Makna Halaqah Dalam Pemberdayaan Pendidikan dan Penerus Pesantren

Makna Halaqah Dalam Pemberdayaan Pendidikan dan Penerus Pesantren

Almunawwar.or.id – Sarat menjadi sebuah tujuan utama dalam menjadikan lembaga pendidikan sebagai salah satunya fasilitas tebaik untuk mencetak kader-kader umat yang sangat berkualitas, diantaranya seluk beluk yang mengetahui tentang bagaimana cara memberdayakan pesantren berikut dengan anak didiknya sebagai penerus cita-cita bangsa ini.

Salah satunya dengan menjadikan sistem halaqoh sendiri sebagai jalan untuk bisa memberdayakan apa yang menjadi kelebihan pondok pesantren selama ini. Bahkan bisa dikatakan dengan metode yang diterapkan dalam sistem halaqoh sendiri maka berbagai peranan dan makna ilmu yang terkadung didalamnya akan terguar pula.

Sebab Halaqah merupakan sekumpulan orang yang ingin mempelajari dan mengamalkan Islam secara serius. Dan biasanya mereka terbentuk karena kesadaran mereka sendiri untuk mempelajari dan mengamalkan Islam secara bersama-sama amal jama’i.

Dan Kesadaran itu muncul setelah mereka bersentuhan dan menerima dakwah dari orang-orang yang telah mengikuti halaqah terlebih dahulu, baik melalui forum-forum umum, seperti tabligh, seminar, pelatihan atau dauroh, maupun karena dakwah interpersonal (dakwah fardiyah).

Tujuan yang menjadi sarat dari halaqoh inilah yang sejatinya bisa di jadikan sebagai sebuah metode pendidikan yang utuh dan senantiasa di jalankan di sebuah pondok pesantren. Sebagaimana yang di kemukakan oleh salah satu tokoh NU yaitu KH Habib Ihsanuddin sekaligus menjadi sesepuh di sebuah Pondok Pesantren Pesantran Al-Huda Doglo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Beliau yang menyoroti pandangannya terhadap masalah Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai. Berikut penjelasan dan ulasan singkat tentang bagaimana menurut pandangan beliau.

Bagaimana caranya mempertahankan pesantren?
Pertama kiai itu harus ikhlas. Ikhlas itu adalah nilai tertinggi. Dia mendirikan pondok pesantren itu betul-betul dari lubuk hati untuk bisa bagaimana umat islam bisa paham terhadap agama. pertama kiai itu harus ikhlas. Kedua, kiai itu harus istiqomah di dalam mengajar karena tidak istiqomah ibaratnya seperti ayam mengerami.

Kalau ayam itu dikerami, tapi tidak istiqomah, sering ditinggal pergi, ya tidak akan jadi, tidak akan menghasilkan kutuk yang sangat baik, bahasa jawanya kemelekeren atau gagal. Podok juga sama.

Yang kedua kalinya, pondok itu harus ditangani dinomorsatukan dari yang lain, tidak boleh dinomorduakan. Sebab jika di nomorduakan maka kepentingan dari pesantren itu akan kalah dengan kepentingan-kepentingan lainnya. dan tentu itu mencederai tujuan daripada di dirikannya sebuah Pondok Pesantren.

Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana supaya putra dan putri pesantren bisa melanjutkan perjuangan orang tuanya, salah satunya melanjutkan pesantren?

Selain mempelajari pelajaran agama secara paripurna, artinya tidak sepotong-sepotong, kalau tafsir Al-Qur’an ya 30 juz, kalau hadits ya namanya Muslim 4 jilid, Bukhori 4 jilid, dan dimulai dari bawah nahwunya, sharaf, badi’, ma’ani, bayan, balaghah sehingga dalam mempelajari agama itu betul-betul bisa paripurna, tidak sepotong-sepotong.

Kemudian juga anak-anak itu di pondok itu harus diadakan sekolahan formal. Kalau tidak disertai dengan formal, sehingga katakanlah, dia bisa membaca kitab, tapi tidak bisa membaca tanda-tanda zaman. Oleh karena itu kedua-duanya harus ada. Dia nyantri, juga sekolah.

Pertanyaan berikutnya adalah Putra-putri kiai sebagai kader Ahlussunah wal-Jama’ah, bagaimana resep atau kunci mereka mengabdi di masyarakat?

Begini, yang pertama mengetahui bahwa ajaran Ahlussunah itu benar. Yakin. Kalau orang sudah yakin tidak mudah digoyah. Saya tiap bulan didatangi (dia menyebut nama sebuah organisasi), dari Solo, Yogya, dari pusat, mereka memberi penjelasan… Karena saya sudah yakin kepada kebenaran ajaran NU, ya tidak tergoyahkan.

Perjuangan itu harus yakin dulu tentang apa yang diperjuangkan. Kalau tidak yakin, ya seperti orang-orang itu, pelacur politik, di sana tidak posisi pindah sini, di sini tak ada posisi pindah sana. Lha kalau kita didahului dengan yakin, kita tidak akan pindah. Kalau anda tidak bisa menyampaikan argumentasi yang bisa mengalahkan keyakinan saya, jangan harap saya ikut keyakinan saudara.

Dan pertanyaan terakhir adalah seandainya pondok itu berkurang atau bahkan tidak ada, bagaimana NU?
Saya rasa akan hancur. Karena NU itu dipimpin ulama. Ulama itu mesti lulusan pondok pesantren. Sampai detik ini belum ada ulama tidak tamatan pondok pesantren. Kalau ada ya ustadz. Jadi oleh karena itu, antara NU dan pondok pesantren harus ada. Ini menurut pendapat saya.

Dari keempat pertanyaan tersebut maka bisa di garis bawahi bahwa, maka penting sekali dalam menerapakn metode pendidikan halaqoh di sebuah pondok pesantren, dengan penggemblengan yang ada untuk meraih kesinambungan dalam mencapai cita-cita luhur agama dan bangsa ini.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
nu.or.id