Makna Ayat Difabel Dalam Alquran Sebagai Bentuk Penghormatan Bagi Kaum Difabel

Makna Ayat Difabel Dalam Alquran Sebagai Bentuk Penghormatan Bagi Kaum Difabel

Almunawwar.or.id – Alquran yang merupakan kitab suci bagi umat islam sekaligus menjadi pedoman, petunjuk juga sumber segala hukum yang mengatur semua tatanan kehidupan manusia secara menyeluruh tanpa terkecuali termasuk dari adanya keterkaitan interaksi sosial dengan orang-orang tertentu di sekitar.

Dalam hal ini sebagai bentuk dari realitas dalam menjalankan kegiatan sehari-hari, Dimana makna kultularisme Alquran itu sendiri adalah menyeluruh bagi semua umat islam, termasuk di dalamnya adalah makna dan tujuan ayat Alquran yang di peruntukan bagi orang-orang tertentu.

Bisa dikatakan merupakan makna Difabel yang merupakan pengkhususan sekaligus penghormatan bagi orang yang memiliki sifat tertentu sesuai dengan makna ayat tersebut, Tidak hanya di maknai secara konotasi saja, akan tetapi lebih di utamakan adanya penghormatan bagi orang yang di maksud dalam ayat itu.

Kata difabel sendiri itu berasal dari kata different ability yaitu orang-orang yang berkemampuan berbeda atau orang-orang yang berkebutuhan khusus. Sedangkan penggunaan kata different ability itu di maksudkan untuk mengganti label disable atau disability, yang mempunyai arti penyandang cacat.

Karena jika menggunakan kata disabilitas dianggap diskriminatif dan mengandung stigma negative terhadap para penyandang cacat. Untuk itu kebih jelasny tentahg maksud ayat Difabel tersebut itu adalah untuk menghargai, orang yang termasuk difabel yaitu Tunanetra, Tunarungu, Tunawicara dan ketidaknormalan fisik.

Tentu jika di gamblangkna sesuai dengan perincian kata demi kata dari ayat tersebut ataupun di maknai seara harfiyah, jelas itu akan menyinggung perasaan orang-orang ayng terkategorikan pada kaum Difabel. Namun justru pemahaman lebih lanjut tentang makna hakikinya itu harus jauh lebih di pahami lagi.

Sebab di dalam Al-Qur’an sendiri sebagai pedoman hidup umat Islam, ada term-term difabel walaupun tidak ditemukan secara eksplisit yang menunjukkan makna cacat, tetapi hanya ditemukan beberapa term yang memberikan indikasi makna bagian dari kategori difabel.

Bahkan Baginda Rasulullah S.A.W sendiri diutus oleh Allah SWT adalah untuk menyempurnakan akhlak, oleh karena itulah Islam mengajarkan kepada umatnya untuk mempunyai akhlak yang baik kepada semua ciptaan Tuhan, termasuk kepada difabel.

Tidak di maksudkan untuk orang-orang yang memiliki cacat secara fisik ataupun keidaknormalan fisik sebagaimana makna teoritisnya, akan tetapi itu ditujukan terhadap orang-orang yang memiliki kekurangan dalam soal fisikinya yang di serupakan dengan pengunaan kata ayat difabel.

Setidaknya ada lima kata dalam Al-Qur’an yang merupakan bagian dari difabel Yaitu :
1. أعمى (a’ma) yang berarti tunanetra atau buta
اكمه .2 (akmah) yang berarti tunanetra yang tidak total
بكم. 3 (bukmun( yang berarti tunawicara atau bisu
صم. 4 (shummun) yang berarti tunarungu atau tuli
5. أعرج (a’raj) yang berarti tunadaksa atau memiliki kecacatan fiksi, seperti pincang dan lainnya.

Dari keseluruhan term tersebut, terdapat pada 26 surah, dalam 38 ayat, Yaitu pada:
1. Surah Al-Baqarah ayat 18, 171
2. Surah Ali Imran ayat 49
3. Surah Al-Maidah ayat 71, 110
4. Surah Al-An’am ayat 39, 50, 104
5. Surah Al-A’raf ayat 64
6. Surah Al-Anfal ayat 22
7. Surah Yunus ayat 42-43
8. Surah Hud ayat 24, 28
9. Surah Ar-Ra’du ayat 16, 19
10. Surah An-Nahl ayat 76
11. Surah Al-Isra ayat 72, 97
12. Surah Thaha ayat 124-125
13. Surah Al-Anbiya’ ayat 45
14. Surah Al-Hajj ayat 46
15. Surah An-Nur ayat 61
16. Surah Al-Furqan ayat 73
17. Surah An-Naml ayat 66, 80, 81
18. Surah Al-Qashash ayat 66
19. Surah Ar-Rum ayat 52-53, 18, 171
20. Surah Fathir ayat 19
21. Surah Ghafir ayat 58
22. Surah Fushilat ayat 17
23. Surah Al-Zukhruf ayat 40
24. Surah Muhammad ayat 23
25. Surah Al-Fath ayat 17
26. Surah Abasa ayat 2.

Akan tetapi tidak semua ayat di atas menunjukkan konotasi makna sebagai kaum difabel secara fisik, tetapi lebih kepada cacat non fisik yaitu digunakan dalam konteks ancaman balasan bagi orang-orang yang menyekutukan Allah SWT.

Seperti mendustakan risalah Nabi, mendustakan ayat-ayat Allah SWT, menyembah selain Allah SWT, tidak mengambil manfaat dari pancaindra untuk menelaah kebenaraan, berbuat kerusakan, mengingkari hari akhir, berpaling dari hari akhir.

Sebab kata seperti A’ma, Akmah, Shummun, Bukmun, A’raj dalam Ayat-ayat tersebut, jika dimaknai secara bahasa atau letterlijk kata perkata, memang mempunyai arti yang sama seperti buta, tuli, bisu.

Akan tetapi, karena menafsirkan ayat Al-Qur’an juga harus melihat asbabun nuzul ayat tersebut, maka ayat-ayat tersebut tidak semuanya bermakna cacat secara fisik. Namun, lebih kepada cacat teologis. Sebagaimana kondisi masyarakat Arab ketika Islam baru datang di tengah-tengah mereka.

Adapun ayat-ayat yang menjelaskan terminologi difabel atau cacat secara fisik bukan secara teologi, dalam Al-Qur’an terdapat lima. Yaitu pada surah Abasa ayat 2, Ali Imran ayat 49, An-Nur ayat 61, Al-Fath 17, dan Al-Maidah ayat 110.

Keberadaan ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menjelaskan difabel adalah bukti bahwa sejak Islam diturunkan, selain misi utamanya menyempurnakan akhlak dan mengajak kepada amal baik. Juga peduli kepada kelompok-kelompok yang termarjinalkan, seperti kaum difabel.

Sedikitnya ayat-ayat difabel dalam Al-Qur’an bukan berarti Islam menjadikan mereka sebagai kelompok yang terpinggirkan. Akan tetapi, karena dalam Islam atau dihadapan Allah SWT semuanya itu sama, hanya iman, taqwa, amal baiknyalah yang akan membedakannya.

Karena belum tentu orang yang fisiknya sempurna, lebih mulia dihadapan sang pencipta dibandingkan dengan saudara kita yang mempunyai kebutuhan khusus atau difabel. Untuk itu sangat di perlukan adanya saling menghormati dan menghargai sesama muslim tanpa melirik kekurangan dan kelebihannya.

Oleh karena itulah, ajaran Islam yang dibawa Rasulullah SAW mengajarkan untuk saling bertoleransi dan mewujudkan kasih sayang di tengah keragaman tanpa memandang tentang fisiknya, agamanya, ras, suku dan lainnya. Yang patut senantiasa untuk di syukuri sebagai anugerah paling indah dari Allah S.W.T untuk kita semua umat Islam.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
islami.co