Makna Penting Dari Kewajiban Mengagungkan dan Menjaga Para Ulama

Makna Penting Dari Kewajiban Mengagungkan dan Menjaga Para Ulama

Almunawwar.or.id – Adalah sebuah toleransi dan kewajiban yang mesti di pelihara dan di jaga pasti oleh setiap umat terhadap seorang Ulama yang benar-benar menjadi panji dari perjuangan Rasulallah S.A.W. dalam menyebarkan syariat islam di bumi ini.

Karena dengan melallui Ulama pula hakikat dari pada penerangan sebuah ilmu agama bisa di pahami lebih pasti dan lebih jelas oleh masyarakat awwam, bahkan salah satu kriteria manusia yang takut hanya karena Alloh S.W.T semata itu adalah seorang ulama.

Untuk itu menghormati, memuliakan, mengagungkan bahkan menjaga dari hal yang mengancam keselamatannya itu adalah wajib hukumnya, sebab ulama merupakan satu-satunya orang yang mendapat hak paten (warisan) para nabi dalam memperjuangkan dan menegakan syariat islam di muka bumi ini.

Banyak keterangan-keterangan ayat Alquran yang menjelaskan tentang kemuliyaan seorang ulama yaitu orang-orang yang berilmu tentang Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman sahabat serta mengamalkannya. Di antaranya:

1. Q.S Al-Mujadilah ayat 11

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya : “Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.

2. Q.S Az-Zumar Ayat 9

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya : “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”.

3. Q.S Fatir Ayat 28

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

Artinya : Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

4. Q.S As-Sajdah Ayat 24

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا ۖ وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ

Artinya : “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”.

5. Rasulullah S.A.W bersabda:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

Artinya : “Para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham (harta). Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya sungguh dia telah mengambil bagian yang banyak (menguntungkan).” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Abu Dawud. Asy-Syaikh Al-Albani mengatakan sanadnya hasan dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib 1/139).

6. Ibnu Mas’ud z mengatakan bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:

لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ؛ رَجُلٌ آتَاهُ اللهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

Artinya : “Tidak boleh ada hasad (berkeinginan mendapatkan) kecuali terhadap dua golongan: orang yang Allah l limpahkan harta kepadanya lalu dia belanjakan di jalan yang benar, serta orang yang Allah l karuniakan hikmah (ilmu) lalu dia tunaikan (amalkan) dan ajarkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

7. Rasulullah S.A.W bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

Artinya :“Barang siapa yang Allah l kehendaki kebaikan untuknya, Dia jadikan orang tersebut paham akan agama.” (HR. Al-Bukhari no. 69 dari Mu’awiyah z).

Itulah sebabnya mengapa kita semua selaku orang awwam harus menghormati dan memuliakan para ulama yang benar-benar sudah jelas akan keistimewaannya di hadapan Alloh S.W.T dan Rasulnya, termasuk menjaganya dari hal- hal yang bisa mengancam dan membahayakan keselamatan para Ulama dan guru kita tercinta.

Jadi siapa saja yang sudah berani menghina apalagi sampai mengancam terhadap Ulama, maka itu sama saja menghina Alloh S.W.T dan rasulnya, sebaiknya kita semua harus terus berintropeksi diri agar tidak tertanam dalam hati rasa kebencian dan memusuhi terhadap sesama muslim ini terutama kepada para Ulama-ulama yang jelas karena ilmu dan amalnya tersebut bisa menghantarkan kita ke jalan yang di ridhoi oleh Alloh S.W.T.

Bahkan dalam riwayat lain meskipun ini termasuk pada wasiat Nabi S.A.W yaitu :

“Barangsiapa yang duduk sebentar (sekedarmemeras susu kambing atau mengupas telor)dihadapan wali allah baik yang masih hidup atauyang sudah wafat maka itu lebih baik baginya daripada dia sibuk beribadah sampai terpotong-potong badannya”.

احترام الأولياء الصالحين والعلماء العاملين لأنهم ورثة الأنبياء علي الحقيقة وإجلال شأنهم أحياء كانوا أو أمواتا ، رأى الفقيه البجلي الكبير طاب ثراه رسول الله صلى الله عليه وسلم في المنام فقال : عظني يا رسول الله ، فقال :صلى الله عليه وسلم وقوفك بين يدي ولي لله كحلب شاة أو كشى بيضة خير لك من أن تعبد الله حتى تتقطع إربا إربا ، قال حيا كان أو ميتا يا رسول الله ، فال حيا كان أو ميتا ، قلت وكفاك نص الكتاب المكنون ( أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُون َ)

Intinya : ” tentang kewajiban kita mengagungkan para auliya asholihin dan ulama al ‘amilin, baik yang masih jeneng ataupun yang sudah wafat,karena mereka (rodhiyallohu ‘anhum) adalah pewaris dari Nabi SAW , baik punya garis nasab dengan Nabi SAW atau tidak, karena para ulama sekalipun tidak punya hubungan nasab dengan Nabi,tetap mereka dianggap pewaris Nabi dalam hal ilmu agama.

Wallohu A’lamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber:
almunawwar.or.id
piss-ktb.com