Makna Hakikat Kembali Pada Idul Fitri Yang Selalu Di Hati Selalu Di Nanti

Makna Hakikat Kembali Pada Idul Fitri Yang Selalu Di Hati Selalu Di Nanti

Almunawwar.or.id – Kesan bahagia yang begitu bermakna di saat perayaan hari raya idul fitri sebentar lagi akan tiba, hingga tidak terasa di penghujung ramadhan tercinta ini banyak sekali risalah dari amal ibadah selama bulan puasa yang belum bisa sesempurna sesuai dengan hakikat ibadah berpuasa.

Dan makna itu rupanya bisa lebih bersahaja lagi ketika kumandang takbiran idul fitri pada hari raya menggema di seluruh antero dunia, Meraih kemenangan bersama orang-orang beriman, menyempurnakan makna lebaran dengan membaca kalimah takbir, Tahmid dan tahlil sebagai tanda syukuran.

Atas semua karunia dan anugrah dari Alloh S.W.T yang selama ini di berikan pada setiap umat islam dengan kefitrahan ataupun kesucian yang tertancapkan dalam diri sebagai nilai yang begitu berarti selama ibadah puasa di bulan suci yang tinggal menghitung hari.

Tentu di samping kebahagiaan yang senantiasa di rasakan oleh umat islam di hari kemenangan, terbersit pula rasa sedih dalam hati karena harus berpisah dengan bulan suci ini, dan perlu setahun untuk bisa beramal dan beribadah kembali di pertemuan bulan suci ramadhan itupun jika Alloh S.W.T menghendaki.

Akan kiranya semua itu makna ramadhan dan idul fitri yang selalu di hati dan di nanti akan jauh lebih bernilai lagi apabila di sempurnakan dengan indahnya saling berbagi, bermaafan dan juga menebar kebaikan satu sama lain sebagai pencapaian yang lebih real dalam mengisi hari raya lebaran idul fitri ini.

Tercantum doa dan harapan di setiap pertemuan dan kebersamaan sesaat setelah kita semua bisa menyambut kedatangan hari fitri itu dengan berbagai amalan yang di anjurkan, mulai dari mandi hari raya di pagi idul fitri, melangsungkan shalat ied berjama’ah dan khutbah bersama muslim lainnya.

Tentu dari pengamalan tersebut akan terasa begitu indah dan istimewa lagi bagi umat islam dalam memaknai arti dari “idul Fitri” itu sendiri. Sebagaimana dengan pembahasan berikut ini akan pentingnya kita kembali ke jalan fitrah sebagai hakikat dari pada kembali kepada kesucian di hari kemenangan.

Dan perlu di ketahui bahwa pertama kali di laksanakannya Idul Fitri itu bertepatan pada tahun kedua hijriyyah begitu pula idul adha. Lebih jelasnya mari kita bahas bersama-sama asal kalimah dari pada عيد (‘Ied) di ambil daripada masdar ‘Aud/عود yang mempunyai pengertian kembali.

Karena, hari raya ini senantiasa kembali setiap tahun, Atau juga mempunyai pengertian Allah S.W.T mengembalikan kebaikan, rasa bahagia pada hambanya. Terlebih mendapat pengampunan dosa yang selanjutnya lebih populer dengan istilah perayaan hari raya kemenangan.

الفطر (Al Fithri): Terlepas dari puasa, jadi secara harfiyah Idul Fitri itu Kembali tidak berpuasa atau perayaan terlepas puasa. Oleh karena itu ada yang mengatakan Sayyidina Ali Karromallohu Wajhah berkata :

ليس العيد لمن لبس الجديد, إنما العيد لمن طاعته تزيد. وليس العيد لمن تجمل باللباس والمركوب, إنما العيد لمن غفرت له الذنوب

Artinya : “Idul Fitri bukanlah bagi orang yang mempunyai pakaian baru. NamunIdul Fitri, hanyalah untuk orang yang taatnya bertambah. Idul Fitribukanlah bagi orang yang bersolek dengan pakaian dan kendaraan. Namun, Idul Fitri hanyalah untuk orang yang dosa-dosanya di ampuni”.

Bahkan sangat dianjurkan (disunnahkan) pada waktu perayaan Idul Fitri itu mengucapkan selamat hari raya dan sejenisnya, bersalam-salaman serta mengucapkan:

تقبل الله منكم أحياكم الله لأمثاله كل عام وأنتم بخير

(Taqabbalallahu Minkum Ahyaakumullah Li Amtsaalihi Kulla ‘Aamin Wa Antum Bi Khair)

Artinya : “Semoga Allah menerima (amal) Kalian semua. Semoga Allah memanjangkan Umur kalian di tahun-tahun yang sama, dan kalian senantiasa dalam keadaan baik”.

Sebagai laksana tanda syukur yang tiada terukur atas ni’mat dari kebahagiaan dengan datangnya hari kemenangan, setelah satu bulan penuh umat islam di uji dengan berpuasa dan menjauhi hal-hal yang membatalkannya dari bagian dhohir dan bathinnya.

Untuk itu sangatlah tepat apabila di hari kemenangan nanti, kita selalu senantiasa menyambutnya dengan penuh rasa syukur dan bahagia sebagai bentuk dari pada peraihan sempurna di balik keutamaan sendiri yang di miliki oleh Idul Fitri, Sebagaimana yang tersirat dalam sebuah hadits :

عن أَبن مسعود رضي الله عنه عن النبي عليه الصلا ة وَلسلام أَنه قال اذَ ا صاموا شهر رمضان وخرجوا الى عيدهم يقول الله تعالى يا ملـئكتى كل عامل يطلب اجره وعبادى اللذين صاموا شهرهم وخرجوا الى عيدهم يطلبون اجورهم اشهدوا أنى قد غفرت لهم ، فينادى مناد يا امة محمد ارجعوا الى منازلكم قد بدلت سيئاتكم بالحسنات، فيقول الله تعالى يا عبادى صمتم لى وافطرتم لى فقوموا مغفورا لكم

Artinya : “Dari ibni mas’ud r.a ,dari Nabi SAW sesungguhnya nabi bersabda : Tatkala umat nabi malaksanakan puasa romadhon dan mereka keluar untuk melaksanakan sholat ‘ied,maka allah berfirman : “wahai malaikatku,setiap yang telah bekerja mendapatkan upahnya.

Dan hamba-hambaku yang melaksanakan puasa romadhon dan keluar rumah untuk melaksanakan sholat ‘ied dan memohon upah/ganjaran mereka, maka saksikanlah bahwa sesungguhnya aku telah memaafkan mereka,maka tersuara : “Wahai umat muhammad,kembalilah kalian ke rumah-rumah kalian , aku telah menggantikan keburukan kalian dengan kebaikan” , maka Allah berfirman : “Wahai hamba-hambaku,kalian berpuasa untukku dan berbuka untukku maka tegaklah kalian dengan mendapat ampunanku terhadap kalian.

Semoga kita semua bisa meraih makna hakikat idul fitri yang sesungguhnya, bukan hanya sekedar kebahagiaan dan tujuan, akan tetapi bisa di maknai dengan sepenuh arti sebagai perintah sebagaimana yang tersirat dalam ayat suci alquran sebagai pedoman untuk meraih dua kebahagiaan yang sesungguhnya.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com