Makna Penting Dari Dua Qaidah Ushul Fiqih Yang Berkaitan Dengan Bahaya

Makna Penting Dari Dua Qaidah Ushul Fiqih Yang Berkaitan Dengan Bahaya

Almunawwar.or.id – Terkadang sesuatu yang memang tidak di perbolehkan untuk di lakukan menurut tinjauan agama itu bisa dan boleh saja di laksanakan, sehingga dari pelaksanaannya tersebut mampu mennemukan jawaban atas segala hal yang memang terkadang meragukan.

Seperti salah satunya yang terdapat pada dua sisi makna kaidah ushul fiqih yang berhubungan dengan masalah madharat (bahaya), dimana dari kedua istilah tersebut kepastian dalam melakukan sebuah kegiatan itu itu lebih meyakinkan lagi bgai orang yang melakukannya.

Terutama dalam keadaan dan situasi yang sedang tidak memungkinkan (tidak kondusif) ada kebolehan bagi seseorang untuk melakukan dengan apa yang ada dan harus dilaksanakan pada saat itu secara spontan dan reflek, meskipun hal tersebut bersifat kurang baik ataupun tidak selayaknya.

Dan dua kaidah usuhul fiqih berikut ini merupakan salah satu landasan yang bisa di maknai oleh setiap orang dalam menemukan sebuah dalil terhadap perbuatan dan aktivitas saat keadaan genting ataupun madharat.

1. Kaidah دفع المضار مقدم على جلب المنافع

Maksudnya adalah Menolak bahaya lebih di utamakan daripada menarik manfa’at / kebaikan
Qoidah tersebut juga sama dengan kaedah “Jika bertentangan antara bahaya dan kebaikan maka secara umum didahulukan menolak bahaya”, alasannya karena syare’ah lebih bersungguh sungguh dalam hal larangan daripada kesungguhan dalam hal perintah.

Dalam hal ini Nabi shollallohu alaihi wasallam bersabda :” jika aku perintahkan kalian dengan satu perintah maka laksanakanlah semampu kalian, dan jika aku larang kalian dari sesuatau maka jauhilah .”
Maka dari situlah terdapat kemurahan dalam meninggalkan sebagian kewajiban sebab adanya masyaqqot yang ringan misalnya tidak berdiri dalam sholat, berbuka puasa dan bersuci, dan tidak ada kemurahan dalam mendaahulukan larangan khususnya dosa dosa besar. Termasuk contoh lainnya adalah al mubalaghoh dalam berkumur dan menyerap air kedalam hidung disunnahkan namun makruh bagi yang berpuasa.

Redaksi dan keteranagn bisa di lihat dari Asbah wan Nadzoir dengan redkasinya sebagai berikut :

ونشأ من ذلك قاعدة رابعة :
هي ” إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما ضررا بارتكاب أخفهما ” .
ونظيرها : قاعدة خامسة ، وهي ” درء المفاسد أولى من جلب المصالح ” فإذا تعارض مفسدة ومصلحة ; قدم دفع المفسدة غالبا ، لأن اعتناء الشارع بالمنهيات أشد من اعتنائه بالمأمورات ، ولذلك قال صلى الله عليه وسلم { إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم ، وإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه } .
ومن ثم سومح في ترك بعض الواجبات بأدنى مشقة كالقيام في الصلاة ، والفطر .
والطهارة ولم يسامح في الإقدام على المنهيات : وخصوصا الكبائر .
ومن فروع ذلك : المبالغة في المضمضة والاستنشاق مسنونة . وتكره للصائم .

2. Kaidah يحتمل الضررالخاص لدفع الضرر الحام

Maksudnya ialah “Bahaya yang bersifat khusus ditanggung untuk menolak bahaya yang bersifat umum”. Sebagai salah satu contoh melarang seorang dokter yang bodoh, seorang mufti yang kurang ilmu dan seorang penyewa ang bangkrut dari melakukan pekerjaan mereka merupakan bahaya bagi mereka, namun hanya bersifat khusus, dan jika mereka dibiarkan saja melakukan pekerjaannya maka akan menimbulkan bahaya yang bersifat umum yaitu akan banyak orang yang meninggal sebab kebodohan sang dokter, banyak orang yang tersesat sebab mufti yang kurang ilmu dan tertipunya orang orang oleh penyewa yang bangkrut.

Dan lahirnya kaidah tersebut disebabkan bahaya yang bersifat khusus tidak setara dengan bahaya yang bersifat umum bahkan lebih rendah, jadi bahaya yang bersifat umum ditolak dengan menanggung bahaya yang bersifat khusus. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya seperti :

a. Boleh menghancurkan rumah yang berada di depan kebakaran untuk mencagah menjalarnya api. Begitu juga jika ada bangunan yang miring hampir roboh maka pemiliknya boleh dipaksa untuk merobohkannya karena dikhawatirkan menimpa orang-orang yang lewat.

b. Sebagaimana boleh hukumnya membatasi harga makanan ketika para penjual berharap mendapatkan tambahan keuntungan lebih yang bisa membahayakan kemashlahatan umum, begitu juga dilarang mengeluarkan sebagian simpanan dari tempat lain jika dengan mengeluarkan simpanan tersebut bisa menaikkan harga pasar di tempat itu.

c. Begitu juga boleh melarang seorang koki untuk membuka tokonya di pasar pedagang karena khawatir terjadinya kerusakan pada barangnya pedagang sebab asap dari masakannya koki.

Keterangan dan redaksinya bisa di lihat kembali dari kitab Durorul Hukkam juz 1 halaman 26 (Fiqih Hanafi) dengan redaksinya sebagai berikut :

يتحمل الضرر الخاص لدفع ضرر عام . بما أن الضرر الخاص لا يكون مثل الضرر العام ، بل دونه فيدفع الضرر العام به ، فمنع الطبيب الجاهل والمفتي الماجن والمكاري المفلس من مزاولة صناعتهم ضرر لهم إلا أنه خاص بهم ، ولكن لو تركوا وشأنهم يحصل من مزاولتهم صناعتهم ضرر عام كإهلاك كثير من الناس بجهل الطبيب ، وتضليل العباد مع تشويش كثير في الدين بمجون المفتي ، وغش الناس من المكاري ،
وكذلك جواز هدم البيت الذي يكون أمام الحريق منعا لسراية النار . كذلك إذا كانت أبنية آيلة للسقوط والانهدام يجبر صاحبها على هدمها خوفا من وقوعها على المارة . كما أنه يجوز تحديد أسعار المأكولات عند طمع التجار في زيادة الأرباح زيادة تضر بمصالح العامة ، وكذلك يمنع إخراج بعض الذخائر والغلال من بلدة لأخرى ، إذا كان في إخراجها ارتفاع الأسعار في البلدة . وكذلك يمنع الطباخ من فتح دكانه في سوق التجار خوفا من لحوق التلف ببضائع التجار من دخان طعام

Itulah dua keterangan ushul fiqih yang sering di alami dan ada dalam kehidupan sehari-hari, serta masih banyak kaidah usuhul fiqih lainnya yang tentunya berhubungan erat dengan hal yang bersifat madharat dan sering di temui dalam kehidupan yang nyata bagi banyak orang.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
piss-ktb.com
almunawwar.or.id