Makna Luas Lapadz “Kullu” Pada Kalimah Kullu Bid’atin Dholalah

Makna Luas Lapadz Kullu Pada Kalimah Kullu Bid'atin Dholalah

Almunawwar.or.id – Tidak sangat di anjurkan dan tidak pula dibenarkan bagi setiap muslimin untuk mengartikan pemaknaan sebuah lapadz baik yang tertulis dalam al quran, al hadits ataupun dari qaul-qaul ulama sholih sesuai dengan kehendak dan pengertian secara harfiyah nya saja.

Sebab itu tidak hanya berdampak pada sisi kebenaran pada arti dan tujuan kalimah tersebut, tetapi bisa menjerumuskan bahkan menyesatkan pemahaman-pemahaman publik khususnya bagi mereka kaum awwam. Seperti salah satu contohnya dari cara mengartikan lapadz “Kullu” yang ada pada kalimah “Kullu bida’ti dholalatun”.

Dimana pada umumnya mereka mengartikan bahwa lapadz “kullu” tersebut itu diartikan secara keseluruhan tidak ada bagian, ataupun salah satu dari bagian, tetapi secara mutlaq di artikan sebagai keseluruhan yang intinya tersebut semua hal yang tidak ada pada Rasulnya itu adalah Bid’ah.

Padahal jika di tela’ah dan di teliti secara seksama menurut kajian ilmu-ilmu yang dipelajari di Pondok Pesantren seperti Ilmu nahwu, shorof, balaghoh, Ilmu Ma’ani dan ilmu alat lainnya itu terdapat beberapa makna yang luas dari pengertian yang di maksud terhadap lapadz “Kullu” itu.

Secara pengertian kullu ada 3 macam yakni
1. Kullu bima’na syay’in artinya setiap satu
2. Kullu bima’na ba’din artinya setiap sebagian
3. Kullu bima’na jam’in artinya setiap semua

Lafadz كُلُّ Mempunyai ma’na dua, khusus dan umum. Hal ini sesuai pula jika ditinjau dari ilmu nahwu. Dengan Illat pertama kalimat bid’ah (بدعة) di sini adalah bentuk Isim (kata benda) bukan FI’IL (kata kerja). Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma’rifat (tertentu) dan Isim Nakirah (umum).

Illat kedua adalah kata BID’AH ini bukanlah atau tidak termasuk pada isim dhomir, Isim alam, Isim isyaroh,Isim maushul begitu juga tidak termasuk pada kalimah Ber alif lam yang merupakan bagian dari Isim Ma’rifat (Lebih tentu dan lebih khusus)

Jadi kalimat bid’ah di sini adalah Isim Nakiroh dan KULLU di sana berarti tidak ber-idhofah (bersandar) kepada salah satu dari yang 5 di atas. Seandainya KULLU (كُلُّ) beridhofah kepada salah satu yang 5 di atas maka ia akan menjadi ma’rifat.

Tapi pada KULLU (كُلُّ), ia beridhofah kepada nakiroh. Sehingga dholalahnya adalah bersifat ‘am (umum), sedangkan setiap hal yang bersifat umum pastilah menerima pengecualian. Dan hal inilah yang menjadi kajian penting terhadap lapadz “kullu” yang ada pada kalimah “Kullu Bid’atin”

Berikut ilmu-ilmu yang wajib di pelajari dan di pahami untuk lebih menggali rahasia dari sebu lapadz di antaranya Shorof, Nahwu, Manthiq, Ma’ani, Ba’di, Bayan, Adab/ahlak, Fiqih, Usulul Fiqih, Faraidh, Hisab, Hadits, Usul Hadits, Tafsir, Hikmah, A’rodh, Kalam/Lughoh, Sirah, Qiro’at, Suluk/Tasawwuf, Kutub/Ahkam, Rijal, Mustholah.

Di tinjau ilmu Balaghoh dikatakan “حدف الصفة على الموصوف” artinya membuang sifat dari benda yang bersifat. Jadi jika ditulis lengkap dengan sifat dari bid’ah kemungkinannya adalah

A. Kemungkinan pertama :

كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

Artinya: “Semua bid’ah sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah) masuk neraka.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat (dholalah) berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil.

B. Kemungkinan kedua :

كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِىالنَّاِر

Artinya: Semua “bid’ah yang jelek” itu sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah) masuk neraka. Jadi kesimpulannya bid’ah yang sesat masuk neraka adalah bid’ah sayyiah (bid’ah yang jelek).

Bahkan Al-Imam an-Nawawi pada kitab Al-Minhaj Bi Syarah Shahih Muslim ibn al-Hajjaj juz 6 halaman 154 menuliskan “Sabda Rasulullah “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush yang artinya, lafazh umum yang telah dikhususkan kepada sebagian maknanya. Jadi yang dimaksud adalah bahwa sebagian besar bid’ah itu sesat (bukan mutlak semua bid’ah itu sesat)”.

Jadi pengertian yang sebenarnya dari hadits “Kullu bid’atin dholalah” menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhsus, artinya makna bid’ah lebih luas dari makna sesat, yang maknanya adalah “setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat”.

Salah satu contoh dari pemaknaan setiap sesat adalah bid’ah, setiap yang sesat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya. Contohnya meninggalkan sholat 5 waktu. Rasulullah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidak pernah melakukannya.

Akan tetapi tidak setiap bid’ah itu adalah sesat dalam artian tidak selalu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah adalah sesat. Jika perbuatan tersebut bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk sesat (bid’ah dholalah).

Namun jika perbuatan tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah maka perbuatan itu termasuk hal yang baik (bid’ah hasanah/mahmudah). Maka dari itu penting sekali untuk lebih jauh mengartikan makna lapadz “kullu” yang sesungguhnya.

Dengan kesadaran adanya bid’ah hasanah maka setiap kita akan melakukan perbuatan atau mencontohkan perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam maka kita akan selalu merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah.

قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )

Artinya ;
Imam Syafei ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi pedoman Al-Qur’an, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyelahi pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313).

Daripada itulah kehati-hatian dalam menjabarkan sebuah keterangan itu memang haruslah di terapkan sejak dini jangan sampai mengedepankan kepentingan pribadi, golongan dan apa saja sesuai dengan maksud dan tujuannya yang di maksudnya tanpa melihat kembali arti yang sebenarnya daripada keterangan tersebut.

Jangan sampai masuk pada orang-orang yang mengartikan dan menguraikan firman-firman dan keterangan sesuai dengan apa yang ada dalam akal fikiran. Sebab itu termasuk orang-orang yang mendapat ancaman dan kecaman baginda Rasululloh S.A.W sebagaimana sabdanya:

“Barangsiapa menguraikan Al Qur’an dengan akal pikirannya sendiri dan merasa benar, maka sesungguhnya dia telah berbuat kesalahan”. (HR. Ahmad)

Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Di dalam agama itu tidak ada pemahaman berdasarkan akal pikiran, sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

Jangan samapi akal pikiran mendahului kebenaran dari dalil naqli (Alquran dan Alhadits), dan meskipun ada seperti itu maka akal pikiran mendahului dalil naqli atau akal pikiran mendahuli firmanNya itu dikatakan sebagai upaya pembenaran.

Maka seharusnya daripada itulah akal pikiran mengikuti dalil naqli atau akal pikiran mengikuti firmanNya atau akal pikiran mengikuti sunnah Rasulullah. Dan akal pikiran mengikuti dalil naqli atau akal pikiran mengikuti firmanNya dikatakan sebagai upaya mengikuti kebenaran. Dengan penjabarannya sebagai berikut:

1. Memahami dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh ulama-ulama bersanad ilmu tersambung kepada lisannya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam
2. Memahami dengan alat-alat bahasa seperti nahwu, shorof, balaghoh, makna majaz dll
3. Memahami dengan akal qalbu. Akal pikiran mengikuti akal qalbu , akal pikiran (otak / logika / memori) mengikuti akal qalbu yang telah diilhamkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Merujuk pada keterangan yang ada pada firman Allah ta’ala yang artinya “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya“. (QS Asy Syams 8) juga ayat yang artinya “Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan” (QS Al Balad 10)

Sedangkan pemahaman dengan akal qalbu disebut pemahaman secara hikmah. Sebagaimana yang telah di firmankan oleh Allah Azza wa Jalla berfirman yang artinya “Allah menganugerahkan al hikmah (pemahaman yang dalam tentang Al Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya Ulil Albab yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)“. QS Al Baqarah 269 ).

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com