Makna dan Hakikat Puasa di Bulan Ramadhan Menurut Imam Al Ghazali

Makna dan Hakikat Puasa di Bulan Ramadhan Menurut Imam Al Ghazali

Almunawwar.or.id – Berpuasa merupakan salah satu seruan dan penggilan jiwa bagi orang-orang yang berimana, Karnea dengan keimananlah ibadah puasa yang mencakup masalah dhahir dan bathin bisa di laksanakan sebagaimana mestinya, sehingga puasa ini memiliki ciri-ciri dan keistimewaan tertentu di banding ibadah lainnya.

menagapa dikatakan demikian, Karena sejatinya orang yang berpuasa itu tidak hany mampu menahan dari perkara yang membatalkan puasa secara dhohir namun hakikat pastinay itu orang yang berpuasa adalah mereka yang bisa mengendalakikan hawa nafsunya serta mampu memmolahkan menjadi sebuah ketaatan.

Sebagaimana yang telah banyak di riwayatkan dan di dijelaskan dalam beberapa kitab kajian agama yang menyebutkan bawha puasa terbagi menjadi tiga tingkatan, dari mulai puasa umum yaitu berpuasa hanya sekedar menahan rasa lapar dan haus, ada juga puasa khusus yang mampu menahan hawa nafsunya dari hal yang membatalkan puasa.

Dan yang ketiga adalah puasa khusus lilkhusus yaitu berpuasa secara hakiki yang bisa memolahkan akal, hawa dan nafsu yang menjadi moblitias dalam melaksanakan amal puasa tersebut di polahkan ke sebuah hal yang lebih bernilai ibadah, sehingga mampu dijadikannya sebagai fasilitas dan media dalam meraih keridhoan dari Allah S.W.T.

Hal ini senada dengan apa yang di katakan oleh Imam Al ghazali yang berpendapat tentnagn makna dan hakikat puasa bagi seseorang yang beriman,

Sejalan dengan makna ini ada sebuah hadits dimana Rasulullah SAW bersabda “Lima hal ini bisa membuat puasa seseorang tidak sah: berbohong, menggunjing, mengadu domba, sumpah palsu, dan melihat dengan syahwat”. Tidak satu pun dari lima hal ini menunjukkan perilaku makan, minum, atau berhubungan suami istri. Namun mengapa kelimanya bisa membuat puasa seseorang tidak sah? Ini tentu berkaitan dengan makna sah itu sendiri; terwujudnya maksud puasa, untuk berakhlak mulia, dalam diri sang sa’im (orang yang berpuasa).

Jika seseorang telah melakukan puasa dengan sah, maka ketika ia menghadapi orang lain yang mengajaknya bercekcok atau sekedar menghinanya, ia hanya akan mengatakan pada dirinya “aku sedang berpuasa”. Selanjutnya, ia akan menunjukkan akhlak mulia pada orang tersebut. Sebagaimana dikatakan dalam Al Qur’an : Wa iza khatabahumul jahilu qalu salama (dan ketika seorang bodoh berbicara pada mereka, kaum beriman, mereka hanya mengatakan ‘damai’, menunjukkan sikap-sikap/respon-respon yang mendamaikan).

Imam Al Ghazali juga mengingatkan kita tentang hadits-hadits yang menunjukkan betapa Allah memperlakukan puasa secara spesial. Dalam beberapa versi hadits dikatakan bahwa puasa adalah tameng, dan puasa adalah milik Allah sendiri, serta Allah sendiri lah yang nanti akan secara langsung membalasnya. Nabi juga pernah bersumpah bahwa bau mulut seorang yang berpuasa beraroma jauh lebih wangi di sisi Allah dibandingkan dengan minyak misik.

Satu hal menarik disampaikan oleh beliau terkait tata krama berbuka bagi orang yang berpuasa. Beliau mengatakan bahwa wadah yang paling dibenci oleh Allah adalah perut yang diisi oleh hal-hal halal, sampai tidak muat.

Imam Al Ghazali kemudian menjelaskan beberapa waktu yang diutamakan untuk berpuasa, dari level minggu, bulan, hingga tahun. Di antara sekian hari dalam seminggu, hari Senin, Kamis, dan Jum’at adalah hari yang diutamakan untuk berpuasa. Di antara sekian hari dalam sebulan, tanggal pertama, tanggal terakhir dan ayyamul bid (hari-hari putih yaitu tanggal 13, 14, dan 15) adalah hari-hari yang diutamakan untuk berpuasa.

Di antara sekian banyak bulan dalam setahun, empat bulan mulia (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab) adalah bulan yang diutamakan untuk berpuasa di dalamnya. Waktu-waktu utama ini dijelaskan akan menjadi kaffarah (pembebas dosa) yang dilakukan selama seminggu, sebulan, dan setahun. Selain itu, ada beberapa hari yang disaksikan oleh hadits sebagai waktu yang memiliki keutamaan khusus. Waktu-waktu itu adalah hari Arafah, hari Asyura, sepuluh hari pertama bulan Zulhijjah, sepuluh hari pertama bulan Muharram, Rajab, dan Sya’ban.

Tidak cukup sampai di situ. Dijelaskan pula oleh Imam Al Ghazali bahwa Allah telah menyediakan satu tempat khusus di surga, yang pintunya bertuliskan Al-Rayyan (kesegaran, kedamaian) dan hanya bisa dimasuki oleh mereka yang ahli berpuasa. Setelah semua ahli berpuasa telah masuk, pintu itu akan tertutup, dikunci, dan tidak membiarkan selain orang yang ahli berpuasa memasukinya. Semoga Allah membukakan pintu hidayah-Nya pada kita, sehingga kita digolongkan sebagai orang-orang yang ahli berpuasa.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id