Makna Peran Besar Pesantren Pada Kebangsaan Kini dan Nanti

Makna Peran Besar Pesantren Pada Kebangsaan Kini dan Nanti

Almunawwar.or.id – Begitu besar perannya sebuah lembaga pendidikan seperti Pondok Pesantren ini terhadap nilai struktural pribadi setiap individu manusia. Begitu besar pula manfaat yang di rasakan oleh masyarakat dan lingkungan yang di ruang lingkupnya ada sebuah lembaga pendidikan Pondok Pesantren.

Karena dari lembaga seperti inilah kader-kader penerus bangsa dan agama lahir dan berkembang, meski berperan sebagai sebuah lembaga pendidikan agama, namun sejatinya pondok pesantren merupakan satu-satunya tempat yang mampu mencetak seorang mukmin yang berkualitas dan moderat.

Kontribusi tersebut sudah ada dan menyala ketika era kemerdekaan dulu bahkan jauh-jauh hari sebelumnya, dengan perjuangan yang tak kenal lelah dan lillah, para mujahid (Ulama dan Santri bahu-bahu mengorbankan semua kemampuannya untuk mewujudkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia ini.

Bahkan Pesantren pun sudah terbukti secara nyata memberikan pendidikan dan pencerahan bagi masyarakat. Melalui pesantren, Sumber Daya Manusia (SDM) yang kreatif, produktif, inovatif, toleran, religius, serta berwawasan global dikonstruksikan. Pesantren secara faktual telah menjadi salah satu motor perubahan bangsa ini melalui kegiatan pendidikannya.

Wawasan dan metode pendidikan seperti inilah yang sejatinya bisa merubah sisi kepribadian seorang manusia yang lebih bermanfaat dan toleran terhadap sesama dan lingkungan sekitar. Sebagaimana yang telah di siratkan dalam sebuah keterangan hadits:

خير الناس أنفعهم للناس

“Khoirunnas Anfa’uhum Linnas”
Artinya : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain”

Keunggulan pesantren ada pada proses pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada pemahaman pengetahuan agama saja tetapi juga terkait pada pendisiplinan diri dan keterampilan hidup. Apalagi banyak pesantren sudah terintegrasi dengan pendidikan formal dari jenjang PAUD, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai pendidikan tinggi sehingga integrasi keilmuan agama dengan ilmu umum sudah sangat kuat.

Pendidikan karakter yang beberapa tahun ini diupayakan terus menerus di berbagai satuan pendidikan sesungguhnya sudah lama diimplementasikan di pesantren. Pesantren punya banyak mekanisme untuk mendisiplinkan laku dan akhlak para santrinya. Pendidikan yang tak hanya berlangsung di ruang-ruang kelas. Seluruh aktivitas di pesantren adalah proses pendidikan.

Pendidikan pesantren bersifat menyeluruh yaitu meliputi olah pikir, oleh hati, olah karsa, dan olah raga. Olah pikir melalui proses pengkajian tafsir Al-Qur’an, pengajian kitab-kitab kuning ulama-ulama termasyhur, diskusi keagamaan, pendidikan bahasa, dan pelatihan pidato.

Olah hati melalui aktivitas peribadatan seperti tadarus Al-Qur’an, shalat berjamaah, shalat sunnah, dan berdzikir. Olah karsa melalui kebiasaan saling menghargai, kerjasama, toleran dengan sesama santri, kiai, ustadz/ustadzah, maupun masyarakat di lingkungan pesantren.

Lalu bagaimana peran para alumni pesantren dan kontribusinya?

Alumni pesantren tak hanya berprofesi sebagai pendakwah, ustadz/ustadzah, guru agama, ataupun kiai. Mereka juga berprofesi sebagai pedagang, buruh, penulis, peneliti, arsitek, ekonom, dokter, wartawan, guru, politisi dan beragam profesi lainnya.

Alumni pesantren pun tak selalu melanjutkan ke institut dan universitas keagamaan lainnya. Sudah sejak lama para santri lulusan pesantren melanjutkan ke institut dan universitas umum lainnya, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Para alumni tersebar di mana saja, bahu membahu berkontribusi untuk kemajuan bangsa.

Dari urgensi Islam moderat tersebut, dibawah ini adalah beberapa upaya untuk dapat memperkokoh visi moderasi yang harus dikembangkan oleh generasi muda muslim Nahdlatul Ulama (NU) pada khususnya, maupun generasi-generasi muda Indonesia pada umumnya terutama untuk para alumnus Pondok Pesantren.

Pertama
Membangun pemikiran Islam yang berbasis kultur Indonesia yang dipadukan dengan modernisasi, yakni dengan mengembangkan sejumlah pemahaman dan sikap yang ramah, santun, dan berbasis tradisi-tradisi Indonesia disatu sisi dan memahami modernitas zaman kekinian disisi lain. Sebagaimana tertuang dalam salah satu kaidah “al-Muhafadhotu ‘ala qadimi al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah” (menjaga tradisi-tradisi lama sembari menyesuaikan dengan tradisi-tradisi modern yang lebih baik). Upaya-upaya yang dimaksud adalah mengembangkan sejumlah khazanah-khazanah keislaman yang toleran dan terbuka terhadap perbedaan serta kontekstualisasi dengan zaman kekinian.

Kedua
Mengupayakan gerakan keislaman berbasis ekonomi, yakni dengan membangun sebuah tatanan aktivitas perekonomian yang memberikan sejumlah keterampilan serta memberdayakan masyarakat dalam berekonomi. Upaya ini dirasakan begitu penting, dimana sejumlah tindak kekerasan yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal adalah karena motif himpitan ekonomi.

Ketiga
Menciptakan ruang dialog inklusif (terbuka) baik dengan kelompok-kelompok atau aliran-aliran internal dalam Islam maupun dengan berbagai kalangan pemuka agama non-Islam. Tindak kekerasan tidak jarang timbul karena adanya sikap saling mencurigai (su’udzon). Yakni menaruh kecurigaan dan kebencian terhadap orang lain yang berbeda keyakinan. Oleh sebab itu, membuka dialog inklusif adalah solusi efektif dalam meredam kecurigaan, kebencian, dan tindak kekerasan. Meminjam intilah Cak Nur bahwa dengan melalui dialog maka akan membuahkan sebuah penyuburan silang budaya (cultural cross fertilization). Sebuah ruang terbuka yang konstruktif antar satu dengan yang lain.

Banyak tokoh-tokoh negara maupun agama yang berhasil menunjukan kapasitas dan kualitas lulusan ataupun alumnus Pondok Pesantren saat ini. Dan nama-nama tersebut membuktikan bahwa alumni pesantren tidak selalu bekerja di bidang keagamaan saja tetapi dan juga di bidang-bidang lainnya.

Alumni pesantren tidak boleh gagap ketika berhadapan dengan permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat. Mereka dituntut aktif terlibat dalam penyelesaian masalah-masalah kemasyarakatan dan kebangsaan.

Sayangnya makin lama pesantren seolah semakin jauh dari perhatian publik. Pesantren seringkali diidentikan dengan sesuatu yang tradisional dan ketinggalan zaman. Padahal banyak pesantren memberlakukan pendidikan modern tanpa meninggalkan tradisi intelektual kepesantrenan yang sudah lama dipegang.

Dalam tradisi pesantren istilah Almuhafadhotu ‘ala qadimisshaalih wal akhdzu bil jadidil ashlah menjadi pegangan. Term tersebut menjadi rujukan bagi pesantren untuk terus melestarikan serta menjaga nilai-nilai juga tradisi lama yang masih relevan dan mengambil nilai-nilai yang lebih baru demi kehidupan yang lebih baik.

Pesantren sudah lebih siap dalam menghadapi perubahan zaman. Banyak pesantren yang terintegrasi dengan lembaga pendidikan formal. Adanya pendidikan formal dari mulai PAUD, SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, sampai perguruan tinggi merupakan jawaban terhadap kemajuan zaman.

Selain mendapatkan bekal ilmu agama dan pembentukkan akhlak di pesantren para santri mendapatkan pengetahuan umum dan kemampuan leadership. Karakteristik dan model pendidikan pesantren semakin bervariasi.

Penguasaan ilmu agama dan pembentukan akhlak yang menjadi fokus pendidikan di pesantren ditambah penguasaan teknologi, kemampuan bahasa asing, kapasitas kepemimpinan, juga kemampuan berwirausaha akan membuat para santri lulusan pesantren siap menghadapi persaingan global.

Posisi pesantren yang sangat strategis dalam konstruksi pendidikan di Indonesia tentu harus tetap dijaga dan dikembangkan. Pesantren mestinya tak menjadi pendidikan alternatif bagi orang tua untuk pendidikan putra-putri mereka.

Orang tua tak harus khawatir anak-anak mereka tak mendapatkan peluang pekerjaan yang baik di masa depan jika memasukan anak-anaknya ke pesantren. Beberapa waktu ini misalnya ada gerakan Ayo Mondok yang digagas oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Gerakan Ayo Mondok digagas agar semakin banyak orang tua yang memasukan putra dan putrinya ke pesantren.

Pesantren, selain menjadi garda pencetak ulama-ulama yang mumpuni dan memiliki uswah hasanah (contoh baik) bagi umat juga diharapkan sebagai penjaga moral kebangsaan. Diharapkan lulusan pesantren semakin banyak yang terlibat aktif dalam gerakan kemasyarakatan dan kebangsaan untuk mengawal bangsa ini menjadi bangsa yang adil dan berdaulat.

Sehingga terbentuk dan terwujudlah sinkronisasi dan harmonisasi antara Pesantren dan lingkungan sekitar dalam mencetak dan mewujudkan cict-cita bersama yang berangkat dari Syahsiyyah Toyyibah (Pribadi yang baik), Usroh Toyyibah(Keluarga yang baik) juga Baldah Toyyibah (Negara yang makmur loh jinawi).

Wallohu ‘Alamu Bishowaab
Semoga Bermanfaat.

Sumber :
almunawwar.or.id
nu.or.id