Makna Peletakan Kedudukan Kalimah Muarrob (Bukan Bahasa Arab) Dalam Alquran

Makna Peletakan Kedudukan Kalimah Muarrob (Bukan Bahasa Arab) Dalam Alquran

Almunawwar.or.id – Alquran adalah kitab yang suci dan terjaga arti dan pemaknaannya, termasuk dari pada penggunaan kalimah-kalimah yang termasuk pada bagian istilah kalimah muarrob (bukan kalimah arab) yang ada pada salah satu ayat dan surat dalam kitab suci Alquran.

Dimana pada peletakan satu kalimah ataupun beberapa kalimah lain yang menggunakan teks luar bahasa arab dan di satukan dengan kalimah yang berasal dari pada kalimah arab adalah sebuah literasi khusus untuk lebih mnegartikan pasti dari pada tujuan maksud ayat tersebut sesuai dengan pemaknaannya.

Sehingga ketika di satukan antara kalimah muarrob dengan kalimah arab sendiri itu akan menghasilkan satu keindahan pasti di balik penyematan dari pada kedua jenis kalimah tersebut yang di ada pada salah satu ayat-ayat kitab suci Alquran, Salah satunya kalimah Ibrahim dan Yusuf serta yang lainnya.

Hal ini tentunya perlu penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana kedudukan kalimah muarrob itu sendiri yang ada pada Alquran, terutama dari segi literasi dan gramatika bahasa arab dalam hal ini adalah ilmu nahwu yang merupakan bagian dari pada ilmu penting dalam mengetahui kedudukan bahasa arab yang di maksud.

Dan dari kedudukan serta peletakan dasar dari penggunaan kalimah muarrob dan kalimah arab yang di stukan pada sebuah ayat itu memiliki unsur-unsur tertentu sesuai dengan pelaku dan kejadian dari pada di turunkannya ayat-ayat Alquran itu.

Nah lantas bagaimana tinjuan pasti tentang makna dan kedudukan arti dari pada kalimah muarrab yang di maksud? Berikut penjelasannya menurut kajian pada pakar dan ahli dalam bidang agama, seperti beberpa kutipan dari dan menurut imam syafi’i , ibnu jarir, abu ubaidah, al qodhi abu bakar dan ibnu faris tidak ada mu’arrob (lughot selain arab yang di arabkan) dalam al qur’an karena firman Allah : ” qur’anan arobiyyan”. (Qs Yusuf 2)

Sedangkan menurut ulama’ lainnya dan ini adalah pendapat yang dipilih oleh imam suyuti bahwa terdapat mu’arrob dalam al qur’an dalilnya adalah kalimat ” ibrohim ” yang tidak ditanwin karena termasuk isim alam dan ‘ ajami, tapi hal ini cuma sedikit jadi karena kalimat selain bahasa arabnya sedikit maka tidak mengeluarkan dari keadaan alqur’an berbahasa arab.

اختلف الأئمة في وقوع المعرب في القرآن :
فالأكثرون – ومنهم الإمام الشافعي وابن جرير وأبو عبيدة والقاضي أبو بكر وابن فارس – على عدم وقوعه فيه ; لقوله تعالى : قرآنا عربيا [ يوسف : 2 ] . وقوله تعالى : ولو جعلناه قرآنا أعجميا لقالوا لولا فصلت آياته أأعجمي وعربي [ فصلت : 44 ] وقد شدد الشافعي النكير على القائل بذلك .
الي ان قال
وذهب آخرون إلى وقوعه فيه ، وأجابوا عن قوله تعالى : قرآنا عربيا [ يوسف : 2 ] بأن الكلمات اليسيرة بغير العربية لا تخرجه عن كونه عربيا ، والقصيدة الفارسية لا تخرج عنها بلفظة فيها عربية .وعن قوله تعالى : أأعجمي وعربي [ فصلت : 44 ] بأن المعنى من السياق : ( أكلام أعجمي ومخاطب عربي ! ) واستدلوا باتفاق النحاة على أن منع صرف نحو : ( إبراهيم ) للعلمية والعجمة . ورد هذا الاستدلال بأن الأعلام ليست محل خلاف ، فالكلام في غيرها موجه : بأنه إذا اتفق على وقوع الأعلام فلا مانع من وقوع الأجناس .
وأقوى ما رأيته للوقوع – وهو اختياري – ما أخرجه ابن جرير بسند صحيح عن أبي ميسرة التابعي الجليل قال : في القرآن من كل لسان .
وروي مثله عن سعيد بن جبير ووهب بن منبه .

Perbedaan pendapat dari pada Ulama tentang kedudukan dari peletakan kalimah Muarrab dalam Alquran :

1. Pendapat umumnya Ulama diantaranya Imam Syafi’i, ibnu jarir, Abu Ubaidah, Imam qodhi Abu bakr serta Ibn faris merela sepakat terhadap tidak adanya kalimah muarrab dalam alquran dengan dalil Alquran surat Yusuf ayat dua.

2. Pendapat kedua mereka berpendapat tentang adanya kalimah muarrab dalam Alquran, dengan dalil bahwa lapadz “Quranan Arabiyan” seperti dalam surat Yusuf ayat 2 itu sesungguhnya kalimah yang mudah luar dari bahasa arab (kalimah muarrab) itu tidak keluar dari kaidah arab itu sendiri.

Dalam Tafsir Khozin 3/260-261 :

واختلف العلماء هل يمكن أن يقال في القرآن شيء بغير العربية , فقال أبو عبيدة : من زعم أن في القرآن لساناً غير العربية فقد قال بغير الحق وأعظم على الله القول واحتج بهذه الآية إنا أنزلناه قرآناً عربياً.
وروي عن ابن عباس ومجاهد وعكرمة : أن فيه من غير لسان العربية مثل سجيل والمشكاة واليم واستبرق ونحو ذلك وهذا هو الصحيح المختار لأن هؤلاء أعلم من أبي عبيده بلسان العرب
وكلا القولين صواب إن شاء الله تعالى ووجه الجمع بينهما أن هذه الألفاظ لما تكلمت بها العرب ودارت على ألسنتهم صارت عربية فصيحة وإن كانت غير عربية في الأصل لكنهم لما تكلموا بها نسبت إليهم وصارت لهم لغة , فظهر بهذا البيان صحة القولين وأمكن الجمع بينهما

Ulama berbeda pendapat tentang ada-tidaknya kata-kata yang diarabkan (al kalimaat al mu`arrobah) di dalam Al Qur`an antara menerima dan menolak. Dalam hal ini mereka terbagi menjadi 4 golongan.

1. Golongan pertama
Kelompok yang menolak adanya kata-kata yang diarabkan (al kalimaat al mu`arrobah) di dalam Al Qur`an, mereka adalah mayoritas ulama besar diantaranya adalah Imam As Syafi`i, Abu Ubaidah, Al Qodhi Abu Bakar, dan Ibnu Faris. Dan pendapat mereka berangkat dari firman Allah swt. :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عربيّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ،[11]

بِلِسَانٍ عربيّ مُبِينٍ،[12]

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلا فُصِّلَتْ آَيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعربيّ،[13]

Mereka menafsirkan ayat terakhir ini, bahwa “Dan seandainya Kami jadikan Al Qur`an yang Kami turunkan ya Muhammad dengan bahasa asing di dalamNya, maka niscaya akan berkata kaummu Bani Quraisy: (لَوْلا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ) yaitu: seandainya dijelaskan bukti-bukti dan ayat-ayat yang ada di dalamnya, niscaya kami mengerti hakikat dan mengetahui apa yang ada didalamnya, (أأعجميّ) apakah Al Quran ini menggunakan bahasa asing sedangkan Ia diturunkan kepada orang yang berbahasa Arab?.[14] Dan Syafi`i menegaskan hal itu kepada orang yang mengingkarinya.

Abu Ubaidah berkata: Sesungguhnya Al Quran diturunkan dengan bahasa Arab, barangsiapa mengatakan bahwa di dalam Al Quran ada selain bahasa Arab maka ia telah membesar-besarkan perkataannya, dan barangsiapa mengatakan “كِذّاباً”[15] adalah bahasa Nabtiyah, maka ia telah membesar-besarkan perkataannya.

Ulama lain mengatakan: Semua kata-kata ini adalah bahasa Arab, karena bahasa Arab sangat luas, dan tidak menutup kemungkinan generasi selanjutnya yang tidak mengetahuinya.[16]

Syafi`i mengatakan dalam kitabnya “الرسالة” tidak ada yang mengetahui bahasa selain nabi.

Dan Abul Ma`ali `Azizi bin Abdul Malik berkata: Sesungguhnya kata-kata asing itu ada dalam bahasa Arab, karena ia adalah bahasa yang paling luas, paling banyak perbendaharaan kata, maka boleh jadi ia dulu mencakup kata-kata asing tersebut.[17]

2. Golongan kedua
Mereka adalah golongan yang beranggapan bahwa ada kata-kata asing dalam Al Quran, dan mereka adalah salafus shalih dari kalangan sahabat dan para tabi`in, diriwayat dari Ibnu Abbas, Mujahid dan Ikrimah bahwa di dalam Al Quran terdapat kata-kata asing yang diarabkan (arabisasi), seperti:

سجّيل، والمشكاة، واليمّ، والطور، وأباريق، واستبرق.[18]

Kemudian, mereka menjawab alasan golongan kontra tentang firmanNya:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآَنًا عربيّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ[19]

بِلِسَانٍ عربيّ مُبِينٍ[20]

Bahwa beberapa kata muarrob dalam Al Quran tidak menjadikannya keluar dari kearabannya, sebagaimana kata Arab dalam Syair Persia tidak menjadikannya keluar dari kepersiannya. Kemudian mereka juga menjawab alasan kontra tentang firmanNya:

أَأَعْجَمِيٌّ وَعربيّ[21]

Secara tafsiran harfiah ayat ini: “Apakah perkataan asing sedangkan pembicara adalah orang Arab?”, berbeda dengan golongan pro, mereka menafsirkan ayat ini dengan meninggalkan kata pertanyaan (harful istifham) sehingga menjadikannya berita dari Allah swt. tentang perkataan golongan musyrik Quraisy dalam mengingkari Al Quran.

Selanjutnya golongan ini berargumen dengan firmanNya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلاّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ…[22]

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ[23]

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ[24]

Mereka juga mengatakan bahwa, para ahli Nahwu mufakat kata “إبراهيم” hukumnya tidak berubah (mamnu` minas sharf) karena keasingannya.[25]

3. Golongan ketiga
Golongan ini mengatakan ada kesamaan bahasa diantara bangsa-bangsa ketika itu, sebagaimana Ibnu Jarir At Thabari mengatakan bahwa: kata-kata asing dalam Al Quran bukanlah asing dalam sebenarnya, namun itu adalah fenomena kesamaan bahasa, dimana bangsa Arab, Persia, dan Habasyah berbicara dengan bahasa yang satu.[26]

Ia melanjutkan, bahwa haram hukumnya seorang yang beriman kepada kitab Allah swt., mengetahui makna-makna dan hukum-hukumNya, kemudian ia mengakui bahwa Al Quran berbahasa Arab “قرآنا عربيّا” dan Allah tidak menjadikannya berbahasa asing dengan firmanNya:

ولو جعلناه قرآنا أعجميا لقالوا لولا فصلت آياته أأعجمي وعربيّ

Tapi di lain pihak ia juga meyakini bahwa sebagian dari Al Quran berbahasa Persia, nabtiyah, romawi, dan habasyah. Jika demikian, maka sesungguhnya ia telah menafikan kearaban sebagian Al Quran, sedangkan Allah menetapkan Kearaban Al Quran seluruhnya.

Sehingga perkataan ulama salaf: “في القرآن من كل لسان” bukan berarti di dalamnya terdapat kata asing yang boleh di nisbatkan ke bahasa lain tapi bahwa di dalamnya terdapat kata-kata yang dipakai bangsa Arab yang juga dipakai oleh bangsa Persia, Romawi, Habasyah. Dengan kata lain, kata-kata itu sama-sama dianggap bahasa Arab juga Romawi atau Persia, dll.[27]

4. Golongan keempat
Mereka adalah kelompok pemikir-pemikir Islam, golongan ini bisa dikatakan sebagai penengah dari kubu pro dan kontra.
Diantaranya adalah Abu Ubaid Al Qasim bin Salam yang mencoba menjelaskan pendapat gurunya Abu Ubaidah yang kontra dengan adanya kata-kata muarrob kemudian mengandengkannya dengan pendapat salafussalih yang pro dengan kata-kata muarrob di dalam Al Quran. Kemudian merumuskan bahwa semua kata-kata Al Quran adalah Arab termasuk kata-kata muarrob, karena kata-kata asing itu telah mengalami arabisasi dan telah dipakai secara jamak oleh bangsa Arab sebelum turunnya Al Quran. Dengan formula ini, ia telah berjasa menengahi kubu pro dan kontra.

Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud gurunya “أعظم أو أكبر القول” siapa yang berpendapat bahwa dalam Al Quran ada kata-kata muarrob telah melahirkan perkara yang besar, tapi tidak semua berpendapat sama. Meskipun begitu, kedua-duanya sama benarnya siapa yang mengatakan kata-kata itu berasal dari asing benar, dan siapa yang mengatakan bahwa itu adalah bahwa kata-kata itu arab setelah berulang kali diucapkan oleh masyarakat Arab juga benar adanya.[28]

Kata-Kata Muarrob dalam Al Quran menurut As Suyuthi, Jalaluddin As Suyuthi mengklasifikasikan tipologi kata-kata muarrob berdasarkan negara asal kata-kata tersebut, yaitu:

Kata muarrob yang diambil dari bahasa Ethiopia (الكلمات المشتقّة من اللغة الحبشية)
Persia Kata muarrob yang diambil dari bahasa (الكلمات المشتقّة من اللغة الفارسية)
Yunani Kata muarrob yang diambil dari bahasa (الكلمات المشتقّة من اللغة الرومية)
Kata muarrob yang diambil dari bahasa India (الكلمات المشتقّة من اللغة الهندية)
Kata muarrob yang diambil dari bahasa Syiria (الكلمات المشتقّة من اللغة السريانية)
Kata muarrob yang diambil dari bahasa Ibrani (الكلمات المشتقّة من اللغة العبرانية)
Kata muarrob yang diambil dari bahasa Nabatian (الكلمات المشتقّة من اللغة النبطية)
Kata muarrob yang diambil dari bahasa Koptik (الكلمات المشتقّة من اللغة القبطية)
Kata muarrob yang diambil dari bahasa Negro (الكلمات المشتقّة من اللغة الزنجية)
Kata muarrob yang diambil dari bahasa Turki (الكلمات المشتقّة من اللغة التركية)
Kata muarrob yang diambil dari bahasa Barbar (الكلمات المشتقّة من اللغة البربرية)

Kemudian As Suyuthi juga menyebutkan kata-kata muarrob dalam Al Quran di dalam kitabnya “Al Muhadzab Fii Maa Waqa`A Fil Quran Minal Muarrob”. Dalam hal ini, tampak pendapat As Suyuthi dalam kitab “Al Muhaddzab fi maa Waqa`a fil Quran Minal Muarrob” dan kitab “Al Itqan Fii Ulumil Quran”.

Posisi As Suyuthi dalam Kata-Kata Muarrob dalam Al Quran
Kata-kata muarrob diklasifikasikan menjadi 11 tipologi menurut bahasa asal kata-kata muarrob, dari bahasa-bahasa ini kata-kata asing diserap oleh bahasa Arab, kemudian diarabisasi sehingga sesuai dengan kaidah-kaidah bahasa Arab, karena jarang sekali masyarakat Arab berbicara kata-kata asing tanpa merubah dan menyesuaikannya dengan bentuk-bentuk bahasa Arab.[29] Sehingga mereka bisa melakukan istiqoq dan tasrif dengan kata itu, “لجام” misalnya, meskipun ia adalah kata muarrob dari bahasa Persia tapi masyarakat Arab bisa melakukan istiqoq seperti “ألجم-يلجم-إلجامًا”.

Suyuthi mengatakan bahwa kata-kata muarrob dalam Al Quran tersebar di beberapa surat, diantaranya: Al Kahfi, Yasin, Al Insan, Al Muthaffifin, Al An`am, Ar Rahman, Al Jumuah, Ali Imran, Al Ghosiah, Yusuf, Al Baqarah, Al `Araf, An Nisa, Al Maidah, As Shaff, An Nur, Ad Dukhan, Ar Ruum, Hud, Al Hijr, Al Fiil, Al Fatihah, Thoha, Al Mukminun, As Shaffat, As Shad, An Naaziat, An Nahl, Az Zumar, Al Anbiya, Al Hadiid, At Takwir, Al Qiyamah, Al Hajj, dll.

Kemudian Imam Suyuthi menyebutkan beberapa hikmah tentang adanya kata-kata muarrob dalam Al Quran, yaitu:
1. Sebagai bukti bahwa Al Quran mencakup semua pengetahuan orang-orang terdahulu dan sekarang
Kata-kata muarrob ini membuktikan bahwa al quran mencakup ilmu terdahulu, sekarang, semua semesta alam, dan wajib mempunyai bukti bahwa dia mencakup semua bahasa, maka kemudian bahasa yang paling sopan, terbaik, dan frekeunsi penggunaan untuk bahasa Arab. Maka kata-kata habasyah, Persia, romawi di dalam Al Quran misalnya, menunjukkan bahwa Al Quran mencakup semua ilmu, dan tidak hanya berkutat kepada masyarakat Arab.

2. Menunjukkan tingginya derajat Al Quran dari seluruh kitab-kitab yang diturunkan
Ibnu naqib menjelaskan bahwa: dari karakteristik Al Quran yang membedakan dengan kitab-kitab sebelumnya, bahwa ia berbahasa Arab dan juga berbahasa Romawi, Persia, Habasyah. Berbeda dengan kitab-kitab yang lain hanya berbahasa kaumnya, dan tidak berbahasa kaum yang lain.

Dengan karkateristik ini, Al Quran lebih unggul daripada kitab-kitab yang lainnya, kitab Taurat misalnya, hanya berbahasa Ibrani dan bukan yang lainnya, karena kaum Yahudi ketika itu berbicara bahasa itu.

3. Sebagai Bukti Bahwa Al Quran Mencakup Bahasa-Bahasa Dunia
Sesungguhnya nabi Muhammad saw. diutus untuk seluruh umat manusia, sebagaimana firmanNya:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ[30]

Maka sudah seharusnya kitab yang dibawa Muhammad juga mencakup bahasa seluruh umat, meskipun kitab itu mayoritas berbahasa Arab, hal ini senada dengan firmanNya:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ[31]

Oleh karena itu, Al Quran mengandung kata-kata berbahasa Persia karena ketika itu bangsa tersebut terkenal dengan kemajuan peradabannya dan bahasanya dipakai oleh bangsa-bangsa. Sebagai bukti Al Quran untuk semua umat, maka ia juga mengandung kata-kata bahasa internasional diantaranya bahasa Persia yang ketika itu menyebar sampai ke Mesopotamia, bahkan peradabannya hampir mengeser peradaban Habasyah di daerah Makkah.[32]

4. Perintah untuk Taat Kepada Allah S.W.T
Sebagian ulama memandang bahwa hikmah adanya kata-kata muarrob di dalam Al Quran yaitu, jika dikatakan bahwa “إِسْتَبْرَقٍ” adalah bukan bahasa Arab, dan bahasa non Arab tidak sefasih bahasa Arab, maka seperti dikatakan oleh Jalaluddin As Suyuthi: seandainya seluruh ahli bahasa berkumpul dan hendak meninggalkan lafadz (kata-kata muarrob) ini, maka niscaya mereka tidak sanggup melakukannya, karena perintah Allah S.W.T.

Untuk selalu taat dan patuh terhadap keputusanNya. Dengan kata lain, menyakini bahwa kata-kata muarrob dalam Al Quran adalah kata-kata pilihan dan terbaik, dan tidak ada kata yang bisa mengantikan posisinya dan kata-kata itu merupakan pilihan Allah swt.

5. Keterbatasan Istilah-Istilah dalam Bahasa Arab
Sebagian kata-kata yang diperlukan dalam Al Quran tidak terdapat dalam bahasa Arab, maka kata-kata itu diambil dari bahasa lain, karena maknanya lebih luas dan sesuai daripada bahasa Arab. Kata “الحرير” yang artinya berat dan berharga, sedangkan dalam bahasa Arab “الصفيق” ringan dan berharga, maka penggunakan kata pertama lebih didahulukan karena maknanya lebih luas dan sesuai dari kata kedua.

6. Menyebutkan kata yang lebih ringkas dan efektif
Sesungguhnya menggunakan satu kata lebih utama daripada dua kata atau lebih, karena itu lebih jelas dan efektif, kata “إِسْتَبْرَقٍ”[33] digunakan karena tidak ada satu kata bahasa Arab yang sama.

Dari penjelasan diatas, penulis memandang bahwa Suyuthi belum menjelaskan secara gamblang terhadap masalah kata-kata muarrob dalam Al Quran. Meskipun demikian, ia sependapat dengan Ibnu Jarir yang menafsirkan ayat 44 dalam surat Fussilat, dimana ia memandang bahwa ayat itu merupakan berita Allah tentang perkataan kaum musyrik Quraisy, dan meninggalkan kata pertanyaan yang ada di “أعجميّ”, yaitu ketika mereka mengatakan mengapa Al Quran ini tidak diturunkan dengan bahasa Arab dan Non Arab (`ajam), kemudian Allah swt menurunkan ayat 44 fussilat ini sebagai jawaban dari perkataan mereka:

“وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآَنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلا فُصِّلَتْ آَيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ”[34]

Sejak turunnya ayat ini, maka Al Quran selain berbahasa Arab juga non Arab,[35] disamping itu Ibnu Jarir juga mengatakan dengan sanad yang shahih:

“في القرآن من كلّ لسان”

Walhasil
1. Dr. Karim Sayyid Ghonim mengatakan bahwa ia adalah proses menyesuaikan kata asing dengan kaidah bahasa Arab. Sedangkan kata-kata yang diarabkan (al kalimaat al mu`arrobah) kata-kata yang diambil dari bahasa asing. Maka proses pengaraban (at ta`riib) adalah proses pengambilan bahasa Arab terhadap bahasa asing.

Jalaluddin As Suyuthi mengklasifikasikan tipologi kata-kata muarrob berdasarkan negara asal kata-kata tersebut, yaitu:

1. Kata muarrob yang diambil dari bahasa Ethiopia (الكلمات المشتقّة من اللغة الحبشية)
2. Persia Kata muarrob yang diambil dari bahasa (الكلمات المشتقّة من اللغة الفارسية)
3. Yunani Kata muarrob yang diambil dari bahasa (الكلمات المشتقّة من اللغة الرومية)
4. Kata muarrob yang diambil dari bahasa India (الكلمات المشتقّة من اللغة الهندية)
5. Kata muarrob yang diambil dari bahasa Syiria (الكلمات المشتقّة من اللغة السريانية)
6. Kata muarrob yang diambil dari bahasa Ibrani (الكلمات المشتقّة من اللغة العبرانية)
7. Kata muarrob yang diambil dari bahasa Nabatian (الكلمات المشتقّة من اللغة النبطية)
8. Kata muarrob yang diambil dari bahasa Koptik (الكلمات المشتقّة من اللغة القبطية)
9. Kata muarrob yang diambil dari bahasa Negro (الكلمات المشتقّة من اللغة الزنجية)
10. Kata muarrob yang diambil dari bahasa Turki (الكلمات المشتقّة من اللغة التركية)
11. Kata muarrob yang diambil dari bahasa Barbar (الكلمات المشتقّة من اللغة البربرية)

2. Meskipun Imam Suyuthi tidak menjelaskan pendapatnya secara gamblang, penulis memandang bahwa pendapatnya dapat dilihat dari paparannya tentang hikmah-hikmah adanya kata-kata muarrob dalam Al Quran, klasifikasi kata-kata muarrob dalam Al Quran dan daftar kata-kata muarrob dalam Al Quran.

Maka dari variabel-variabel ini, bisa disimpulkan bahwa Suyuthi sependapat dengan golongan Abu Ubaid Al Qasim, yang menyatakan bahwa kata-kata muarrob dalam Al Quran memang benar adanya, meskipun kata-kata ini sudah melalui proses arabisasi dan telah digunakan secara jamak oleh masyarakat Arab.

Walaupun demikian, kata-kata ini tidak mengurangi kesucian Al Quran yang mengatakan kearaban kitab Muhammad saw. Karena beberapa kata muarrob dalam Al Quran tidak akan merubah keberadaan berbahasa Arab, sebagaimana beberapa kata Arab di syair Persia, tidak akan merubahnya menjadi bahasa Arab.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com