, maka dia harus mandi sewaktu matahari terbenam kemudian cepat-cepat melakukan sholat maghrib. Jika dia tidak cepat-cepat melakukan sholat maghrib maka dia harus wudlu, sekiranya tidak cepat-cepatnya dia itu bukan karena kemaslahatan sholat, dan dia harus wudlu untuk setiap fardlu.

D. Dan lagi perempuan mutahayyiroh itu harus tetap melakukan puasa ramadlan, karena ada kemungkinan sucinya dia, kemudian puasa lagi sebulan penuh (yaitu 30 hari). dan hasil puasanya setiap bulan adalah 14 hari. jadi, penjumlahan puasa 2 bulan adalah 28 hari, maka masih kurang 2 hari. Makanya adanya puasa yang sah hanya 14 hari setiap bulannya, karena perempuan mutahayyiroh mungkin haid 15 hari.

E. Wajib atas perempuan yang haid atau nifas, jika sudah ber-henti mengeluarkan darah didalam waktunya sholat fardlu, untuk cepat-cepat mandi lalu melakukan sholat untuk waktu itu dan sholat yang harus diqodlo’. Jangan ditunda-tunda sampai datangnya waktu sholat lagi sehingga dia akan berdosa. Terlebih sampai untuk membeli sampo atau membakar merang untuk berkeramas, seperti itu sangat tidak diperbolehkan jika sampai mengeluarkan waktu sholat.

F. Jika ada perempuan ketika akan tidur dia masih dalam keadaan suci lalu setelah bangun tidur setelah masuknya waktu shubuh dia sudah haid kemudian dia ragu, apakah keluarnya darah itu sebelum waktu shubuh atau sesudahnya, maka dihukumi kalau keluarnya darah itu adalah sesudah masuknya waktu shubuh. Jadi, besok jika sudah berhenti, dia wajib meng-qodlo’ sholat shubuh. Jika ada perempuan haid ketika akan tidur darahnya belum berhenti keluar, lalu dia bangun tidur paginya darah sudah berhenti, maka dia harus sholat shubuh untuk berhati-hati.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id